
Di sinilah, Erik dan Feby atau Della berada di pusat perbelanjaan. Erik sengaja mengajak Feby berbelanja barang keperluannya di apartemen. Meski tak enak hati, Feby tetap mengambil barang yang ia perlukan. Dalam hatinya akan membayar uang yang telah dikeluarkan Erik saat dirinya bekerja nanti.
Erik mendorong troli mengikuti langkah Feby dengan perlahan.
"Kita belanja bahan-bahan dapur ya." Melirik sejenak pada wanita di sampingnya.
Feby tersenyum "Iya, maaf merepotkan mu." Mulai memilih bumbu yang di perlukan.
Erik meraih telapak tangan Feby dan menggenggamnya.
"Kamu tidak merepotkan ku. Mendapati kamu masih hidup saja aku sangat bersyukur." Ungkapnya tulus.
Darah Feby ber-desir, ia begitu beruntung dipertemukan dengan laki-laki sebaik Erik. Meski pun, dia tidak mengingatnya namun jauh dalam lubuk hatinya. Feby merasa aman dan nyaman di sisi Erik. Setelah beberapa hari bertemu.
"Ayo kita pilih bahan makanannya. Kamu ada alergi makanan?" Feby mengambil beberapa bumbu kering di rak nya.
Erik menggeleng "Tidak ada, aku akan memakan apa yang kamu makan." Jawabnya dengan manis. Tak lupa senyum tipis menghiasi bibirnya. Siapa yang menduga pria dingin ini bisa mengeluarkan kalimat manis yang bisa melambungkan perasaan lawan jenisnya.
Feby tertunduk malu. Meski kalimat sederhana tapi mampu membuat dirinya dalam kebahagiaan. Erik dan Feby sudah seperti suami dan istri berbelanja bulanan. Serasa semua sudah lengkap, kini Erik mengajak Feby makan malam. Karena mereka memang belum makan malam. Lagi-lagi Erik menggenggam tangan Feby seolah takut terlepas.
Erik mengajak Feby ke resto milik Vian. Sampai di sana, ia memperkenalkan Feby pada Vian dan Rayya. Saat ini Erik dan Feby berada di dalam ruangan khusus karena pria dingin itu ingin bicara serius pada Feby. Mereka makan terlebih dulu. Tidak ada pembicaraan saat makan. Beberapa menit kemudian makan malam mereka selesai.
"Feby... "Panggil Erik. Tangannya meletakan ponsel di atas meja. " Aku ingin bicara serius dengan mu." Sambungnya lagi.
"Ya." Jawab Feby. Ikut serius dan meletakan ponsel di atas meja juga. "Bicaralah aku akan mendengarkan mu." Tak dipungkiri dadanya berdebar-debar tak bisa menebak arah pembicaraan pria di hadapannya itu.
"Kamu percaya pada ku?" Tanya Erik. Sorot matanya berharap jawaban itu iya.
Feby menatap lekat bola mata Erik, entah kenapa sejak pertemuan di desa itu. Dia merasa sudah mempercayai pria ini sejak lama. Padahal mereka baru saja bertemu.
"Aku percaya pada mu. Bukan karena kebaikan mu padaku beberapa hari ini. Tapi entah kenapa aku merasa telah mempercayai mu sejak lama. Dan aku belum pernah se-yakin ini pada orang lain." Jawabnya tanpa ragu dan panjang lebar.
__ADS_1
Erik senang karena Feby mempercayainya. Ia tersenyum dan berkata.
"Sedikit cerita tentang kita. Apa kamu mau mendengarnya?"
Feby mengangguk cepat. Sejujurnya, ia juga penasaran dengan masa lalunya dan tentang Erik menyebut namanya Della.
"Ya, aku mau mendengarkannya." Ucapnya berbinar.
Erik menghembus nafas panjang sebelum bercerita. Semoga saja setelah mendengar ceritanya kesehatan wanita di hadapannya ini tidak terganggu. Mungkin, terkesan buru-buru namun Erik tidak bisa menahannya lebih lama. Agar Feby tahu siapa dirinya.
"Nama mu bukan Feby, tapi Della Putri. Kita pernah bertemu beberapa tahun lalu. Tepatnya, ditahun pertama kita kuliah. Ada sesuatu hal yang membuat ku harus berhenti kuliah di tahun kedua. Sejak itulah kita jarang bertemu dan akhirnya, aku baru mengetahui kabar mu telah meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan." Erik menggantung ceritanya untuk melihat reaksi Feby.
Benar saja wanita itu tertegun mendengar cerita Erik. Feby menatap manik mata Erik berharap cerita itu benar. "Jadi aku pernah kuliah?" Tanyanya belum yakin. " Apa mungkin aku juga pernah bekerja ?" Lanjutnya lagi.
Erik menganggukkan kepalanya perlahan menandakan cerita itu benar.
"Iya, dulu dipertemuan kita. Hubungan kita sangat baik dan dekat, kamu selalu tahu apa yang aku sukai dan tidak aku sukai." Ujarnya melanjutkan ceritanya.
Feby menitikkan air mata . Ada setitik penyesalan dalam hatinya telah melupakan siapa Erik. "Maafkan aku telah melupakan mu." Ucapnya ter-isak.
Feby mengangguk dan berkata
"Apa kamu juga mengenal orang tua ku? Di mana mereka saat ini ? Apa mereka masih hidup?" Tanyanya dengan sorot mata penuh harap.
Erik menggenggam kedua tangan Feby sebelum menjawab. Ia memastikan lebih dulu emosi Feby. Setelah lama terdiam Erik berkata.
"Setelah pertemuan kita di desa, aku mengirim seseorang mencari tahu tentang mu di kota kelahiran mu. Aku sering ke sana karena mempercayai berita kematian mu. Ibu mu sudah meninggal satu tahun setelah kamu di nyatakan meninggal. Rumah milik orang tua mu atau paman sudah di jual untuk biaya pengobatan ibu mu."
Tangis Feby pecah. Erik meraih tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Ia membiarkan Feby meluapkan perasaannya. Menumpahkan kesedihannya. Erik dengan sabar mengusap pundak Feby. Perasaan Erik terasa tersayat mendengar tangis pilu Feby. Tanpa sadar ia pun terbawa suasana.
"Maafkan aku," Feby menarik tubuhnya dari pelukan Erik.
__ADS_1
"Jangan merasa sendiri. Tujuan ku membawa mu ke kota ini adalah agar kamu tahu siapa diri mu. Karena masih ada keluarga yang wajib tahu kebenaran tentang mu." Ungkap Erik tetang tujuannya membawa Feby ke kota.
Air mata Feby kembali tumpah. Erik laki-laki spesial yang mengorbankan waktunya hanya untuk dirinya. "Terimakasih atas semuanya." Ucapnya tulus.
"Sekarang boleh aku memanggil mu Della?"
"Iya, jika memang nama ku Della maka panggil aku dengan nama ku. Tapi bagaimana kamu bisa yakin jika diriku Della?" Tanya Feby
Erik mengeluarkan selembar foto lama dari dalam dompetnya lalu meletakkannya di atas meja. "Ini membuat ku yakin, tak hanya itu di dalam sini sangat yakin jika diri mu adalah Della" tunjuk nya pada ulu hatinya sendiri
Tangan Feby bergetar meraih foto itu.
"Aku? " ucapnya mengamati foto itu dengan teliti. Ia pun yakin Erik tak salah mengenalinya hanya rambut perbedaan dirinya dan di foto.
"Ya, itu kamu. Aku sudah memastikan bahkan kamu tidak memiliki saudara kembar. Tanda ini yang membuat ku juga yakin jika diri mu adalah Della" Jelas Erik menunjuk tanda lahir di leher Feby
Feby tersipu malu karena Erik menunjuk lehernya. Ia tersenyum tipis dan berkata.
"Terimakasih sudah menceritakan siapa diriku."
"Aku berniat mengajak mu pergi ke kota kelahiran mu. Untuk bertemu paman mu. Beliau masih hidup kemarin orang-orang ku memberitahukan jika diri mu masih hidup. Tapi beliau tak mempercayainya jika belum melihat dirimu secara langsung." Erik mengatakan rencananya
"Aku mau. Kapan kita berangkat?"
"Beberapa hari lagi. Karena pekerjaan ku banyak. Kamu sering-seringlah menelpon ibu Weni bagaimana pun mereka berjasa pada mu selama tiga tahun ini." Nasehat Erik.
"Aku mengerti."
"Sekarang sudah malam, ayo kita pulang. Untuk malam ini kamu menginap lagi di rumah, besok pagi baru pindah ke apartemen. Tidak enak pada, Kak Zi dan kak Zev jika berpamitan sekarang." Ujar Erik.
"Baiklah, tapi bagaimana barang belanjaan kita?"
__ADS_1
"Sudah sampai di apartemen." Jawab Erik. Ia menarik tangan Della agar keluar dari tempat itu
Setelah berpamitan pada Vian dan Rayya . Erik meninggalkan tempat itu dengan hati lega setelah menceritakan siapa diri Feby