Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Pria Dingin Pemaksa


__ADS_3

Menit berganti dengan cepat, tanpa terasa terang berganti gelap. Aktivitas menjadi perawat dadakan pria dingin membuat Maura tak menyadari jika siang telah berlalu.


Maura berdiri di sisi jendela ruangan, menyibak tirai sedikit untuk melihat keluar. Ia berpangku tangan menyaksikan bulan melengkung indah di dinding langit. Malam ini tiba-tiba kerinduan menyerang hatinya kembali. Rindu, dimana ketika sang ibu menunggunya pulang bekerja. Memasak untuk makan malam mereka berdua.


"Aku ingin berbaring." Suara Erik membuyarkan lamunan Maura. Sejak tadi pria dingin ini memperhatikan Maura yang termenung. Erik sangat paham jika wanita cantik ini tengah merindu. Sebab, ia mempercayai jika rindu pada orang yang telah tiada maka cendrung menengadah wajahnya ke atas berharap orang di rindukan hadir diantara bintang-bintang di langit.


Maura bangun dari lamunannya kemudian menoleh pada Erik dan melangkah menghampirinya. "Hari sudah malam. Apa boleh aku pulang ? Aku harus mengganti baju terlebih dulu, nanti baru ke sini lagi." Ujar Maura sambil membantu Erik berbaring.


"Tidak perlu pulang, di dalam  paper bag itu ada pakaian mu. Tadi Della mengantarkannya kesini." Balas Erik. Ia seakan tak rela jika Maura meninggalkannya untuk pulang.


Maura menatap pada Erik dengan serius. "Benarkah ? Kenapa tidak memberitahu ku jika Della kesini." Ia meraih paper bag itu dan membukanya.


"Tadi kamu tidur siang." Jawab Erik. Ia memejamkan matanya dan tersenyum dalam selimutnya.


Maura memilih membersihkan tubuhnya di kamar mandi, sambil menunggu pesanan makan malam datang. Di dalam kamar mandi Maura menatap pantulan dirinya di kaca, otak cantiknya berpikir kenapa ia terjebak dalam ruangan ini bersama Erik ? Ini salah ! Setelah pria dingin itu sembuh maka Maura sudah bisa kembali ke rumah dan tidak lagi menghabiskan waktu bersamanya.


Usai membersihkan tubuhnya, Maura keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah dan digulung dengan handuk. Wajahnya sudah lebih segar dari sebelumnya. Erik membuka matanya ketika aroma wangi sabun menyeruak ke indra penciumannya. Matanya mengarah pada Maura yang duduk di sofa.  Cantik ! itu yang tertangkap mata Erik, bibirnya tersenyum tipis. Kemudian memejamkan matanya kembali


Pintu di ketuk.


Maura bergegas membuka pintu ternyata kurir mengantarkan makanan.  Setelah membayar dan menerimanya, Maura meletakan makanan itu ke atas meja.  Ia mencuci tangannya terlebih dulu kemudian duduk untuk menyantap makan malamnya.


"Ehm..." Erik berdehem mencari perhatian. Sejak tadi ia memperhatikan gerak-gerik Maura. Merasa diabaikan Erik tak terima.

__ADS_1


"Kamu perlu sesuatu ?" Tanya Maura. Ia melangkah menghampiri Erik yang tengah berbaring. Kemudian membenarkan letak selimutnya.


"Aku ingin duduk." Jawab Erik. "Kamu makan apa ? " Tanyanya lagi sambil melirik ke atas meja.


"Aku makan nasi, kenapa ?" Maura selesai membantu Erik duduk. "Aku harus makan nasi paling tidak sedikit." Sambungnya kembali.


Erik menatap Maura dan berkata


"Kamu tega membiarkan aku makan bubur ? Padahal lambung ku sehat."


Maura menghela nafas lalu mengambil makanannya tadi. "Kamu makanlah, aku bisa pesan lagi." Ia menyendok nasi kemudian berniat menyuapi pria dingin itu.


Erik menahan tangan Maura. "Makanlah, kamu pasti lelah seharian mengurus ku."ucapnya lembut. Ia mengarahkan sendok itu ke mulut Maura.


Maura menerima makanan itu, mengunyahnya sambil menatap pada Erik yang berperilaku aneh menurutnya hari ini. Tanpa sadar Erik menuntun tangan Maura kembali untuk menyendok makanan dan menyuapi ke mulut Erik sendiri. Mata Maura melotot karena pria dingin ini juga makan dengan menggunakan sendok yang sama.


"Jangan banyak bicara makanlah, setelah itu istirahat." Erik tak menggubris perkataan Maura. Bahkan ia memberikan tatapan mengancam pada  sekretaris cantik ini.


Selain menurut, apa yang bisa di lakukan Maura ? Karena Erik sesuka hatinya memaksa. Maura berusaha tak terbawa perasaan. Bahkan dia berpikir Erik mulai gila karena mengalami luka tembak. Erik tak melanggar batasannya itulah membuat Maura memaklumi sikapnya saat ini.


"Sekarang kamu istirahatlah, perawat sudah menyuntikkan anti nyeri mu." Maura membantu Erik untuk berbaring. Kemudian ia berniat duduk di sofa kembali.


"Tunggu." Erik menghentikan langkah Maura. "Geser ranjang itu ke sini." Tunjuknya pada ranjang bekas Della tadi malam.

__ADS_1


"Untuk apa ?" Maura menatap heran pada Erik. Apa lagi yang di inginkan pria ini ?


Erik berusaha bangun dan duduk lagi.


"Kalau kamu tidur di sofa, siapa yang akan menemani ku disini ? Bagaimana jika aku haus ? Atau ingin ke kamar mandi dan membenarkan selimut ku jika turun dari tubuhku." Tuturnya panjang lebar dan tak menghilangkan raut datarnya itu.


Maura ternganga mendengarkan perkataan Erik. Pasien macam apa ini banyak maunya? Maura menghela nafas panjang dan berkata. "Baiklah, aku akan menggeser ranjangnya." Ucapnya melepaskan pengunci kaki ranjang dan mendorongnya pelan agar menyatu dengan ranjang Erik. "Sudah !" Ketusnya. Lama-lama ia tak tahan dengan sikap aneh pria dingin ini.


"Ayo istirahat !" Ajak Erik. Membaringkan tubuhnya kembali. Pria ini tersenyum tipis kemudian membuka ponselnya.


"Kamu tidur saja duluan, aku ada sedikit pekerjaan." Tolak Maura kembali duduk di sofa. Ia membuka tasnya dan mengambil tabletnya.


Erik menatap tajam dari atas kasurnya. "Kesini sekarang ! Kamu bisa bekerja dari atas ranjang ini." Tuturnya tegas dan memaksa.


Maura menghembus nafas kembali agar tak terpancing emosinya. "Baiklah." Ucapnya mengalah, ia meraih tas dan tablet nya lalu naik ke atas ranjang. Menutup bagian kakinya dengan selimut, entah dari mana Erik mendapatkan semua itu.


Erik tersenyum senang, ia membuka selimutnya dan duduk kembali. Erik mengunci pagar kasur sebelahnya dan meminta Maura melakukan hal yang sama pada ranjang yang di tempatinya. Secara tidak langsung mereka tidur dalam satu ranjang, entah sejak kapan pria dingin itu pintar melakukan hal semacam ini.


Erik memejamkan matanya. " Jangan tidur terlalu malam." Ucapnya sembari terpejam. Senyum di bibirnya masih mengembang.


Maura tak menggubrisnya kemudian mulai bekerja. Karena besok Dias ada pertemuan penting. Maka Maura harus menyiapkan dokumennya, dari tempat yang berbeda Jo juga melakukan hal yang sama.


Malam semakin larut. Beberapa kali Maura menguap. Ia menoleh ke samping sebentar dan membenarkan selimut Erik. "Selamat malam." Ucapnya kemudian mematikan tablet dan meletakkannya di sisi bantal. Maura merebahkan tubuhnya pelan sambil menarik selimut hingga batas lehernya. Tak butuh lama ia mulai berpetualang ke alam mimpi.

__ADS_1


Erik membuka matanya perlahan, sejak tadi ia tidak tidur hanya diam-diam mencuri pandang pada Maura dan mengambil beberapa foto yang tak disadari wanita cantik ini saat fokus melihat tabletnya.


Erik menatap lekat tiap sudut wajah cantik Maura. Posisi mereka yang saling berhadapan membuat Erik leluasa menatap wajah cantik itu, Ia tersenyum pada aksi konyolnya hari ini. Erik mengeluarkan tangannya kemudian menggenggam tangan Maura. "Mimpi indah." Ucapnya memejamkan mata  ikut berpetualang di alam mimpi.


__ADS_2