
Setelah mempertemukan Anna pada Ralda dan Zevin sekeluarga. Kini Anna resmi tinggal bersama Ralda, karena Davi begitu lengket dengannya. Alby pun tak keberatan tentang hal ini. Lagi-lagi kebahagiaan dan keterharuan mampir di kehidupan Erik dan Ralda.
...----------------...
Malam ini langit terlihat indah dan terang. Cahaya bulan dan bintang kian menajamkan sinarnya dari atas sana. Memberi penerangan yang sempurna untuk dua orang yang berdiri di balkon kamar itu.
"Kenapa tiga hari serasa tiga tahun !" Keluh Erik. Ia memeluk tubuh kekasihnya itu dan meletakkan dagunya di atas bahu Maura.
"Tidak sabar?" Maura tertawa pelan sembari menghirup angin malam. Ya ! sejujurnya ia pun tak sabar untuk menyandang gelar nyonya Erik. Menghabiskan waktu tanpa batasan lagi.
"Sangat tidak sabar, agar bisa memeluk mu sepanjang hari. Apa kita menikah sekarang saja." Usul konyol terlontar di bibir Erik.
Maura tertawa menepuk pelan punggung tangan Erik. "Apa kamu sudah dapat untuk tempat tinggal kita setelah menikah?
"Kejutan, untuk mu dan juga kak Zev." Tutur Erik. Ia sudah membayangkan wajah sedih suami Nazia itu saat melepaskan kepindahannya nanti. "Pasti wajahnya lucu." Tertawa dengan khayalannya sendiri. Maura menoleh, Erik pun reflek memiringkan wajahnya.
Satu kecupan mendarat di pipi Maura. Wajahnya terasa memanas dan
merona. Semakin hari sifat Erik semakin mencair saking cairnya ia meleleh bila di depan Maura.
__ADS_1
"Sebentar lagi Della datang, aku malam ini akan menghabiskan waktu bersamanya. Boleh, 'kan?" Maura merubah posisinya menghadap Erik.
"Hanya malam ini, malam seterusnya kamu milik ku. Hanya milik ku !" Tegas Erik dengan raut wajah terlihat lucu. Sebenarnya ia tak rela saja malam ini kekasihnya itu banyak menghabiskan waktu bersama Della.
"Aku mengerti tuan." Maura mengecup singkat bibir kekasihnya yang menggulung karena cemberut.
"Bukan seperti itu caranya berciuman." Erik menarik tengkuk Maura kemudian mengambil manisnya bibir calon istrinya itu. Erik semakin mahir saja dalam hal kissing, ia tersenyum melihat wajah kekasihnya kemerahan. "Aku ada sedikit pekerjaan." Erik meninggalkan jejak ciuman di kening Maura lalu kembali ke unitnya sendiri.
...----------------...
Maura menyiapkan beberapa camilan sebelum Della datang. Malam ini ia dan Della akan mengenang kembali masa-masa yang mereka lewati.
"Ayo masuk." Maura senang karena Della sudah datang.
"Apa Erik tidak kemari?" Della meletakkan kresek makanan ringan yang baru dibelinya.
"Sudah, baru saja kembali ke tempatnya." Maura mengambil beberapa minuman dingin. "Ayo kita ke kamar ku saja." Aja nya pada Della.
Maura dan Della duduk dibalkon kamar menikmati angin malam. Sebelumnya mereka mengenakan pakaian sedikit tebal agar tidak kedinginan. Sepoi-sepoi menyapa keheningan mereka, sudah berapa tegukkan minuman ditangan mereka namun belum ada yang memulai bicara. Bulan semakin bersinar. Maura dan Della sama-sama melihat bulan itu dan tersenyum.
__ADS_1
"Kamu ingat, kita pernah melewati malam dengan suasana seperti ini ?" Maura menoleh pada Della yang juga menatapnya.
"Aku sangat ingat, di rooftop sekolah. Ketika orang-orang datang membully ku. Kamu datang menolong ku dan menawarkan pertemanan. Kita sama-sama menatap ke langit sama seperti saat ini." Della mengenang pertama kali bertemu Maura.
"Kamu tahu kenapa hari itu aku naik ke rooftop ? Saat itu aku tengah kesal karena anak-anak di kelas mau berteman dengan ku hanya karena aku banyak menyimpan makanan. Aku tak sengaja mendengarkan mereka bicara, saat itu sangat sedih. Apakah karena aku gendut jadi mereka tidak tulus pada ku?" Maura tersenyum mengingat semua itu.
"Tidak terasa ya, kita sudah ke tahap ini. Kita sama-sama tumbuh dewasa. Banyak kisah yang hadir diantara kita, persahabatan, cinta semua ada di dalamnya." Della kembali membuka minuman kalengnya sambil menikmati camilan yang disiapkan Maura.
"Kamu benar, aku terpukul saat berita meninggalnya kamu. Beberapa tahun aku hidup dengan rasa bersalah ku karena pertengkaran hari itu. Tapi aku bersyukur kamu masih hidup hingga sekarang." Maura menyandarkan kepalanya di bahu Della.
"Lupakan pahitnya, kita kenang manisnya saja. Jadikan pahitnya cerita kita sebagai pembelajaran. Dan jadikan manisnya sebagai kenangan yang tidak terlupakan." Della menepuk lembut pipi Maura. "Sekarang kita sama - sama akan menikah, memiliki keluarga dan juga anak. Aku berharap kita akan seperti ini sampai ke anak-anak kita nanti." Della menyandarkan kepalanya di atas kepala Maura.
"Aku juga berharap begitu, ketika nanti aku tua. Aku harap kita saling menopang saat lutut kita sudah tidak mampu melangkah jauh. Piknik di depan rumah, tidur dalam satu tenda tanpa suami dan anak-anak. Memancing bersama menenangkan pikiran, terdengar menyenangkan bukan ?" Maura tertawa dengan keinginannya.
"Ya... Sangat menyenangkan, jika nanti kita berusia lanjut, aku ingin kita tinggal di Villa yang bertetangga. Pasti menyenangkan di tempat sepi menghabiskan waktu berdua bersama suami kita sampai nanti kematian itu menjemput." Tutur Della tentang rencana hari tuanya.
"Aku pikir juga menyenangkan, sesekali anak-anak kita datang membawa keluarganya menjenguk dan berlibur bersama, membuat pesta kecil di halaman rumah." Papar Maura.
Seperti itulah rancangan Maura dan Della untuk masa tua mereka, tapi mereka juga tidak akan lupa merealisasikan impian di usia muda bersama suami mereka nanti. Persahabatan yang mereka bina sejak beberapa tahun lalu, penuh cerita dan kejutan. Dan mereka berharap persahabatan itu tidak akan putus begitu saja setelah menikah dan hidup di lingkungan baru.
__ADS_1