
Erik sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya itu. Apa lagi keterangan dari pusat informasi mengatakan pesawat yang ditumpangi Dias dan Maura sudah tiba empat puluh lima menit yang lalu
Hal sama juga dirasakan Della, ia gelisah melihat arah kedatangan belum juga nampak sang kekasih. Kecemasan di hatinya berkurang karena pesawat sudah tiba.
Zevin ikut berdiri di pintu kedatangan, ia juga harus memastikan jika dua karyawannya itu baik-baik saja. " Itu mereka." Tunjuknya
Erik dan Della mengikuti arah pandang atasan mereka ini, dari jauh terlihat wajah Dias dan Maura masih tegang dan ketakutan. Terlihat dari cara Dias berusaha menenangkan Maura yang masih terbayang saat masih dalam penerbangan tadi.
Erik segera berlari kecil. "Kamu baik-baik saja ?" Tanyanya penuh kecemasan dan memeluk kekasihnya itu.
Maura mengangguk dan tersenyum. "Aku baik-baik saja. Meski pun sangat takut. Ini pengalaman pertama ku." Paparnya melonggarkan pelukannya.
"Syukurlah kalian tiba dengan selamat. Hujan sudah reda, ayo kita pulang !" Seru Zevin sambil melihat keadaan cuaca.
"Iya, Tuan ! Terimakasih sudah menjemput kami." Ujar Dias hampir saja melupakan keberadaan Zevin. Karena fokus bicara pada Della.
Zevin melangkah lebih dulu menuju arah mobil terparkir. Sopirnya telah menunggu disana, karena sudah melewati senja. Zevin memutuskan untuk mengajak mereka makan malam di rumahnya. Suami Nazia ini mengirimkan pesan untuk menyiapkan makanan lebih banyak.
"Kalian sudah tiba empat puluh lima menit yang lalu. Kenapa baru ke luar ? Tanya Della. Ia duduk bersama Maura di kursi tengah.
"Kami menenangkan diri dulu. Waktu berangkat tadi cuaca baik-baik saja. Tapi saat sudah di ketinggian beberapa ribu kaki, tiba-tiba cuaca berubah. Guncangan terasa sekali. Aku belum pernah terbang dengan kondisi seperti itu." Papar Dias dari kursi belakang. Masih terngiang pengumuman dari pramugari mengatakan cuaca kurang baik lalu meminta mengencangkan sabuk pengaman serta menegakkan sandaran kursi. Jantungnya berdegup kencang.
Zevin tertawa. "Mungkin pesawat yang kalian naiki sudah tua. Jadi terasa sekali guncangan di dalamnya. Syukurlah kalian tiba dengan selamat." Ucapnya penuh rasa syukur.
Menempuh jarak yang cukup jauh, akhirnya mobil yang membawa Zevin dan yang lainnya tiba di kediaman family Z.
Disana Nazia menyambut kedatangan mereka di depan pintu.
"Ayo masuk." Ajaknya
__ADS_1
"Iya, Nyonya." Jawab Dias mewakili mereka.
"Sayang... Aku mandi dulu." Zevin mendaratkan ciuman singkat di kening istrinya. "Kalian juga mandi, Dias masuklah di kamar tamu. Maura dan Della juga pilihlah salah satu kamar untuk kalian tempati." Titah Zevin lagi.
"Om..." Zayyan mengangkat tangannya pada Erik. Minta di gendong rupanya, putra Zevin merindukan Erik.
"Sebentar ya, om mandi dulu... Banyak kumannya di luar." Erik mengecup singkat pipi Zayyan di gendongan Nazia.
Maura tersenyum hangat, Erik bisa begitu lembut pada anak kecil. Ia dan Della memilih salah satu kamar untuk mereka tempati.
...----------------...
Usai membersihkan diri, mereka semua berkumpul di meja makan untuk makan malam. Zayyan dan Kiki lebih dulu makan sebelum kedatangan tuan rumah. Maka sekarang tugas Kiki menjaga putra Nazia itu. Pasangan muda ini tak pernah membatasi jam makan untuk asisten rumah tangga mereka. Jika lapar maka di persilahkan makan duluan.
"Sayang...sini jangan jauh-jauh dari ku." Aksi balas dendam Zevin. Karena menyaksikan kemesraan pasangan karyawannya itu tadi di bandara. "Makan sama kamu ya..." Bisiknya lagi.
Nazia tersenyum. "Baiklah, sayang ! Kalian makanlah, jangan canggung." Ujar Nazia pada Dias dan yang lainnya. Karena mereka masih diam menyaksikan kemanjaan Zevin.
Zevin dan Nazia saling berbagi sendok dan menyuapi, kemesraan mereka begitu manis. Lihatlah Zevin menyuapi istrinya sambil menggenggam hangat jemari yang memasak makanan tiap hari untuknya.
Usai makan malam, mereka berkumpul di ruang tengah. Zevin duduk bersandar di sofa, kemudian berkata. " Kalian menginap saja di sini, sudah malam."
"Tapi, papa dan mama pasti cemas." Papar Dias melihat ke arah Zevin.
"Aku sudah menghubungi pak, Ali." Sahut Zevin. Ia membimbing tangan istrinya untuk duduk di samping.
Della dan Maura juga duduk di samping kekasih mereka masing-masing. Dias dan Maura menceritakan perjalanan bisnis mereka, sementara itu Erik sibuk bicara pada Zayyan yang menempel padanya. Rupanya putra Nazia ini sengaja memberikan ruang untuk papanya menempel pada mama kesayangannya itu. Sambil bersandar manja di tubuh istrinya, Zevin mendengarkan cerita Maura dan Dias.
...----------------...
__ADS_1
Waktu hampir larut, Zevin meminta pada tamu-tamunya itu untuk beristirahat. Dan memberi ultimatum jangan sampai tidur sambil berjalan khususnya pada kaum adam. Karena Zevin tahu mereka adalah pasangan.
Erik membawa Maura beristirahat setelah family Z meninggalkan ruangan tengah. Dias pun melakukan hal yang sama, ia mengajak Della untuk istirahat.
Belum puas rasa tentang rindunya, Erik membawa Maura masuk ke dalam kamarnya, meski ragu tapi tetap saja wanita cantik ini menuruti Erik. Saat masuk ke dalam, Maura di buat terperangah oleh desain kamar Erik yang elegan. Lebih mengejutkan lagi, ada lukisan dirinya berukuran besar di kamar Erik. Dengan posisi ia tertidur di atas kasur, Maura mengingat kembali baju yang ia kenakannya.
Ya ! Lukisan itu dibuat saat dirinya tidak sadarkan diri ketika ibunya di nyatakan meninggal oleh Yudha. Rupanya kesempatan itu Erik ambil untuk melukis Maura. Kelebihan yang tidak Erik perlihatkan.
" Rupanya kamu diam-diam melukis ku saat tidak sadarkan diri." Tutur Maura tersenyum kemudian matanya tertuju pada boneka ukuran besar yang mirip dengan boneka kecil gantungan kuncinya. "Boneka ini..." Ucapnya sambil melihat pada Erik.
Pria dingin ini tersenyum kemudian mengambil boneka itu. "Karena yang kamu miliki hanya anaknya, jadi aku bawakan juga ibunya. Boneka ini untuk mu, tapi aku tidak bisa membuat musik di perutnya." Papar Erik tertawa.
"Jadi kamu mengakui kejahatan mu, yang telah mencuri gantungan kunci ku." Tebak Maura dengan wajah terlihat lucu.
Erik mengangguk. "Bisa dikatakan begitu jadi kita impas." Ucapnya tersenyum. "Aku kebawah dulu ya... Tunggu di sini." Erik pergi ke luar kamar. Tapi sebelumnya meninggalkan jejak ciuman di kening kekasihnya.
Maura menggeser gorden pintu kaca menuju balkon, lagi-lagi ia takjub bisa melihat pemandangan malam dari kamar ini. Meski pun tidak berdiri di balkon.
Tak ingin penasaran, Maura melangkahkan kakinya untuk berdiri di balkon kamar Erik. Di sini ia bisa merasakan angin menerbangkan rambutnya.
"Kenapa keluar." Erik membungkus tubuhnya dan Maura dengan selimut tebal. Ia mengeratkan lingkaran tangannya sambil mengecup pucuk kepala kekasihnya itu. "Masih takut ?" Tanya Erik lagi.
Maura menggeleng. Ia tersenyum dalam pelukan Erik rasanya begitu hangat ditambah lagi selimut yang membungkus mereka berdua. "Sudah tidak lagi. Tadinya aku takut...jika pesawat itu jatuh, maka tadi malam pertemuan terakhir kita."
"Syuttt...jangan bicara seperti itu. Aku lebih takut. Aku bahkan tidak bisa berpikir apa-apa tadi." Erik kembali mengecup pucuk kepala kekasihnya itu.
"Apa setiap malam kamu berada di balkon ini? Kenapa kamu tidak tinggal bersama kak, Ralda ?" Tanya Maura lembut.
"Iya, dari sini aku bisa mengawasi kakak ku. Aku tidak bisa berpisah dari Kak, Zevin. Dia adalah separuh diriku. Aku bukan siapa-siapa tanpa bantuan dari nya. Jadi, jika suatu saat nanti waktu ku terbagi untuknya kamu jangan cemburu, karena aku tidak bisa memilih antara kalian." Jelas Erik.
__ADS_1
"Jadi madu ku, seorang laki-laki..." Maura tertawa. "Kamu tidak usah cemas aku mengerti, keluarga Indra segalanya untuk mu. Terlebih tuan Zev. Aku bahagia dengan keadaan mu sekarang. Aku tidak menuntut banyak hanya pengertian dan kesetiaan." Sambung Maura lagi.
"Aku tidak mau berjanji, tapi akan membuktikannya. Aku banyak belajar dari kak, Zi. Dia jarang mengucapkan kata-kata cinta tapi lebih pada pembuktiannya. Kamu juga melihat bagaimana besarnya cinta diantara mereka. " Tutur Erik tersenyum. "Ayo masuk ! tadi aku membuat teh untuk kita berdua." Ia menuntun Maura untuk masuk ke dalam.