
Maura meletakkan tasnya di atas meja, lalu membantu Erik melepaskan sepatunya. Maura juga membuka gorden kamar dan menggeser kaca balkon agar ada pertukaran udara alami.
Erik benar-benar demam, mungkin karena dirinya yang begadang menyiapkan lamaran untuk kekasihnya. Erik yang baru pulang dari perjalanan bisnis langsung meluncur ke apartemen. Ia mengatur segalanya dengan baik, bahkan Erik juga membersihkan rooftop dari lembabnya embun. Perabotan di atas sana semua terbuat dari kayu yang dibuat sangat indah.
"Ganti pakaian mu dulu, aku sudah siapkan pakaian rumahan untuk mu di lemari jika sewaktu-waktu kamu kesini. Kamu pasti tidak bebas bergerak dengan pakaian kerja mu" Seru Erik ketika Maura meletakkan sepatu ketempatnya.
"Kamu menyiapkan baju ?" Tanya Maura tak percaya. Ternyata kekasihnya ini begitu pengertian.
"Iya, tak hanya itu ,pakaian dalamnya juga lengkap." Lontar Erik tersenyum tipis.
Maura tersentak bercampur malu. Ia bergegas masuk ke ruang ganti, benar saja Erik menyiapkan baju rumahan lengkap dengan pakaian dalamnya. Serta kosmetik dengan merek yang sama dipakai oleh Maura.
Setelah mengganti pakaiannya, Maura menghampiri Erik kemudian menempelkan punggung tangannya ke kening pria yang sedang sakit ini. Masih terasa panas. Melihat Erik tertidur dengan pakaian kerjanya, Maura berniat menggantinya dengan pakaian rumahan.
Maura mendekatkan wajahnya ke telinga Erik. "Bangunlah, kamu harus ganti baju agar lebih nyaman." Bisiknya pelan.
Erik membuka matanya perlahan, bibirnya tersenyum. Saat melihat pakaian pilihannya pas di tubuh wanita cantik ini. Erik sangat yakin dengan ukuran yang dibelinya karena Della memberitahunya ukuran yang sering dipakai sahabatnya itu. Dan sebaliknya Maura yang memberi tahukan apa saja tentang Della pada Dias.
"Kamu jadi memijit ku ?" Tanya Erik melepaskan kancing kemejanya.
__ADS_1
"Iya, pakai celana pendek mu." Maura meletakkan celana pendek dan baju kaos di atas kasur
Erik tersenyum. "Pakai boxer saja ya." Meski sakit dirinya masih bersemangat menggoda Maura. "Kamu tahu saat aku membeli pakaian dalam itu, aku mengukurnya hanya dengan genggaman ku, aku takjub ternyata ukurannya memenuhi genggaman ku." Ucapnya melihat ke arah dada Maura sambil mengedipkan mata nya. "Pas" sambungnya lagi.
Maura mendaratkan bantal ke tubuh Erik. "Aku baru sadar ternyata kamu mesum sekali ! Sekarang tengkurap !" Ucapnya sambil mengambil tempat minyak.
"Kamu mau di atas sayang. Baiklah aku menurut saja." Goda Erik lagi sambil mengenakan celana pendeknya. "Aku siap." Ucapnya penuh semangat. Erik tengkurap di atas kasur.
"Kamu ini, mau dipijit atau tidak !" Ketus Maura karena merasa malu.
"Mau, tubuh ku sakit semua. Tapi jangan kira aku lemah ya, aku masih mampu mengungkung mu." Erik membenarkan posisi tengkurapnya.
Maura merasakan kulit tubuh Erik masih hangat. "Apa kulit mu sakit disentuh ?" Tanyanya tanpa menghiraukan candaan Erik lagi
Usai memijit Erik, wanita cantik ini meminta pria dingin itu pindah ke sofa karena Maura akan mengganti seprainya, karena Erik usil padanya seprai itu ke tumpahan minyak.
"Nona, makanannya sudah matang. Apa diantar kesini ?" Tanya Kiki dari balik pintu kamar.
Pintu terbuka. Maura tersenyum lembut pada Kiki dan berkata. "Aku akan ambil ke bawah, apa kak Zi sudah pulang?"
__ADS_1
"Sudah, nyonya sedang di kamar bersama putranya." Ujar Kiki sambil mengimbangi langkah Maura menuruni anak tangga.
Rumah yang memiliki tangga berkelok-kelok itu membuat lutut Maura rasanya lemas, belum lagi tinggi lantainya yang terasa jauh dari lantai dasar. Usai mengambil makanan untuk Erik, kini Maura menyuapi pria itu dengan telaten kemudian membiarkannya beristirahat.
...----------------...
Waktu telah berganti dari siang menjadi malam, Erik masih saja terpejam di atas kasur. Mungkin, lelah sudah menyita kekuatannya, hingga Erik masih belum bangun sejak sore tadi. Maura juga belum pulang ke apartemennya, karena tidak tega membiarkan Erik yang masih sakit.
"Dia belum bangun ?" Suara Zevin mengejutkan Maura saat menatap lekat wajah kekasihnya itu.
Maura berdiri dari tempatnya duduk, memberi ruang untuk Zevin mendekat ke sisi Erik. "Dia tidur sejak sore tadi, demamnya sudah turun." Paparnya hati-hati dan pelan.
Zevin mengambil peralatan medisnya, kemudian memeriksa kondisi Erik. Ia tersenyum setelah rangkaian pemeriksaan dilakukan. "Dia sudah membaik, hanya lelah biarkan dia istirahat banyak hari ini. Kamu turunlah kebawah untuk makan malam." Ia melangkah lebih dulu keluar kamar setelah Maura mengangguk pelan.
Maura mengecup kening Erik kemudian bergegas turun kebawah, di meja makan sudah ada Nazia dan Zayyan. Saking fokusnya pada Erik, Maura lupa membantu Kiki menyiapkan makan malam.
"Ayo makan dulu, malam ini menginaplah disini. Erik pasti mencari mu nanti saat dia bangun." Nazia tersenyum sambil menyuapi putranya.
"Iya." Maura merasa sungkan karena sering menginap disana. "Maaf, Kak tadi tidak membantu memasak." Ucapnya dengan perasaan tidak enak hati.
__ADS_1
Nazia mengerti. Dirinya pun juga pernah merasakan itu, terlebih dulu ibu Felisya sempat berpikir negatif tentangnya. "Bawakan makanan nanti untuk Erik, bangunkan dia untuk makan malam." Setelah bicara Nazia juga makan malam.
Malam ini tidak ada drama kemanjaan tuan rumah. Ia makan sendiri, Maura tersenyum tipis melihat hal itu. Rupanya tuan manja ini tahu jika istrinya sibuk mengurus putranya yang sangat aktif.