Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Pembebasan


__ADS_3

Beberapa orang tersentak namun tidak pada Erik. Ia paham betul jika itu hanya gertakan versi Zevin. Tapi tidak menutupi kemungkinan jika suami Nazia itu benar-benar melakukannya, mengingat Zevin susah ditebak.


"Mereka ada di Villa." Jawab salah satunya cepat. Ia sangat takut dengan ancaman Zevin, tak bisa ia bayangkan jika adik perempuannya di posisi Della. Selama ini ia bersusah payah menjilat di depan Aryan agar tidak menyentuh anggota keluarganya.


Dua detektif segera mendatangi Villa yang mereka lihat tadi. Kemudian dua orangnya bertugas menjaga orang yang mereka tangkap sambil menunggu anggota yang lain menjemput. Sementara itu, Erik dan yang lainnya juga menuju tempat Della disekap.


Dengan melangkah hati-hati, dua detektif tadi masuk ke halaman Villa. Disana hampir sepuluh orang berjaga di luar. Jika mereka menghadapi hanya berdua, maka akan kalah jumlah. Salah satu dari mereka meminta bantuan pada para pengawal Jaya Group yang telah terlatih.


Tak butuh lama, sepuluh orang itu telah diringkus dengan rapi oleh para keamanan. Mereka memasuki pintu Villa dan sisa keamanan yang lainnya mengepung tempat itu.


...----------------...


Di dalam ruangan salah satu kamar, Della dihadapkan dengan sebuah laptop di atas meja. Ia dipaksa membuat salah satu sketsa perhiasan. Bekas ikatan tali terlihat merah di pergelangan tangannya. Tak hanya itu perihnya pun juga terasa, Della tak mampu menyembunyikan air matanya. Ia hanya mampu menangis ketakutan.


"Cepat, buatkan sketsanya ! Air mata mu tidak mempengaruhi ku !" Bentak Aryan. Ia merasa geram karena Della belum juga bergerak.


Di dalam ruangan itu tak hanya mereka berdua namun ada beberapa pengawal Aryan yang berjaga. Mereka menyeringai menatap Della, sudah terbayang di otak mereka malam ini akan berpesta sebelum Della di bawa.


Ketakutan Della semakin merajainya, sekujur tubuhnya gemetar. Mengambil jalan aman Della mulai bergerak, namun otaknya serasa buntu tak bisa berpikir dengan jernih.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan ?! Sejak tadi hanya menghapus saja." Aryan menggebrak meja.


Della tersentak, ia menghapus air matanya lalu kembali mencoba membuat pola kembali. Kaki tangannya meresap dingin. Aryan sibuk memantau Della tanpa disadarinya di lantai bawah para pengawalnya sudah diringkus satu persatu oleh para detektif dan yang lainnya.


"Setelah ini, apa kamu membebaskan ku ? Aku ingin pulang, semua orang pasti mencemaskan ku." Lirih Della. Tatapannya begitu sayu penuh permohonan.


Aryan tertawa dan berkata "Aku tidak berjanji ! Melihat dari bentuk tubuh mu. Nilai jual mu lumayan tinggi."


Della terkejut, jadi dirinya tak hanya disekap namun juga akan diperjual-belikan ? Ia menggeleng lemah dan menangis.


Laptop milik Aryan dibanting Della ke dinding hingga pecah. Aryan dan para mengawalnya terkejut, emosi pria itu memuncak melihat keberanian Della kali ini.


"Kau melawan ku Nona ! Aku benci dengan wanita keras kepala." Arya mencengkram dagu Della. "Aku membenci orang yang tidak menurut padaku, bawa dia !" Titahnya lagi pada para mengawalnya.


Della memberontak. "Lepaskan aku ! Lepaskan ! "Teriaknya sambil diseret keluar dari kamar. Ia melawan sekuat tenaganya yang tersisa, beruntung Della mengenakan pakaian kerja dengan stelan celana.


"Aaa !! Tangkap Dia !" Pekik salah satu pengawal karena Della menendang salah satu aset berharganya.


"Sialan ! Kalian kalah dengan seorang wanita. Kejar dia !" Teriak Aryan menggema. Kali ini amarahnya semakin menjadi.

__ADS_1


"Berhenti di situ !" Suara detektif menghentikan langkah para pengawal. Della bersembunyi di balik sofa menahan nafasnya. Berharap dua orang pria yang masuk tadi berniat baik menolongnya.


"Siapa kalian ?! Dengan beraninya masuk villa ku tanpa ijin ! " Ujar Arya mendekat. Mereka saling menodongkan senjata.


"Saudara Aryan , anda jadi buronan karena menculik nona Della dan anda juga terlibat kasus jual-beli wanita !" Tutur salah satu detektif.


"Sial !" Gumam Aryan. Ia memberi kode untuk para mengawalnya menyelesaikan dua detektif itu. Sementara dirinya berniat melarikan diri.  Aryan melangkah pelan ke arah pintu samping saat pengawalnya baku hantam dengan dua detektif itu. Matanya tertuju pada sosok wanita yang duduk di belakang sofa. Dengan gerak cepat ia meraih pergelangan Della. "Ikut aku !" Ucapnya sambil menyeret Della.


"Lepaskan aku !" Della berusaha melawan namun tenaganya tak sebanding. Aryan terus saja menyeretnya, meski langkah wanita ini terseok-seok.


"Lepaskan dia !" Suara Dias menghentikan langkah mereka.  Tangannya mengepal melihat kondisi Della yang berantakan.


Aryan tersenyum kecut lalu menyerang Dias, mereka saling pukul. Della kembali bersembunyi namun malangnya para pengawal Aryan datang dalam jumlah lumayan banyak. Ia kembali tertangkap. Namun pengawal Jaya Group segera menerobos masuk karena mendengarkan kegaduhan di dalam Villa.


Suara barang-barang pecah begitu memekakkan telinga. Belum lagi suara kesakitan dari mereka yang baku hantam.


"Kamu tunggu disini ! Jangan masuk !" Titah Erik pada Maura. Di balas anggukan dari wanita itu.


Ternyata Aryan memiliki pengawal yang kuat dan banyak, tidak mudah untuk melumpuhkan mereka. Bahkan dua dari detektif itu kewalahan. Namun mereka tetap ingin menangkap Aryan beserta anak buahnya.

__ADS_1


"Jo, Jaga Maura !" Titah Zevin. Pria ini tak banyak bicara sejak tadi. Ia hanya mengamati dan mempelajari situasi. Setelah Zevin masuk, datang dua orang detektif lainnya. Mereka ikut bergabung di dalam sana.


__ADS_2