
Beberapa bulan kemudian...
Langit pagi masih temaram, kicau burung pun belum terdengar. Tetesan embun pagi masih terlihat basah, pertanda matahari belum muncul di ufuk timur untuk mengeringkannya.
Ya. Seseorang tengah menanti dini hari, hampir separuh malam ia bekerja sendiri tanpa melibatkan siapa pun. Dia adalah Erik, pria ini sedang mengeringkan rooftop dari lembabnya embun.
Di rooftop ini akan Erik jadikan saksi atas perjalanan cintanya bersama sang kekasih. Setelah membersihkan tempat itu. Erik bergegas turun dan memasak sarapan pagi, namun sebelumnya ia harus meminta bantuan seseorang untuk menyiapkan hal penting.
Waktu tepat menunjukan pukul lima pagi. Erik bergegas mengetuk pintu kamar apartemen Maura.
Sekali lagi Erik mengetuk daun pintu. Ia juga menelpon kekasihnya itu. Karena beberapa kali mengetuk tak ada sahutan.
__ADS_1
Maura membuka pintu dengan tampilan wajah bantalnya. Matanya membulat sempurna ketika kesadarannya terkumpul. "Erik." Ucapnya terkejut. "Kamu sudah datang ?" Maura mempersilahkan kekasihnya itu masuk. Salahnya sendiri tidak mengintip lebih dulu, jadi tidak sempat merapikan dirinya.
Erik tersenyum. "Aku merindukan mu." Ia mengecup kening Maura dengan lembut. "Ikut aku." Pintanya menggenggam erat tangan Maura.
"Kemana ? Ini masih pagi. Jam berapa kamu sampai. Kamu begadang ya ? Mata mu berkantung !" Cecar Maura dengan pertanyaan disertai tatapan penuh selidik.
"Setelah ini aku akan tidur seharian, ayo ikut aku ke rooftop melihat matahari pagi sebentar lagi akan muncul." Papar Erik sambil mengenakan jaket pada Maura.
"Aku belum mandi..." Lirih Maura. Rasanya tidak enak saja belum mandi tapi sudah berduaan dengan Erik.
Maura tak bertanya lagi, ia hanya pasrah mengikut langkah Erik yang membawanya ke rooftop. Tidak ada pembicaraan hanya senyuman yang Erik tampilkan. Pria dingin ini baru saja pulang setelah perjalanan bisnis bersama Zevin selama dua hari.
__ADS_1
Sampai disana, Maura menutup mulutnya terperangah. "Ka—kapan kamu menyiapkan ini semua ?" Tanyanya penuh keterkejutan. Ya. Rooftop itu Erik sulap menjadi tempat yang indah. Terlihat sederhana tapi berkesan.
"Tadi malam." Jawab Erik. Kemudian menuntun Maura untuk duduk di kursi yang telah ia siapkan.
Maura menatap sekelilingnya, masih remang-remang tapi terlihat begitu indah, jauh di ufuk timur sana setitik cahaya mulai menembus cakrawala. Di rooftop ini tersedia satu meja dan dua kursi, di atas meja dilengkapi makanan yang Erik masak sendiri. Kemudian tak jauh dari meja makan ini ada piano yang sengaja Erik sewa dari seseorang. Maura semakin tak mengerti kejutan pagi yang disiapkan Erik untuknya sangat sempurna.
Erik hanya tersenyum melihat ketakjuban Maura. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi dan menaruh jari-jarinya di atas tuts piano. Mendengar dentingan Piano Maura menoleh, bibirnya tersenyum dengan netra yang nampak berkaca. Sungguh kejutan pagi istimewa.
"Dengarkan lagu ini baik-baik." Seru Erik tersenyum dan kemudian memainkan piano.
...----------------...
__ADS_1
Erik tersenyum setelah lagunya selesai. Ia mendekat pada Maura kemudian berdiri di hadapannya. "Kamu lihat di sebelah timur sana, matahari memberikan cahayanya untuk menyingkap tabir yang gelap hingga bisa terlihat terang. Itulah kenapa aku mengajak mu ketempat ini, agar bisa menyaksikan munculnya mentari pagi." Tutur Erik menyibak rambut yang menutup wajah kekasihnya itu. Maura mengikuti arah telunjuk Erik kemudian kembali menghadap kekasihnya. "Maura, hadirnya diri mu dalam kehidupan ku, sudah banyak memberikan ku kebahagiaan, kehangatan, kenyamanan dan kekuatan. Sama seperti matahari yang memberikan energi positif untuk manusia di pagi hari." Sambungnya masih dengan posisi yang sama. Maura tak menyela, ia hanya diam dan mendengarkan apa yang akan Erik sampaikan padanya. "Aku ingin, setiap kamu membuka mata di pagi hari, maka kamu akan mengingat pagi ini bersama ku di sini. Di atas gedung ini." Tutur Erik lembut mengunci netra indah kekasihnya. "Disinilah aku meminta mu sebagai kekasih ku, maka disini pula aku akan melamar mu secara pribadi, maukah kamu menikah dengan ku ?" Ungkap Erik penuh harap.