Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Tertembak


__ADS_3

Di dalam Villa, Dias masih berusaha menjangkau Della yang dijadikan sandra oleh pengawal Aryan. Erik masuk melalui pintu samping dan memukul dua orang yang menahan Della.


"Keluarlah, Maura ada di luar bersama Jo." Titah Erik membuka pintu samping dan mempersilahkan Della pergi. Setelah memastikan wanita itu bertemu Maura dan Jo Erik kembali bergabung.


Dias merasa lega karena Della terbebas, saat dirinya lengah satu tendangan mendarat di perutnya. Hal itu membuatnya terpental sampai di hadapan Zevin


Tanpa banyak bicara, Zevin melangkah dan memulai aksinya. Tinju dan tendangan ia hadiahkan pada para pengawal Aryan. Mereka kalah jumlah tak sesuai dugaan, ternyata Aryan memiliki pengawal yang tangguh-tangguh. Namun dengan kemampuan yang mereka miliki pelan-pelan pengawal Aryan bisa dilumpuhkan.


Melihat kondisi sudah tak bisa di menangkan, Aryan melarikan diri dari sana bersama beberapa pengawalnya yang memberi jalan. Mata Erik mengawasi pergerakannya langsung menyusul, tak lama dua detektif juga mengikuti Erik. Sementara Zevin membantu Dias untuk bangun.


Aryan tersenyum senang karena mendapati Della disana, yang lebih menyenangkan lagi Maura juga ada dan sedang menenangkan Della yang menangis ketakutan. Sekretaris cantik itu sudah menarik perhatiannya sejak pertama bertemu. Aryan diam-diam ingin memilikinya.


Melihat kedatangan Aryan, Jo bersiaga. "Kalian masuklah ke dalam mobil, tak jauh dari sini." Titahnya pada dua temannya itu.


Maura dan Della berdiri, menuruti perintah Jo langkah mereka sangat pelan karena kaki Della yang sakit. Setelah memastikan dua wanita itu agak menjauh, Jo langsung menyerang Aryan namun langkahnya dihadang oleh pengawal pria itu.


Baku hantam kembali terjadi, Erik dan yang lainnya datang membantu. Saat lengah saling memukul  tiba-tiba Aryan mengarahkan senjatanya ke pada Maura dan Della yang posisi memunggungi mereka. Aryan harus mencari cara agar cepat terbebas dari situasi itu, meski harus menembak salah satu dari mereka. Tak perduli dengan rasa ketertarikannya pada Maura.


"Turunkan senjata anda !" Titah detektif juga mengarahkan senjatanya pada Aryan.


"Biarkan aku pergi ! Atau aku akan menembak mereka." Aryan berusaha mengancam. Ia mulai takut karena para pengawalnya sudah tersungkur di tanah.


"Anda harus mempertanggung jawabkan perbuatan Anda." Ujar detektif lagi sambil melangkah maju perlahan.


"Aku tidak mau !" Arya tak menurunkan senjatanya. Ia semakin melangkah mundur tanpa Maura dan Della sadari.

__ADS_1


"Jadi dia penculiknya ?" Suara Zevin mengalihkan perhatian mereka. Dia datang sembari memapah Dias yang tak bisa berdiri dengan benar.


"Siapa kamu ?" Aryan mengarahkan senjatanya pada Zevin. Raut ketakutannya kentara sekali. Melihat sosok tegap yang  tanpa bisa mengenali wajahnya itu.


Tak mau kalah, Zevin juga menarik senjata dari balik rompinya. Hal itu membuat Dias dan Jo terkejut. "Aku pemilik perusahaan itu. Tapi kenapa kau menculik pegawaiku !" Zevin menodongkan senjatanya.


"Kalian telah merusak bisnisku ?!" Teriak Aryan. Ia sangat marah karena kalah bersaing di dunia pasar.


"Bisnis perhiasan hanya kedok mu saja, untuk menutupi bisnis mu yang sesungguhnya." Papar Zevin datar.


Aryan terkejut lalu melangkah mundur ingin lari, namun ia kalah cepat karena detektif lebih dulu menendangnya hingga jatuh. Senjata di tangannya juga terbanting jauh.


"ERIK !!! " pekik semua orang.


Aryan menarik senjata dari balik rompi salah satu detektif yang kewalahan mengunci pergerakannya. Ia bergerak sangat cepat agar bisa terbebas dari sana.


Tubuh Maura membeku dan bergetar hebat, karena Erik tiba-tiba memeluknya dari belakang. Ia yang menuntun Della melangkah tepat di belakang wanita berambut pendek itu, hingga menjadi sasaran peluru. Namun, Erik sigap melindunginya setelah melihat Aryan mengarahkan senjatanya dengan cepat.


"A—aku baik-baik saja." Maura berpaling menghadap Erik. Alangkah terkejutnya ia melihat bibir Erik memucat menahan sakit. "Kamu tertembak..."lirihnya meraba punggung Erik, tangan Maura bergetar mendapati darah Erik menempel di telapak tangannya."kamu berdarah...." Ucapnya dengan suara bergetar.


"Aku baik-baik saja." Erik tersenyum namun sesaat kemudian Erik terjatuh menimpa tubuh Maura.


"Erik !" Zevin segera berlari menghampiri asistennya itu setelah  meminta Jo menemani Dias.


Della menyaksikan itu tak mampu bicara apa-apa. Banyak orang terluka karena membantunya. Ketika semua orang lengah karena hal yang menimpa Erik. Aryan perlahan mundur dan berniat meninggalkan tempat itu.  Karena tujuannya memang ingin mengalihkan perhatian para detektif dan yang lainnya dengan cara menembak salah satu dari mereka.

__ADS_1


Tubuh Aryan terhuyung karena Zevin menendangnya. "Kau melukai adik ku !" Ucapnya mencengkram kerah jaket Aryan. "Tangan ini yang menembaknya, bukan ?" Zevin menyeringai.


"Aaa." Teriak Aryan kesakitan karena telapak tangannya tembus peluru. Zevin sengaja menembak telapak tangannya.


Semua orang terkejut dan tak bisa menahannya, kejadian itu terlalu cepat,  ketika Arya ingin melarikan diri saat itu pula Zevin menyadari pergerakannya.


"Tuan, kendalikan diri anda. Sekarang tuan Erik butuh pertolongan. Dan masalah Aryan serahkan pada kami. Sebentar lagi jemputan akan tiba membawa mereka." Salah satu detektif mengendalikan Zevin.


Zevin segera menghampiri Erik lalu meminta bantuan beberapa pengawalnya untuk membawa Erik ke mobil. "Tekan lukanya secara perlahan agar darahnya tidak banyak keluar" pintanya pada Maura.


Sementara di mobil lain, Jo mengemudi dengan cepat membawa Dias dan Della yang juga terluka. Kemudian para pengawal Zevin membantu membawa beberapa pengawal Aryan bersama para detektif.


...----------------...


Rumah sakit...


Erik dibawa ke salah satu rumah sakit terdekat, untuk mendapatkan pertolongan pertama. Begitu pun juga untuk Della dan Dias, Sekarang mereka sudah berada di rumah sakit milik Zevin. Usai pengangkatan peluru, Erik dan yang lain di rujuk ke rumah sakit milik suami Nazia ini.


Di ruangan VIP inilah mereka dirawat bersama, agar memudahkan dalam memantau ketiganya. Usai menjalani operasi, Erik belum juga sadarkan diri. Tapi tidak untuk Dias dan Della mereka merasa lebih baik hanya tinggal pemulihan di kulit yang terluka.


Di kamar rawat ini Zevin duduk di sisi Erik yang terbaring, ia sangat menyesal karena Erik tertembak. Setelah kepulangan Ralda dan Alby, Zevin memilih menunggu Erik untuk bangun.


"Sayang kamu makan dulu ya..." Bujuk Nazia. Ia bisa merasakan jika suaminya itu bersedih dan juga menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa melindungi  Erik seperti sebelumnya.


Zevin meraih telapak tangan Nazia lalu menciumnya. "Aku gagal... Aku gagal melindunginya. Meski dia sudah dewasa, tapi bagiku  dia tetap Erik yang baru ku temui pertama kali." Tuturnya pelan.

__ADS_1


Nazia tersenyum lalu menangkup wajah suaminya dengan kedua telapak tangannya. "Kamu, kakak terhebat yang Erik dan Ralda miliki. Walau pun mereka bukan adik kandung mu, tapi suami ku ini sudah memperlakukan mereka layaknya saudara kandung. Menjadi kakak terkuat dan bertanggung jawab atas diri mereka."


Zevin membawa Nazia ke dalam pelukannya. "Terimakasih sayang.... Sudah menjadi kekuatan ku di saat seperti ini." Ia mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut.


__ADS_2