
Malam ini bulan nampak separuh, Erik duduk menatap jauh ke atas sana. Dia masih teringat saat Maura mengembalikan motor pembeliannya, kini Erik sadar tak seharusnya ia mengirim motor itu atas nama kantor. Masih ada cara lain jika dirinya memang ingin membantu Maura.
Erik menyesap teh hangatnya, malam ini ia cukup santai tidak kembali melanjutkan pekerjaan seperti malam-malam sebelumnya. Rumah terasa sepi karena family Z menginap di rumah Tuan Indra.
Puas memandangi langit malam Erik beranjak dari kursinya lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon kamarnya. Erik merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah meletakkan gelas bekas tehnya di atas meja yang ada di dalam kamarnya. Erik memandangi langit-langit kamar, ia mulai berpikir tak salahnya meminta maaf yang banyak pada Maura.
Erik meraih ponsel di sisi kirinya, ia mulai mencari daftar nama Maura di sana. Tangannya ragu untuk menekan atau hanya sekedar mengetik pesan. Ia yakin jika Maura masih marah padanya perihal motor itu. Niat Erik memang baik jika dirinya tidak mengatas- namakan kantor sebagai pengirim motor itu.
Saking lama berpikir, Erik mengurungkan niatnya untuk menghubungi Maura. Dia meletakkan kembali ponselnya di sisi bantal. Dan memejamkan matanya untuk tidur.
...----------------...
Di apartemen
Della juga duduk menyendiri di pinggir kaca pembatas. Dia dapat melihat lampu penerangan dari atas sana dan pergerakan kendaraan di jalan raya. Della kembali mengingat kisah masa lalu.
Setetes air mata jatuh di bajunya. Ia mengusapnya pelan sembari berkata." Maafkan aku Maura... Rasa bersalah ini menyiksa ku. Aku tahu kamu berharap padaku, tapi apa yang telah aku lakukan ?!"
Ponsel Della bergetar di atas lantai dekat tempatnya duduk. Di layarnya muncul nama Dias. Sudah jarang Dias menelponnya saat tahu jika ingatan Della telah kembali.
"Iya..." Jawab Della. Sebelumnya ia mengatur nafas terlebih dulu agar tidak terdengar seperti habis menangis.
"Apa aku mengganggu mu ?" Tanya Dias. Ia adalah memiliki kepekaan yang kuat, hingga bisa mengenali suara Della yang terdengar serak.
"Ah tidak, aku sedang tidak melakukan apa pun." Balas Della lagi. Ia tersenyum meski tak melihat wajah lawan bicara.
"Syukurlah, jika terjadi sesuatu jangan dipendam sendiri. Kamu bisa cerita padaku, percayalah aku akan mendengarkan mu." Tawar Dias. Jujur hatinya terluka mendengar suara Della yang serak seperti habis menangis.
"Janji, kamu mau mendengarkan cerita ku ? Sebenarnya aku memang butuh teman bicara."Jujur Della mulai menitikkan air mata kembali. Semenjak ingatannya kembali, Della seperti merasakan ada sesuatu yang tertahan di dadanya. Dan itu membuatnya sesak. Della butuh orang lain mendengarkan curahan hatinya bukan Erik atau pun Maura. Della butuh teman yang bisa diajak bicara dengan baik selain mereka berdua.
__ADS_1
"Masih jam sembilan, apa mau keluar dengan ku ?" Tawar Dias kembali. Ia berharap teman bicara yang di butuhkan Della adalah dirinya.
"Baiklah, aku mau . Sepertinya malam ini aku tidak bisa tidur, mungkin dengan sedikit menghirup angin malam perasaan ku jadi membaik. Aku tunggu." Della menyetujui ajakan Dias.
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang. Aku tutup telponnya." Dias memutuskan panggilan telpon nya.
Di apartemen, Della bersiap hanya mengenakan jaket. Dia akan memilih tempat terdekat hanya untuk sekedar berbincang dengan Dias. Menunggu dua puluh lima menit ponsel Della bergetar kembali ternyata pesan dari Dias telah menunggu di bawah. Unit Della berada di lantai empat tidak terlalu jauh untuk turun ke bawah. Ia bergegas turun menemui Dias.
...----------------...
Taman, tujuan Della dan Dias, letaknya tak jauh dari lokasi apartemen. Mereka hanya berjalan kaki ke sana, rumah Dias tidak jauh dari tempat tinggal Della dan jalannya pun searah.
Cuaca cukup baik malam ini, selain bulan sudah separuh, gemerlap bintang pun sangat indah. Lampu penerangan yang cukup remang memberikan kesan nyaman di taman itu.
Della menengadahkan kepalanya ke atas menatap ke tinggian langit malam. Lengkungan senyum nampak manis di bibirnya. "Aku ingin seperti bintang-bintang itu." Tunjuknya ke atas. "Banyak teman dan bersinar terang." Lanjut Della.
Dias ikut melihat ke atas dan berkata.
Della tersenyum miris. " Tapi, aku tidak seindah bintang itu. Aku tidak se-murni cahayanya yang tulus. Aku sudah menggoreskan luka di hati seseorang." Tuturnya pelan.
Dias menoleh ke arah Della, menatap lekat wajahnya. Kini Dias bisa melihat ada raut kesedihan terpancar di wajahnya. "Meski kamu sudah melukainya, tapi kamu bisa memperbaikinya. Kamu akan selalu bersinar seperti bintang itu. Jika kamu memulainya dari hati yang tulus." Papar Dias
Della menurunkan pandangannya dan menoleh pada Dias. "Maura ! aku sudah melukainya. Dulu... Dia begitu menyukai Erik. Entah kenapa perasaan itu juga singgah di hatiku. Hingga aku egois dan menyakiti perasaannya. Tapi lihatlah... Maura masih baik padaku. Hal ini membebani ku, bagaimana bisa dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun tentang kami berdua, sementara aku sangat merasa bersalah. Lalu aku harus bagaimana menebus rasa bersalah ku ini ?" Cerita Della tentang isi hatinya.
Dias mengangguk pelan, kini dia mengerti perasaan yang mendera hati wanita di sampingnya ini. "Jika Maura bisa bersikap demikian, itu tandanya dia memiliki hati yang tulus dan baik. Menurutku, kamu harus menyiapkan waktu berdua dengannya bicaralah dengan baik dan minta maaf dengan tulus jika kamu merasa bersalah. Meski pun dia tidak menganggap itu sebuah kesalahan. Kamu tahu Della... Perasaan suka dan cinta bisa berlabuh pada siapa saja, tinggal kita yang mengendalikannya." Tutur Dias panjang lebar, sekaligus kode tentang perasaannya.
Della menghela nafas panjang, berusaha mencerna perkataan atasannya itu. Sesaat kemudian ia menghembus nafas pelan dan berkata. " Aku mengerti ! Terimakasih sudah mendengarkan ku, terimakasih juga karena selalu menemani ku."
Dias tersenyum manis lalu mengalihkan pandangannya ke atas langit. " Bukankah ? kamu ingin seperti bintang itu. Banyak teman dan bersinar." Ucapnya lembut.
__ADS_1
Della mengangguk pelan, seutas senyum kembali hadir di wajahnya. Terlihat jika dia merasa lebih baik. Kedua insan ini terdiam menatap ke atas sana. Merasakan sensasi dingin angin malam yang menerpa tubuh mereka. Meski mengenakan jaket tetap saja dingin itu terasa.
"Kenapa akhir-akhir ini jarang menelpon ku?" Pertanyaan Della mengejutkan Dias.
"A—aku sedikit sibuk. Maaf bukan maksud ku mengabaikan mu, apa Erik tidak menelpon mu?" Tanya Dias. Terlihat dirinya sedikit kelabakan menjawab pertanyaan Della. Dias tak ingin wanita ini mengetahui jika dirinya sengaja menahan diri.
"Kami jarang berkomunikasi di telpon, kamu sendiri tahu dia pria dingin jarang bicara, kadang kami kehabisan kata-kata untuk bicara di telpon. " Della tertawa pelan jika mengingat hal itu.
Dias merasa senang, karena Della sudah tersenyum dan tertawa. Suara serak yang membuatnya cemas tadi sudah menghilang, digantikan dengan wajah ceria Della. Meski remang Dias bisa melihat itu semua. "Sudah jam sepuluh, ayo pulang ! Udara semakin dingin." Ajak Dias melirik jam di tangannya.
"Ayo... Aku juga sudah mengantuk." Della berdiri dari tempatnya duduk.
Dias ikut berdiri lalu melangkah bersamaan. Mereka berjalan kaki menuju apartemen Della. Tanpa bicara menikmati kesunyian, para pengguna jalan sudah mulai menyepi. Tiba-tiba langkah Dias terhenti karena melihat gerobak penjual kacang rebus.
"Mau kacang rebus ?" Tawar Dias menunjuk gerobak penjual kacang rebus.
"Boleh, sepertinya sepi. Ayo berbagi rezeki." Ujar Della nampak senang.
Dias dan Della turun dari trotoar menghampiri gerobak penjual kacang rebus. Sebenarnya pilihan tepat untuk berjualan di daerah itu, karena sebagian penghuni apartemen butuh camilan jika malam hari seperti ini. Tapi entah kenapa malam ini terlihat sepi pengunjungnya.
Dias membeli kacang rebus itu dan memberikannya pada Della. Setelah membayar, mereka kembali menuju apartemen. Dias mengantar Della sampai ke depan unitnya.
"Masuklah, cuci kaki dan tangan kemudian istirahat sudah malam. Jika kacangnya tidak dimakan taruh di kulkas saja besok bawa ke kantor." Kata Dias tersenyum hangat.
"Terimakasih, maaf membuat mu mendengarkan curhat ku." Balas Della menatap netra coklat milik Dias.
Dias mengangguk. " Aku pulang." Ucapnya sembari menyentuh pucuk kepala Della dengan telapak tangannya.
Pipi Della memanas mendapat perlakuan manis dari Dias. " Hati-hati di jalan." Ujarnya tersenyum.
__ADS_1
Dias meninggalkan unit Della dengan perasaan senang karena bisa menemani dan mendengarkan curahan hati Della.