
Sesuai rencana, kini Maura membereskan barang milik ibu Sila yang bisa ia sumbangkan. Maura bukan tak ingin menyimpannya, namun ia lebih memikirkan kemanfaatnya jika bisa disumbangkan.
Dua kardus ukuran besar sudah tersusun di ruang tengah. Tak semua barang yang Maura kemas, ia masih menyimpan barang peninggalan sang mama.
Huhhh...
Maura menghembus nafas panjang untuk mengusir rasa lelahnya. Hari ini ia akan berkeliling menyumbangkan baju-baju itu. Kemudian mulai mencari pembeli rumahnya. Maura bukan berniat mengikis kenangan di rumah itu bersama sang mama, namun Maura tidak ingin tenggelam dalam kesepian menempati rumah itu sendiri.
Maura menjatuhkan tubuhnya di atas sofa sambil menggenggam satu botol air dingin. Ia menengadahkan wajahnya ke langit-langit ruang tengah, kemudian meneguk air putih dingin itu sedikit demi sedikit.
Maura memejamkan matanya merasakan sensasi dingin melewati tenggorokannya yang dahaga. Iris matanya tertuju pada dua kardus besar di sisi dinding. Maura kembali berfikir, apa tindakannya sudah benar ? Ia beralih melihat pada pigura di atas meja. Menatap lekat foto sang ibu yang tersenyum padanya.
Pintu diketuk dari luar.
Maura menoleh ke arah pintu, kemudian dengan malas membangunkan tubuhnya untuk membuka pintu. Tenaganya seakan terkuras setelah berkemas dan bersih-bersih.
Maura membuka pintu, nampak Erik tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih. Pria ini datang dengan pakaian rumahan.
"Sudah siap ?" Tanya Erik kemudian melenggang masuk. Sikap anehnya semakin nampak saja setia hari.
"Siap ? Kemana ? "
"Bukankah ? Kita akan menyumbangkan baju-baju ibu mu. Ayo kita berangkat ! " Erik melangkah menghampiri dus di sisi dinding. Kemudian memperhatikan kardus itu sudah tertutup rapi.
Maura sekarang mengerti jika pria ini ingin ikut dengannya. "Tapi, aku tidak mengajak mu Tuan ! Kamu juga belum sembuh total. Jadi sebagai pasien yang baik, kamu harus istirahat di rumah." Ucapnya panjang lebar disertai senyum manisnya.
Erik menatap tajam pada Maura kemudian duduk di sofa. "Tidak bisa seperti itu ! Dimana ada Nyonya nya, disitu juga ada Tuan nya. Nah ! sekarang kamu bersiaplah !" Erik membalas dengan senyum menyebalkan.
"Wah, sepertinya anda sedang berhalusinasi Tuan. Mungkin efek gangguan jiwa mu semakin memburuk. Sungguh malang sekali nasib mu !" Maura berdecak sinis. Ia berpangku tangan menyandarkan tubuhnya di dinding sofa.
Erik mendekatkan tubuhnya pada Maura dan berkata. " Sebentar lagi efek gangguan jiwa ini akan menular pada mu."
Maura melototkan matanya karena posisi Erik yang begitu dekat dengannya. Sungguh menyebalkan pikirnya, kini Maura bertanya dalam hati. Apa mungkin jiwa Erik tertukar saat di meja operasi ? "Aku akan mandi, jika ingin minum ambil sendiri." Maura meninggalkan Erik yang menatapnya sambil tersenyum.
...----------------...
Maura dan Erik baru saja menyelesaikan tugas mereka menyumbangkan baju-baju ibu Sila. Maura merasa senang jika baju peninggalan ibunya bermanfaat bagi orang lain.
"Sekarang kemana lagi ? " Erik menyodorkan botol air mineral pada Maura.
Sambil menerima botol air itu, Maura berkata. "Aku akan mencari apartemen yang dekat dengan kantor."
Erik mengangguk. "Baiklah, ayo kita cari." Ucapnya semangat. Bahkan pundaknya yang bekas operasi saja sudah tak dirasakannya lagi.
__ADS_1
Maura memicingkan matanya. "Kamu pulanglah, istirahat di rumah. Nanti setelah menemukan lokasi yang cocok aku akan ke rumah tuan Zevin." Pintanya dengan lembut.
Erik menajamkan matanya." Aku sudah sembuh, tidak ada penolakan ! jadi aku akan mengantar mu." Ucapnya tegas tanpa ingin di bantah.
Maura tersenyum girang. "Jadi kamu sudah sembuh ?! Kalau begitu. Aku tidak perlu lagi tinggal di rumah mu." Ia sangat bahagia karena Erik sudah sembuh dan terbebas jadi korban gangguan jiwa pria dingin itu.
Erik tersenyum sinis. "Meski pun aku sudah sembuh, tapi kamu tidak bisa lari dari tanggung jawab atas kejahatan mu begitu saja." Ucapnya datar.
Maura berpaling menghadap Erik. "Kejahatan apa? Aku merasa tidak jahat pada mu atau mencuri milik mu ! Jadi berhenti untuk meminta pertanggung jawabanku." Tatapannya juga tajam.
Erik berdecak pelan, kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Maura "Selamanya kamu tidak bisa menghindari ku ! Karena aku akan terus menuntut mu atas sesuatu yang telah kamu rampok, Nona !" Bisiknya pelan.
Maura tertegun, kemudian menggeleng - geleng kepalanya. "Aku lapar. Bisakah ? kita makan dulu." Ucapnya mengalihkan topik pembicaraan.
Erik mengangguk kemudian tersenyum sangat tipis. Merasa berhasil membungkam mulut seksi yang entah beberapa kali menggodanya untuk mencicipinya.
Mobil Erik berhenti di depan resto milik Ivan. Lalu mengajak Maura turun dari sana. Mereka langsung di sambut Ivan dengan heboh ternyata mata pria itu jeli juga melihat kedatangan Erik dan Maura.
...----------------...
Berkeliling hampir dua jam, kini Maura menemukan lokasi apartemen searah dengan kantornya. Mereka berdua masuk ke dalam Apartemen untuk melihat kondisi unitnya dan sekeliling apartemen itu.
Maura dan Erik, mengikuti langkah wanita paru baya pengurus apartemen itu. Kondisi apartemen bagus dan tidak terlalu mewah namun memberikan kesan nyaman apabila menempatinya. Lingkungan juga nyaman dan bersih.
Maura senang karena apartemen itu sesuai keinginannya. Terdapat dua kamar dan balkon yang menghadap langsung ke arah jalan raya. Jadi jika malam hari ia bisa melihat pemandangan malam dari sana.
"Bagus saya suka ! "Tuturnya. Setelah berkeliling di dalam kamar unit itu.
"Terimakasih jika kamu menyukainya. Kapan kalian mengambilnya ?" Tanya ibu itu.
"Beri saya waktu dua minggu." Pinta Maura. Ia harus memastikan rumahnya terjual lebih dulu, baru mengambil apartemen itu. Maura tidak ingin menyewanya namun langsung membelinya.
Erik sejak tadi hanya diam, ingin rasanya langsung membeli apartemen itu namun apalah daya jika imbasnya, Maura akan menjauhinya dan merasa berhutang.
"Baiklah saya tunggu. Jujur saja banyak peminatnya untuk lantai ini." Papar ibu itu menutup kembali pintu unitnya.
"Tetangga kiri dan kanannya apa ada laki-laki ?" Seru Erik disela perbincangan Maura dan wanita ini.
"Ada, sebelah kanan laki-laki. Dan di sebelah kiri perempuan tapi jarang menempati unitnya." Jawab wanita paru baya ini.
Erik terdiam, bukankah ? Itu sebuah ancaman ! Bagaimana jika pria itu nanti berkenalan dengan Maura ? kemudian mereka menjadi dekat. Membayangkannya saja Erik sudah naik darah.
"Bu, pertemukan saya dengan pemilik unit sebelah kiri. Saya akan mencoba membujuk untuk membeli unitnya." Tutur Erik.
__ADS_1
Mata Maura membulat sempurna, kenapa pria ini ikut memilih unit disini ? Semakin parah saja penyakitnya begitu pikir Maura. Erik tersenyum tipis kemudian menoleh lagi pada wanita tua tadi untuk meminta jawaban.
"Di depan unit ini juga kosong, mau melihatnya ?" Tawar ibu itu membuka unit sebelahnya. Jangan ditanya kenapa beliau bisa membuka tiap unitnya yang kosong karena ibu ini adalah salah satu orang kepercayaan dari pemilik gedung ini.
"Boleh." Sahut Erik semangat. Mereka masuk kedalam unit itu kemudian melihat-lihat isi dalamnya. Erik menoleh kearah pintu sesuai ke inginnya karena ada door viewer yang membuatnya bisa mengawasi kedatangan siapa saja ke unit Maura.
"Bagaimana ?" Tanya Ibu tadi. Setelah menutup kembali pintu unitnya.
"Saya ambil sekarang, mari kita urus administrasinya." Tutur Erik mengedipkan matanya pada Maura yang terlihat kesal.
Mereka mengikuti wanita paru baya itu ke kantornya. Untuk mengurus segala sesuatunya. Erik tidak membelinya hanya menyewa saja. Karena ia tak bisa keluar begitu saja dari rumah family Z, jika tidak ingin suami manja Nazia merajuk berminggu-minggu.
...----------------...
Satu Minggu Kemudian
Nasib baik menghampiri Maura, belum genap dua Minggu rumahnya laku terjual dengan bantuan Erik. Sekarang ia sudah pindah ke apartemen. Maura juga di bantu oleh teman-temannya.
"Ayo makan." Panggil Della pada teman-temannya. Hari ini ia bertugas memasak makan siang untuk mereka.
Erik, Dias dan Jo membantu Maura menata barang-barangnya. Berhubung hari minggu mereka meramaikan apartemen Maura. Mendengar panggilan dari wanita berambut pendek itu, mereka semua mencuci tangannya masing-masing.
Meja makan ukuran panjang ini mampu menampung lima orang. Maura duduk di samping Della, mereka berdua senang bisa bertemu kembali. Selama Maura menginap di rumah family Z, ia hanya memiliki waktu sedikit bertemu dengan Della di kantor. Wanita rambut pendek ini sering menghabiskan waktu makan siang di dalam ruangan Dias. Sampai saat ini masih menjadi tanda tanya untuk Maura.
"Bagaimana luka bekas operasi mu?" Tanya Dias disela suapannya.
"Sudah membaik, hanya tersisa nyeri sedikit jika terlalu banyak bergerak. Tapi tak apa, selagi perawat ku masih betah di samping ku. Maka akan cepat sembuh." Tutur Erik santai dan melemparkan tatapannya pada Maura.
"Kamu dengar Maura, dia cepat sembuh jika kamu selalu bersamanya. Apa kamu tidak curiga ada motif tersembunyi ?" Selidik Jo disertai senyum mengejek pada Erik.
Maura mengangkat bahunya acuh. Ia sedang menikmati makan siangnya. Tanpa memperdulikan pembicaraan teman-temannya.
"Aku lihat tetangga mu tampan ya. Wah, setiap hari bisa cuci mata." Seru Della tersenyum senang.
"Ehm ! Haruskah ? Aku membeli unit nya." Seru Dias. Ia cemburu laki-laki tampan tetangga Maura sudah menarik perhatian Della.
"Jangan ! Jika kamu mau, beli milik wanita di sebelah ku saja. Dia jarang pulang, kalau milik pria tampan itu jangan. Nanti tidak ada sumber vitamin mata ku." Tutur Maura. Tersenyum di balik gelasnya. Membayangkan wajah imut lelaki yang menjadi tetangganya.
"Jangan berani membayangkan wajah pria lain, kejahatan mu padaku saja belum kamu pertanggung jawabkan." Erik menyentil kening Maura.
"Wah, KDRT ! "Jo geleng-geleng kepala.
"Lanjut pekerjaan kalian !" Seru Della merapikan meja. Karena makan siang mereka sudah selesai. Dias dan Jo mengangguk, sementara Erik duduk di sofa menyusun buku-buku Maura.
__ADS_1