Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Memutus Rantai Harap


__ADS_3

Hati dua insan ini diliputi rasa bahagia karena Della sudah mengingat kembali. Mereka masih saling berpelukan meluapkan  perasaan senangnya. Dalam tidur panjangnya setelah pingsan Della bermimpi tentang pertemuan terakhirnya bersama Maura dan Rosa sebelum kecelakaan itu terjadi. Di dalam mimpi itu nampak nyata bukan bayangan buram seperti sebelumnya mampir di ingatan Della.


Pintu terbuka.


Erik dan Della sama-sama menoleh ke arah pintu.


"Maaf menggangu kalian." Maura terkejut sekaligus terluka melihat dua insan itu saling berpelukan. Ia kembali mundur dan akan menutup pintu kembali. Menahan sesak serta mencegah telaga bening yang mulai membentuk embun di matanya untuk tidak tumpah.


Erik melepaskan tangannya dari tubuh Della. " Maura.." ucapnya lirih.


"Maura, masuk saja." Seru Della. Melepaskan rangkulan tangannya dari tubuh Erik. Tatapannya sendu tersirat penyesalan teramat dalam.


Maura menghembuskan nafas berat sebelum masuk. Ia memberikan senyuman hangatnya pada Della dan Erik. "Aku tidak bermaksud mengganggu kalian, sebelum aku ke kantor berniat menjenguk sebentar. Sekalian membawakan sarapan untuk kalian berdua. Maaf jika rasanya tidak enak karena aku masak sendiri." Ucapnya meletakkan kotak makanan yang ia bawa.


"Kamu tidak mengganggu, aku keluar dulu mau membeli teh hangat." Erik menatap Della dan Maura sebentar lalu keluar dari ruangan. Ia sengaja memberikan ruang untuk dua wanita itu. Entah kenapa dirinya juga merasa tidak enak hati pada Maura karena melihatnya berpelukan dengan Della tadi. 


"Bagaimana kondisi mu? Maaf tadi malam aku tidak kesini, karena kondisi mama kurang baik." Tanya Maura duduk di tepi ranjang. Seulas senyum masih ia perlihatkan pada sahabatnya itu.


Della langsung memeluk Maura seraya menangis. Pelukan itu begitu erat, hingga terasa jika bahu Della bergetar. "Maafkan aku Maura... Aku telah melukai hati mu. Aku jahat pada mu.... Aku mengkhianati persahabatan kita." Ucapnya ter-isak.


Maura membalas pelukan Della dan ikut mengeluarkan air matanya, selain terbawa suasana ia juga meluapkan perasaan sakitnya saat melihat Erik dan Della saling berpelukan.


"Kenapa bicara seperti ini ? Kesalahan mu yang mana harus aku maafkan ? Kamu tidak ada salah padaku." Maura merenggangkan pelukannya dan mengusap air matanya sendiri. Lagi dan lagi senyum tulus penuh makna itu terbit di bibirnya.


Della menyeka air matanya dan berkata. " Aku sudah mengingat semuanya. Kamu, Amera dan Erik. Tidak seharusnya aku berkata kasar waktu itu. Ingatan ku kembali. "


Maura bahagia bercampur sedih. Bahagia karena Della kembali mengingatnya. Sedih karena ini akhir dari cerita cintanya, perasaan Della dulu pernah ada untuk Erik kini sepertinya akan bersambut. Melihat dari cara Erik memperlakukannya maka sepertinya mereka saling mencintai.


"Aku sudah melupakannya." Ujar Maura tersenyum, meski ada bumbu kepalsuan tersirat. Mana ada orang bisa tersenyum ketika hatinya tersakiti.


Berjuanglah ! Karena aku akan mundur sesuai janji ku. Rasa sayangku padamu mengalahkan rasa cintaku pada Erik.

__ADS_1


Maura tersenyum pahit mengingat semua itu.


"Kenapa kalian menangis ?" Erik tiba-tiba masuk mengejutkan Della dan Maura. Tatapannya ia berikan pada Maura, perasaan Erik tiba-tiba peka. Ia bisa melihat kesedihan yang tak pernah ia lihat sebelumnya dari Maura.


"Hanya terharu" sahut Maura tanpa berniat menoleh pada Erik. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan tatapan masih pada dua wanita di atas ranjang pasien.


"Della kamu sarapan dulu, nanti ada perawat wanita yang akan membantu kamu ke kamar mandi." Tutur Erik. Tangannya tergerak membuka kotak makanan yang di bawa Maura. Ia tersentak menu makanan yang pernah ia makan beberapa tahun lalu.


Tak sabar ia langsung mencicipinya. Matanya membulat sempurna rasa makanan yang sama seperti makanan yang  sering Della antarkan untuknya dulu. Tapi kenapa Maura bisa meniru masakan Della ? Bahkan  Erik belum melupakan citra rasa masakan itu. Satu hal yang Erik sesali kenapa dulu saat Maura masih bekerja di Jaya Group ia tidak pernah mencicipi makanan yang sering di kirim Maura ?


Ada satu hal lagi membuatnya heran, Erik sering memakan masakan Della saat ini, tapi kenapa tidak sama dengan rasa makanan yang sering Della berikan dulu ? Apa karena ingatannya hilang jadi keahlian Della berkurang ? Atau Maura yang mencuri resep masakan Della, hingga bisa menirunya. Ada apa dengan dua wanita ini ? Erik mengunyah makanannya sembari berpikir keras.


"Sepertinya aku harus berangkat ke kantor. Cepat sembuh ya." Pamit Maura pada Della dan Erik.


"Hati-hati di jalan. Setelah baikan aku akan masuk ke kantor." Ujar Della. Ia masih menatap sendu punggung sahabatnya itu.


Erik tak mengeluarkan sepatah kata pun, ia terdiam dalam pemikirannya sendiri masih berusaha memecahkan misteri rasa masakan yang baru saja dicicipnya.


...----------------...


Cukup mencintai sendiri, ada senang dan sedihnya. Cukup jadi wanita tak memiliki percaya diri, Maura memasang helmnya dan melajukan motor matic merahnya. Di sepanjang jalan pikiran tentang cintanya terhempas oleh angin. Kini perasaan Maura lebih nyaman dan tenang meski menyisakan setitik rasa sesak di dalam sana. Ia meluapkan emosinya tadi saat bersama Della.


Berpura-pura bahagia lebih baik dari pada berdiam diri tapi terlihat menyedihkan. Maura tidak ingin terlihat menyedihkan di mata semua orang. Apa lagi Erik, ia tidak mau jika pria dingin itu menyangka ia masih berharap meski sebelumnya memang seperti itu. Cukup penolakan Erik tahun lalu padanya, pertanda dirinya tak cukup layak untuk pria dingin itu.


Maura tiba di kantornya. Hari ini ia sengaja parkir bersama motor karyawan lainnya. Dengan langkah mantap Maura meninggalkan parkiran. "Semangat pagi Maura ! Gapai mimpi mu melebihi tingginya gedung ini." Gumamnya sendiri. Berhenti sejenak menatap atap gedung kantornya.


Disana Maura membalas sapaan karyawan lain dengan ramah disertai senyum manis dan tulus seperti biasanya. Setiba di ruangannya Maura menyiapkan diri dan jadwal Dias hari ini. Beberapa menit setelah dirinya tiba, Dias juga datang bersama Jo. "Selamat pagi, Pak ! Selamat pagi Jo" Sapanya dengan semangat.


Dias menghentikan langkahnya begitu juga dengan Jo. " Selamat pagi." Balas mereka berdua bersamaan lalu tersenyum karena seperti sudah terlatih bicara serempak seperti itu.


"Wah ! Kalian kompak sekali." Maura ikut tertawa. Tidak ada tatapan sendu seperti kemarin, tidak ada lagi raut kesedihan seperti sebelumnya. Hanya senyum tulus dan hangat mengembang di wajahnya.

__ADS_1


"Ada yang berbeda di sini." Dias mengamati perubahan Maura. " Kamu nampak ceria hari ini." Ucapnya lagi sambil tersenyum. Ia bersyukur jika Maura dapat bangun dari perasaan sedih yang merundungnya akhir-akhir ini.


"Hidup harus maju, Pak. Bukan jalan di tempat atau mundur ke belakang. Saatnya melepaskan rantai di kaki kita yang menjerat langkah untuk ke depan." Kata Maura pada Dias dan Jo. Pemandangan pagi ini dan kembalinya ingatan Della, sangat menampar wanita berparas cantik ini. Tamparan positif untuk bangkit agar bebas dari labirin yang mengurungnya selama ini.


Dias mengangguk. " Kamu benar, apa kamu sudah tahu jika Della di rawat?"


"Ya, tadi sebelum kesini aku menjenguknya." Jawab Maura tenang dan santai.


"Aku belum sempat menjenguknya hanya tadi malam, bagaimana kondisinya ?" Tanya Dias lagi. Ada sedikit sesal karena pagi ini belum mengunjungi Della.


Maura menatap lekat netra Dias yang tengah menunggu jawabannya dengan perasaan berdebar-debar. Haruskah ? ia menggenggam tangan Dias agar ikut dengannya melangkah maju. Maura tersenyum tipis namun tulus dan berkata.


"Dia sudah membaik. Kabar baiknya lagi, ingatan Della sudah kembali"


Dada Dias bergemuruh hebat, dia bahagia karena Della bisa mengingat kembali. Namun dia juga bersedih karena tidak bisa lagi berharap pada wanita berambut pendek itu, karena Della pasti memilih pria yang ada dalam masa lalunya yaitu Erik.


Perasaannya sesak, namun senyum paksa masih Dias perlihatkan, seolah berlomba perasaan sedih dan bahagia menghampiri hatinya. Manik kecoklatan Dias menatapi bola mata hitam wanita berambut panjang ini, agar tahu kabar hatinya. Namun sepertinya Maura baik-baik saja.


Raut wajah Dias berubah murung sekarang dirinya mengerti kenapa Maura nampak berbeda hari ini. Haruskah ? dirinya mengikuti langkah sekretarisnya itu. Sekarang Dias merasakan cinta yang tak tersampaikan karena terhalang tembok persahabatan dengan Erik. Andai itu bukan Erik mungkin Dias memilih egois.


"Kalian baik-baik saja?" Suara Jo memecahkan keheningan mereka. Ia sekarang tahu tentang perasaan dua teman barunya itu. Karena Dias banyak bercerita dengannya.


"Kami baik-baik saja." Jawab Dias  tersenyum.


Mama anak mu sakit hati


Dias menghembuskan nafas panjang berharap mengurangi beratnya rasa yang bersarang di dadanya.


"Semangat ! Hari ini kita ada pertemuan bersama klien yang ingin melihat rancangan terbaru dari kantor kita." Celetuk Maura tersenyum. Ya semua harus bisa dikendalikan mulai hari ini.


Dias mengangguk meski tatapan sendu dan raut wajah kesedihan terpancar di wajahnya. "Apa jadwal ku hari ini ?" Tanyanya sembari menatap daun pintu ruangannya.

__ADS_1


Maura membacakannya dengan nyaring. Lalu mereka berpencar masuk ke ruangan masing-masing. Maura mengerti dengan perasaan Dias saat ini yang mungkin belum terbiasa menerima rasa sakit di hatinya. Berbeda dengan dirinya hampir kebal dengan rasa sepihak yang ia rasakan selama ini. Maura menatap punggung Dias sampai menghilang di balik daun pintu.


Maaf aku memberitahu mu lebih dulu tentang ingatan Della. Agar kamu siap jika tidak ada ruang untuk kita di hati mereka.


__ADS_2