Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Rencana Erik


__ADS_3

🌷Happy Weekend 🌷


Erik bangun pagi sekali, ia ingin memastikan jika Feby tidur dengan nyenyak. Dia langsung ke dapur setelah mandi. Sudut bibirnya terangkat saat melihat Feby membantu Kiki menyiapkan sarapan.


"Selamat pagi."


"Selama pagi,Tuan Erik."


"Selamat pagi, Erik." Ucap Feby.


Erik tersenyum raut wajahnya lebih ceria di banding sebelumnya. Ia juga bisa tersenyum lebar pada wanita rambut sebahu ini.


Tak lama Nazia dan Zevin juga turun dari kamar mereka.


"Selamat pagi Feby, bagaimana tidur mu tadi malam apa nyenyak?" Sapa Nazia sekaligus bertanya.


"Pagi Kak, tidurku nyenyak."


Nazia tersenyum lalu duduk di sebelah Zevin. "Sayang kamu mau sarapan apa, roti atau nasi?" Tanyanya meraih piring kosong untuk suami manjanya itu.


"Roti saja Cinta. Sebentar lagi aku juga bertemu klien di luar. Jadi, pasti makan bersama." Zevin memangku baby Zayyan selagi istrinya itu mengisi piringnya dengan roti.


"Baiklah."


Feby mengamati interaksi Zevin dan Nazia di meja makan. Hal itu pun tak luput dari perhatian Erik.  Mereka memulai sarapan. Sementara itu, Kiki sedang menyuapi baby Zayyan.


"Sayang aku berangkat ya." Pamit Zevin memeluk dan mencium istri dan putranya bergantian.


"Iya, hati-hati di jalan." Nazia berdiri dari kursinya mengantarkan Zevin sampai depan rumah.


"Feby, hari ini kamu di rumah dulu ya sama Kak, Zi. Untuk pekerjaan akan kutanyakan dulu di kantor." Seru Erik sebelum mengikuti langkah Zevin dan Nazia.


"Iya, terimakasih."


Erik dan Zevin berangkat bekerja seperti hari-hari biasanya, cuti libur mereka telah habis hanya Nazia yang belum masuk bekerja. Zevin tersenyum karena Erik sangat bersemangat hari ini.


Erik mengemudikan mobil dengan kecepatan rata-rata. "Kak, apa boleh Feby menempati apartemen kita dulu?" tanyanya  melirik ke samping.


"Boleh kamu atur saja." Zevin menjawab sembari melihat pada tabletnya.


Erik tersenyum senang. "Untuk pekerjaannya, aku akan meminta pada Dias" Usulnya lagi.


Zevin mengalihkan pandangannya pada Erik dan berkata. "Kenapa di sana? Di kantor pusat mungkin ada lowongan." Ia heran kenapa Della dimasukkan ke sana. Sementara Erik tahu betul tidak sembarang orang bisa masuk ke sana.


"Feby atau Della pintar membuat sketsa perhiasan." Jelas Erik bangga dan tersenyum.


Zevin ikut tersenyum "Kamu tahu banyak tentang dia." Tuturnya seraya kembali melihat pada tabletnya.

__ADS_1


"Walau hanya satu tahun mengenalnya, tapi aku tahu banyak tentangnya." Erik kembali mengingat apa saja tentang Wanita itu.


Zevin meletakan tabletnya ke dalam tas kerja yang ada di pangkuannya. "Terserah pada mu saja. Sekarang apa rencana mu selanjutnya?" Ikut fokus melihat ke depan.


"Kemarin saat kita di desa, aku minta seseorang pergi ke kota asal Della. Untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Ibu Della sudah meninggal setahun setelah Della di nyatakan meninggal. Identitas yang di temukan di TKP adalah milik Della. Rumah mereka telah dijual pada  tetangganya, barang-barang penting milik keluarga Della ada  pada pamannya. Untuk beberapa hari ke depan aku mau ke sana memperjelas masalah ini. Tapi kakak tenang saja aku pastikan Feby adalah Della." Jelas Erik panjang lebar.


"Kamu bergerak cepat juga. Baiklah kamu selesaikan dulu masalah Feby. Apa perlu aku ikut ke sana?" Tawar Zevin.


"Tidak perlu, Kak. Aku bisa mengatasinya, nanti jika jalannya buntu. Aku akan meminta bantuan kakak." Balas Erik.


...----------------...


Di Kantor pusat JG....


Erik di kejutkan dengan getaran ponselnya sendiri. Sebelum menjawab Dia membaca nama pemanggilnya adalah Maura.


"Iya, Maura " jawabnya sembari merapikan meja kerjanya.


"Apa kabar? "


"Kabar ku baik." Erik kembali menjadi dirinya semula berwatak dingin.


"Rik, aku kembali ke kota ini lagi. Ibuku sudah sehat dan rencananya, aku akan melamar lagi di perusahaan milik tuan Zevin. Tapi di kantor yang di pimpin tuan Dias."


"Syukurlah jika ibu mu sudah sehat aku senang mendengarnya. Semoga kamu diterima di kantor itu ya." Erik ikut senang mendengar kesehatan ibu Maura sudah membaik.


"Maafkan aku Maura, aku sedang sibuk pekerjaan ku menumpuk karena baru saja pulang liburan bersama tuan Zev sekeluarga." Tolak Erik halus.


"Begitu ya,  tidak apa-apa. Kapan-kapan kita bisa bertemu lagi. Baiklah aku tutup telponnya ya. Sudah jam makan siang orang kantor."


Erik segera menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Karena dia akan pergi ke apartemen untuk mengeceknya. Sebelumnya Erik meminta seseorang membersihkan apartemen itu untuk di tempati Feby.


Erik masuk kedalam ruangan Zevin untuk berpamitan setelah mengetuk pintu nya lebih dulu. "Kak, aku akan ke apartemen." Pamitnya pada Zevin.


"Iya, hati-hati jika ada yang di butuhkan beritahu aku." Zevin menoleh ke arah pintu.


"Baiklah, makan siang di antar oleh Kak, Zi." Ujar Erik sembari melenggang pergi.


Erik meninggalkan kantor tanpa makan siang. Pria itu ingin memastikan agar Feby betah menempati apartemen itu. Erik harus mengecek sendiri kebersihan tiap sudutnya agar wanita yang diyakininya sebagai Della itu nyaman berada di sana.


Dengan langkah tegap Erik menaiki lantai tempat unitnya berada. Ia membuka pintu unit apartemen itu lalu mengecek tiap ruangannya serta dapur yang akan digunakan Feby. Erik sangat puas tak sia-sia membayar orang untuk membersihkannya, tak hanya itu sekecil apa pun di apartemen Erik pastikan berfungsi dengan baik.


Erik kembali ke rumah memberitahukan pada Feby jika dirinya bisa menempati apartemen itu kapan saja. Mobil Erik berhenti di depan rumah ia berlari kecil masuk kedalam.


"Ki, di mana Della ah Feby maksudku?" Erik melihat ke segala arah.


"Di kamar tamu Tuan."

__ADS_1


"Panggilkan dia" titah Erik seraya duduk di sofa ruang tamu.


"Iya Tuan"


Tidak menunggu lama, Feby keluar dari kamar tamu. Ia menghampiri Erik yang tengah duduk di sofa. Sejak bertemu dengan pria dingin itu, Feby merasakan debaran yang sama bahkan. Ia tidak memiliki rasa takut sedikit pun pada Erik. Dalam hati kecilnya, ia seolah mengenal lama seorang  Erik.


"Kamu sudah pulang?" Tanya Feby sembari duduk di sebelah Erik.


Erik hanya tersenyum dan berkata


"Aku hanya pulang sebentar. Tadi aku ke apartemen mengecek di sana. Kamu sudah bisa menempatinya kapan saja."


Feby mengangguk


"Kamu sudah makan?" Tanyanya lagi.


Dada Erik berdebar mendapatkan perhatian dari wanita di sampingnya itu. "Aku belum makan siang." Jawabnya jujur.


"Ayo makan dulu,  Aku siapkan ya ! Tadi Kak, Zi. Ke kantor mengantarkan makan siang untuk dokter, Zev. " Ujar Feby beranjak pergi ke dapur. di ikuti Erik.


Feby dengan cekatan menyiapkan makan siang untuk Erik.  Pria dingin itu memperhatikan pergerakan Feby sembari tersenyum. Ada rasa bahagia dalam hatinya telah mendapati Della masih hidup.


Usai makan siang Erik menyeka mulutnya menggunakan tisu. "Kamu bersiap saja, nanti sepulang dari  kantor ikutlah dengan ku." ujarnya meninggalkan ruang makan.


"Baiklah." Jawab Feby mengantarkan Erik ke depan rumah.


...----------------...


Erik menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat karena ingin menepati janjinya pada Feby. Erik dan Zevin pulang ke rumah, di halaman rumah baby Zayyan dan Nazia telah menyambut kedatang Zevin. Tak jauh dari sana ada Feby tengah berbincang dengan Ralda.


"Sayang aku merindukan mu" Kebiasaan Zevin jika pulang bekerja bermanja-manja dulu pada istrinya.


Siapa pun melihat adegan haru biru Zevin akan merasa iri. Suami Nazia itu mengekspresikan perasaan cintanya tidak malu-malu. Di balik  rasa rindunya ada rasa cemburu terselip. Zevin selalu cemburu pada baby Zayyan karena selalu bersama Nazia. Maka di saat pulang bekerja Zevin membalasnya dengan selalu bermanja-manja pada istrinya itu.


***


Epilog


Setelah berpikir matang, akhirnya Maura memutuskan kembali melamar ke perusahaan milik Zevin lagi. Namun, tidak di kantor pusatnya. Maura akan melamar di kantor yang dipimpin Dias yaitu Jewelry Corporation yang bergerak dibidang  perhiasan.


"Mama istirahatlah." Maura dan ibu Sila menempati rumah kontrakan sederhana.


"Iya, Nak . Kamu juga ya"


Maura tersenyum sendiri di dalam kamarnya. Ia tak sabar untuk memberitahu keberadaannya pada Erik. Lagi-lagi pria dingin itu yang menjadi obsesinya kembali ke kota itu.


Penolakan Erik satu tahun lalu tidak membuat Maura patah semangat mencairkan bekunya hati Erik. Bahkan dirinya semakin tertantang dalam hal ini.

__ADS_1


__ADS_2