Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Memang Jodoh Ku


__ADS_3

Maura melangkah cepat, ia langsung naik ke lantai dimana ruangan kekasihnya itu berada. Maura menghampiri Haris yang tengah fokus bekerja.


"Haris." Sapa  Maura dengan sedikit senyuman.


Haris menoleh ke asal suara, ia tersenyum melihat kekasih Erik tersebut. "Maura masuklah. Kak Erik ada di dalam ruangan direktur." Ucapnya sambil mempersilahkan.


"Terimakasih." Maura segera melangkah dan mengetuk daun pintu kokoh itu.


"Masuk"


"Permisi." Ucap Maura di depan pintu. Ia takjub dengan keindahan ruangan direktur itu.


Zevin menoleh." Kamu sudah datang, silahkan masuk." Ia melangkah menuju salah satu ruangan yang belum pernah Maura lihat. "Kemarilah, Erik di dalam sini. Dia demam." Zevin membuka pintu lebar.


Maura melangkah pelan dan menghampiri Zevin. Matanya tertuju pada sosok yang terbaring lemah di atas kasur dengan wajah pucat. "Erik..."lirihnya sambil mendekat. "Sejak kapan dia demam tuan?" Tanya  Maura pada Zevin.


"Sejak tiba di kantor, sekarang kamu bawa dia pulang ke rumah kami. Aku sudah menghubungi Dias. Jadi kamu bisa menemaninya di rumah, karena istriku belum pulang dari rumah sakit hanya Kiki dan beberapa asisten rumah tangga yang ada." Jelas Zevin sambil menelpon sopir kantor untuk mengantar Maura dan Erik pulang.


Maura menyingkirkan rambut yang menutup kening kekasihnya itu. Kemudian mengecupnya. Apakah Erik demam karena tadi pagi ? Pantas saja dirinya mengatakan akan tidur seharian, Erik mengerjapkan matanya merasa sesuatu yang kenyal dan lembut menyentuh kulitnya. Ia tersenyum melihat sorot kecemasan dimata Maura.


"Kita pulang ya." Ajak Maura sambil membantu Erik duduk, kemudian menuntun nya untuk minum.


Erik mengangguk. "Iya, jangan cemas aku tidak parah." Ucapnya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik kekasihnya itu.


"Sopir sudah siap, kalian bisa pulang. Erik, apa kamu kuat melangkah sampai ke bawah?" Zevin bicara sambil melangkah masuk menghampiri Erik dan Maura.


"Aku tidak lemah, sudah ada perawat pribadi ku disini. Jadi aku akan cepat sembuh." Tutur Erik tersenyum.


Wajah Maura merona. "Dia sakit apa tuan ?" Tanyanya pada Zevin. Suami Nazia itu hanya meminta mereka pulang tidak untuk pergi ke rumah sakit, itu tandanya Erik sudah dalam perawatan Zevin.

__ADS_1


Zevin melirik sebentar lalu merubah raut wajahnya serius. Hingga Erik dan Maura ikut tegang." Komplikasi !" Ucapnya pendek.


"Komplikasi ?!" Pekik Erik dan Maura tanpa sadar. Jantung keduanya berpacu lebih cepat. Ada apa ini ? Apakah penyakit Erik sudah lama ? Hingga jadi komplikasi.


Maura dan Erik saling memandang, kemudian Erik berpaling melihat pada Zevin yang terlihat santai. "Kak. Aku belum tes lab dari mana kakak tahu aku memiliki penyakit komplikasi ? Selama ini aku merasa sehat." Erik tidak percaya atas diagnosa Zevin. Karena terlihat suami Nazia ini tidak bersedih. Karena Erik sangat tahu jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan maka Zevin yang menggila karena sedih.


Zevin tersenyum. "Aku tidak mengatakan jika penyakit mu serius, tapi aku mengatakan kamu sakit komplikasi." Ucapnya menahan tawa. "Kamu memang komplikasi, karena rindu, kurang belaian dan masuk angin. Siapa suruh begadang sendiri di rooftop." Jelas Zevin sembari mencibir.


Refleks, Erik melemparkan bantal ke arah Zevin. Namun suami Nazia itu sigap menangkapnya. "Biar saja, aku komplikasi dari pada kakak dirasuki jin budak cinta." Balas Erik tidak mau kalah.


Maura bernafas lega. "Ayo pulang." Ajaknya sembari membawa tas kerja milik Erik.


Zevin terbahak sudah menjahili Erik. "Hati-hati. Jika demam mu masih tinggi, hubungi Yudha minta dia tes lab, kamu hanya kelelahan jadi imun mu turun. Sehabis perjalanan kemarin kamu tidak ada istirahat." Jelasnya kembali.


"Iya, kami pulang dulu." Pamit Erik dan Maura. Zevin mengantarkan mereka sampai ke bawah karena cemas jika Erik tidak mampu melangkah sampai mobil.


Kini Maura tahu jika Erik tidak bisa jauh dari suami Nazia itu. Karena kasih sayangnya begitu kentara.


...----------------...


Diperjalanan, Erik bersandar di bahu kekasihnya ini dengan jemari saling bertautan. Rasanya tubuh Erik sangat sakit dan kepalanya juga pusing. Sepanjang perjalanan dia hanya memejamkan matanya.


"Jangan ulangi lagi begadang sampai semalaman. Aku suka dengan kejutan mu tapi tidak suka jika kamu mengejar waktu tanpa memikirkan tubuh mu yang lelah." Omel Maura pada Erik.


Pria dingin ini tersenyum. "Iya sayang, tidak akan ku ulangi lagi." Ucapnya lalu mengecup punggung tangan kekasihnya itu. "Sepertinya hari ini benar-benar istimewa, kamu adalah wanita kedua setelah, kak Zi masuk ke dalam kamar pribadi kak Zevin. Dia tidak mengijinkan siapa pun untuk masuk ke ruangan pribadinya selain aku dan istrinya." Ungkap Erik.


Maura mengangguk dan berkata "Tadi tuan Zev menelpon ku memakai nomor pribadinya."


"Benarkah ? Itu tandanya jika calon istri ku ini masuk jajaran orang penting dalam daftar kontaknya. Kamu tahu sayang, aku dan kak Zev sejak dulu memiliki nomor pribadi yang hanya sedikit orang memilikinya." Jelas Erik tanpa membuka matanya.

__ADS_1


"Jadi aku juga orang teristimewa, dari dulu hingga sekarang memiliki nomor pribadi mu. Dan kita pernah berkomunikasi lewat nomor itu?" Tebak Maura yang membuat Erik membuka matanya.


"Apa aku pernah memberikan nomor pribadi ku pada mu?" Erik baru menyadari jika nomor ponsel Maura sudah lama terdaftar di dalam sim card pribadinya.


Maura mengangguk. "Iya, karena nomor yang aku simpan dari kartu nama mu tidak pernah kamu gunakan menghubungi ku. Aku pun sempat bingung dulu, saat kamu menelpon ku pertama kali dengan nomor yang berbeda." Jelasnya antusias


Erik menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Maura dan berkata. " Kamu memang jodoh ku." Ucapnya membuka mata sambil tersenyum


Wajah Maura merona. Hal itu membuat Erik gemas, tangannya terulur ke atas menyentuh pipi merah kekasihnya itu. "Apa demam ku menular pada mu." Godanya sembari mengusap lembut pipi  mulus itu.


...----------------...


Setiba di rumah, Erik dan Maura segera masuk. Kiki di buat terkejut dengan keadaan Erik yang lemas dan pucat. Ia membantu membawakan tas Erik.


"Tuan Erik sakit ya Nona ?" Tanya Kiki sambil mengikuti langkah Maura yang memapah Erik.


"Iya Ki, ayo bantu aku membawanya ke kamar." Pinta Maura. Kiki mengangguk sambil membantu Maura menekan tombol buka pada lift rumah.


Erik merasakan tubuhnya lemah dan pegal. "Tubuh ku semakin sakit" Keluhnya saat keluar dari lift.


"Saya buatkan anda susu jahe  tuan, sama seperti yang sering dibuatkan  nyonya Zi." Seru Kiki membuka pintu kamar.


"Iya Ki, kamu tanyakan cara membuatnya pada kak Zi." Erik menyetujui usul Kiki.


"Baiklah, Jadi untuk tuan Erik di masak apa Nona ?" Tanya Kiki pada Maura.


"Yang berkuah saja Ki sama nasi, sepertinya lambung nya tidak bermasalah. Apa kalian memiliki tukang pijit langganan?" Tanya Maura melihat pada Erik dan Kiki bergantian.


"Tidak ada Nona, biasanya kalau tuan Zev atau Zayyan kurang sehat. Nyonya merawat mereka sendiri dan memijit sendiri." Jelas Kiki.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu terimakasih ya Ki, sudah membantu ku " ucap Maura tulus. Kiki mengangguk lalu meninggalkan kamar Erik.


__ADS_2