
Setelah pembicaraan panjang dan lebar. Akhirnya Della tinggal bersama Maura, tak ingin larut dalam kesedihannya. Pagi ini Maura menemani Della berkemas. Dias sengaja memberi mereka cuti untuk pindahnya Della ke rumah Maura.
Meski pun Dias agak berat hati karena Della tinggal bersama Maura, tapi dirinya kembali sadar. Dias bukan siapa-siapa untuk Della. Dua wanita ini berada di apartemen Della saat tengah berkemas tiba-tiba bel berbunyi.
Karena Della sedang ke kamar mandi, Maura bergegas membuka pintu. "Erik. Silahkan masuk !" Ucapnya datar.
Erik tersenyum tipis, entahlah semakin hari wajah Maura semakin cantik di matanya. " Kalian sudah selesai ?" tanyanya sembari duduk di sofa.
"Sedikit lagi, tunggu disini akan ku buatkan minuman. Della sedang di kamar mandi." Maura bergegas membuat minuman.
Erik mengecek ponselnya, tak ada panggilan penting dari suami manja Nazia. Sebelum datang kemari, Erik membuat perjanjian pada Zevin jika pekerjaannya belum selesai maka di lanjutkan di rumah.
"Erik, kamu sudah lama ? Kamu sendiri ?" Della bertanya sambil melangkah menghampiri pria dingin itu di sofa.
"Iya, memang siapa yang ingin kamu harapkan datang bersama ku?" Selidik Erik sembari meletakkan kunci mobilnya di atas meja.
"Tidak siapa-siapa !" Della salah tingkah dan tersenyum menutupinya.
Maura datang membawa nampan minuman, ia meletakkannya hati-hati di atas meja. Mata Maura tertuju pada kunci mobil Erik, hal mengejutkan adalah gantungan kuncinya adalah boneka yang mirip dengan miliknya.
"Dari mana kamu dapat gantungan kunci ini?" Tanya Maura. Sepertinya ia sudah terbiasa bicara datar pada pria dingin itu.
"Nemu punya orang jatuh !" Jawab Erik singkat. Kemudian meraih gelas minumannya.
Kenapa mirip dengan milik ku ? Nanti kulihat disana jika hilang itu pasti milik ku, karena pria ini kemarin ada di dalam kamar ku
Maura masih memperhatikan gantungan kunci itu.
Tanpa disadarinya jika Erik tersenyum tipis di balik gelas minuman itu. Bahkan Della saja tak menyadarinya Jika dia tahu itu miliknya, apa yang akan dilakukanya padaku ? Kenapa aku jadi penasaran ?
Erik kembali menetralkan dirinya
"Jika sudah selesai ayo ku antar ! Jangan tinggalkan barang apa pun." Serunya.
__ADS_1
"Semua sudah beres hanya persediaan makanan saja yang belum" sahut Della sambil berkirim pesan
"Bawa semua, sebagai upahku. Kalian berdua masaklah untuk makan siang ku." Papar Erik melihat pada Della dan Maura bergantian.
"Baiklah !" Sahut Della cepat. Berbeda dengan Maura ia terlihat acuh.
...----------------...
Erik mengantar Della dan Maura sampai ke rumah ibu Sila. Ia juga membantu menurunkan barang. Di belakang mereka ada lagi mobil lain yang dibawa Erik dari kantor untuk mengangkut barang Della. Ia sengaja meminta salah satu sopir kantor ikut dengannya.
"Kita satu kamar saja ya. Kamar mu luas." Usul Della riang.
"Baiklah, kamu bisa susun barang mu di dalam. Semua sudah aku atur."
Della bergegas masuk dan mengatur barang-barangnya. Sementara Maura menata barang makanan di dapur. Saking seriusnya, ia tak menyadari jika Erik berdiri di belakangnya.
"Erik ?!" Pekik Maura. "Kamu mengejutkan ku. " Sungutnya kesal.
Erik tersenyum tipis. "Sepertinya aku akan kembali ke kantor." Ucapnya sambil mengambil satu buah apel.
Erik hanya tersenyum lalu melambaikan tangannya, sekali lagi gantungan kunci di tangannya menarik perhatian Maura. "Makan siang aku kembali." Ucapnya sambil melangkah keluar.
Maura menatap kesal. Apa pria itu tak mengerti aturan, bukannya berpamitan pada Della malah melenggang pergi. Della selesai menata barangnya kemudian keluar dari kamar.
"Di mana Erik ?" Tanya Della tak melihat keberadaan pria dingin itu.
"Sudah kembali ke kantor, padahal tadi sudah ku minta berpamitan padamu, tapi dia tuli tidak mendengarkan perkataan ku." Kata Maura kesal.
Della tertawa dan berkata " Kamu ini seperti tidak mengenal Erik saja. Ayo kita memasak, Dias ingin makan siang bersama kita."
"Apa ?! Makan siang di sini, kenapa pria-pria itu seenaknya. Mereka orang kaya kenapa minta makan di sini."
"Biarkan saja, jika kamu lelah biar aku yang memasak." Ujar Della lembut.
__ADS_1
"Baiklah, aku istirahat sebentar kepala ku pusing.
Aku harus memastikan gantungan kunci itu.
Aku ke kamar dulu ya..." Maura melanjutkan langkah.
Waktu terus berdetak hingga siang pun tak terasa. Sejak satu jam lalu Della masih berkutat di dapur hampir tujuh puluh lima persen masakan nya selesai. Maura keluar kamar lalu mengambil air putih dan meminumnya. Ia memperhatikan masakan Della cukup banyak.
"Ada yang perlu kubantu ?" Tanya Maura. Suaranya terdengar serak.
"Ini kamu tata saja di atas meja sebentar lagi mereka datang." Della memberikan mangkuk sayur pada Maura.
Usai menata makanan, Della juga meyiapkan buah di atas meja. Sementara Maura masuk ke kamar ibu Sila. Tak dipungkiri jika dirinya sangat merindukan sang ibu, terlebih sudah terhitung satu malam ibu Sila di dalam tanah. Maura meraih bingkai foto ibunya mengusap pelan kaca piguranya
Tak ingin menangis lagi, Maura melangkah menuju lemari pakaian milik ibunya. Maura membukanya dan memilih baju yang akan dia kenakan. Pilihannya jatuh pada daster rumahan berwarna pink, berlengan pendek dan panjang selutut. Usai membersihkan tubuhnya, Maura keluar dari kamar.
"Maura... Ayo makan siang." Panggil Della di depan kamar ibu Sila.
Maura membuka pintu. "Ayo ! Apa mereka sudah datang ?" Tanyanya sambil menutup pintu kembali.
"Ya, mereka di meja makan."
Maura dan Della bersamaan melangkah menuju meja makan, disana Erik dan Dias menepati ucapan mereka untuk makan siang di rumah Maura. Kali ini Jo tidak ikut karena makan siang bersama karyawan kantor.
"Kenapa hanya dilihat, ayo makan !" Seru Della. Suaranya mengalihkan perhatian Erik dan Dias.
Erik terpaku pada tampilan Maura, belum pernah ia melihat tampilan seperti ini. Kemarin pun Maura mengenakan pakaian rumahan tapi bukan daster.
"Erik, apa yang kamu perhatikan ! Ayo makan. Jika hanya melihat Maura kamu tidak akan kenyang." Canda Dias tanpa sadar.
Della langsung menatap Erik yang salah tingkah, Maura melototkan matanya pada Dias memberi kode jika Della bersama mereka.
"Maaf....aku hanya bercanda." Dias merasa menyesal memberikan candaan seperti tadi.
__ADS_1
"Ayo makan, kalian harus menghabiskannya. Aku sudah memasaknya untuk kalian." Seru Della santai. Tidak ada drama layaknya istri melayani suami. Mereka mengambil makanannya masing-masing.
Erik mulai menyuapi makanannya. Ia mengunyah perlahan seperti mencari jawaban yang ada di benaknya selama ini. Ya, ini masakan Della karena ia sering mencicipinya. Menu yang di bawakan Maura waktu itu pun tak terlihat di atas meja itu. Sekarang Erik tinggal mencari cara agar Maura mau memasak supaya ia tahu pemilik makanan itu sebenarnya.