Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Hadiah Untuk Kakak Ipar


__ADS_3

Suasana hening itu, membuat orang bisa mendengar suara langkah itu berhenti. Usai berdoa, tamu yang hadir membelah kerumunan. Mereka ingin menyaksikan suara kaki siapa yang berhenti di belakang mereka tadi.


Satu persatu mereka memundurkan langkah seolah memberikan jalan untuk pemilik langkah itu. Alby dan keluarganya mengarahkan pandangan mereka ke objek yang menyita perhatian.


"Papa..."lirih Alby pelan. Ia terperangah orang yang ia sebutkan dalam doa kini berdiri tak jauh dari hadapannya. "Papa... Datang ? Bagaimana bisa?" Suara Alby terdengar bergetar. Matanya memerah lalu melayangkan tatapan penuh tanya pada Zevin, Erik dan Denis yang berdiri bersama Pak Reza.


"Tuan Zevin menjemput papa." Ucap Pak Reza tersenyum.


"Papa." Ibu Anggi melangkah menghampiri suaminya itu. Dengan tangis yang pecah. "Papa datang." Lirihnya sambil memeluk suaminya penuh kerinduan.


Erika juga melangkah bersama Alby, untuk memeluk papa yang mereka rindukan selama ini. "Aku merindukan papa. Apa papa sehat ?" Erika melepaskan segala kerinduan pada sang ayah selama ini.


Keberadaan pak Reza di balik jeruji besi membuat dirinya tak bisa berkumpul dengan keluarganya. Ralda masih mematung di tempatnya bersama sang putra. Perasaannya campur aduk saat ini, meski beberapa kali mengunjungi mertuanya itu ke lapas. Tetap saja Ralda takut jika pak Reza tidak menerimanya sebagai menantu.


"Papa sehat, Nak. Papa juga merindukan kalian semua, papa juga rindu cucu-cucu papa." Kata Pak Reza. Air matanya mengalir begitu saja di pipinya yang tirus. "Papa juga rindu dengan menantu-menantu papa." Ucapnya lagi kemudian melihat ke arah Ralda yang menatap mereka. "Sini, Nak. Papa ingin menggendong cucu laki-laki papa. Panggil papa sama seperti mereka" Pak Reza merentangkan tangannya.

__ADS_1


Ralda masih terdiam, namun sorot matanya mengarah pada Erik dan Zevin bergantian.  Dua laki-laki itu mengangguk memberi tanda turutilah.  Ralda melangkah perlahan, semua orang larut dalam suasana haru itu. Perlahan tapi pasti, istri Alby ini semakin mendekat.


"Papa..." Lirih Ralda. Matanya juga memerah, panggilan papa yang ia ucapkan pada sang mertua membangkitkan kerinduannya pada sang ayah kandungnya yang telah tiada.


"Iya, Nak. Perlakukan papa mertua mu ini sama seperti kamu memperlakukan Tuan Indra. Kamu bisa menyebut Tuan Indra sebagai papa, maka kamu juga bisa menyebut ku sebagai papa mu juga." Papar pak Reza.


Ya. Selama ini Ralda hanya diam tak bicara jika ia ikut Alby mengunjungi pak Reza. Ia masih tak ingin terlena saat pak Reza mengatakan menerimanya sebagai menantu saat itu. Dan hari ini, Ralda bertatap langsung dengan mertuanya tanpa kaca pembatas lagi.


Pak Reza segera mengambil cucunya itu kemudian menciumnya penuh kasih sayang. Ralda dan Erik terharu, pria dingin ini tanpa sadar menggenggam erat tangan kekasihnya meluapkan perasaannya.


"Sayang aku lapar. Lihat tetangga ku ini tidak mempersilahkan kita makan." Zevin merusak suasana harus keluarga Alby. Pria ini segera memeluk istrinya dan mengecup pipi putranya.


Alby tersadar kemudian mempersilahkan  tamunya makan. Tak hanya itu dia juga minta maaf dan berterimakasih atas kejutan tak terduga ini. Alby mendekat pada Zevin dan berkata. "Terimakasih. Kamu bisa meminta ijin untuk papa di hari ini." Ucapnya menepuk pundak Zevin.


Zevin mengangguk. "Om Reza bukan ijin tapi aku mempercepat proses kebebasannya. Selama ini aku sudah memantau perkembangan papa mu. Beliau sudah lebih baik, aku juga tidak mau jika papa mu menghabiskan waktu di penjara di usia ini." Paparnya serius. Zevin menghela nafas panjang kemudian berkata. "Kamu tahu orang tua usia papa mu akan senang menghabiskan waktu bersama cucunya. Aku melihat hal itu dari papa ku, beliau akan mengomel panjang kali lebar jika lama tidak bertemu Zayyan. Maka dari itu aku mempercepat mengurus kebebasan papa mu beberapa minggu lalu."

__ADS_1


Alby mengangguk. "Terimakasih, ini hadiah tak ternilai harganya. Semoga saja papa benar-benar sadar dengan kesalahannya." Ucap Alby. Harapnya sangat besar. "Kamu benar, lihatlah ! wajah tuanya begitu bahagia bermain bersama kedua cucunya. " Alby bisa melihat pancaran kebahagiaan di wajah kedua orang tuanya.


"Kata orang, ketika kita baru menjadi orang tua maka kita bahagia tak terkira, namun seiring waktu kerinduan  kita pada masa kecil mereka juga akan besar. Maka dari itu ketika duplikat kita terlahir maka pasangan yang berstatus kakek dan nenek akan merasakan kebahagiaan dua kali lipatnya lagi." Seru Erik ikut menimpali pembicaraan dua papa muda ini.


Alby merangkul pundak Erik.


"Terimakasih kamu sudah memberikan kebahagiaan untuk keponakan mu itu." Ucapnya tersenyum bahagia.


"Ini hadiah untuk kakak ipar, bahagiakan kak Ralda dan Davi, mereka adalah separuh diri ku." tutur Erik tersenyum tipis.


Zevin ikut bahagia semoga saja setelah ini. Pak Reza meninggalkan sifat ambisiusnya yang berlebihan. Usai drama ucapan terimakasih dari Alby. Mereka juga makan bersama pasangannya masing-masing. Hanya Ivan dan Jimmy yang tidak berpasangan.


"Kenapa aku baru menyadari, kamu cantik sekali malam ini. Siapa yang memoles mu sayang?" Erik baru menyadari jika kekasihnya ini sangat cantik.


Maura menundukkan kepalanya. Merasa malu. "Ivan." Ucapnya sambil menyuapi makanannya.

__ADS_1


Erik tersenyum tipis. "Dia memang memiliki keahlian tentang ini" pujinya sambil melirik Ivan yang usil pada Zevin.


__ADS_2