
Setelah cukup lama wanita itu menangis di pelukan Erik. Kini ia menarik tubuhnya untuk menjauh. Ia sesegukkan mengusap sisa air matanya.
"An, Duduklah ! sayang ambilkan satu botol air putih." Erik menuntun wanita bernama Anna ini duduk di depannya. Maura mengambil air di kulkas pendingin kemudian membukanya.
"Terimakasih." Erik menggenggam tangan Maura agar duduk di sampingnya. "Minumlah." Ia mempersilahkan Anna untuk minum lebih dulu. Ia menatap iba pada Anna, tubuhnya kurus seperti tidak terurus.
"Maafkan karyawan saya tuan, dia baru masuk ke sini, beberapa hari yang lalu. Saya akan menegurnya nanti." Pemilik toko tidak enak hati pada pria dingin ini.
Erik hanya tersenyum pada pemilik toko itu. Kemudian kembali menghadap pada Anna. "An, kenalkan ini calon istri kakak. Sebentar lagi kakak akan menikah." Erik kemudian menoleh pada Maura yang masih terdiam. "Sayang kenalkan dia sepupu aku, anak paman Rudi." Ucapnya memperkenalkan.
"Anna, Kak." Anna mengulurkan tangan nya pada Maura. "Maaf memeluk kak Erik tadi." Ucapnya tersenyum.
"Maura." Kekasih Erik ini juga tersenyum. Ia lega Anna adalah sepupu Erik.
"Kamu tinggal dimana sekarang ? Kakak sudah mencari mu dan Bibi tapi tidak bisa menemukan kalian." Erik kembali bicara.
"Aku tinggal di dekat sini kak, aku baru beberapa hari ini datang ke kota ini. Selama ini aku dan ibu tinggal di desa." Jelas Anna sedih.
Erik menoleh pada Maura, seolah meminta ijin membawa Anna. Maura tersenyum dan mengangguk pelan. Mereka mengurus souvernir terlebih dulu baru meminta ijin untuk Anna.
__ADS_1
...----------------...
Di kafe inilah, Erik membawa Anna. Setelah menyelesaikan urusan di toko tempat wanita itu bekerja. Anna nampak lahap memakan makanannya.
"Pelan-pelan, An !" Maura tersenyum melihat Anna yang makan balepotan.
Anna tersenyum dan berkata.
"Iya, Kak. Aku lapar sekali tadi pagi tidak sarapan. Uang ku tidak cukup untuk membeli makanan karena kemarin baru saja menyewa kontrakan."
Perasaan Erik dan Maura terasa diiris mendengar penuturan Anna, menderita inikah ? adik sepupunya ini. Maura mengerti perasaan Erik lalu menggenggam tangannya menyalurkan kehangatan.
"Iya Kak." Anna mengangguk lalu melanjutkan makannya lagi.
"Selesaikan makan mu, setelah itu ceritakan kehidupan mu dan Bibi setelah meninggalkan rumah waktu itu." Erik bersuara setelah lama terdiam. Di balas anggukan dari Anna.
Setelah mengajak Anna makan, kini Erik dan Maura berangkat menuju kontrakan Anna. Setiba di sana, Erik dan Maura terperangah. Pemandangan begitu miris, kontrakan yang di maksud Anna adalah bukan kontrakan sebagaimana mestinya. Kontrakan yang ia sewa dengan harga murah adalah gudang kecil yang tidak terpakai oleh pemiliknya.
"Ayo masuk !" Anna dengan wajah cerianya membuka pintu.
__ADS_1
Erik dan Maura mengitari isi di dalamnya. Hanya ada karpet kecil dan tempat tidur yang sengaja di kasih pemiliknya. Bukan pemiliknya yang tidak baik, namun Anna yang memaksa untuk menyewanya.
"Sayang, biarkan Anna ikut dengan ku di apartemen. Aku tidak tega melihatnya tinggal disini. Tempat ini tidak layak disebut kontrakan." Maura menitikkan air matanya berbisik pada Erik.
Erik mengangguk. "Kita dengarkan ceritanya dulu. Kenapa Anna sampai di kota ini." Ia mengusap buliran air mata di pipi Maura. Kemudian mengecup pipinya lembut.
Anna masuk lagi setelah membuang plastik sampah makanannya tadi malam. "Maaf kak, tempatnya tidak nyaman." Ucapnya tersenyum.
"Ceritakan kenapa kamu sampai ke kota ini, kakak dan kak Ralda mencari keberadaan mu dan Bibi selama ini." Tutur Erik sambil meraih kursi plastik agar Maura bisa duduk.
Anna menunduk sedih, terdiam menenangkan perasaannya sejenak. Mengingat kehidupan yang ia jalani tidaklah mudah diusia yang masih muda. "Semenjak aku dan ibu memutuskan meninggalkan rumah, kami pergi ke Desa. Disana ibu bekerja ikut orang bertani, ibu menyekolahkan ku sampai SMA. Aku baru saja lulus sekolah. Beberapa bulan lalu, ibu jatuh sakit. Belum sempat dapat pengobatan ibu sudah meninggal dunia. Aku tidak ingin kembali pada ayah, nanti dia memperlakukan ku sama seperti ibu dan kak Ralda." Anna menyelesaikan cerita nya sambil sesenggukan.
Maura mendekat lalu merangkulnya. "Kamu tinggallah bersama kakak di apartemen." Ucapnya tersenyum.
"Ayah mu dipenjara, karena menculik kak Ralda. Sekarang kamu tinggal bersama kakak, terserah memilih saja ikut kak Maura dulu atau tinggal sendiri di apartemen kakak. Jangan tinggal disini lagi." Erik merangkul pundak kekasihnya itu sambil tersenyum.
"Lalu kakak tinggal dimana?" Anna belum mengetahui kehidupan Erik dan Ralda.
"Kakak akan tinggal di rumah utama, nanti setelah kakak menikah kita akan tinggal satu rumah. Kakak memiliki keluarga disini dan kak Ralda juga sudah menikah. Karena hari ini libur, bersiaplah kita akan ke rumah kak Ralda dan ke rumah keluarga kakak, untuk mengenalkan mu pada mereka." Erik membantu Anna berkemas.
__ADS_1
Erik dan Maura sepakat untuk membawa Anna menemui Zevin sekeluarga dan mempertemukan dia dan Ralda. Di masa lalu Anna dan Ibunya orang yang begitu baik. Selalu mengutamakan Erik dan Ralda. Saatnya Erik membantu adik sepupunya itu.