
Kesadaran Erik cepat kembali, setelah kusut beberapa saat. Ia segera menghubungi seseorang, Erik merasa dirinya bukanlah orang yang begitu penting dan tidak memiliki musuh, maka dari itu ia tidak menempatkan pengawal di sisi kekasihnya.
"Ada yang bisa kami bantu tuan ?"
"Kalian cari kekasih ku, ada pihak keamanan menelpon ku mengatakan dia dibawa oleh beberapa orang. Aku akan segera tiba jika kalian menemukannya, pastikan wanitaku tidak lecet sedikit pun. Kurung pelakunya ! Aku sendiri yang akan menyelesaikannya." Titah Erik begitu tegas. Ia mematikan telpon lalu menghubungi Jo meminta rekaman CCTV halaman kantor.
"Ada apa Rik ?" Jawab Jo. Terdengar suara pria ini sedang berkendara.
"Jo, aku butuh bantuan. Maura di bawa paksa beberapa orang, aku minta rekaman CCTV halaman kantor." Jelas Erik cepat.
"APA ?! Baiklah, aku akan kembali ke kantor. Apalagi yang bisa aku lakukan untuk mu ?" Jo segera putar balik kembali ke kantor.
"Kamu pergi ke rumah sakit ZK temui sopir taksi yang membawa Maura. Dia sedang dirawat karena jadi korban orang-orang itu." Pinta Erik dengan tenang.
"Baiklah, kamu yang tenang. Maura akan baik-baik saja." Jo mematikan telpon segera melakukan tugasnya.
Diperjalanan Erik sangat khawatir dengan kekasihnya itu.
Ya Tuhan lindungi dia...
Erik mau tak mau harus menelpon Zevin jika tidak ingin suami Nazia itu mengamuk.
"Kamu dimana ?" Zevin di seberang sana menjawab telpon sambil melepaskan pakaian nya karena baru pulang dari kantor.
"Aku diperjalan pulang, Kak Zev aku butuh bantuan mu. Maura diculik saat pulang bekerja. Aku tidak bisa meminta seseorang untuk melacak keberadaannya karena tas dan ponselnya ketinggalan di dalam taksi yang ditumpanginya. Sekarang sopir taksi itu menjadi korban juga di rumah sakit milik kakak." Jelas Erik sedikit lemah.
"Maura diculik ? Apa kamu yakin bukan tipuan ?" Zevin tak ingin percaya begitu saja.
"Yakin, Kak. Tadi pihak keamanan menelpon ku. Rupanya sopir taksi itu langsung melapor. Kak ! Bagaimana ini ? Aku takut jika terjadi sesuatu yang buruk." Erik seperti kebingungan.
"Kamu sudah kerahkan orang-orang mu untuk mencarinya?" Zevin membawa ponselnya ke kamar mandi. Ia bicara sambil mandi.
"Sudah, aku juga meminta bantuan Jo untuk mengambil CCTV halaman kantor hari ini dan menemui sopir taksi itu ke rumah sakit." Erik tetap fokus. Ia harus sampai dengan selamat agar bisa mencari kekasihnya itu.
__ADS_1
"Jangan panik, aku akan ke rumah sakit. Kita bertemu disana. Mengemudi dengan tenang, kita akan bicarakan lagi setelah kamu sampai. Hati-hati !" Zevin memutuskan telpon dan selesai mandi.
...----------------...
Nazia merasa heran tak biasanya, Zevin mandi membawa ponsel saat mandi. "Kenapa sayang ?" Nazia membantu Zevin berpakaian dan mengeringkan rambutnya.
"Maura dibawa oleh beberapa orang, Erik baru saja menelpon, siapa lagi yang mencari masalah dengan kita ?" Zevin nampak serius dari biasanya.
"Ya Tuhan semoga dia baik-baik saja. Sekarang apa yang akan kamu lakukan?" Nazia selesai mengeringkan rambut suaminya.
"Aku akan ke rumah sakit, sopir yang membawa Maura dirawat karena menjadi korban juga. Aku akan menanyakan kronologinya." Jelas Zevin meraih jaket kulitnya.
"Menurut ku kamu mengirim beberapa orang pengawal untuk berjaga di rumah sakit, karena sopir itu adalah saksi saat hilangnya Maura. Aku takut terjadi sesuatu padanya, secara otomatis sopir itu juga pasti melihat nomor plat mobil itu." Usul Nazia sambil mengimbangi langkah suaminya menuruni undakan tangga.
"Kamu benar sayang, untuk makan malam kamu kotak saja. Aku akan makan di rumah sakit. Aku harus segera ke sana. Erik pasti tidak tenang sekarang." Zevin memasang sepatunya kemudian membawa Zayyan di pelukannya.
...----------------...
Erik tiba di rumah sakit ZK. Ia melangkah dengan cepat untuk menemui sopir taksi itu. Erik sangat berharap informasi yang didapatnya dari sopir taksi bisa menjadi titik terang untuk menemukan kekasihnya.
Pintu di buka Erik dengan sedikit kasar. Ia datang dengan wajah lelah dan penuh kecemasan.
"Duduklah." Zevin menepuk sofa di sampingnya.
Erik menurut saja, rupanya di ruangan itu tak hanya Zevin. Namun juga ada Jo, Dias dan Yudha. "Bagaimana kondisinya." Erik bertanya dengan arah mata kepada sopir taksi di atas ranjang pasien.
"Luka ringan saja, besok juga boleh pulang." Sahut Yudha ikut duduk di sofa.
"Ini tas Maura." Jo menyerahkan tas itu pada Erik.
"Informasi apa yang bisa didapat dari dia?" Erik bertanya sambil memeriksa isi tas kekasihnya. "Tidak ada yang hilang, ini bukan perampokan." Ujarnya lagi memasuk kembali isi tas.
"Ini penculikan, para detektif juga mulai mencari keberadaan Maura." Seru Dias menyandarkan tubuhnya di dinding.
__ADS_1
"Dari rekaman CCTV itu, menurut para detektif ada mobil yang mencurigakan di seberang jalan. Setelah Maura menaiki taksi, mobil itu ikut bergerak di belakang, kemungkinan mobil itulah yang menghadang mereka. Kata sopir ini juga seperti itu mobil hitam yang yang menghadang mereka sama seperti mobil yang terlihat di CCTV, sayangnya sopir ini tidak menghafal nomor platnya." Jelas Zevin memperlihatkan rekaman CCTV.
"Sial ! Ini terencana." Erik geram mengepalkan tangannya. "Bagaimana dengan CCTV jalanan ?" Tanyanya lagi penuh harap.
"Detektif sudah meminta bantuan call center, tapi mereka tidak menemukan mobil tersebut di kamera pengawas, mungkin mereka berganti mobil di kawasan tak tertangkap kamera." Papar Jo dengan wajah serius.
"Minta bantuan pengawal untuk berjaga. Aku akan menemui kak Vian. Terimakasih kak Yudha sudah merawat bapak ini." Tutur Erik segera berdiri. Zevin dan yang lain mengikuti langkah Erik, hanya tertinggal Yudha di ruangan itu.
Erik mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia harus bisa menemukan keberadaan kekasihnya itu sebelum pagi datang. Mobil mereka berhenti di halaman resto milik Vian. Erik melangkahkan kakinya dengan cepat. Sesampainya disana terlihat Vian duduk di ruang tamunya sambil berhadapan dengan laptop.
"Kak, aku perlu bantuan mu." Erik menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Aku sudah tahu." Vian tak beralih dari laptopnya. "Zev yang memberitahu ku." Sambungnya lagi.
"Bagaimana hasilnya ?" Zevin mengambil beberapa minuman kaleng dari kulkas. Dias dan Jo hanya diam menyaksikan
Vian menggeleng dan berkata. "Mereka dibantu oleh orang yang memiliki kemampuan sama sepertiku, jadi tidak ada rekaman yang menunjukkan kemana mereka membawa Maura. Mereka sudah menyabotase CCTV nya, rencana mereka sangat matang. Maaf Erik, bukan maksud ku mematahkan harapan mu tapi itulah yang terjadi. Tunggu informasi dari detektif mereka pasti bisa menemukan Maura."
Tubuh Erik kembali melemah, pikirannya kembali kalut. Kini ia hanya bisa menunduk lemah. Kemana harus mencari kekasihnya itu ? Sementara petunjuk yang ia harapkan itu tidak memberikan apa-apa.
"Aku pergi dulu." Erik berdiri dari sofa dan melangkah ke luar.
"Tunggu kamu kemana ?" Tahan Jo.
"Mencarinya." Erik meninggalkan ruangan Vian.
Zevin dan yang lainnya berpamitan pada Vian. Suami Nazia ini meminta Jo dan Dias agar kembali pulang karena hari sudah malam. Mereka menurut saja bukan tak ingin membantu Erik, tapi Jo dan Dias akan membantu dengan cara masing- masing. Zevin segera menyusul Erik yang menunggunya di mobil, mereka akan berpisah di rumah sakit karena mobil Jo dan Dias ada disana.
Zevin meminta sopir untuk mengambil mobilnya di rumah sakit. Karena ia akan mengemudi untuk Erik. Kekasih Maura itu sudah murung sejak tadi dan Zevin berniat membawanya pulang sambil memikirkan cara agar bisa menemukan Maura. Mereka disambut Nazia dengan tatapan penuh tanya. Zevin mengerti kemudian menjawab dengan bahasa isyarat.
"Kamu mandi dan makan malam. Kamu harus memiliki banyak tenaga untuk mencari Maura." Zevin menepuk pundak Erik. Dibalas anggukan pelan dari pria dingin itu.
Erik segera naik ke kamarnya menggunakan lift. Pria ini berdiri dengan tatapan kosong, siapa yang berani memisahkan dirinya dan Maura ? Erik melangkah lemah masuk ke kamarnya kemudian menguncinya, Erik merosot ke lantai bersandar di daun pintu. Perasaannya berkecamuk, apakah Maura baik-baik saja? Apa kekasihnya itu sudah makan ? Apakah Maura di tempat yang layak?" Tanpa terasa air mata mengalir begitu saja mewakili perasaannya yang gundah.
__ADS_1