Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Duka Maura


__ADS_3

Erik masih setia menunggu Maura di dalam kamar, sudah satu jam belum ada pergerakan dari Maura untuk bangun. Erik kembali melihat-lihat isi dalam kamar Maura, hingga matanya kembali melihat sesuatu tak asing di atas meja di sela-sela buku Maura.


"Inikan gantungan kunci motor itu. Jadi dia melepasnya." Ternyata Erik selama ini memperhatikan boneka yang menjadi gantungan kunci motor Maura. Tanpa ijin Erik memasukkannya ke dalam saku celananya.


"Mama..."


"Masih ada yang sakit?" Tanya Erik. Ia langsung menghampiri Maura.


"Erik ?!" Pekik Maura terkejut. " Ia meringis menyentuh keningnya karena merasa pusing. Ia juga melihat sekelilingnya. " Apa yang terjadi padaku ?" Tanyanya sambil menekan pangkal keningnya.


"Kamu pingsan, sekarang minum llah !" Erik membantu Maura duduk dan memberikannya segelas air putih.


"Terimakasih..." Ucap Maura bersandar di dinding kasur.


"Jika sudah merasa baikan, mandilah. Aku panggilkan Della untuk membantu mu, setelah itu makan ." Erik berdiri dan keluar dari kamar.


Maura hanya diam menatap punggung Erik hingga menghilang di balik daun pintu. Dirinya kembali menangis meninggalnya sang ibu adalah pukulan kedua terberat setelah kehilangan sang ayah. "Mama...." Isaknya pelan.


Pintu terbuka, munculah sosok Della. Ia datang karena Erik memberitahunya jika Maura sudah bangun.


"Masih lemas ? Atau kamu merasa pusing ?" Tanya Della menghampiri sahabatnya itu.


Maura mengusap air matanya pelan. "Hanya pusing. " Jawabnya memaksakan senyum.


Della mencari baju ganti Maura di lemari. " Ayo mandi dulu setelah itu kamu makan." Titanya membantu Maura berdiri.


Maura menurut tanpa berkata apa-apa.  Ia mengguyur tubuhnya dengan air hangat, di bawah pancuran air shower Maura kembali menangis. Menyesali hari ini, kenapa ia harus pergi ke kantor ? Kenapa ia harus menuruti ibunya untuk pergi bekerja? Kenapa dirinya lupa membawa kunci cadangan ? Maura memukul-mukul dadanya sendiri. Ia meluapkan perasaannya di bawah guyuran air. Hampir tiga puluh menit Maura di dalam kamar mandi, Della mulai gelisah karena Maura tak kunjung ke luar.


"Maura ! Kamu baik-baik saja." Panggil Della sambil mengetuk pintu. Ia begitu sangat cemas.


Pintu terbuka


Maura keluar dari kamar mandi dengan tampilan bibir pucat dan mata  sembab. Meski begitu ia masih memberikan senyum tipis pada Della. "Aku baik-baik saja." Ucapnya lalu melangkah menuju lemari.


"Pakaian mu sudah aku siapkan, itu ada di atas kasur." Tunjuk Della ke atas kasur. "Akan ku ambilkan makanan untuk mu." Sambungnya keluar dari kamar.


Maura meraih bajunya dan kembali ke kamar mandi untuk memakai bajunya. Ia hanya diam saat Della memintanya untuk makan, kini ia teringat kotak bekalnya tadi. Andai dia tahu itu masakan terakhir ibu Sila, mungkin Maura akan memakannya sejak pagi.


Setelah berpakaian lengkap, Maura keluar dari kamar. Rambut basahnya dililitkan handuk, semua mata melihat ke arahnya. Ternyata di rumahnya sudah ramai tetangga.


Ibu Rini menghampiri Maura lalu menuntunnya masuk ke kamar ibu Sila, beliau tahu jika Maura ingin melihat ibunya. "Bagaimana kondisi mu ?" Tanya Ibu Rini.


"Sudah membaik bu, di mana kotak makan berwarna pink disini ?" Tunjuk Maura di atas meja.


"Di antar ke dapur sama Nak Della." Jawab Ibu Rini. Beliau menatap heran pada Maura.


Tanpa bicara lagi Maura segera ke dapur langkahnya dipercepat agar cepat sampai. Setiba di dapur Maura mencari-cari kotak makanan itu.


"Kamu disini ?! " Della terkejut karena Maura berdiri di belakangnya. "Aku baru saja ingin mengantar makanan ke kamar mu, sekarang makan ya... sudah jam delapan malam." Della meletakkan nampan makanan ke atas meja.


"Di mana kotak makan tadi ?"

__ADS_1


"Ada di sini." Della mengambil kotak makan itu.


Maura menerimanya, lalu membuka tutup kotak itu untuk mencium baunya. Masih bagus dan tidak basi, Maura mengambil sendok kemudian menyendok nasi itu dan menyuapinya.


Maura menangis, mengunyah makanan yang telah dingin itu. Masakan terakhir dari ibu Sila. Masakan terakhir yang ia cicipi buatan tangan sang mama. Selamanya Maura tidak akan pernah lagi merasakan lezatnya masakan wanita yang telah melahirkannya itu.


Maura makan bercampur tangis, Della di sampingnya juga ikut menangis serta merangkul pundak sahabatnya itu.


"Kendalikan diri mu." Ujar Della mengusap air matanya.


Tangis Maura semakin pecah bahkan ia tak kuasa melanjutkan makannya. Maura terduduk lemas di kursi dan menelungkupkan kepalanya di meja. Erik dan Dias memperhatikan dari ruang tengah menjadi tidak tega. Entah bisikan dari mana, Erik melangkah menghampiri Maura dan duduk di sampingnya, tak hanya itu dia juga membawa tubuh lemah itu ke dalam pelukannya.


"Menangislah, lepaskan semuanya." Bisik Erik sembari mengusap pundak Maura. Della juga ikut menenangkan sahabatnya itu. Ia mengusap lembut rambut Maura di dalam pelukan Erik.


...----------------...


Alam seperti memberikan kekuatan untuk Maura menghadapi dukanya. Cuaca pagi ini terlihat cerah, Selain teman-temannya yang datang. Zevin dan istrinya juga turut hadir di sana.


Pagi ini Maura tidak lagi menangis, ia lebih sabar dan menerima takdirnya. Ia juga sudah bisa berbaur dengan para pelayat. Di sana Della, Erik dan Dias masih setia menemaninya. Jo datang terburu-buru setelah menyempatkan pulang subuh tadi.


Ambulans sudah membawa jenazah ibu Sila menuju ke pemakaman. Di dalam mobil jenazah, Maura ditemani Della dan Nazia. Sementara Erik dan Dias sudah berada lebih dulu di pemakaman. Lalu Zevin naik mobil sendiri bersama Yudha.


Beberapa saat kemudian, pemakaman sudah selesai. Sebagian orang sudah meninggalkan tempat itu. Tidak untuk Erik dan teman-temannya, mereka masih menemani Maura. Zevin, Nazia dan Yudha juga berpamitan 


Cukup lama di pemakaman, Erik mengajak Maura untuk pulang. " Ayo pulang cuacanya semakin terik." Ajaknya berdiri di samping Maura.


"Kalian pulang saja, aku masih ingin disini. Ajak juga Della, dia pasti lelah dari kemarin menemani ku." Tolak Maura. Tangannya masih menggenggam tanah bercampur  bunga segar itu.


"Kamu juga pulang, kalian pasti lelah..." Sahut Maura. Tanpa mengalihkan pandangannya dari gundukan tanah yang masih basah itu


"Tidak ada penolakan !" Tegas Erik. Tatapan matanya begitu tajam pada Maura yang tak melihat padanya.


Dias seakan mendapat angin segar langsung menarik pergelangan tangan Della. "Ayo pulang ! Kamu butuh istirahat. Wajah mu juga pucat...." Ajaknya lembut dan tersenyum.


Della mengangguk. "Baiklah... Kita juga harus mengatur di rumah lagi." Ujarnya membalas senyuman Dias. Della tak habis pikir dengan keluarga Maura yang tidak datang.


"Kalian berdua jangan lama-lama. Lihat cuacanya panas sekali." Seru Jo melangkah mengikuti Dias dan Della.


Terik matahari seakan membakar kulit, tak sedikit pun Erik berniat meninggalkan Maura di sisi makam ibunya. Meski pun lelehan keringat mulai membanjiri wajah tampannya. Erik memayungi Maura yang kepanasan sementara dirinya rela diterpa cahaya matahari.


Maura  mendongakkan wajahnya sedikit ke atas, ia tak tega melihat wajah Erik kemerahan karena panas. Tak ingin menjadi egois Maura segera berdiri dan berkata "Ayo pulang !" Ia melangkah lebih dulu.


Erik tersenyum tipis dan mengangguk, lalu mengimbangi langkah Maura. Tak ada pembicaraan sampai mereka masuk ke dalam mobil. Erik menyalakan AC kemudian membuka kancing kemejanya bagian atas untuk mengurangi rasa gerahnya.


Maura meraih tissue kering dan memberikannya pada Erik. "Bersihkan wajah mu !" Ketusnya lalu berpaling menghadap luar jendela.


Sekali lagi Erik tersenyum , lalu menerima tissue itu. Ia mengusap wajahnya karena berkeringat, kemudian meraih botol air di sisinya dan meminumnya hingga tersisa setengah. "Kamu minum ?" Tawarnya pada Maura.


"Aku tidak haus, terimakasih..." Tolak Maura. Ia bicara tanpa mengalihkan pandangannya pada jendela mobil.


Erik menghembus nafas berat, kemudian menyalakan mesin mobil. Mereka meninggalkan komplek pemakaman. Suasana di dalam mobil kembali hening hingga beberapa menit

__ADS_1


Erik melirik sebentar pada Maura yang menatap lurus ke depan.  "Maaf..." Ucapnya tiba-tiba.


Maura menoleh ke samping. "Maaf untuk apa? Di antara kita tidak ada masalah."


Erik menarik nafas sejenak lalu menghembuskannya kembali. "Masalah motor itu." Cicitnya pelan. Sudut mata Erik melirik reaksi wanita di sampingnya itu.


Maura kembali menoleh sebentar pada Erik lalu mengalihkan pandangannya ke depan dan berkata. "Lupakan saja, aku tidak mempermasalahkannya lagi. Aku sudah mengembalikannya padamu dalam keadaan baik-baik saja. Kemudian hari jika ingin memberikan sesuatu pada orang lain terlebih itu wanita, kamu harus diskusikan pada Della. Semua orang bisa melihat bagaimana perlakuan mu padanya, otomatis dia adalah pasangan mu. Jadi jangan kecewakan dia. Della mencintai mu sejak lama, entah sadar atau tidak, tapi aku yakin kamu pun memiliki perasaan itu juga padanya."


Erik tersentak, benarkah ? Della mencintainya. Apa dulu Della juga memiliki perasaan yang sama ? Tapi tunggu ! Apa Erik masih memiliki perasaan itu, kenapa sekarang rasanya berbeda ? Kemana larinya debaran seperti dulu ?


Mobil dikendarai Erik tiba di depan rumah Maura, disana ada Dias dan Jo mengatur tenda dan kursi. Tak hanya itu para tetangga pun juga ikut membantu. Maura bergegas masuk ke dalam rumah  tujuannya adalah kamar ibu Sila. Ia masuk dan mengunci diri di dalam sana.


Erik melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia masih mencerna ucapan Maura tadi. Hingga tanpa sadar menabrak tubuh Della.


"Kamu kenapa? Ya ampun Erik ! Wajah mu merah. Tunggu disini akan ku buatkan parutan tomat dulu." Della bergegas ke dapur.


Erik menatap punggung Della. Benarkah ? Perasaannya itu masih ada. Ia terdiam lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa. Erik menghela nafas panjang. Tak berapa lama Della datang membawa piring kecil berisi parutan tomat.


"Berbaringlah, biar ku tempelkan parutan tomat ini."


Erik menurut, matanya tak lepas melihat wajah Della. Dirinya ingin menyakinkan perasaannya sekarang, apa masih seperti dulu atau tidak ? Ia berbaring di sofa dan membiarkan Della menempelkan parutan tomat itu.


"Hei kenapa melihat ku sepeti itu ? Kamu jatuh cinta padaku ?" Ejek Della sembari terkekeh


Erik hanya tersenyum tanpa menjawab. Usai menempelkan parutan tomat itu kini Della ingin menaruh piringnya di dapur.


"Tunggu !" Tahan Dias. Sejak tadi ia sudah memperhatikan Della dan Erik.


"Iya, ada apa?" Della berbalik dan bertanya.


"Itu apa?" Tunjuk Dias pada piring di tangan Della.


"Parutan tomat, tadi wajah Erik merah mungkin oleh kelamaan di bawah sinar matahari langsung. Kamu mau ?" Jelas Della sekaligus menawarkan.


Dias mengangguk. "Aku mau !" Ucapnya senang.


Della kembali duduk di sofa. "Berbaringlah ! " Titahnya pada atasannya itu.


Dias berbaring, Della mulai menempelkan parutan tomat itu. Dias merasakan sensasi dinginnya. Erik yang masih di tempatnya memperhatikan Dias dan Della. Dirinya tersenyum kenapa perasaan panas seperti dulu saat pertama kali Dias menatap Della tidak lagi dirasakannya ?


...----------------...


Malam hari semua orang berkumpul di rumah Maura, mengirim doa untuk Ibu Sila. Para tetangga saling memberi dukungan pada sekretaris cantik itu.


Usai acara semua orang kembali ke rumah masing-masing. Kini disana hanya tersisa Dias, Jo,  Erik dan Della. Mereka semua duduk di ruang tengah. Kulit wajah Erik perlahan kembali seperti semula tidak lagi semerah tadi siang.


"Terimakasih karena kalian ada untukku dan meluangkan waktu membantu mengurus pemakaman mama. Kalian pasti bertanya kenapa keluarga ku tidak datang ? Sejak dulu hubungan papa ku dan keluarganya kurang baik. Karena papa hanya memiliki saudara tiri. Sementara mama berasal dari panti asuhan memang tidak memiliki keluarga dekat lagi. Walau pun ada mungkin jauh aku tidak mengenali mereka." Cerita Maura.


"Karena kamu sekarang sendiri, apa aku boleh tinggal di sini menemanimu ?" Tanya Della pelan.


Maura menoleh pada Della dan tersenyum lalu berkata "Diskusikan dulu dengan Erik. Walau bagaimana pun juga kedatangan mu di kota ini karena ajakannya, otomatis dia bertanggung jawab atas diri mu."

__ADS_1


Tanggung Jawab ! Erik tersentak dengan kalimat itu. Benar dia memiliki tanggung jawab pada Della, karena membawanya ke kota ini. Apa mungkin sekarang yang ada di hati Erik hanya ada rasa tanggung jawab tidak lebih seperti sebelumnya? Itulah penyebabnya selalu mengutamakan Della ?


__ADS_2