Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Pilihan Terbaik dari Tuhan


__ADS_3

Maura masih mematung tanpa menjawab, buliran bening di pipinya turun perlahan. Masih seperti bermimpi dilamar seorang pria dini hari ini. Dilamar dengan segala ke unikkannya, perasaan haru itu meliputi hatinya tak disangka pria yang hanya bisa dilihatnya dari kejauhan kini benar- benar bersama.


Maura masih mengunci netra tajam itu dengan mulut tertutup rapat. Berusaha menyelami kedalaman perasaan Erik, melalui sorot matanya. Namun sayang, Maura tak mampu menggapai dasarnya.  Itu tandanya Erik memang memiliki perasaan yang tak terukur dalamnya, masih pantaskah ia meragu ? Sementara pria pemilik sejuta kejutan ini begitu terlihat sungguh-sungguh.


"Tanpa aku ungkapkan kamu tahu latar belakang ku, apa kamu tidak merasa ragu ? Atau menyesal nantinya ?" Lirih Maura pelan setelah lama membisu.


Erik tersenyum kemudian meraih tubuh kekasihnya itu ke dalam pelukannya. "Aku tidak ragu, aku melamar mu dengan keyakinan hatiku yang dalam, kamu pilihan terbaik diberikan Tuhan untuk mendampingi ku, menjadi pemilik hatiku, menjadi ibu dari anak-anak ku. Menemani ku saat suka mau pun duka." Paparnya mengecup pucuk kepala Maura. "Apa kamu mau menikah dengan ku ?" Bisiknya lembut.


Maura mengeratkan lingkaran tangannya serta mengangguk. "Iya, aku mau menikah dengan mu." Ia tersenyum mendongakkan kepalanya ke atas menatap netra tajam pria dingin ini.


Erik bahagia. "Terimakasih. Ayo kita buat sebuah keluarga kecil yang bahagia, bersama anak-anak kita nanti. Aku mencintai mu." Paparnya kemudian mengecup lama kening Maura.


"Aku juga mencintai mu, pria dingin ku." Maura membalas ucapan cinta dari Erik.


Erik memasangkan cincin yang begitu istimewa didesain oleh Zevin sendiri. Tak tanggung-tanggung, suami Nazia itu membuat desain satu set perhiasan untuk kekasih Erik ini. Pria dingin ini  juga meminta Zevin membuatkannya desain cincin pernikahan.


"Sarapan dulu ya." Erik membuka penutup makanan yang telah di siapkannya agar tidak terlalu dingin.


...----------------...


Maura dan Erik kembali kebawah, setelah menyelesaikan urusan lamaran dipagi hari. Benar kata Erik, Maura akan selalu mengingat hari ini ketika membuka matanya dipagi hari.


Erik dan Maura kembali bekerja seperti biasa, tak lupa ia menceritakan pada Della tentang lamaran Erik. Della merasa senang atas kebahagiaan sahabatnya itu. Di saat itu juga ia memamerkan cincin yang melingkar di jari tangannya.

__ADS_1


"Kamu juga dilamar Dias ?!" Pekik Maura tak percaya. Kenapa semuanya bersamaan ? Apakah ? Erik dan Dias mengaturnya seperti itu, untuk melamar pujaan hati mereka.


Della mengangguk. "Dias melamar ku tadi malam, ketika hari libur kami akan menemui om Andi bersama kedua orang tuanya. Aku bersyukur pak Ali dan istrinya mau menerima ku." Ucapnya penuh haru. Jika menoleh ke belakang lagi Della begitu sedih, dulu jadi bahan gunjingan karena terlahir tanpa sosok seorang ayah. Tapi kini dirinya benar-benar di terima dalam sebuah keluarga yang luar biasa baiknya.


Maura merangkul pundak Della dengan perasaan bahagia. "Aku bahagia untuk mu, sudahlah jangan menoleh kebelakang yang hanya membuat mu bersedih. Sekarang ada masa depan yang indah menyambangi mu." Paparnya lembut. Maura adalah salah satu saksi bagaimana Della menjalani hari terberatnya saat menjadi bahan gunjingan orang.


Mereka sama-sama tersenyum merasakan kebahagiaan mereka masing-masing. Tanpa mereka tahu jika ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka. Dia adalah Jo yang tak sengaja mendengarkan pembicaraan dua temannya ini.


"Karena kalian sudah di lamar, bagaimana kalau kita makan siang bersama hari ini." Suara Jo mengalihkan perhatian Maura dan Della.


"Kamu menguping?" Selidik Della. "Sejak kapan kamu di situ ?" Tanyanya lagi.


"Sejak kalian membicarakan lamaran dua pria itu." Sahut Jo dengan cengiran khas dirinya.


"Halo." Jawabnya pelan.


"Datanglah, ke kantor pusat Jaya Group sekarang !"


"Anda siapa ?" Tanya Maura heran. Siapa orang Jaya Group yang mengetahui nomor ponselnya.


"Simpan nomor pribadi ku ini dengan benar, samarkan namanya. Kamu termasuk beruntung karena istriku yang cantik itu mengijinkan aku menelpon mu dengan nomor pribadi ku." Ujar seseorang di seberang sana dilengkapi dengan pujian untuk sang istri .


"Tu—tuan Zevin, baiklah saya akan menyimpan nomor anda, saya juga akan segera ke sana." Maura dapat menebak itu adalah atasannya, siapa lagi yang selalu menyelipkan pujian untuk istrinya kalau bukan Zevin.

__ADS_1


"Tebakan mu benar adik ipar ! Sekarang temuilah kekasih mu ini. Dia tumbang sekarang." Zevin langsung mematikan telpon.


Maura mengedip-mengedipkan matanya bercampur rasa malu karena Zevin menyebutnya adik ipar, apakah ? Hari ini dia benar-benar mendapatkan dua keberuntungan. Pertama dia dilamar saat pagi buta. Yang kedua seorang Zevin menelponnya dengan nomor pribadi. Padahal selama jadi resepsionis di Jaya Group mereka hanya bicara melalui interkom.


"Siapa ?" Tanya Jo dan Della bersamaan.


"Tuan Zev ! Dia meminta ku untuk datang ke kantor pusat. Dia menelpon ku dengan nomor pribadinya." Jawab Maura sambil menyimpan nomor ponsel Zevin.


"Tuan Zev menelpon mu dengan nomor pribadinya ?!" Pekik  Jo dan Della bersamaan. Selama bekerja dengan Zevin mereka belum pernah di telpon oleh suami Nazia itu dengan nomor pribadinya.


Hanya sedikit orang memang memiliki nomor ponsel pribadi Zevin dan Erik. Selama ini rekan bisnis mereka akan menghubungi mereka dengan nomor yang tertera dikartu nama saja. Maura bergegas untuk pergi setelah mendapat ijin dari Dias.


...----------------...


Setibanya disana Maura segera masuk tanpa menyapa pada resepsionis yang tidak dikenalnya. Masih seperti dulu, tidak ada yang berubah dari kantor ini. Maura menghela nafas panjang sebelum menekan tombol buka pada lift. Perasaannya cemas ketika Zevin mengatakan kekasihnya itu tumbang.


"Tunggu." Suara wanita menghentikan langkah Maura saat ingin melangkah masuk. Wanita cantik ini menoleh, ternyata resepsionis kantor. "Anda mau ke mana Nona ?" Tanya wanita itu lagi dengan wajah tidak bersahabat.


"Saya ingin bertemu dengan tuan, Zevin." Jawab Maura ramah pada wanita itu.


"Sudah ada  janji ?" Tanyanya penuh selidik. Dengan gaya angkuhnya.


"Sudah." Jawab Maura juga memasang wajah datar. Rupanya kedatangan calon suaminya itu menular padanya.

__ADS_1


"Silahkan naik." Resepsionis dengan name tag Meta itu melenggang pergi.Rupanya ia sedikit takut dengan aura yang terlihat dari kekasih Erik ini.


__ADS_2