Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Terjebak Perasaan


__ADS_3

Deburan ombak seolah melambai empat sosok manusia ini agar segera ke tepi pantai. Della berlari kecil di ikuti Maura dari belakang. Mereka sangat senang karena alam semesta mendukung kedatangan mereka ke pantai ini.


"Maura, ayo kejar aku ! " Teriak Della sambil tertawa.


"Baiklah."


Erik dan Dias berjalan santai. Memperhatikan dua wanita yang tengah berlarian itu. Hempasan air dan gelombang laut menyapu bersih pasir yang menempel di kaki telanjang mereka. Tak hanya itu jejak kaki mereka juga di sapu rata oleh air asin pantai. Pertama kalinya Erik berangkat ramai-ramai seperti itu. Mereka bak pasangan kekasih yang sedang kasmaran.


"Bagaimana Della di kantor ?" Erik memulai pembicaraan. Pria ini melangkah tapi tangannya di selipkan di kedua saku celananya. Kemeja putih tipis di kenakannya tertiup angin hingga mencetak jelas dada bidangnya. Celana jeans selutut berwarna hitam itu serasi di padankan dengan kemeja putih lengan pendek itu.


Dias melemparkan pandangannya pada Della. Wanita rambut sebahu itu nampak ceria. " Dia rajin dan disiplin. Hasil rancangannya juga unik dan indah." Tutur Dias tersenyum karena Della melambaikan tangannya ke arah mereka. Ia juga tak kalah tampannya, pria berkaos putih ini nampak kekar ketika kaos itu menempel di tubuhnya.  Jeans pensil selutut di kenakannya menambah pesona Dias.


"Aku senang akhirnya dia bisa bekerja sesuai bidangnya." Ungkap Erik sesekali membalas lambaian tangan Della dan Maura.


"Maaf aku harus bertanya, apa hubungan mu dan Della sebenar nya?" Dias bertanya tanpa menghentikan langkahnya.


Erik kembali menatap lurus ke depan dan mulai bercerita. " Aku dan Della di pertemukan dalam ospek. Dia baik dan ramah, Della sering membantu ku dalam melengkapi bahan ospek. Kebersamaan kami sehari-hari membuat ku merasa nyaman bersamanya. Dia selalu lembut mengajari ku sesuatu yang tidak ku bisa, begitu sebaliknya, aku selalu ada saat dia bersedih. Perlahan aku jatuh cinta. Tapi perasaan itu tidak tersampaikan karena aku harus berhenti kuliah setelah dua semester. Banyak hal yang harus aku lalui hingga kami jarang bertemu dan putus komunikasi. Setelah mencari keberadaannya aku mendapati kabar buruk Della di katakan meninggal. Namun takdir malah mempertemukan kami kembali di desa itu. Aku sangat bahagia karena Della masih hidup dan mengajaknya ke sini bersama ku dengan berjanji akan menjaga dan membantunya di kota ini." Erik mengakhiri ceritanya.


"Kamu mencintainya sampai saat ini ?" Tanya Dias lagi ingin tahu tentang langkah berikutnya.


Erik tersenyum tipis  dan berkata " Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu. Tapi kamu bisa melihat perlakuan ku padanya. Sekarang aku yang bertanya pada mu. Apa kamu mencintai Maura ? Selama ini yang aku tahu kamu menyukainya. Maura gadis baik, aku pernah menolaknya dulu. Aku tahu dia terluka, tapi aku tidak mau membuatnya terluka lebih dalam lagi dengan berpura-pura membalas perasaannya."


Dias menghentikan langkahnya karena mereka sudah dekat pada Della dan Maura yang berdiri menghadang angin dari laut. " Aku memang menyukainya, tapi tidak mencintainya. Kini aku menyadari cinta yang aku sebut pada Maura bukan cinta yang sesungguhnya. Melainkan rasa kagum pada sosok Maura. Wanita baik dan ramah. Tak hanya itu Maura juga wanita mandiri." Jawab Dias. Ia telah meyakini hatinya dan telah mendapatkan jawabannya.


Erik dapat mengambil petikan kata dari Dias. Antara mencintai dan rasa kagum,  peduli dan rasa suka. Antara sayang dan rasa tanggung jawab.


Tak jauh dari mereka berdua, Maura dan Della merentangkan tangan menghadap ke laut menahan angin yang menerpa tubuh mereka berdua. Rambut panjang Maura bermain dihembus angin, rambut panjangnya digerai indah. Sore ini ia mengenakan kaos kebesaran serta jeans pendek di atas lutut nampak sangat cantik.


Begitu juga dengan Della rambut sebahunya tertiup kebelakang nampak lucu sekali. Ia mengenakan baju panjang selutut terlihat begitu imut dan manis.


"Dell, kamu tahu kenapa aku memilih pantai ini untuk kita kunjungi hari ini ?" Maura membuka suara di sela keheningan. Hingga Erik dan Dias bisa mendengar yang mereka bicarakan.


"Aku tidak tahu dan mungkin juga melupakan nya. Apa ada cerita di sini..." Della menjawab lirih sembari berusaha mengingat.


Maura maju selangkah lebih dekat dengan bibir pantai. Ia menghembuskan nafasnya panjang. Menatap jauh menerawang ke masa lalu. "Di sini tempat salah satu kita melepas penat. Sepulang kuliah kita berdua akan mampir ke sini. Berteriak dan berlarian melepas rasa yang membebani dada." Buliran air mata Maura menetes dan terbang tertiup angin. " Setiap hari minggu jam tiga sore kamu mengajak ku untuk lari di sepanjang pantai ini. Kamu memberi ku semangat agar cepat kurus." Maura tersenyum sendiri mengingat kekonyolan mereka berdua.


...----------------...


Kilas Balik


Setiap hari minggu  jam tiga sore. Della mengajak Maura untuk lari di pantai. Maura memang ikut program diet dan olahraga teratur. Namun, untuk mengisi hari libur akhir pekan mereka berdua memilih untuk ke pantai dan menghabiskan waktu hingga sore.


"Ayo Maura semangat lagi." Teriak Della berlari kecil di belakang sahabatnya itu. Maura begitu semangat hingga tak mengeluh lelah, meski dirinya sedang lelah.


"Della, istirahat di sini ya..." Maura menjatuhkan tubuhnya di atas pasir. Keringat bercucuran di wajahnya. Tapi tak mengurangi kecantikannya.


"Kamu benar-benar menyukai dia, hingga mau berdiet. Padahal dulu kamu tidak mau." Canda Della memberikan botol air mineral.


"Aku benar menyukainya. Entahlah, apa ini rasa cinta ? Atau obsesi ku saja. Tapi aku merasa memang jatuh cinta." Maura tersenyum lalu bangkit kembali melanjutkan lari.

__ADS_1


Della menatap punggung Maura, ia terdiam sejenak . Hati Della berbisik bagaimana jika pria itu menolaknya ? Maura pasti terluka. Melihat kegigihannya satu bulan ini sangat giat sekali menurunkan berat badannya. Maura tipe wanita pemalu menunjukkan diri dan perasaannya.


Lama terdiam di atas pasir. Della juga beranjak ingin menyusul Maura. Setelah beberapa langkah berlari, ia terhenti. Karena tak jauh dari dirinya sesosok yang ia kenal berdiri menghadap laut.


"Hai..." Sapa Della berdiri di samping pria itu.


"Kamu di sini ? Bersama siapa ?" Tanya laki-laki itu melihat ke segala arah.


"Bersama teman ku."


Pria itu tersenyum " di mana dia ? Kenapa hanya kamu sendiri ?" Tanyanya lagi.


"Dia sedang lari. " Della melihat ke arah Maura yang mematung berdiri tak jauh dari mereka. " Kamu sendiri bersama siapa ?" Balas tanya Della.


"Aku mengantar kakak ku."


Della mengangguk, ia kembali melihat pada Maura. Rupanya wanita itu tak bergerak dari tempatnya berdiri. Della merasa iba lalu memutuskan menyusul Maura. Setelah berpamitan pada pria yang berbincang padanya.


"Della dia di sini ?" Maura bertanya penuh binar di matanya.


"Iya, kenapa tetap berdiri disini ? Harusnya kamu langsung ke sana. Bukankah ? Kamu ingin berkenalan dengannya ?" Della mengimbangi langkah Maura.


"Aku malu Dell, cukup tahu namanya dari mu saja aku sudah senang." Jawab Maura tersenyum.


Della terkekeh. Karena mulai senja mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.


...----------------...


Della duduk di atas pasir bersama Maura menghadap laut. " Banyak cerita yang terlupakan oleh ku. Aku merindukan masa lalu ku." Ucap nya lirih.


"Jangan murung, lambat laun ingatan itu kembali." Erik menarik tangan Della agar berdiri untuk mengikutinya. Mereka berdua berjalan menyusuri pinggiran pantai.


Tak ingin tertinggal Dias juga menarik tangan Maura. "Ayo kita susul mereka." Ajaknya. Mereka berdua melangkah pelan di belakang Della dan Erik.


Dias menghembus nafas pelan, sakit rasanya melihat tangan wanita yang dicintainya itu di genggam manis oleh orang lain. "Siapa laki-laki yang di sukai mu sewaktu kuliah itu ? Apa itu Erik ?" Dias bertanya dan juga menjawab sendiri.


Maura mengangguk dan tersenyum tipis. "Tebakan mu benar, dia adalah Erik. Aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Tapi aku tidak memiliki keberanian untuk menemuinya. Aku selalu memperhatikannya dalam diam. Aku senang melihatnya menjalani hidup dengan baik meski banyaknya cobaan untuk dia dan kakaknya."


"Kamu banyak tahu tentang Erik. Kenapa saat dia bertanya siapa pria penyemangat mu? kamu tidak memberitahunya bahwa itu dia." Kata Dias heran.


"Ya, aku banyak tahu. Aku sering meminta bantuan pada Della jika ingin menitipkan sesuatu. Aku tidak percaya diri mengatakan bahwa itu Erik. Dia pernah menolak aku Dias. Dan aku tidak mau terlihat menyedihkan. Selain itu ada hati lain yang harus aku jaga."  Balas Maura sendu.


"Hati lain ? " Dias menoleh kepada Maura.


Maura menghela nafas panjang " Della ternyata juga menyukainya setelah kedekatan mereka. Yang awalnya dia hanya membantu ku namun kami terjebak dengan rasa yang sama pada Erik." Jawabnya tersenyum pahit.


"Apa sekarang Della masih memiliki perasaan itu untuk Erik ?" Pertanyaan yang menyakitkan untuk Dias sendiri.


"Entahlah, aku tidak tahu. Tapi aku tidak mau memanfaatkan situasi ini. Andai Della masih memiliki perasaan itu maka aku berharap Erik bisa membalasnya."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan hati mu ?"


"Biarkan waktu menyembuhkannya. Meski tak dipungkiri jika perasaan ini masih ada." Maura mengusap buliran air mata di pipinya.


Dias tersenyum sangat tipis. " Aku juga harus mematahkan rasa ini. Sebelum berkembang. Dia yang aku cintai tak mungkin aku miliki." Gumamnya pelan.


Maura menoleh pada Dias lalu bertanya. "Kamu menyukai Della ?" Dengan tatapan tak percaya.


Dias mengangguk lemah. " Iya, tak hanya menyukainya tapi juga mencintainya. Rasa itu tumbuh saat pertama kali bertemu." Jawabnya jujur.


Maura terkekeh pelan. " Jatuh cinta pada pandangan pertama."


Langkahnya terhenti saat Della dan Erik bermain air. Ia sesak melihatnya, Maura ingin seperti Della dekat dengan Erik bermain air seperti saat ini. Tapi itu hanya ada dalam mimpi. Mimpi yang tak pernah jadi nyata, karena Erik tak memiliki rasa untuknya.


Tetesan air mata di pipi Maura menandakan goresan luka yang dulu menganga kembali. Dias ikut merasakan apa yang di rasakan Maura. Tepukan lembut ia berikan pada pundak wanita yang tengah bersedih ini.


"Erik."


"Iya, " Erik menoleh dan menghentikan tangannya yang mencipratkan air di wajah Della. Pandangannya tertuju pada  Maura yang memasang senyum.


"Kami pulang lebih dulu ya. Tadi papa menelpon ada makan malam keluarga." Dias beralasan agar bisa terbebas dari situasi itu.


"Baiklah, kita pulang sama-sama hari sudah senja. " Erik mengajak Della untuk pulang.


Della dan Maura melangkah lebih dulu. Dan di belakang mereka Erik dan Dias. Tak ada pembicaraan lagi di antara mereka hingga sampai di samping mobil.


...****************...


Jika di pantai pembahasan mengenai hati. Maka, di kediaman ibu Mira ada seseorang di landa cemburu. Zevin pulang dari kantor langsung menuju kediaman ibu Mira. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Zevin mampir sebentar untuk membeli roti seperti biasanya. Setiba di sana ia mendapati Zayyan tengah bermain bersama Ivan. Ada istrinya di tengah laki-laki beda usia itu.


Zevin sangat yakin Ivan pasti selalu bersama istrinya sejak tadi. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. "Sayang... Jangan jauh-jauh." Ia mendekap erat tubuh Nazia.


"Sudah sore, aku akan menyiapkan air mandi, Za. Dulu ya..." Bujuk Nazia. Agar terlepas dari pelukan sang suami.


"Za, lagi jalan-jalan sama mama, sebentar saja aku  merindukan mu." Zevin enggan beralih dari posisinya.


Nazia memilih mengalah, bayi besarnya teramat manja. Ia membelai rambut suaminya  dengan lembut. Tanpa disangka pria ini terlelap padahal sudah senja." Sayang... Bangun. Ini senja, kenapa tidur ?" Nazia menoel pipi Zevin.


Pria ini bergeming hingga teriakan sang putra di gendongan Ivan terdengar. "Papa" Zayyan di turunkan Ivan di tengah Nazia dan Zevin.


Zayyan memindahkan tangan papanya dari tubuh sang mama. Nazia dan Ivan tertawa melihat Zayyan berusaha mendorong Zevin agar menjauh dari Nazia.


Zevin yang hanya terlelap sebentar langsung terbahak melihat tingkah lucu putranya yang teramat posesif melebihi dirinya.


"Mama itu milik papa." Zevin menarik gemas hidung Zayyan. Wajah putranya langsung terlihat kesal.


"Mama." Zayyan melingkarkan tangannya di leher Nazia yang kini duduk di atas kasur. Ia begitu posesif menatap garang pada papanya.


Ivan sekali lagi merasa senang karena Zevin kalah telak dari putranya.

__ADS_1


__ADS_2