
Sore datang menggantikan siang yang telah memberikan terang. Cahayanya juga nampak redup dan sedikit menggelap, bukan senja namun cuaca yang kurang bersahabat. Angin pun berhembus kencang meniup awan yang telah menghitam di atas sana. Sebentar lagi alam akan menangis, entah apa yang membuatnya bersedih hingga dentuman petir juga terdengar. Amarah apa yang menyelimuti alam semesta hingga keadaan sore ini sedikit mengerikan.
Setengah jam lalu getaran ponsel Erik terdengar, ia tersenyum saat membacanya karena sang kekasih mengabarkan padanya jika pesawat akan mengudara. Ya. Setengah jam lalu ketika alam baik-baik saja.
Erik setengah berlari ke luar gedung memastikan jika cuaca yang dilihatnya dari kaca jendela ruangannya itu, hanya pengaruh kaca gelap yang jadi pembatasnya. Hati Erik resah tak karuan, jika setengah jam lalu pesan dari Maura masuk, Bukankah ? Jarak tempuhnya satu jam lebih beberapa menit. Maka bisa dipastikan saat ini pesawat kekasihnya itu masih terbang di angkasa.
Erik benar-benar takut, melihat cuaca yang tiba-tiba memburuk. Dadanya berdegup kencang. Bukan hanya jatuh cinta, ia juga khawatir namun rasa khawatirnya lebih dominan. Erik mencoba menghubungi nomor Maura, namun belum juga aktif itu pertanda kekasihnya belum tiba.
Erik semakin gelisah, kaki dan tangannya sudah terasa dingin. Hanya satu harapannya, Maura akan tiba dengan selamat. Mendoakan pilot yang membawa kekasihnya itu bisa mengatasi cuaca seperti ini.
Andai Erik tahu keadaan cuaca akan berubah cepat, maka ia akan memilih untuk menunggu Maura agar pulang bersama. Pria dingin ini menyesal.
"Sabarlah. Dia pasti sampai dengan selamat. Percayalah pilot lebih ahlinya menghadapi cuaca seperti ini. Mereka sudah terlatih, tapi tetap berdoa. Semoga mereka bisa melewati cuaca yang tiba-tiba berubah ini." Tepukan dan suara Zevin menyadarkan Erik dari lamunannya.
Erik berpaling menghadap Zevin dengan tatapan penuh kekhawatiran. "Kak, aku mencintai nya. "Lirih Erik sendu. Mengadu layaknya remaja. "Aku tidak bisa menghadapinya sendiri jika terjadi hal buruk." Lanjutnya lagi. Erik benar-benar buntu.
Zevin tersenyum merangkul pundak Erik. "Ayo ke bandara." Ajaknya menghangatkan hati Erik. Sebenarnya Zevin juga kepikiran namun, ia harus terlihat tenang di hadapan asistennya ini.
"Tapi hujan dan cuacanya juga seperti ini." Papar Erik tak berdaya. Ia tertunduk menatap layar ponselnya.
__ADS_1
Zevin terdiam sejenak lalu menelpon sopirnya. Ya, suami Nazia ini percaya jika sopirnya ini bisa diandalkan karena bukan sopir biasa namun terlatih. "Kemarilah. Bawa mobil yang sering kamu pakai, jemput aku dan Erik. Kita akan ke bandara, kamu bisa menyetir dengan cuaca seperti ini ?" Ia bertanya tentang kesiapan sopirnya itu.
"Bisa Tuan. Saya akan pamit dulu pada Nyonya, Zi." Jawab sopir nya di dalam telpon
"Hati-hati ! Pelan- pelan saja yang penting sampai." Zevin mematikan ponselnya.
Ia masih menemani Erik duduk di depan kantornya. Para karyawan bertanya-tanya kenapa atasan mereka duduk di luar ? Sambil menunggu jemputan Zevin berharap hujan cepat reda.
Erik masih saja berusaha menelpon nomor Maura dan Dias bergantian. Tak lama ponsel Erik dan Zevin sama-sama bergetar mereka saling pandang dengan tatapan tanya. Karena yang menelpon adalah Della dan Pak Indra. Benar saja, mereka juga menyimpan kekhawatiran pada Dias dan Maura.
"Pa. Aku akan ke bandara. Sampaikan pada pak Ali. Berdoa saja semoga mereka sampai dengan selamat." Tutur Zevin menenangkan pak Indra dan pak Ali.
"Iya, Papa Jangan pulang dulu tunggu hujannya reda. Kabari mama jika terlambat pulang." Papar Zevin. Kemudian mematikan telpon.
Erik juga melakukan hal yang sama pada Della, ia menenangkan kekasih Dias itu melalui telpon. Kemudian meminta pendapat Zevin melalui sorot matanya. Suami Nazia ini mengangguk setuju dengan keputusan Erik yang belum terucap.
"Kami akan menjemput mu." Putus Erik karena Della menangis ingin ikut ke bandara.
"Iya..." Jawab Della di seberang sana. Suaranya juga terdengar serak.
__ADS_1
...----------------...
Empat puluh lima menit kemudian...
Mobil jemputan tiba, sopirnya segera turun dan memberikan payung untuk Zevin dan Erik. Dua pria itu bergegas masuk ke dalam mobil dengan posisi, Erik di sisi sopir. Meski dalam keadaan khawatir ia juga harus memikirkan keselamatan Zevin selaku atasannya. Begitulah hubungan yang mereka jalani, jika di kantor mereka atasan dan bawahan selepasnya mereka akan menjadi saudara saling melindungi.
Mobil meninggalkan halaman kantor, sesuai arahan Zevin mobil melaju dengan pelan meski hujan mulai mereda tidak seperti tadi. Erik bersyukur karena hujan mengurangi volumenya. Mereka juga menjemput Della ke kantornya.
Kini mobil ditumpangi Erik dan Zevin serta Della bergerak menuju bandara. Erik berharap jika kekasihnya sudah tiba sebelum dirinya. Hening ! Tak ada percakapan dalam mobil ini. Mereka fokus pada jalanan dan pikiran masing-masing.
Meski perlahan dan penuh ke hati-hatian akhirnya mereka sampai di bandara. Bisa saja sopir itu menaikan kecepatan namun mereka bukan dalam kondisi darurat. Andai pun terjadi sesuatu dengan pesawat yang ditumpangi putra pak Ali dan Maura maka pasti akan ada beritanya.
Erik segera melangkah masuk di ikuti Zevin dan Della. Mereka segera menyambangi pintu ke datangan Erik dan Della sama-sama melebarkan penglihatan mencari sosok yang membuat hati mereka tak karuan. Butuh satu jam mereka baru tiba di bandara. Semakin membuat Erik dan Della tidak sabar.
Tidak pada Zevin, ia segera melangkah ke pusat informasi menanyakan. Apa pesawat yang di tumpangi Maura dengan menyebutkan Two Letter Code, sudah tiba apa belum.
"Sudah Tuan, empat puluh menit yang lalu." Jelas salah satu pegawai ruang informasi.
"Terimakasih." Zevin meninggalkan tempat itu. Benar saja mungkin mereka sudah tiba karena perjalanan ke bandara saja menghabiskan waktu yang cukup lama.
__ADS_1