
Sunyi senyap mendominasi di dalam kamar pribadi Dias. Mereka semua saling berfikir sendiri sambil menatap wajah Maura yang masih belum sadar. Menunggu sedikit lama dokter akhir nya datang, Maura segera di periksa sementara itu Della dan Dias menunggu di ruang kerja CEO itu.
"Kamu mengenal Maura?" Tanya Dias sembari duduk di sofa.
Della menggeleng dan berkata." Saya lupa pada orang-orang di masa lalu . Tapi setelah melihat dia, saya merasakan sesuatu yang tidak saya mengerti dan kepala saya sedikit pusing."
Dias menegakan duduknya lalu menghadap Maura." Bagaimana perasaan mu sekarang ?" Tanyanya cemas.
Della tersenyum. " Saya baik-baik saja." Jawabnya yakin.
Dias memalingkan wajahnya, entahlah dia tiba-tiba merasa gerah dan berdebar. Benar kata Erik Della tidak secantik Maura. Namun, manis tak bosan di pandang mata.
"Anda kenapa Pak?" Della bertanya karena wajah Dias nampak merah.
"Sa—saya tidak kenapa-kenapa. Sebentar, saya ke kamar mandi dulu." Dias segera masuk ke dalam kamar pribadinya lagi. Bertepatan dengan dokter baru saja selesai memeriksa Maura.
"Kamu kenapa?" Erik juga bertanya karena Dias membuka pintu kamar mandi.
"Mau cuci muka." Dias menutup pintu dengan cepat. Di dalam kamar mandi ia berkaca melihat wajahnya memang merah. Dias menarik nafasnya lalu menghembuskan perlahan melalui mulutnya.
Aku kenapa seperti ini? Kenapa aku berdebar sekali bahkan bersama Maura tidak separah ini.
Dias menatap pantulan wajah nya di cermin.
Erik membawa dokter duduk di sofa bersama Della." Bagaimana kondisinya?" Tanyanya serius.
"Untuk kesehatan tubuhnya dia baik-baik saja. Tapi sepertinya Nona Maura Shock itu penyebabnya dia jatuh pingsan." Jelas dokter.
"Shock ?! "Seru Dias ikut bergabung. Pria ini terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Ya, ada sesuatu yang membuatnya terkejut. Tapi semua akan baik-baik saja setelah dia bangun. Jangan biarkan dia sendiri" Jelas
dokter lagi
"Baiklah, Terimakasih."
"Saya pamit dulu." Dokter menyalami mereka bertiga.
Erik, Dias dan Della kembali duduk di sofa. Mereka sama- sama kembali berpikir, apa yang membuat Maura Shock hingga jatuh pingsan.
"Della, apa kamu mengenal Maura sebelum nya?" Pertanyaan dari Erik sama di dengar Della dari Dias.
Della menggeleng lemah." Aku tidak tahu..." Ungkapnya lirih. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa.
Erik menghampiri Della." Maaf... Membuat mu berfikir keras, sekarang ayo kita lihat Maura.
Dias maaf membuat kekacauan pagi ini." Tuturnya tak enak hati.
Dias tersenyum. "Bukan salah mu, kita juga tidak tahu apa yang membuat Maura seperti itu. Baiklah, sekarang kita masuk melihat kondisi nya." Dias beranjak dari sofa lalu melangkah mendahului Erik dan Della. Tiba-tiba dadanya berdebar lagi saat matanya dan Della bertemu.
Tiga orang ini duduk di pinggiran kasur sambil menunggu Maura bangun. Setelah memastikan kondisinya baru Dias dan Della mulai bekerja. Erik juga enggan kembali ke kantor entahlah dia merasa bersalah pada Maura pagi ini. Tak lupa Erik telah memberitahu Zevin tentang keterlambatannya datang ke kantor
Lima belas menit kemudian mata Maura mulai terbuka perlahan. Ada lelehan air di sudut matanya saat pandangannya tertuju pada Della yang duduk di sampingnya. Maura memaksakan diri untuk bangun, melihat hal itu Dias segera membantunya.
__ADS_1
Maura memeluk tubuh Della dengan erat. "Della, ini benar kamu, 'kan? kamu masih hidup. Della aku merindukan mu." Tangis Maura pecah tangannya meraba wajah Della yang menatapnya bingung dengan lelehan air mata di pipinya. "Della, maafkan aku. Maafkan aku..." Maura kembali memeluk tubuh Della.
Della hanya diam menatap wajah Maura yang sangat cantik menurutnya. Apa hubungan mereka di masa lalu? itu yang menjadi pertanyaan Della saat ini.
"Kalian saling kenal?" Tanya Erik juga bingung.
Maura mengangguk lalu berkata
"Ya, dia Della sahabat ku dan juga teman mu."
"A—apa ?! sahabat mu dan teman ku juga. Dari mana kamu tahu jika aku mengenal Della ?" Selidik Erik.
"Kita satu Universitas hanya beda jurusan." jawaban Maura mengejutkan Erik
Dias memberikan segelas air putih pada Maura. "Minumlah, Tenangkan diri mu. Ini seperti benang kusut" serunya ambil bagian bicara.
Maura menerima gelas air putih itu lalu meminumnya hingga habis. "Terimakasih..."ucapnya pada Dias.
"Sekarang ceritakan ada apa sebenar nya ini? Meski pun aku bukan bagian dari masa lalu kalian, tapi aku juga ingin tahu cerita nya." Tutur Dias. Sebenarnya ia menutupi kebingungannya kemana rasa berdebar saat Maura tersenyum padanya ?
"Della, maafkan aku. Selama tiga tahun ini aku hidup dalam penyesalan. Di hari itu aku tidak bisa mengontrol emosi ku. Hingga kita bertengkar, aku kepikiran saat kamu pulang dari rumah ku. Dan esok harinya aku menerima telpon dari om Andi jika kamu meninggal dalam kecelakaan. Aku berpikir akulah penyebab kecelakaan itu karena pertengkaran kita kamu tidak fokus mengendarai motor, maafkan aku Della." Ungkap Maura kembali menangis.
Erik dan Dias semakin tidak mengerti.
"Kamu mengenal Della di mana?" Tanya Dias
"Kami satu universitas tapi beda fakultas. Aku dan Della bersahabat sejak SMA kami berasal kota yang sama." Jelas Maura.
Maura mengangguk pada Erik lalu beralih melihat pada Della. "Kamu masih marah pada ku ?" Tanya nya karena Della hanya diam sejak tadi.
Della mengusap air matanya lalu menunduk dan berkata "Maaf... Aku tidak mengingat mu."
"A—apa ? Kamu lupa padaku. Erik sebenarnya apa yang terjadi pada Della ? Jelaskan padaku. Kenapa dia tidak mengingat ku."
"Della kehilangan ingatannya sejak tiga tahu lalu karena kecelakaan itu. Dia tidak mengingat mu dan juga aku." Jelas Erik pelan.
Maura kembali menangis.
"Della maafkan aku, ya Tuhan... Kenapa harus seperti ini ? Siapa yang dimakamkan keluarganya?" Tanya nya kembali.
"Itu teman kantor Della, nama nya Rosa Amera, yang saat itu juga mengalami kecelakaan bersama Della." Jelas Erik lagi.
"Amera... Ya Tuhan dia juga datang bersama Della ke rumahku waktu itu." Tutur Maura sangat sedih. Bahkan mata sudah bengkak karena banyak menangis.
"Sekarang semua nya sudah jelas. Della, Maura dan Erik serta Rosa kalian terkait satu sama lain. Intinya apa pun yang terjadi kalian adalah teman meski pun, Erik dan Maura tidak pernah bertemu di masa lalu. Nah, sekarang tugas kita adalah membantu Della mengingat kembali apa yang telah terlupakannya." Tutur Dias panjang lebar dan dewasa.
"Dias benar, perlahan kita akan membantu Della mengingat semuanya meski pun, sudah tiga tahun lamanya semoga saja bisa, jika gagal pun kita buka kembali lembaran baru." Tambah Erik.
Maura dan Della mengangguk dan tersenyum."Della ingat atau tidaknya kamu tiga tahun lalu. Yang pasti aku minta maaf tulus pada mu." Ucap Maura
Aku berharap jika suatu hari nanti kamu mengingat semua nya. Jangan pernah membenci ku.
Della menggenggam tangan Maura.
__ADS_1
"Maafkan aku tidak mengingat mu sama sekali. Hari ini aku merasa senang memiliki teman wanita lagi." Ucapnya bahagia. Dua wanita itu saling berpelukan.
Setelah semuanya baik-baik saja. Kini mereka kembali bekerja meski telah melewati drama mengharukan pagi ini. Erik kembali ke kantor dengan perasaan cukup kacau. Hal sama pun terjadi dengan Dias perasaannya tiba-tiba aneh, tapi tidak dengan Della dan Maura mereka nampak sangat bahagia dan ceria. Bahkan Maura selalu menempel pada Della
...****************...
Kantor Pusat JG.
Sudah waktunya makan siang, Erik dan Zevin masih bekerja dengan serius. Erik belum bercerita apa pun tentang keterlambatannya datang ke kantor pagi ini. Beberapa menit lalu Zevin mendapat telpon dari sang istri tercinta jika Nazia dan putranya akan datang ke kantor mengantar makan siang untuknya.
Sudah beberapa bulan Nazia tidak pernah datang ke kantor karena Zevin sendiri yang datang ke rumah sakit menemuinya.
Hari ini Nazia tidak masuk bekerja. Setelah memasak makan siang, ia dan Zayyan pergi mengantarkan makanan itu ke kantor suami nya.
Nazia mengatakan pada sopirnya agar tidak menunggu sebelum ia masuk ke dalam gedung itu. Sambil mendorong stroller Zayyan di belakangnya ada rantang makanan di gantung Nazia.
"Selamat siang Nyonya, Zi."
"Selamat siang..." Balas Nazia tersenyum ramah.
"Nyonya perlu saya bantu mendorong stroller nya." Tawar salah satu karyawan.
"Terimakasih, tapi tidak perlu kalian makan siang saja. Nanti keburu habis waktu nya." Tolak Nazia halus.
"Baik Nyonya, jika perlu bantuan kami katakan saja jangan sungkan." Ucap salah satu dari mereka lagi.
"Iya, saya naik ke atas dulu ya." Pamit Nazia. Ia menaiki lift presdir. Namun, sebelum Nazia melangkah masuk, ia dihentikan oleh seorang wanita. Terlihat sekali wanita itu berpenampilan paling menonjol dari pegawai yang lainnya.
"Hei kamu mau kemana? Kenapa menggunakan lift presdir ? Sepertinya kamu bukan karyawan disini. Di sini kantor bukan tempat penitipan anak !" Sinisnya kesal pada Nazia.
Istri Zevin ini hanya tersenyum lalu memencet lagi tombol buka pada lift. Ia melangkah masuk tak menghiraukan ocehan wanita tadi. Tak merasa puas wanita tadi menaiki lift sebelahnya mengejar Nazia.
Pintu lift yang dinaiki Nazia terbuka lebih dulu. Lalu tak lama lift sebelahnya juga terbuka.
"Hei kamu berhenti di situ ! Berani sekali kamu naik ke lantai tempat ruangan presdir berada. " Kata wanita yang bertemu Nazia di lantai bawah.
"Pergilah ! Sebelum anda berlutut menangis minta maaf pada saya nanti. Apa seperti ini perilaku karyawan Jaya Group ? Cara anda akan merusak citra baik kantor ini !"
"Kamu bukan karyawan di sini tidak ada hak masuk ke dalam kantor ini. Atau kamu mencoba menggoda tuan, Zev ! " Wanita itu semakin kesal.
"Ya, aku ingin menggoda nya."
"Nyonya, Zi ." Pekik Haris setelah mendengar sedikit keributan.
"Haris, suami ku di mana?" Tekan Nazia dengan kata suami sambil melirik wanita tadi.
"Ada Nyonya, silahkan ikut saya. Dan kamu silahkan bersiap karena aku tidak tahu apa yang di lakukan tuan Erik pada mu nanti." ujar Haris.
"Aku tidak takut hanya istri seorang asisten !" Sinis wanita itu.
Zevin keluar karena mendengar suara wanita begitu nyaring. "Sayang kalian berdua sudah sampai ? Kenapa tidak menelpon biar ku jemput di bawah." Zevin memeluk dan mencium istrinya penuh rindu. Lalu bergantian pada putranya. " Jagoan papa juga ada, ayo masuk sayang." Ucapnya mengambil alih stroller Zayyan.
Suami Nazia itu melirik Erik sambil berlalu, pria itu mengerti mendapat perintah untuk menyelesaikan wanita yang berdiri mematung dengan wajah pucat di depan lift.
__ADS_1