
Hari ini Maura merasa sehat dan bisa masuk ke kantor lagi. Sesuai janjinya, Erik akan merusuh di pagi hari. Pria itu akan datang sangat pagi jika dirinya pulang ke rumah. Seperti hari ini, ia datang jam lima pagi memaksa Maura membuka pintu. Padahal wanita ini masih nyaman tidur di atas kasur.
Usai sarapan tadi, Erik pergi ke unitnya untuk berganti baju. Ia juga akan berangkat bekerja. Kesempatan itu Maura gunakan untuk turun dan pergi ke halte bus. Maura masih enggan menerima motor yang pernah diberikan Erik. Padahal motor itu sudah ada di basemen apartemen.
Maura menaiki salah satu bus searah dengan kantornya. Rupanya teman sekantornya pun juga ada di sana. Maura tak kebagian tempat duduk, jadi ia memilih berdiri dan berpegangan.
Di perjalanan, entah kenapa sopirnya hari ini sedikit liar dalam mengemudi hingga membuat tubuh para penumpangnya oleng. Maura hampir saja terjatuh namun ada tangan kekar sigap merangkul tubuhnya dan memeluknya erat.
"Ada yang sakit?"
"Erik..." Maura mendongakkan kepalanya ke atas. "Kamu naik bus ?" Tanyanya sambil berusaha memisahkan tubuhnya dari Erik.
Pria dingin ini tersenyum. Kemudian melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh Maura. Merasa canggung Maura merubah posisinya membelakangi Erik. Pria ini semakin menempel pada Maura seolah tak memberi ruang untuk orang lain berdekatan dengan wanita cantik di depannya ini.
"Ayo turun !" Erik menarik tangan Maura ketika bus tiba di halte dekat kantornya.
"Aku bisa sendiri, Kenapa naik bus ? Bukankah ? kantor mu sebelum kesini kenapa melewatinya?" Maura menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Mengantar mu !" Erik menarik kembali tangan Maura. Pria ini sudah tertular suami Nazia yang selalu menempel pada istrinya.
"Jangan bersikap aneh seperti ini, Erik ! Kenapa membuang waktu mu ?" Maura merasa kesal karena pria ini datang mengganggunya sejak pagi buta.
Erik memegang kedua bahu Maura dan mengunci iris matanya. Pria dingin ini membungkukkan tubuhnya sedikit, kemudian mendekatkan mulutnya ke kuping Maura dan berkata. "Ini salah satu metode biar pencuri seperti mu tidak melarikan diri, Nona !" Suara Erik hampir terdengar berbisik.
"Apa kalian akan terus bermesraan di sini?" Suara menyebalkan milik Jo. Membuat Erik kesal. Dengan santainya Jo kembali menginjak pedal gas menuju basemen
"Ck.Mengganggu saja !" Gerutu Erik membuang wajahnya. "Masuklah makan siang aku akan menjemput mu." Erik kembali menghadap Maura.
Tanpa sepengetahuan Erik, di malam dirinya sedang di operasi. Saat itulah Maura mengetahui jika boneka yang tergantung di kunci mobil Erik adalah miliknya. Maura menekan bagian perut boneka itu hingga mengeluarkan suara musik. Sebenarnya itu boneka biasa, namun Maura merakitnya sendiri dengan kemampuan yang ia miliki.
Maura melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Hari ini ia akan pergi bersama Dias untuk menghadiri beberapa pertemuan. Maura tiba di ruangannya kemudian menyiapkan beberapa berkas untuk dibawa, sesuai jadwal mereka akan berangkat satu jam lagi.
...----------------...
Jaya Group pusat....
__ADS_1
Erik dengan serius mengerjakan pekerjaannya, pria ini jarang sekali menyelesaikan pekerjaannya di ruangannya sendiri. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan Zevin.
"Bagaimana proses sidangnya Aryan ?" Tanya Zevin disela kegiatannya memeriksa beberapa berkas di mejanya.
"Hari ini sidang terakhirnya, Jo yang akan menghadirinya." Jawab Erik. Ia pun menjawab tanpa melihat ke arah Zevin.
Menghabiskan waktu sampai jam makan siang, kini Erik berniat menjemput Maura ke kantornya. Sebelumnya Erik berpamitan dahulu pada suami Nazia ini.
"Kak, aku ke kantor Maura dulu. Kami ada janji makan siang." Seru Erik mengumpulkan berkas-berkas di atas mejanya.
"Iya, aku juga akan menjemput istriku di rumah sakit. Hari ini mama Sherly dan papa Bram meminta kami mengantar Zayyan ke rumah mereka." Papar Zevin juga merapikan meja kerjanya.
"Baiklah, hati-hati !" Erik melenggang pergi ke luar.
Erik mengendari mobilnya ke kantor Maura, rupanya wanita itu belum kembali bersama Dias. Namun Dias mengirim pesan pada Della untuk menyusul mereka. Jadi Erik datang bersama Della.
Disinilah mereka berempat. Makan siang bersama seperti dulu, hanya Jo yang tidak nampak batang hidungnya.
__ADS_1