Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Perawat Dadakan


__ADS_3

Pagi ini disambut siluet cantik dari ufuk timur. Cahaya kuning ke emasan mempercantik tampilan cakrawala. Sejuknya angin pagi menebar kebaikan untuk tiap makhluk penghuni bumi. Tetesan embun pagi menambah aura segar untuk menghirup udara pagi, setelah melewati malam penuh drama terasa sangat melelahkan untuk semua orang.


Di atas brankar putih ini,


Della merasakan tubuhnya membaik, hanya tersisa lecet di pergelangan kaki dan tangannya. Hal sama pun juga dirasakan Dias, dirinya tidak mengalami cedera yang serius, hanya otot perutnya yang kencang. Jadi mereka bisa mendapatkan rawat jalan.


Pintu di dorong dari luar.


"Kalian sudah bangun ?" Maura masuk dan membawa beberapa makanan dan pakaian ganti Della. Sementara Dias, mamanya sudah menitipkan pada Maura ketika akan pergi ke rumah sakit.


"Iya, kamu dari mana?" Tanya Della. Ia menerima paper bag dari tangan Maura. Sejak bangun tadi dirinya tak mendapati sahabatnya itu di dalam ruangan.


"Aku pulang mengambil barang keperluan mu dan juga Dias. Sekarang bersihkan tubuh kalian, ingin sarapan dari rumah sakit ? atau yang aku bawa." Tutur Maura meletakkan kotak makanan di atas meja.


"Makan yang kamu bawa saja, lalu bagaimana dengan Erik ? Apa dia sudah bangun ? "Tanya Della menoleh  kepada Erik yang masih memejamkan mata.


"Sehabis operasi semalam, Erik belum bangun. Biarkan saja dulu... mungkin pengaruh obat biusnya masih ada." Terang Maura. Ia juga menatap Erik di atas ranjang. Pria dingin ini begitu pucat dan lemah.


Maura menatap sayu pria dingin yang sedang lemah itu. Harusnya, ia yang berada disana, harusnya ia merasakan  jahitan serta bedahan saat mengeluarkan peluru itu. Harusnya Maura merasakan hilangnya kesadaran saat dibius.


"Jangan menyalahkan diri mu, andai aku diposisi Erik. Mungkin melakukan hal yang sama." Seru Dias. Ia sangat memahami perasaan temannya itu. Maura merasa bersalah pada Erik, karena menolongnya pria itu tumbang saat ini. Andai Erik tidak melepaskan rompi anti pelurunya maka pundaknya tidak akan tembus peluru.


"Dia menyelamatkan aku. Harusnya aku yang terbaring disini dengan luka itu." Lirih Maura penuh sesal.


...----------------...


Beberapa jam kemudian....


Della dan Dias sudah diperbolehkan pulang oleh Yudha, kini Della diantar oleh Dias pulang ke rumah Maura. Sementara Maura bertahan disana menemani Erik, karena pagi tadi Nazia dan Ralda menitipkan Erik padanya. Karena Ralda harus pulang untuk mengajak putranya ke dokter anak.


Suara jam berputar mengisi kesunyian dalam ruangan itu. Tak ada teman bicara atau bercanda, Maura melangkahkan kakinya ke pinggir jendela. Menyibak tirainya lalu melemparkan pandangannya ke bawah sana.


Maura terpaku pada kendaraan yang terlihat seperti mainan bergerak. Bibirnya tersenyum tipis ketika cuplikan kejadian yang baru dialaminya kembali hadir. Rasanya tak percaya Erik mengorbankan diri hanya untuk melindunginya, harusnya aksi konyol itu tidak terjadi. Mungkin Erik cukup mendorongnya saja maka tidak ada korban penembakan.


"Berapa jam aku tertidur ?" Gumam pria dingin di atas brankar nya. Ia menyesuaikan netranya dengan pencahayaan dalam ruangan itu. Lama terpejam membuatnya sedikit kesusahan untuk membuka mata secara langsung.


"Kamu sudah bangun ?" Maura melangkah dan berdiri ke tepi ranjang. Membantu mengubah posisi ranjangnya.


Erik terdiam lalu menatap lekat wajah Maura, ia bernafas lega setelah melihat secara langsung kondisi wanita ini. "Aku haus..." Ucapnya serak

__ADS_1


Maura mengambil gelas air putih dan memberikannya pada Erik. "Minumlah." ia menyodorkan gelas ke hadapan pria ini.


Erik tersenyum tipis nyaris tak terlihat. "Tangan ku lemas, bagaimana kalau gelasnya jatuh." Ujarnya dengan tatapan tak terbaca. Bibir merahnya terlihat masih pucat, namun tak mengurangi kadar ketampanannya. Meski rambutnya acak-acakan tidak mengubah pesona seorang Erik.


"Maaf. Aku akan membantu  mu minum." Maura merasa canggung berdua dengan pria dingin ini. Ia mendekat pada tubuh Erik kemudian menuntun gelas itu ke bibirnya.


Erik meminum air putih itu tanpa mengalihkan pandangannya. Meski sakit tetap saja netra itu tajam menghunus ke dalam manik mata Maura hingga membuatnya merasa risih.


"Di mana Dias dan Della ?" Tanya Erik setelah menyadari ada dua ranjang kosong di sampingnya.


"Mereka sudah pulang tadi pagi, Mereka juga bisa rawat jalan, Dias mengantar Della pulang. Kalian di rawat dalam satu kamar." Jelas Maura meletakkan gelas di atas nakas.


"Syukurlah, aku lapar." Erik melihat ada rantang makanan di atas meja. Ia yakin itu adalah makanan rumahan.


"Tadi perawat mengantarkan makanan untuk mu, kemungkinan sudah dingin karena sudah siang." Tutur Maura membuka penutup mangkok.


"Makan yang itu saja." Tunjuk Erik ke atas meja.


"Baiklah, tapi sebelumnya kamu dibantu oleh perawat membersihkan tubuh mu terlebih dulu, baru makan. Perban mu juga harus diganti." Jelas Maura beranjak dari tempatnya duduk lalu melangkah ke arah pintu.


"Mau kemana ?" Suara datar itu kembali terdengar menghentikan langkah Maura. Erik melihat pada Maura yang akan keluar.


"Jadi begini cara mu berterimakasih pada orang yang telah menolong mu dari peluru itu !" Ketus Erik menatap tajam.


Maura mengurungkan niatnya membuka gagang pintu, kemudian melangkah menghampiri ranjang Erik.


"Maaf...membuat mu seperti ini. Terimakasih karena menjadi tameng untuk ku. Harusnya aku yang tertembak bukan kamu, harusnya kamu tidak memberikan rompi mu padaku, jadi kamu tidak akan terluka. Peluru itu untuk ku bukan untuk mu. Dengan cara apa aku berterimakasih lagi pada mu?" Ucapnya dengan rasa bersalah yang besar.


Erik menatap lekat wajah Maura dan berkata. "Karena kamu ada disini, maka tugas mu merawat ku sampai nanti aku diperbolehkan pulang."


"Baiklah, jika itu permintaan mu. Aku akan merawat mu sampai sembuh. Sekarang apa yang harus aku lakukan untuk mu ?" Tanya Maura menyetujui permintaan Erik.


"Ambil air, seka tubuhku ! Rasanya lengket semua." Pinta Erik dengan wajah datarnya.


Maura melotot tak percaya. "Aku tidak bisa melakukannya, bagaimana jika perawat saja." Tolaknya gugup.


"Tidak ada penolakan, ingat janji mu Nona !" Mata tajam Erik seolah mengintimidasi Maura.


Tanpa membantah lagi, Maura segera menyiapkan peralatan untuk membersihkan tubuh Erik. Setelah semuanya siap, Maura meletakkan baskom kecil itu di atas nakas.

__ADS_1


"Lepas baju mu." Pintanya menahan gugup dan malu setengah mati.


"Tangan ku tidak bisa digerakan bebas. Karena pundakku sakit, Ku ijinkan kamu membuka bajuku." Ujar Erik santai dan berkata tanpa melihat pada Maura karena ia tengah mengirim pesan pada seseorang.


Maura berdiri di hadapan Erik kemudian menghembuskan nafas membuang rasa gugup dan malunya. Ia mulai membuka kancing baju pasien yang dikenakan Erik. Maura menutup matanya ketika dada pria dingin itu mulai terlihat.


Erik mendekatkan  wajahnya pada Maura hingga hampir tak menyisakan jarak. Lalu berkata. "Buka mata mu ! Apa kamu ingin salah melakukan pekerjaan mu."


Maura refleks membuka matanya dan melotot melihat wajah Erik sedekat itu. Sejenak mata mereka saling mengunci, namun Maura segera memutuskan tatapan itu. Erik tersenyum tipis senang rasanya melihat wajah Maura sedekat itu.


Dengan penuh perjuangan, akhirnya baju Erik terlepas dari tubuhnya. Pemandangan langka yang Maura lihat. Perut kotak-kotak serta dada bidang Erik begitu indah terpampang jelas di depan matanya.  Dengan perlahan Maura mengusapkan handuk menyeka tubuh Erik.


Rasanya Maura ingin kabur menyelamatkan diri dari rasa malu ketika menyentuh roti-roti sobek itu. Erik hanya bertugas menikmati rona merah tercetak cantik di pipi Maura.


"Wajah mu merah, Kamu demam ya?" Erik menyentuh pipi Maura dengan jari telunjuknya. Rasanya begitu lembut dan kenyal.


Maura menarik wajahnya sedikit. "Aku hanya gerah." Jawabnya kaku. Kemudian beralih kebelakang, perasaan Maura kembali teriris melihat luka di punggung Erik yang tertutup perban.


Maura menyekanya dengan lembut, kemudian berpikir. Apa Erik tidak kesakitan tidur dalam posisi miring ? Apa Erik merasakan nyeri lukanya ? Tanpa sadar Maura meniup pelan luka tertutup perban Erik.


Bulu-bulu halus Erik berdiri, merasakan hangatnya nafas Maura di pundaknya. Erik memejamkan matanya merasakan sensasi aneh di kulitnya. Pintu tiba-tiba terbuka.


"Wah, ada perawat baru rupanya." Seru Yudha tersenyum. Ia melangkah mendekat di ranjang Erik.


"Tolong beri tahu dia cara menggantikan perban ku." Titah Erik, seperti biasa sikapnya datar dan dingin.


"Jadi karena ini kamu mengirim pesan padaku." Tutur Yudha tersenyum mengejek.


Sementara itu, Maura menaruh bekas membersihkan tubuh Erik ke kamar mandi dan membersihkannya. Maura menepuk pipinya dengan air membuang rasa panas di wajahnya.


Erik menoleh pada Yudha dan tersenyum. "Katakan pada, Kak Zev ! Jangan ada satu orang pun menjenguk ku." Titahnya aneh namun tegas.


"Baiklah, sekarang panggil Maura. Aku akan mengajarkan dia menggantikan perban mu." Papar Yudha.


Setelah mendapatkan pelajaran singkat namun bermanfaat, kini Maura menyiapkan makanan untuk Erik. Pria dingin itu ingin memakan makanan yang dibawa Maura.


"Kamu bisa makan sendiri ?" Tanya Maura. Ia sangat tidak nyaman dengan kondisi itu. Bahkan ia bingung, kenapa tak ada satu orang pun perawat yang masuk kecuali Yudha.


"Tangan ku gemetar." Jawab Erik singkat dan jelas. Kode bahwa dia ingin di suapi.

__ADS_1


__ADS_2