Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Bekal Terakhir


__ADS_3

Ibu tetangga menghampiri Maura, beliau juga mengintip di kaca berharap ada celah untuk melihat ke dalam. Namun sayang, pandangannya tak mampu menembus kaca jendela di depan rumah. Selain memang sudah senja dan mulai menggelap lampu tengah yang mati tak bisa melihat apa pun. Hanya ada cahaya lampu dari ventilasi kamar ibu Sila itu pun tak sampai ke ruang tengah.


"Tadi, mama mu sempat keluar sebentar lalu masuk lagi. Itu pun tak bicara hanya tersenyum, sepertinya ibu Sila kurang sehat ya... Tadi terlihat pucat." Jelas Ibu tetangga yang bernama Rini ini, setelah berusaha mengintip lewat jendela.


"Iya Bu, Mama memang kurang sehat tadi malam. Sebenarnya saya enggan berangkat  bekerja tadi pagi, tapi mama memaksa dan mengatakan sudah membaik. Beliau juga bisa memasak sarapan." Papar Maura.


"Ma... Buka pintunya. Aku pulang." Teriak Maura lagi. Tak hanya mengetuk dia juga menelpon ponsel ibu Sila.


"Coba aku ketuk di jendela samping ya..." Della berpindah ke samping dan mengetuk jendela. "Tante... Ini kami." Teriak Della.


Hening masih seperti tadi tidak ada sahutan. Maura dan Della semakin gelisah, pikiran buruk mulai hinggap pada Maura. Bahkan matanya nampak memerah, tubuhnya juga gemetar takut hal buruk terjadi.


"Nak, Maura ! Bagaimana jika pintunya kita dobrak saja. Minta bantuan para pemuda itu." Usul ibu Rini setelah melihat sekumpul pemuda berjalan kaki menuju rumahnya masing-masing.


"Iya, Bu. Itu lebih baik, saya juga lupa membawa kunci cadangannya." Ujar Maura setuju.


Ibu Rini memanggil beberapa orang pemuda tadi sebelum mereka sampai ke rumahnya. Beliau meminta dengan sopan untuk mendobrak pintu rumah ibu Sila, setelah mendapatkan persetujuan dari Maura.


Hanya tiga kali dobrak, daun pintu terbuka lebar. Maura dan Della serta ibu Rini bergegas masuk. Di ikuti beberapa orang pemuda tadi. Maura menghidupkan seluruh lampu.


"Ma... Mama di mana ? Aku pulang." Panggil Maura melangkah cepat menuju kamar ibu Sila di ikuti Della dan yang lainnya.


Pintu kamar terbuka.


"MAMA !" teriak Maura panik melihat ibu Sila tersungkur di lantai tak sadarkan diri. Tak jauh dari beliau ada muntahan yang berserak. " Mama kenapa ?" Tangis Maura pecah. Ia berusaha memangku kepala ibunya.


"Tante..." Lirih Della juga duduk di lantai. Ia ikut menangis melihat kondisi Ibu Sila.


"Kita angkat ke atas kasur, Nak. Ayo kalian bantu angkat ibu Sila." Titah Ibu Rini. Maura mengangguk lalu memberi tempat untuk beberapa pemuda itu mengangkat ibu Sila ke atas kasur.


"Mama....bangun... Kenapa seperti ini ? Bukankah ? Tadi pagi mama mengatakan sudah membaik." Isak Maura berusaha membuat ibunya sadar.


"Kita ke rumah sakit saja." Usul Della cepat.


"Tunggu, biar ibu lihat dulu." Tahan ibu Rini karena sejak tadi Beliau merasakan jika tubuh ibu Sila dingin. Lalu merasakan denyutan nadi di tangan dan di leher. "Nak... Maaf, mama mu sudah tidak ada." Ucap beliau sedih dan menitikkan air mata.

__ADS_1


"Tidak mungkin... Mama tadi pagi baik-baik saja. Jangan katakan itu padaku ! Mama masih ada ... Ma... Bangun... Jangan membuat ku takut." Maura menggeleng dan menangis. Histeris.


"Maura kita hadapi ini sama-sama." Della menyentuh pundak Maura sambil menangis.


"Mama... Buka mata, jangan seperti ini... Mama hanya tidur, 'kan ?Jangan bercanda Ma..." Maura semakin histeris. Para pemuda tadi berdiam diri di pojokan ikut bersedih, salah satu dari mereka ada yang membersihkan muntahan ibu Sila.


"Sabar, Nak... Maafkan ibu harus mengatakannya." Tutur ibu Rini bersedih. Beliau sangat mengenal baik Maura dan Ibu Sila. Mereka tipe tetangga saling peduli pada orang yang dilanda kesusahan. Maka dari itu beliau pun ikut merasa kehilangan.


"Del, aku harus menelpon dokter Yudha. Dia pasti bisa menyembuhkan mama." Racau Maura disela tangisnya. Tangannya gemetar meraba-raba ponsel dari dalam tasnya. Hingga seluruh isi dalam tas Maura tumpahkan. "Di—dimana ponsel ku ? Del... Aku tidak memiliki nomor ponsel dokter Yudha." Keluh Maura kembali menangis.


Della mengambil ponselnya sendiri dan menelpon Erik untuk mengabari dokter Yudha. Karena dirinya dan Maura tidak memiliki nomor ponsel dokter tampan itu. Maura meraung di sisi ibu Sila, masih tak mempercayai jika ibunya sudah tidak ada.


"Kendalikan diri mu..." Della memeluk tubuh lemah Maura. Ia juga merasa kehilangan.


"Del, mama masih ada, 'kan ? Mama hanya tidur. Mama tidak mungkin meninggalkan ku sendiri. Tadi pagi mama memasak untuk ku. I—ini masih ada makanannya belum aku makan." Maura mengeluarkan kotak nasi dan meletakkannya di atas meja samping kasur.


Mendengar suara tangis bersahut-sahutan dari dalam rumah ibu Sila. Para tetangga terdekat datang untuk melihat. Mereka menatap iba pada Maura karena kehilangan ibunya, tampilan wanita cantik ini begitu kacau.


"Nak, minumlah..." Ibu Rini memberikan air putih pada Maura.


"Kendalikan dirimu." Tangis Della pecah merangkul tubuh Maura.


Di depan rumah deru mobil terdengar berhenti. Tak lama masuklah Erik dan  Yudha, rupanya pria dingin itu langsung menjemputnya.


Melihat kedatangan Yudha, Maura segera berdiri dan menghampirinya lalu menarik tangan Yudha " Dokter sini, ayo periksa mama. Beliau pingsan dan belum bangun." Paparnya sesegukkan.


"Iya, beri saya ruang." Yudha mengeluarkan alat medisnya. Ia memeriksa denyut nadi Ibu Sila dan detak jantungnya, terakhir Yudha memeriksa mata ibu Sila menggunakan senter.


Erik berdiri tak jauh dari Maura dan Della. Ia bisa melihat wajah sedih sekretaris cantik itu, Erik juga bersedih melihat keadaan Ibu Sila.


"Bagaimana, Kak?" Tanya Erik mewakilkan semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


Yudha menggeleng lalu menatap sendu pada Maura yang menanti jawabannya. " Maaf, Ibu Sila memang sudah tidak ada."


"Mama..." Isak Maura memeluk tubuh kaku Ibu Sila, tidak ada lagi racaunya seperti tadi. Hanya ada suara tangis yang menggema. Suara tangis yang begitu pilu hingga membawa beberapa orang ikut menangis.

__ADS_1


"Kita hadapi sama-sama." Della berusaha menguatkan. Tak menyangka pulang ke rumah Maura menghadapi hal semacam ini. Andai dia di posisi Maura mungkin dirinya akan lebih hancur. Karena ibunya seorang wanita bisu bahkan Della tak pernah mendengar suara ibunya. Mereka bicara hanya menggunakan bahasa isyarat.


Karena lama menangis dan faktor  kelahan juga, Maura tak sadarkan diri di atas tubuh dingin ibu Sila.  Della merasakan tidak ada lagi pergerakan Maura.


"Rik, gendong Maura ke kamarnya. Sepertinya dia pingsan. Aku akan menghubungi keluarganya, syukur kalau mereka mau datang, jika mereka menolak maka kita yang akan membantu Maura mengurus pemakaman tante Sila." Ujar Della mengusap air matanya. Ia sangat tahu perangai saudara tiri ayah Maura.


Erik mengangguk, lalu menggendong Maura. "Ayo Kak ! Periksa dia." Ucapnya sambil melangkah ke luar kamar.


Yudha mengekor di belakang hingga masuk ke dalam kamar Maura. Erik meletakkan tubuh lemah itu perlahan di atas kasur. Yudha mulai memeriksa, Erik duduk di tepi kasur membersihkan wajah Maura dari air mata menggunakan tissue. Ia juga merapikan rambut Maura dari ikatannya.


"Bagaimana, Kak ?" Tanya Erik setelah menutupi tubuh Maura dengan selimut.


"Semua normal, dia hanya lelah ." Jawab Yudha. "Aku tidak bisa ikut berjaga disini ada pasien yang harus ku pantau terus." Sambungnya lagi.


"Iya, terimakasih." Erik mengantar Yudha ke depan. Setelah mobil dokter itu menjauh dari pandangannya, Erik menghubungi Dias dan juga Zevin mengabari tentang ibu Sila tak hanya itu, ia juga mengatakan tidak pulang ke rumah. Setelah menutup telponnya, Erik kembali masuk ke kamar Maura dan duduk di sofa.


Netra tajamnya terfokus pada beberapa lembaran foto ukuran kecil yang ditempel rapi di dinding. "Aku..." Gumamnya pelan. Yang paling mengejutkan lagi dari foto itu sepertinya diambil sejak ia masih kuliah. "Apa dia menguntit ku ? Aku saja tidak memiliki foto ku di saat kuliah. Apa dia mengenal ku sejak lama ?" Duganya sembari melihat ke arah Maura yang masih terpejam.


Sementara Erik menunggu Maura di kamarnya, maka Della membantu para tetangga menyiapkan ruang untuk jenazah ibu Sila. Mereka juga ikut berjaga di rumah itu.


Beberapa menit kemudian, Dias datang bersama Jo. Mereka datang membawa makan malam untuk Maura dan yang lainnya. Ide yang bagus karena Dias sangat yakin Maura tidak akan bisa mengurus apa pun  jika dalam keadaan seperti ini.


Jo meletakkan kresek besar itu di dapur, lalu meminta pada beberapa orang wanita untuk menyiapkannya dan mempersilakan orang-orang yang belum makan malam untuk makan.


"Kamu sudah makan ?" Tanya Dias lembut duduk di samping Della.


"Belum, selera makan ku hilang." Balas Della lesu. Meski ini duka Maura namun Della juga merasakan efek kehilangan itu.


"Makanlah sedikit, kamu harus memiliki tenaga. Maura butuh diri mu, jika kamu ikut lemah siapa yang menguatkannya?" Bujuk Dias halus bahkan tangannya telah berani merapikan anak rambut Della yang berantakan.


"Kamu benar aku harus makan terimakasih sudah mengingatkan ku." Ujar Della semangat.


Dias meraih piring yang berisi nasi dari atas meja. "Buka mulut mu, biar ku suapi." Ucapnya menyendok makanan itu.


Della menurut tak memiliki tenaga lagi untuk menolak, matanya menatap lekat pada Dias hingga pria itu menjadi salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2