
Satu Minggu kemudian...
Banyak cerita yang singgah dalam kisah asmara Erik dan Maura. Usai kejadian beberapa waktu lalu, sangat menguras emosi. Tenaga dan waktu. Terlebih lagi fakta yang baru di ketahui.
Kenza tetangga tampan Maura, memiliki hubungan yang kuat pada Aryan. Hubungan darah satu ayah. Fakta lainnya lagi, Wildan dan Aryan berteman akrab tanpa orang lain tahu.
Wildan yang pernah tersangkut kasus pak Reza, karena memicu pria paru baya itu ingin mencoba melakukan pembunuhan terhadap Zevin Kavindra. Kini hubungan kerja sama mereka diputuskan oleh Erik. Sangsi yang diberikan Zevin, karena mengeluarkan Aryan dari penjara tanpa mencari tahu penyebab terpenjaranya pria itu,
"Sampai kapan kamu akan memeluk ku?" Maura sudah gerah sejak tadi Erik memeluknya sambil menonton televisi. Malam ini Erik berkunjung di ke apartemen kekasihnya itu.
"Aku hanya membuat mu nyaman, agar tidak kedinginan." Jawaban Erik sangat lucu dan membuat Maura tertawa.
"Aku tidak kedinginan, tapi gerah karena hampir dua jam ini kamu memeluk ku." Maura menjauh dari tubuh Erik.
Erik menoleh. "Kalau gerah kenapa tidak lepas baju saja?" Ucapnya terlewat santai disertai senyuman tipis.
"Ha?" Beberapa detik kemudian Maura baru tersadar. "ERIK !!!" Ia kesal dan mendaratkan tangannya di dada bidang pria dingin ini.
Erik menahan tangan Maura kemudian menggenggamnya dengan lembut. "Ayo menikah !" Ia mendekatkan wajahnya kemudian perlahan-lahan menyesap bibir kekasihnya itu dengan lembut. Maura hanya mengedip -mengedipkan matanya, terkejut atas pernyataan Erik. Secepat itukah ? Erik tertawa melihat ekspresi Maura. "Kamu menolak ?" Erik menangkup wajah Maura. "Padahal aku menawarkan diri menjadi guling mu secara bersertifikat loh..." Sambung Erik lagi.
Maura tertawa." Baiklah. Aku juga mau menjadi guling bersertifikat mu." Ia mengecup singkat bibir Erik yang tersenyum bahagia.
__ADS_1
Tak membuang kesempatan, Erik menahan tengkuk Maura dan menguasai bibir yang sudah menjadi candunya
...----------------...
Pagi menjelang dengan penuh kecerahan, secerah hati dua insan yang tengah bahagia ini. Kemarin Erik sudah menyampaikan niatnya untuk menikahi Maura pada Zevin sekeluarga. Tidak ada yang ditunggu lagi, pekerjaan sudah lenggang tidak sepadat kemarin. Mereka semua menyetujui, Zevin juga sudah menyelesaikan desain cincin pernikahan Erik, tinggal menunggu jadi satu set perhiasan.
Hari ini, Erik meluangkan waktu untuk berkunjung ke panti asuhan Heru Janitra milik Nazia. Jika dulu dia mengadakan pesta untuk syukuran Della setelah penculikan, maka untuk kekasihnya Erik mengadakannya di panti asuhan itu. Sesuai keinginan Maura. Ia akan berbagi bahagia dan syukurnya disana, bersama anak-anak panti.
Erik dan Maura tiba dengan dua buah mobil box yang mengikuti mereka. Selain makanan, Erik dan Maura menyiapkan segala keperluan anak-anak panti.
"Semua sudah dibagi ?" Erik datang membawa tissue menyeka keringat di kening Maura.
Erik menyodorkan sebotol air pada Maura. "Minumlah, aku senang jika kamu bahagia." Ucapnya lembut.
"Setelah ini kita kemana lagi ?" Maura meletakkan botol airnya dan mengambil tissue bergantian menyeka keringat di wajah Erik.
"Berkeliling mencari hunian untuk kita, setelah menikah kita langsung menempati rumah baru. Aku sudah membicarakannya pada kak Zev, dia setuju dengan syarat jangan jauh darinya." Erik mengurai rambut kekasihnya itu penuh cinta.
"Terimakasih sudah menyiapkan segalanya dengan baik." Maura terharu atas cinta yang Erik berikan.
"Aku hanya ingin, bidadari hati ku ini nyaman tinggal disisi ku." Erik mengecup lembut buku-buku jari Maura.
__ADS_1
Menghabiskan waktu tiga jam di tempat itu, kini Erik dan Maura meninggalkan panti asuhan. Erik menepati kata-katanya, untuk mencari rumah untuknya dan Maura.
Mereka memasuki tiap kawasan perumahan, melihat sekelilingnya. Tapi belum mendapatkan tempat cocok yang mereka inginkan.
...----------------...
Jika diluar sana Erik dan Maura tengah mencari hunian yang cocok maka lain hal dengan pemilik rumah mewah yang bernama Zevin ini. Sejak tadi, ia bermanja-manja dipangkuan istrinya, bercanda dan tertawa bersama putranya Zayyan. Sebenarnya Zevin merasa sedih sebentar lagi akan berpisah dengan Erik. Jauh dalam lubuk hatinya ia ingin. Erik dan Maura tinggal bersamanya di rumah ini. Tapi kembali lagi pada umumnya. Orang yang sudah menikah akan hidup mandiri
"Sayang, nanti jika Erik sudah menikah dan tinggal di rumahnya sendiri. Kita sering-sering ke sana ya..." Rengek suami manja ini sambil menenggelamkan wajahnya di perut rata istrinya.
"Iya, kita akan sering ke sana." Sahut Nazia sambil matanya melihat ke arah televisi.
Zevin mendongakkan wajahnya ke atas, ia kesal karena Nazia bicara tidak melihat padanya." Sayang lihat aku." Manja tak ingin diacuhkan.
Nazia menunduk. "Iya sayang." Gemasnya sambil tersenyum mengecup kening suaminya.
"Papa !" Zayyan sudah mulai lancar bicara tidak tersendat-sendat lagi. "Jangan peluk mama ku." Logat anak kecil terdengar lucu di telinga Zevin dan Nazia. Apa lagi tatapan garang dari putra mereka.
"Mama milik Papa." Zevin pura-pura ketus. Kemudian membenamkan wajahnya lagi diperut istrinya.
"Itu mama Za !" Kalimat pendek tapi dengan artikulasi yang kurang jelas namun pengucapannya tanpa terbata-bata. Zayyan naik ke tubuh Zevin berusaha memisahkan rangkulan papanya di pinggang sang mama. "Papa jauh-jauh." Sekali lagi ocehan itu membuat Zevin tak mampu menahan tawa.
__ADS_1