Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Pindah Rumah


__ADS_3

Sehari setelah acara pernikahan Erik dan Maura, kini pasangan pengantin baru itu tengah menikmati bulan madu mereka. Erik sengaja merahasiakan  tempat memanen madu kisah cintanya bersama Maura.


...----------------...


Semenjak pernikahan Erik, Zevin benar-benar merasa kehilangan teman. Wajahnya terlihat tidak seperti biasanya. Kehadiran Erik di sisinya dalam beberapa tahun ini membuatnya tak bisa melepaskan Erik begitu saja. Tapi saat ini akan tiba, Erik akan menikah dan memiliki keluarga maka, Zevin harus siap dan merelakannya.


"Sayang, nanti ketika Erik memberitahu  rumah barunya kita akan sering ke sana." Nazia merapikan anak rambut yang menutupi wajah suaminya ini.


"Iya, aku merasa kesepian." Keluh Zevin membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. "Sayang, selagi Zayyan di rumah mama, ayo kita kencan !" Ia kembali bersemangat melupakan kesedihannya sesaat.


"Baiklah, aku bersiap sebentar." Nazia beranjak dari kasur. Lalu melangkah menuju ruang ganti.


...----------------...


Di tempat lain...


Pengantin baru tengah menikmati waktu berdua mereka, sebelum segudang rutinitas merenggut semuanya. Namun disini ada sedikit berbeda pengantin wanitanya duduk menyendiri di balkon kamar karena merasa kesal.


Maura merasa jenuh sudah terkurung di dalam kamar hotel sejak kedatangan mereka ketempat ini. Ia ingin sekali jalan-jalan namun Erik tak mengijinkannya. Pria itu benar-benar mengurung istrinya.


"Masih jenuh." Erik datang memeluk istrinya itu erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Maura memberikan kecupan-kecupan kecil disana.


Tubuh Maura remang mendapatkan kecupan kecil itu. " Aku hanya ingin jalan-jalan." Ungkapnya pelan


"Sesuai permintaan mu. Bersiaplah !" Erik melonggarkan lingkaran tangannya. Lalu membalik tubuh istrinya itu agar menghadapnya. "Aku hanya mengistirahatkan tubuh mu beberapa hari ini, agar kamu tidak kelelahan dua Minggu yang lalu kita sangat sibuk mempersiapkan pernikahan. Jadi ini alasannya kenapa aku mengurung mu semenjak kita tiba di sini." Menjelaskan dengan lembut dan mudah di pahami.


Kecupan kecil Maura berikan. "Aku mengerti." Melepaskan diri dari dekapan suaminya lalu pergi bersiap.


Sesuai yang di inginkan Maura mereka hari ini jalan-jalan. Melihat ke indahan kota itu, menikmati kulinernya, mencari oleh-oleh yang cocok. Tawa bahagia menghiasi wajah keduanya. Tangan saling bertautan, menuntun satu sama lain untuk memasuki toko-toko.

__ADS_1


Erik benar-benar memanjakan istrinya, dari memenuhi segala keinginannya. Rasanya tidak ingin waktu ini cepat berlalu. Erik tersenyum melihat senyum ceria dari Maura, wanita pemilik sejuta cinta untuknya.


"Kenapa?" Maura mengangkat kepalanya karena merasa di perhatikan suaminya.


"Aku mencintai mu." Erik mengucapkan kalimat indah itu dengan penuh perasaan. Disertai senyum tipis khas pria dingin ini.


Maura memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona yang tercetak manja dikedua pipinya. "Ayo kita ke sana." Mengganti topik agar tidak tertangkap rasa bahagia bercampur malunya. "Aku juga mencintai mu "


Erik menarik menggenggam tangan Maura, menuju tempat yang ditunjuk kekasih halalnya itu.


...----------------...


Satu Bulan Kemudian...


Hari ini Erik sudah memutuskan untuk pindah rumah, pernikahan Dias dan Della juga sudah dilaksanakan. Erik sudah meminta ijin pada Zevin dan Nazia. Bagaimana pun juga Erik sekarang berstatus kepala keluarga. Berkewajiban untuk menghidupkan anak istrinya di rumah tangganya sendiri. Sejak semalam pria dingin ini sudah mendapati edukasi dari Tuan Indra bagaimana cara memperlakukan istrinya dan menyelesaikan permasalahan dalam rumah tangganya tanpa membawanya keluar rumah.


Sejak semalam juga Zevin terlihat murung. Ya ! Dia merasa sedikit kehilangan. Sosok Erik yang ia jaga, ia sayang, ia manja dan ia didik. Kini dewasa menjadi suami seseorang atau mungkin sebentar lagi menjadi ayah. Sekarang mereka banyak melakukan sesuatu dengan terpisah. Di rumah masih-masing. Tidak seperti dulu, minum teh bersama, makan siang dan malam bersama. Bahkan bekerja pun bersama. Zevin tidak boleh egois sudah waktunya melepaskan Erik untuk hidup sendiri.


"Iya, aku berjanji. Kakak orang pertama yang akan ku datangi. Terimakasih sudah menjadi kakak, menjadi ayah dan menjadi ibu untuk ku." Erik memeluk Zevin sangat lama. Dalam hati kecil, ia sangat sedih atas perpisahan mereka. Meski pun bukan perpisahan yang sebenarnya. Hanya berpindah rumah.


"Jaga istri mu, Jangan pernah berkata kasar padanya, perlakukan dia dengan lembut dan penuh kasih sayang. Karena dia akan membalas ribuan kali lipat dari apa yang kamu berikan." Pesan bijak yang Zevin berikan.


Erik mengangguk. "Aku mengerti." Ucapnya tersenyum. Kemudian menggenggam tangan Maura


Mereka saling berpamitan, tapi ada yang aneh disini. Kenapa adegan haru itu hanya terjadi pada Zevin ? Sementara Nazia hanya tersenyum, dan tidak banyak kalimat yang ia ucapkan.


Erik dan Maura memasuki mobil dan mulai bergerak meninggalkan pekarangan rumah Zevin, tak ingin terlihat menyedihkan melepaskan kepindahan Erik. Zevin melangkah cepat naik ke lantai atas, ia memilih melihat mobil Erik dari balkon kamarnya.


Nazia menyusul bersama Zayyan, dalam hatinya ada rasa kasihan dan juga ingin tertawa, melihat tingkah suaminya yang konyol itu. 

__ADS_1


"Sayang, nanti sore kita bisa kesana." Nazia datang berdiri di samping Zevin yang masih melihat mobil Erik perlahan menjauh dan keluar dari gerbang rumahnya.


"Iya, sini aku mau memeluk mu. Dari pagi aku belum memeluk mu." Manja Zevin  kambuh dan menempel pada istrinya.


"Mama Za !" Ketus sang putra memasang wajah cemburunya.


"Istri papa." Zevin tidak mau kalah. Juga memasang wajah cemburunya.


Perdebatan ayah dan anak itu mulai, mereka saling berebut memeluk dan menciumi Nazia. Sampai wanita cantik ini kewalahan menghadapi dua laki-laki beda usia ini.


"Kak Zev !"


Panggilan tak asing, menghentikan aksi saling cemburu Zevin dan Zayyan, ia mencari asal suara. Mata Zevin melotot, benarkah ? penglihatannya. Orang yang mengucapkan salam perpisahan penuh haru karena akan pindah ke rumah baru. Sekarang berdiri di sebelah rumahnya, di balkon kamar sedang melambaikan tangan dengan senyum yang lebar.


"Erik ! Apa itu dia ? Kenapa ada di sana?" Zevin bingung dengan situasi yang ada.


"Benar sayang, Erik pindah ke rumah itu. Kamu juga tahu rumah itu belum ada pemiliknya." Terang Nazia tertawa melihat ekspresi bingung suaminya.


"APA ? Jadi dia pindah ke sebelah ? Kenapa harus pindah kalau hanya pindah atap. " Zevin kesal. "Aku sudah sedih tadi, aku akan kesana menghajarnya karena sudah membuat ku bersedih beberapa hari ini." Ia beranjak mengambil kunci mobil.


"Tunggu. " Suara Nazia menghentikan langkah Zevin. "Lewat samping sayang. Beberapa hari lalu Erik membuat pintu otomatis untuk pergi ke sana. Pintu itu sudah dirancang dan pakai pengamanan yang bagus." Jelas Nazia lagi.


Zevin semakin melotot, rupanya Erik sudah menyiapkan segalanya. "Ayo sayang kita ke rumah sebelah." Ia menggenggam tangan Nazia untuk mendatangi rumah Erik.


Sementara itu, di rumah Erik. Pria dingin ini tertawa puas sudah mengerjai Zevin. Semua orang tahu jika Erik membeli rumah itu dan membuat pintu penghubung di tembok pagar rumah Zevin sama seperti pintu menuju rumah Ralda. Tapi tidak ada satu orang pun yang memberitahu Zevin.


"Sayang, kamu suka rumahnya?" Erik memeluk istrinya sambil berdiri di balkon.


"Aku suka, itu kak Zev kesini. Apa dia marah?" Maura melihat Zevin dan Nazia memasuki halaman rumah mereka.

__ADS_1


"Paling dia mengamuk" Erik tertawa. "Tapi tenanglah, ada pawangnya. Dia akan melototi ku saja, sambil mengomel di dalam hati."Sambungnya lagi.


__ADS_2