Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Perjanjian dari Erik


__ADS_3

Berkutat seharian dengan setumpuk pekerjaan yang di tinggalkan  Maura selama menemani Erik di rumah sakit. Sungguh membuatnya lelah, kini Maura bersiap untuk pulang. Sebelumnya, ia berpamitan pada Della dan Dias melalui pesan.


"Kamu mau pulang ?" Tanya Jo menghentikan langkah Maura saat  berpapasan dengannya.


"Iya, aku pulang duluan ya."


Maura turun sampai ke lantai bawah, ia sudah memesan taksi  untuk pulang. Namun, kali ini ia berniat mampir ke rumahnya lebih dulu.


"Nona, Maura...." Panggil pria paru baya. Beliau  berlari kecil menghampiri Maura.


"Iya, Pak ada apa ya..." Maura menghentikan langkahnya saat ingin menghampiri taksi pesanannya.


"Saya diminta tuan Erik untuk menjemput anda." Tutur pria paru baya ini.


"Tapi, saya sudah memesan taksi." Tolak Maura. Ia merasa tidak enak dengan antar jemput dari rumah Zevin.


"Ini uangnya Pak, nona ini tidak jadi naik taksi ini. Terimakasih." Sopir itu memberikan uang pada taksi pesanan Maura. Rupanya Erik sudah membaca situasi dari rumah.


Maura terperangah, apa penyakit Erik semakin serius. Pria itu selalu mengintil padanya, baik di rumah atau pun di luar. Maura terpaksa mengikuti langkah pria paru baya itu menuju mobilnya.


Maura mengajak sopir itu mampir ke  rumah terlebih dulu. Ia merindukan rumahnya tempat kehangatan yang dulu sempat ia rasakan. Jujur Maura ingin sekali mengunjungi makam ibunya namun hari sudah sore, ia mengurungkan niatnya itu.


Mobil ditumpangi Maura berhenti di depan rumahnya. Ia meminta sopir untuk pulang ke rumah Zevin lebih dulu. Karena Maura ingin sendiri di rumah ini. Sopir itu menolak, setelah mendengar bujuk rayu Maura akhirnya sang sopir setuju.


Maura membuka pintu rumahnya dan menghidupkan lampu, ia mengitari seluruh isi ruangan. Matanya tertuju pada bingkai foto sang ibu. Maura melangkah dan meraih foto itu kemudian duduk di sofa. "Apa kabar, Ma ? Aku rindu..."ucapnya sendu tanpa teras buliran air matanya menetes begitu saja. "Ma, dia terkena gangguan jiwa karena menolong ku." Cerita Maura pada foto ibu Sila. "Sekarang aku harus merawatnya hingga sembuh dan kembali waras. Tak hanya itu, dia juga menuduh ku mencuri, padahal aku tidak mencuri apa pun." Sambung Maura lagi.


Merasa gerah Maura masuk ke dalam kamarnya. Ia membersihkan tubuhnya. Maura tak mendapati barang-barang Della disana, rupanya wanita berambut pendek itu benar-benar pindah. Usai membersihkan dirinya, Maura masuk ke kamar ibu Sila. Mencari sertifikat rumah itu. Maura sudah membeli rumah itu sebelum ibunya jatuh sakit, sekarang ia mulai berfikir tinggal di rumah itu seorang diri Maura merasa kesepian.


Haruskan ia membeli atau menyewa apartemen saja ? Mungkin tinggal sendiri di apartemen lebih simpel  pikir Maura. "Besok aku mengemas baju-baju Mama yang layak pakai dan menyumbangkannya dari pada tidak dipakai di lemari."


Maura kembali ke dalam kamarnya setelah menemukan sertifikat itu. Ia akan mencari apartemen yang dekat dengan kantor tempatnya bekerja. Ia sudah membulatkan niatnya. Maura berbaring di atas kasurnya menatap langit-langit kamar tenggelam dalam pikirannya.


...----------------...

__ADS_1


Di kediaman family Z...


Erik sudah gelisah, karena Maura tak kunjung datang. Hari semakin gelap namun mobil jemputan tadi belum juga kembali. Erik meraih ponselnya mencoba menelpon nomor Maura, sayangnya tak satu pun panggilannya terjawab. Akhirnya Erik memutuskan menelpon sopir yang menjemput Maura.


"Dimana, Pak ?" Tanya Erik, ia cemas jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka berdua.


"Saya sedang ganti ban, Tuan. Tadi sepulang menjemput Nona Maura ban mobil bocor." Terang pak sopir.


"Dimana Maura ? Saya menelpon tidak di jawab." Erik ingin mendengar suara Maura untuk memastikan jika dia baik-baik saja.


"Nona Maura di rumahnya, Tuan ! Tadi dia minta diantar ke sana, dan saya disuruh pulang lebih dulu. Nanti dia pulang sendiri." Papar sopir itu.


"Baiklah, terimakasih." Erik memutuskan telpon. Ia kembali ke kamarnya meraih jaket, dompet dan kunci mobilnya. Erik turun dari kamarnya menggunakan lift. Ia melangkah tergesa-gesa.


"Mau kemana, Rik ? Sebentar lagi makan malam." Seru Nazia berpapasan dengan Erik di ruang tengah.


"Ke rumah Maura, Kak ! Sebentar saja. Jangan cemas aku masih bisa menyetir." Erik meyakinkan Nazia karena terlihat mengkhawatirkannya.


Erik mengeluarkan mobilnya dari garasi dan melaju meninggalkan halaman rumah. Ia cemas karena Maura sendiri di rumah itu. Sejak kejadian penculikan Della, Erik semakin takut hal buruk terjadi pada Maura mengingat hampir saja dia menjadi korban Aryan.


"Dasar pencuri ! Kamu membuat ku cemas." Gumam Erik berhenti di lampu merah.


Beberapa menit kemudian, Erik tiba di halaman rumah Maura. Ia mengetuk pintu namun tak ada jawaban, lampu juga terang bisa dipastikan jika Maura ada di dalam. Erik teringat saat Maura melemparkan tasnya di rumah sakit, ia sempat mengambil kunci rumah dari dalam tas Maura agar wanita itu tidak pulang.


Erik membuka dompetnya ternyata kunci itu masih ada di dalamnya, ia bergegas membuka pintu kemudian masuk. "Maura... Kamu di mana?" Panggilnya sambil menutup kembali pintu. "Kenapa Della mengembalikan kunci satunya kemarin ! " Keluhnya lagi


Erik melangkah menuju kamar Maura, ia membuka gagang pintu dengan perlahan dan melihat Maura tengah terlelap di atas kasur. Erik menghampirinya kemudian duduk menyamakan tingginya dengan Maura. Ia menyibak rambut yang menutupi wajah cantik itu. Maura nampak sangat pulas tidur dengan posisi miring.


Erik melihat jam di dinding, sudah pukul setengah tujuh. Ia berinisiatif membuat makan malam untuk mereka berdua. Erik pergi ke dapur setelah membenarkan letak selimut Maura. Ia membuka kulkas ternyata persediaan makanan masih cukup.


Erik memulai menyiapkan bahannya, sesekali ia meringis sakit karena menjangkau peralatan memasak yang digantung agak tinggi. Hampir tiga puluh menit Erik menyelesaikan separuh pekerjaan. Ia cukup pandai di dapur karena sering tinggal berdua dengan Zevin.


Di kamarnya Maura mencium aroma masakan, ia membuka matanya perlahan kemudian menyesuaikan penglihatannya. Maura melihat jam di dinding ternyata sudah malam. Sesaat kemudian ia terkejut dan langsung duduk, Maura meringis karena pusing bangun dengan tiba-tiba.

__ADS_1


"Cara bangun mu salah, Maura."


"Erik, kamu disini ? Bagaimana caranya kamu masuk ?" Tanya Maura memegang kepalanya.


Erik tak menjawab, ia berdiri di belakang Maura kemudian menyentuh pucuk kepalanya. "Pejamkan mata mu." Ucapnya kemudian memberikan pijatan lembut di kepala Maura.


"Aku ke tiduran." Maura menuruti Erik memejamkan matanya. Merasakan pusingnya berkurang. "Cukup terimakasih." Ucapnya menghentikan tangan Erik.


"Ayo makan malam, kamu harus mencicipi masakan ku. Ini pertama kalinya aku memasak untuk wanita." Erik menuntun tangan Maura agar turun dari kasur.


"Kamu memasak ? Harusnya kamu tidak perlu datang kemari. Aku bisa pulang ke sana, kamu juga harusnya istirahat." Tutur Maura mengikuti langkah Erik.


"Bagaimana aku istirahat jika obatnya disini."


Maura tak mendengar kemudian mendaratkan tubuhnya di kursi, Erik menyajikan beberapa makanan lalu memberikan sendok pada Maura.


Mereka makan bersama hanya berdua. Maura mencicipi masakan Erik sedikit lalu berkata. "Masakan mu enak !" Ucapnya tersenyum senang.


"Tapi lebih enak masakan mu, yang sering ku makan." Tutur Erik lembut dan menatap lekat iris mata Maura. "Kamu menyukai masakan ku ?" Erik mengalihkan pembicaraan karena Maura terlihat murung.


"Aku menyukai nya, ini sangat enak." Maura kembali menyuapi makanan ke mulut nya dengan penuh sendok.


"Hei pelan-pelan, tidak ada yang mengambilnya dari mu." Erik mengusap sudut bibir Maura yang belepotan karena kuah. "Jika kamu menyukainya, maka kita buat perjanjian." Lanjutnya lagi.


"Perjanjian ?"


"Iya, berjanjilah kita selalu makan bersama, pagi siang dan malam. Pagi aku akan memasak untuk mu kemudian siang kita makan bersama terserah memilih tempat dimana karena kita sama-sama bekerja dan malam kamu yang memasak untuk ku." Ujar Erik panjang lebar.


"Aku tidak berjanji, karena tidak seterusnya kita selalu bertemu." Papar Maura melanjutkan makannya. "Aku akan menjual rumah ini dan mencari apartemen dekat kantor. Rasanya aku kesepian tinggal di rumah ini sendiri." Ujarnya lagi setelah menghentikan makannya.


"Terserah pada mu, aku akan membantu mencari apartemennya." Usul Erik. Di balas anggukan Maura.


Usai makan malam, Maura membereskan meja makan. Sementara Erik mulai mencari pembeli untuk rumah Maura. Usai dengan tugasnya masing-masing. Kini mereka tengah bersiap untuk kembali ke rumah Zevin.

__ADS_1


__ADS_2