Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Surat Dari Aryan


__ADS_3

Pagi menjemput dengan sedikit mendung pagi ini. Erik berjaga di rumah sakit bersama Zevin. Sementara itu Maura dan ibu Dina menginap di hotel yang disiapkan Erik.


Pagi-pagi sekali, Maura datang bersama ibu Dina menenteng beberapa makanan. Erik tersenyum menyambut kedatangan kekasihnya itu.


"Ayo sarapan, aku dan ibu Dina sudah membeli makanan. Kemana tuan, Zev ?" Maura meletakkan bungkus makanan disalah satu kursi tunggu.


"Aku tidak tahu, mungkin bersemedi." Tutur Erik menerima makanan dari Maura.


"Bagaimana kondisi tuan Aryan?" Ibu Dina mengintip disela kaca. Wajah tuanya nampak sekali mengkhawatirkan pria yang sudah seperti putranya sendiri itu. "Saya sudah menghubungi adik tirinya mungkin siang akan tiba." Ibu Dina duduk bergabung bersama Maura dan Erik.


"Kondisinya menurun." Sahut Erik seadanya. Sebenarnya ia masih marah pada Aryan karena sudah membuatnya hampir gila mencari Maura. Tak mudah untuk Erik melupakannya.


"Erik, sepertinya aku akan kembali lebih dulu. Ada pekerjaan yang harus cepat diselesaikan." Zevin datang bersama dua orang pengawalnya.


Di atas roftoop helikopter yang mereka naik semalam sudah menunggu.

__ADS_1


"Iya, Kak. Katakan pada pilotnya. Pastikan keselamatan tuan Zevin." Titah Erik pada pengawal di samping Zevin.


Zevin meninggalkan depan ruangan ICU tanpa sarapan. Ia sudah mengirim pesan untuk istrinya agar menunggu dikantor Jaya Group. Zevin segera terbang meninggalkan  kota ini.


...----------------...


Beberapa jam kemudian...


Dokter baru saja keluar setelah melihat perkembangan Aryan. Ia menatap satu persatu wajah mereka yang menunggu kabar darinya.


"Bagaimana dokter ?" Ibu Dina lebih dulu bertanya.


Erik dan Maura saling pandang. Kemudian Erik membawa Maura ke pelukannya. "Sepertinya kita juga pulang, aku akan pesan tiketnya. Sebelumnya kita ke hotel tempat mu menginap dulu. Aku harus mandi." Erik mengecup lembut pucuk kepala Maura.


"Tuan, Nona. Sebelum tuan Aryan kritis. Dia menitipkan sesuatu untuk kalian berdua." Ibu Dina menyodorkan dua amplop untuk Erik dan Maura.

__ADS_1


Mereka menerimanya dengan bingung. Erik dan Maura duduk kembali ke kursi tunggu dan membuka amplop itu.


To Maura :  Terimakasih memilih menerima dari pada memberontak untuk pergi dari sisiku. Maafkan aku telah menawan mu di tempat sepi ini. Maura, jika nanti aku tidak bisa melihat mu lagi, atau aku tidak bisa mendengarkan suara mu lagi. Jangan lupakan aku, simpan aku dalam kenangan mu. Meski bukan yang istimewa. Waktu kebersamaan kita yang singkat itu sangat membuat ku bahagia, kita seperti pasangan meski bukan pasangan. Maaf membuat mu tersenyum dalam kerinduan pada kekasih mu


Maura memiliki perasaan halus dengan cepat menitikkan air matanya. Ya. Dia memang tidak memberontak tapi memilih bersabar sambil mencari jalan untuk pergi. Namun sebelum semua kesampaian justru jalan untuk pergi itu terbuka lebar dari Aryan. Laki-laki itu benar-benar hanya ingin bersamanya sebentar saja.


To Erik : Maaf atas peluru yang menembus punggung mu waktu itu. Maaf telah membawa kekasih mu tanpa ijin. Aku hanya ingin melihat dirinya sedikit lebih lama disisa waktu yang tersisa dengan lebih dekat. Aku mengembalikannya tanpa lecet sedikit pun. Kamu pasti menggila dia hilang, wajah dingin mu pasti terlihat jelek. Aku mencintai wanita mu pada pandangan pertama. Tapi aku sadar aku tidak bisa memilikinya, maka dari itu aku hanya meminta secuil waktunya. Cara ku jahat memang, tapi hanya itu yang bisa ku lakukan. Bahagiakan dia


Usai membaca surat itu, Erik membawa tubuh kekasihnya itu ke dalam pelukannya. Ia juga sedih atas penyakit apa yang diderita Aryan.


Suara hentakan sepatu menggema di lorong rumah sakit. Nampak dokter Rindi berlarian bersama perawat langsung menerobos pintu ruangan ICU. Cukup lama mereka di sana akhirnya dokter Rindi keluar.


"Bagaimana dokter ?" Tanya Erik menghampiri dokter Rindi.


Dokter cantik itu menggeleng lemah. "Tuan Aryan tidak ada lagi. Segala upaya sudah kami lakukan. Bahkan satu perawat tidak beranjak dari sisinya untuk memantau selalu kondisinya."

__ADS_1


"Kak Aryan..."


"Kenza !" Erik dan Maura bersamaan terkejut.


__ADS_2