
Sejak turun dari pesawat, Maura belum mendapatkan balasan pesan dari Erik. Rupanya pria dingin itu sedang sibuk sekali. Maura dan Dias memutuskan makan siang terlebih dulu sebelum pergi ke pertemuan penting itu.
"Kamu sudah memberitahu Erik, jika kita akan menginap malam ini." Ucap Dias. Ia juga menantikan balasan pesan dari Della.
"Iya, aku sudah memberitahunya." Balas Maura melirik ponselnya. Namun belum juga ada pesan balasan atau telpon masuk.
"Aku tidak menyangka perjalanan kita seperti ini, aku dan Della lalu kamu dan Erik. Awalnya aku sudah ingin belajar melupakan perasaan ku pada Della, sama seperti yang kamu lakukan pada Erik. Tapi malam itu entah keberanian dari mana aku mengungkapkan semuanya." Tutur Dias tersenyum. Masih hangat di ingatannya tentang ungkapan cintanya.
"Kita tidak tahu kedepannya seperti apa ? Untuk saat ini kita bahagia. Semoga saja akan seperti ini terus." Papar Maura tersenyum.
"Kamu benar, sehabis pertemuan baru kita ke hotel ya." Dias langsung melahap makanan yang tersaji.
...----------------...
Malam datang menggantikan siang, segudang aktivitas terhenti karena sebagian orang akan beristirahat. Begitu pun dengan Maura, usai pertemuan tadi sore dirinya dan Dias langsung menuju hotel untuk menginap malam ini.
Maura baru saja selesai membersihkan tubuhnya, ia tengah mengeringkan rambut panjangnya dengan masih mengenakan handuk kimono. Maura sesekali mengecek ponselnya belum juga ada pesan dari Erik. Padahal Maura beberapa kali mengirim pesan.
Maura melemparkan ponselnya di atas kasur kemudian melanjutkan menyisir rambutnya. "Baru satu hari menjadi kekasih saja sudah tidak perduli pada pesan ku. Awas saja kalau kamu menelpon, tidak akan ku jawab !" Gerutunya kesal karena sudah merindukan kekasihnya itu.
Maura belum memesan makanan karena merasa masih kenyang. Malam ini ia akan istirahat saja di kamarnya. Maura merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memegang ponselnya.
Ponsel Maura bergetar rupanya notifikasi pesan dari Erik.
💌Pria dingin ku : Maaf sayang baru membalas pesan mu, aku sibuk hari ini. Selamat malam, istirahat yang cukup... Aku mencintai mu...:
__ADS_1
Maura tersenyum membaca pesan dari Erik. Kini ia bisa beristirahat dengan tenang malam ini. Maura mengganti kimononya dengan piyama, ia berniat akan tidur lebih awal.
Pintu kamar Maura diketuk. Wanita cantik ini segera melangkah menuju pintu. Sebelum membuka pintu ia mengintip lebih dulu. Kosong ! Tidak ada orang terlihat. Maura kembali lagi ke atas kasur.
Pintu diketuk lagi.
Maura melangkah lagi ke arah pintu. Ia mengintip lagi, tetap sama masih kosong. Karena ingin memastikan nya Maura membuka pintu.
"Erik...!!" Pekiknya terkejut. Karena sang kekasih berdiri tepat di hadapannya. "Kamu ke sini ?" Ucapnya tak percaya pada sosok laki-laki berdiri tegap membawa koper.
Erik mendorong kopernya masuk kemudian membawa tubuh Maura ke dalam pelukannya. "Aku tidak bisa menunggu untuk besok menemui mu. Aku merindukan mu." Erik mendaratkan ciuman di bibir Maura. Bibir yang sejak lama menggodanya. Erik menuangkan perasaannya melalui kissing.
Nafas Maura tersengal karena Erik hampir saja tidak memberinya kesempatan untuk bernafas. "Apa kamu cuti ?" Tanya Maura membawa Erik masuk ke dalam dan duduk di sofa.
Erik tersenyum membelai rambut dan wajah kekasihnya itu penuh cinta. "Aku bekerja, besok aku akan naik penerbangan pagi." Jawabnya lembut. Lalu ******* bibir kekasihnya itu lagi. Pagutannya begitu lembut, Erik baru tahu. Inikah ? Dirasakan Zevin yang selalu mencuri bibir istri tercintanya itu. Ternyata sangat memabukkan meski pemula, tapi Erik bisa melakukannya dan lebih menuntut.
"Akan ku pesankan kamar untuk mu." Maura meraih gagang telpon. Namun segera dihentikan Erik.
"Aku tidur disini saja. Percayalah aku tidak akan melakukan apa pun, kamu sudah makan ?" Erik membawa tubuh Maura di pelukannya.
"Aku masih kenyang tadi niatnya aku langsung tidur." Maura menghirup aroma parfum dari tubuh kekasihnya itu.
"Aku lapar. Ayo keluar, masih ada beberapa jam kita lewati waktu sama-sama." Erik merenggangkan pelukannya. Kemudian mengecup kening Maura.
Erik benar-benar membawa Maura jalan-jalan di kota itu. Ia sengaja memanjakan wanitanya ini. Erik sudah lama iri dengan Zevin yang selalu memanjakan istrinya.
__ADS_1
...----------------...
Mendengar alarm berbunyi di ponselnya, Muara membuka matanya perlahan. Ia menyesuaikan pandangannya lalu menoleh ke arah sofa, ia melihat bantal dan selimut terlipat rapi. Kemudian melirik koper Erik tadi malam sudah tidak ada. Rupanya pria dingin itu sudah pergi tanpa membangunkannya.
Ponsel Maura bergetar, rupanya sang kekasih melakukan vidio call Maura tersenyum dan meraih ponselnya.
"Di mana ?" Tanya Maura serak, ia juga berusaha duduk bersandar di dinding kasur.
"Aku sudah di dalam pesawat, sebentar lagi berangkat. Makan sarapan mu tadi aku memesannya mungkin sebentar lagi akan di antar ke kamar mu. Sampai ketemu nanti sore sayang... Jaga diri mu." Ujar Erik tersenyum. Ia sangat bahagia melihat wajah kekasihnya itu masih dalam keadaan mengantuk, sungguh sangat menggemaskan.
"Baiklah. Kabari aku jika sudah sampai. Tutup saja telponnya aku mau ke kamar mandi." Balas Maura turun dari kasur.
"Iya sayang..." Erik mematikan sambungan telpon. Kemudian mengaktifkan mode nya karena pesawat akan mengudara.
Perlahan pesawat sudah terbang meninggalkan kota tempat Maura berada kini. Setelah pesawat benar-benar tinggi Erik membuka penutup kaca jendela menatap gumpalan awan putih pagi ini. Rasanya masih tak percaya jika dirinya memiliki kekasih dan lucunya lagi. Wanita yang pernah ditolaknya, wanita yang menyimpan banyak cinta untuk Erik tanpa diketahui olehnya. Rasanya jika menoleh lagi kebelakang maka Erik tak percaya jika Maura mampu mencintainya sendiri selama ini.
Untuk itu Erik tak akan pernah menyia-nyiakan wanitanya ini. Maura termasuk langka menurut Erik, andai dirinya diposisi Maura maka akan mengubah haluan mencari pelabuhan hati yang lain.
Erik menempelkan jari telunjuknya ke jendela seolah ingin menyentuh awan putih yang sejajar dengannya saat ini, awan putih. Seputih hati kekasihnya Maura. Seputih cinta yang dimiliki sekretaris cantik itu untuknya.
Mengingat kekonyolannya Erik tersenyum tipis, karena rela menyusul wanitanya. Sebab Erik tak mampu menampung rindu. Satu jam tanpa terasa di dalam pesawat karena Erik terbayang wajah kekasihnya, pesawat mendarat dengan sempurna dan siap menurunkan penumpang.
Sambil mengantri untuk keluar dari pesawat, Erik mengaktifkan kembali mood ponselnya. Berniat mengabari Maura jika dirinya sudah sampai dengan selamat. Belum niatnya itu terlaksana ponsel di genggamannya bergetar namun Erik masih belum membukanya karena ia harus fokus menuruni tangga pesawat.
Sambil melangkah keluar Erik membuka pesan yang beberapa detik tadi masuk ke ponselnya.
__ADS_1
💌 Bidadari Hati ku : Kamu sudah sampai ? Sarapan dulu sebelum bekerja, aku yakin kamu belum sarapan:
Erik tersenyum, malas menulis ia langsung menelpon Maura. Memberitahukan tentang dirinya dan akan menuruti perintah Bidadari Hatinya itu.