Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Saran Della


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Pendekatan yang dilakukan Erik sedikit membuahkan hasil. Maura cukup merespon dengan baik segala yang dilakukannya. Namun karena Maura sudah mengubur rasa yang selama ini ada untuk Erik. Tak mudah untuk pria dingin ini mengembalikannya.  Erik cukup berjuang untuk mengikat Maura di sisinya. Tak segan ia pun meminta bantuan Della dan Dias.


...----------------...


Kantor JC....


Maura bekerja seperti biasanya, beberapa bulan ini ia selalu diantar oleh Erik. Ia tak bisa menolak karena pria dingin itu akan selalu memaksa. Ilmu pendekatan yang diterapkan Erik berasal dari Zevin. Karena dengan cara tak memberi peluang pada wanita yang mereka cintai didekati pria lain maka dua laki-laki ini akan yakin berhasil. Erik sengaja tak melibatkan kakak iparnya Alby.


"Hati-hati." Maura melambaikan tangan sesaat sebelum Erik melaju. tak berselang lama, Mobil Dias juga tiba. Seperti biasanya Della ada di dalam mobil atasannya itu. Hal yang membuat Maura bingung apa hubungan keduanya ?


"Kamu diantar Erik ?" Della datang menghampiri Maura. Mereka sama-sama melangkah menuju lift.


"Iya, dia selalu saja memaksa !" Keluh Maura. Aneh saja pikirnya selepas kejadian penembakan itu, Erik si pria dingin di mata Maura mencair hangat begitu saja padanya.


"Saran ku, turuti saja kemauannya." Ujar Della tersenyum. "Apa yang dilakukannya pada mu belum pernah dilakukannya pada wanita mana pun, termasuk aku." Lanjut Della lagi semakin  melebarkan lengkungan bibirnya penuh dengan keyakinan.


"Maafkan aku, harusnya kalian sudah bersama sekarang. Sepertinya jiwa Erik tertukar di meja operasi. Beberapa bulan ini dia selalu mengikuti ku." Maura menatap sedih pada Della. Karena luar kendalinya yang terjadi pada Erik saat ini.


"Hei, jiwa Erik tidak tertukar. Aku membelanya." Sahut Della tertawa. "Jangan memikirkan aku, karena kebahagiaan itu sudah menjemput ku sekarang. Jam makan siang akan ku ceritakan semuanya. Tapi kamu urus dulu pria dingin mu itu agar tidak mengganggu kita berdua dan aku akan mengurus CEO kita yang posesif pada ku." Lanjut Della panjang lebar. Ia sengaja meninggalkan rasa penasaran untuk Maura. Lift berhenti di lantai tempat ruangannya.


Maura lanjut naik ke atas dengan perasaan penasaran. CEO posesif pikirnya. Ia langsung mengirim pesan pada Erik agar tidak menjemputnya makan siang.


...----------------...


Jam makan siang sudah tiba, Maura menunggu balasan dari Erik tak kunjung ada. Ia pun mendesah kesal bisa-bisanya pesan yang dikirimnya belum dibalas dan hanya dibaca saja oleh Erik. Coba kalau dirinya lambat beberapa detik saja membalas pesan Erik, pria dingin itu langsung menelponnya tiada henti. Sangat mengesalkan !


Ponsel Maura bergetar, rupanya pesan dari Della yang mengatakan dirinya menunggu di bawah. Maura bergegas turun menemui sahabatnya itu.

__ADS_1


Setelah melewati beberapa lantai, kini lift berhenti. Maura keluar dari sana langsung menyapanya. "Makan siang dimana?" Tanyanya sambil melihat ponselnya kembali.


"Aku ingin mencicipi menu baru di restonya Ivan." Jawab Della sambil mengimbangi langkah Maura.


"Tapi jauh." Sahut Maura masuk ke dalam taksi pesanan mereka.


"Tak masalah, aku sudah lama ingin makan disana. "Della juga mendaratkan tubuhnya di kursi penumpang. "Bagaimana pria dingin mu, bisa diatasi ? "Lanjut Della.


"Dia tidak membalas pesan ku." Papar Maura kesal. Ia memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.


Taksi mengantarkan mereka ke resto milik Ivan. Pria itu tidak ada rupanya karena berkunjung ke rumah Nazia  sekaligus menjemput  istri Zevin itu ke rumah sakit. Maura dan Della masuk lalu duduk disalah satu kursi dekat kaca agar bisa melihat ke arah luar.


"Apa yang ingin kamu ceritakan ?" Tanya Maura disaat menunggu pesanan mereka.


"Bagian yang mana dulu ingin kamu dengar ?" Balas Della melipat kedua tangannya di atas meja.


"Tentang perkataan mu tidak usah memikirkan mu, selama ini hanya satu yang ingin aku lakukan untuk mu. Yaitu menyatukan mu dan Erik, " tutur Maura menyadarkan tubuhnya di kursi.


Maura mengangguk tanda mengerti. "Aku juga sudah tidak memiliki perasaan padanya. Pria itu seolah ingin sekali menumbuhkan perasaan ini lagi, tapi aku tidak menanggapinya." Papar Maura sendu. Ya, dia bukan wanita yang berhati baja tidak mengerti pergerakan Erik. Namun Maura masih menganggapnya sebagai pembalasan dari Erik atas cerita masa lalu. Sedikit banyak ia sudah menceritakannya pada sahabatnya ini.


Della mengulurkan tangannya menyentuh lengan Maura. "Erik tidak membalas apa pun atas cerita masa lalu, dia benar-benar sudah memiliki perasaan pada mu. Jika kamu bisa menumbuhkan perasaan mu kembali jangan ragu untuk menerimanya. Karena Erik tak pernah menunjukkan sisi lainnya seperti ini pada siapa pun." Ungkapnya lembut. "Kamu pasti tahu rasanya jika cinta mu tidak terbalas dan hal itu akan dirasakan Erik, apabila kamu tidak membalasnya. Tapi tanyakan dulu pada hati kecil mu. Apa perasaan itu benar-benar hilang ? Atau masih ada. Jangan sampai kamu bersamanya dengan rasa kasihan." Sambung Della lagi.


Maura terdiam mencerna semua perkataan Della. "Kamu yakin tidak ingin bersama Erik ? Jangan berkorban untuk ku jika hati mu tersakiti. Lebih baik menjalin pertemanan seperti ini dari pada saling menyakiti. Pelan-pelan semuanya akan normal." Ujar Maura serius.


Della tertawa. "Hei aku sudah bahagia bersama orang yang aku cintai." Ucapnya serius.


...----------------...


Kilas Balik...

__ADS_1


Dias berniat untuk datang ke rumah Maura, ia sengaja ingin bertemu Della disana. Dias datang dengan menaiki sepeda motor, malam ini ia berniat mengajak wanita manis ini jalan-jalan bersamanya. Dias melajukan motornya di kediaman Maura, setiba disana ia dikejutkan dengan Della yang menangis sedih.


"Ada apa ?" Tanya Dias pada Maura yang berusaha menenangkan Della.


"Erik mendengarkan sedikit kisah kami di masa lalu, ia marah dan pergi begitu saja tadi. Aku dan Della ke pantai tadi sore, rupanya Erik menyusul kesana. Della takut Erik membencinya." Jelas  Maura dengan pikiran kalut. Ia bingung harus berbuat apa ?


Dias menghela nafas panjang, lalu mengambil posisi Maura menenangkan Della. "Erik hanya marah tapi tidak membenci mu. Percayalah esok hari dia akan kesini menjemput mu." Papar Dias dengan pita suara bergetar. Sedalam itukah perasaan Della pada Erik begitu pikirnya. Ia harus berbesar hati menenangkan wanita yang ia cintai ini karena menangisi pria lain.


Maura seakan mendapat ide mendengar perkataan Dias, ia masuk ke kamarnya dan berganti baju. Maura akan menemui Erik malam ini. Ia harus memastikan jika pria dingin itu akan menjemput Della esok hari meski Maura harus memohon.


Sepeninggalan Maura, Della cukup tenang bersama Dias setelah berbagai kata positif Dias ucapkan. Hampir satu jam menunggu, tapi Maura juga tak kunjung pulang. Cuaca juga menggelap akan turun hujan, Dias memantapkan hati malam ini untuk menyampaikan isi hatinya. Agar dia bisa menata hatinya jika Della menolaknya.


"Dell." panggil Dias dengan wajah serius. Della memalingkan wajahnya menghadap Dias. Mereka duduk saling berhadapan mengunci pandangan satu sama lain. "Dell... Ada yang ingin aku sampaikan pada mu. Dan aku juga siap dengan jawaban mu nanti." Lanjut Dias.


Della mengangguk tanpa mengalihkan padangannya, ia menyelami netra coklat yang begitu teduh menatapnya. "Katakanlah. Aku akan mendengarkan mu." Ucapnya lembut.


Dias tersenyum menggenggam jemari yang sejak tadi berada di tangannya. Ia sangat siap mengutarakan perasaannya. Mata sembab Della tak mengurangi kecantikannya saat ini. "Dell, mungkin ini terdengar lucu. Tapi aku benar-benar mengalami yang di sebut orang jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak awal bertemu aku sudah jatuh cinta pada mu, tapi aku tahu jika ada Erik di sisi mu yang lebih lama menggenggam hati mu. Aku orang baru dengan lancangnya memiliki perasaan ini. Maafkan aku... Tak bisa menahannya hingga harus mengungkapkannya malam ini." Tutur Dias. Iris mata mnya masih mengunci manik mata Della.


Tetesan air mata Della kembali mengalir, ia terharu masih ada pria yang mencintainya. "Dias. Aku terlahir dari keluarga sederhana. Ibu ku wanita bisu, Adanya aku karena korban pelecehan dari saudara ipar Om Andi pada ibu ku, ayah biologis ku tidak mengakui perbuatannya hingga ia di laporkan om Andi ke polisi. Pria itu lari dari kejaran polisi dan akhirnya meninggal dalam pelariannya. Setelah kelahiran ku ada beberapa orang mengantarkan jasadnya ke rumah. Itulah yang ku dengar ceritanya dari tante Indah." Della menghela nafas panjang mengusap lelehan air matanya. "Dengan latar belakang ku seperti ini,  apa kamu masih mencintai ku ?" Sambung Della lagi.


Dias tersenyum mengusap air mata Della kemudian mengecup buku-buku jari wanita yang tengah bersedih ini. "Apa pun cerita tentang mu. Yang ku tahu Della Putri adalah wanita yang baik hati. Meski pun nanti kamu tidak menjadi milikku, maka aku akan mencintai mu dengan caraku sendiri sampai hatiku benar-benar tertata kembali." Papar Dias lembut


Della tersenyum, lega yang ia rasakan. "Entah sejak kapan perasaan ini terkikis untuk Erik. Dan entah kapan perasaan ini berlabuh pada orang lain. Aku juga memiliki perasaan yang sama pada mu. Yang ku mau kamu bukan dia..." Ucapnya penuh binar cinta di matanya.


"Benarkah?! "  Pekik Dias tak percaya. Della mengangguk kemudian membenamkan wajahnya di dada Dias. "Terimakasih sayang... Aku mencintai mu." Ia mengecup pucuk kepala Della penuh kasih sayang.


Kilas Balik Selesai


...----------------...

__ADS_1


"Jadi kalian sudah bersama sejak lama. Maka dari itu kamu mentertawakan ku saat jadi tawanan pria dingin itu !" Tutur Maura kesal. "Aku ikut bahagia untuk mu." Ujarnya merangkul pundak Della dengan bahagia.


__ADS_2