
Mentari pagi bersinar dengan cerah pagi ini. Secerah senyum Erik ketika mematutkan bayangan dirinya di kaca cermin. Entah apa yang dirasakannya hingga senyum sempurna terbit di wajah kakunya.
Usai memastikan dirinya tampil sempurna. Erik menuruni anak tangga rumah besar itu. Kali ini, pria dingin itu tidak menggunakan lift perubahan yang kentara menurut Zevin yang tengah melihatnya dari kursi meja makan.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, kamu jadi ke tempat Dias hari ini?" Zevin menjawab sambil menyesap teh hangat buatan sang istri.
"Iya, rencananya hari ini aku akan memasukan berkas lamaran Della." Erik pun juga menikmati teh hangat miliknya.
"Jadi itu membuat mu senang hari ini?" Zevin tersenyum sambil meletakkan gelasnya kembali.
Erik terkekeh dan mengangguk perlahan." Benar sekali." Ucapnya lalu meraih piring yang telah di isi Nazia dengan makanan.
Istri Zevin itu tak pernah pilih kasih dalam melayani anggota keluarganya di meja makan. Suaminya pun tak melarang karena itu bukti jika Nazia benar-benar mencintai keluarganya.
Setelah sarapan mereka berangkat bekerja seperti biasa.
Erik dan Zevin mengantar Zayyan ke tempat neneknya yang telah terjadwal, setelahnya baru mengantar Nazia ke rumah sakit dan ke kantor. Padahal Nazia ingin sekali membawa mobil putih kesayangannya itu sendiri seperti dulu. Namun, Zevin tak pernah mengijinkannya. Suaminya itu sanggup antar jemput ke rumah sakit.
"Semua sudah siap" gumam Erik membuka lembar demi lembar berkas lamaran Della untuk disodorkan ke kantor Dias.
Dengan langkah penuh percaya diri Erik pergi ke luar dari kantor untuk pergi ke kantor Dias.
...****************...
Satu minggu yang lalu Maura juga diterima bekerja di kantor Dias, ia di tempatkan sebagai sekretaris Dias yang kebetulan sekretaris terdahulu telah mengundurkan diri. Maura wanita pintar dengan cepat dirinya menguasai pekerjaannya. Hanya beberapa kali di ajarkan oleh sekretaris lama.
Erik telah sampai di kantor ini. Ia mengatakan jika telah memiliki janji pada resepsionis kantor. Langkahnya mulus hingga ke lantai di mana ruang HRD berada. Setelah mengantar lamaran Della, Erik bermaksud akan menemui Dias terlebih dulu sebelum kembali ke kantor.
"Selamat pagi, pak Dias nya ada?"
Merasa suara yang begitu tidak asing Maura mengangkat wajahnya. Seketika matanya bertemu dengan suara yang bertanya padanya tadi.
"Erik." Binar bahagia nampak sekali di wajah Maura. Berbulan-bulan suara itu telah dirindukannya
"Maura, apa kabar lama tidak bertemu?" Erik menyalami Maura.
"Kabar ku baik, bagaimana dengan mu?" Maura membalas menjabat tangan Erik dengan senang hati .
"Aku juga baik, apa Dias ada di dalam?" Erik bertanya sambil melirik ke arah pintu ruangan Dias.
"Ada silahkan masuk saja." Maura mempersilahkan Erik masuk.
"Baiklah, terimakasih."
__ADS_1
Maura tersenyum menatap punggung Erik yang menghilang dibalik pintu. Beberapa bulan lalu tidak mengubah apa pun dari diri Erik tetap saja seperti sebelumnya
Erik cukup lama berbincang bersama Dias di dalam ruangan CEO itu. Mereka membahas perihal Della yang tak mengingat apa pun. Tak lupa Erik juga memberitahu Dias untuk mengabarinya jika Della mengeluh tentang kesehatannya seandainya nanti di terima bekerja.
Pintu ruangan terbuka, Erik keluar bersama Dias dari dalam. Kedua laki-laki itu saling bersalaman sebelum Erik meninggalkan ruangan itu. Dari mejanya Maura tersenyum saat mata mereka bertemu. Erik melangkah melewati meja Maura.
"Kamu akan kembali ke kantor pusat?"
"Iya, maaf aku buru-buru tadi tuan Zev menelpon ku." Erik menghentikan langkah nya.
"Baiklah, hati-hati di jalan."
Erik mengangguk lalu melanjutkan langkahnya kembali.
...****************...
Kantor JG pusat...
Selesai menelpon Erik agar segera ke kantor. Zevin kembali mengulang membaca laporan keuangan yang di berikan oleh manajer keuangan kantor itu. Zevin melihat ada ketidak beresan dalam laporan itu. Namun, ia tak ingin langsung membahasnya sebelum bertemu dengan Erik dan membahasnya bersama. Menunggu empat puluh menit Erik tiba dengan langkah tergesa-gesa. Ia segera mengetuk pintu ruangan Zevin.
"Masuk..." Titah pria manja di dalam sana.
Erik mendorong daun pintu lalu melangkah masuk." Apa yang terjadi?" Tanyanya sembari mengambil berkas yang di sodorkan Zevin.
"Kamu lihat lagi, apa aku yang salah atau laporan itu yang tidak beres. Aku melihat kesalahan di situ."
"Sampaikan pada Haris, adakan meeting bersama manajer keuangan beserta staf nya. Tiga puluh menit dari sekarang."
"Baiklah." Erik segera menemui Haris dan mengatur meeting dadakan itu.
Zevin penasaran kenapa laporan keuangan kantor pusat pendapatannya menurun tiba-tiba. Di mana letak kesalahan itu ? Sementara ini laporan dari pihak pemasaran aman-aman saja. Bahkan team survey di lapangan pun melaporkan jika produk yang baru mereka luncurkan begitu lancar dan fantastis.
Manajer keuangan beserta staf nya sudah berada di dalam ruangan meeting. Mereka saling pandang dan bertanya-tanya, kenapa meeting dadakan hari ini ? Selama ini mereka tidak pernah melakukan kesalahan selama dipimpin oleh manajer keuangan yang lama.
"Selamat pagi menjelang siang semua nya." Sapa Haris membuka meeting itu. Setelah Zevin memasuki ruangan dan duduk di kursi nya.
"Selamat pagi pak."
Haris tersenyum lalu berkata
"Kalian pasti bertanya kenapa diadakan meeting dadakan hari ini ? Jawabannya adalah. Dalam laporan keuangan bulan ini tuan Zevin menemukan kesalahan."
Semua orang di dalam ruangan itu terkejut. Mereka saling pandang dan bingung. Ada perasaan takut menggerogoti tiap sudut hati mereka. Apa yang akan terjadi jika kesalahan itu benar- benar kesalahan mereka yang bekerja tidak telitin?
"Jangan tegang ! Kita tidak menghakimi siapa pun, tapi mencari titik permasalahannya dan memperbaikinya bersama-sama." Seru Erik datar.
__ADS_1
"Sekarang jelaskan pada saya ! Kenapa laporan ini ada kesalahan ? Mengingat laporan dari divisi pemasaran tentang produk baru kita tidak ada kendala." Zevin buka suara setelah beberapa menit diam.
"Boleh kami lihat hasil laporan akhir nya tuan?" Tanya salah satu karyawan.
Zevin mengangguk pada Erik agar memperlihatkan laporan yang telah di scan ke layar proyektor.
"Kalian bisa lihat apa sesuai dengan yang kalian kerjakan ?" Erik melingkarkan nominal akhir penghitungan.
Salah satu karyawan mengangkat tangan.
"Maaf hasil yang saya kerjakan tidak seperti ini."Ucapnya tanpa ragu
"Saya juga pak. Pak Indra selalu mengajarkan kami untuk menyalin file hasil akhir laporan kami untuk antisipasi masalah seperti ini." Ucap karyawan lainnya.
"Baiklah, sekarang tunjukan file salinannya." Titah Erik.
Satu persatu mereka memberikan file salinan itu yang telah di print. Erik dan Haris mengamatinya dan menjumlah ulang kembali. Benar saja angka yang telah di tanda tangani manajer keuangan itu sudah di manipulasi.
Zevin mengamati raut wajah orang-orang itu satu persatu lalu berkata.
"Kalian tahu? Perusahaan ini membayar mahal atas kejujuran kalian dalam bekerja. Apa itu tidak cukup ? Kantor ini berserta cabangnya sangat tahu dalam membalas jasa para karyawan yang telah bekerja keras. Di dalam perusahaan ini juga setiap divisi keuangan di ijinkan menyimpan file hasil laporan akhir agar tidak menjadi kambing hitam untuk manusia serakah. Mulai hari ini saya akan membuat kebijakan baru, setiap pembuatan laporan keuangan khusus untuk divisi kalian kirim langsung ke email Erik atau saya. Karena ini adalah hal sensitif tanpa di sadari bisa menarik diri sendiri dalam lembah kehancuran."
Semua orang terdiam termasuk manajer keuangan yang baru. Ia hanya menunduk dan berkeringat dingin diam tanpa suara.
"Baiklah ! Kalian bisa kembali bekerja, untuk laporan selanjutnya langsung kirim ke email saya atau tuan Zevin, sebelum di print agar tidak terjadi lagi hal semacam ini. Terimakasih untuk kerja keras kalian. Kamu manajer tetap di sini." Erik segera menutup meeting itu.
Tak berlangsung lama karena para karyawan itu berkata dengan jujur. Pak Indra selalu mengingatkan mereka dalam bekerja harus hati-hati dan teliti. Beliau sangat belajar dari kejadian kakek Heru dan kakek Ardian.
"Sekarang katakan apa maksud anda memanipulasi laporan ini? Anda pasti tidak menyangka jika staf keuangan memiliki cara untuk mematahkan tuduhan pada mereka." Erik bersuara sangat datar sorot matanya begitu dingin.
Manajer keuangan yang baru itu hanya mampu menangis menyesali kebodohannya. Dia adalah seorang wanita pengganti manajer lama yang telah pensiun. Ia meremas sisi roknya. Menjabat sebagai manajer selama empat bulan ini membuatnya kalap mata . Ia jadi wanita yang memiliki hobi baru memburu barang-barang mewah guna menunjang penampilannya.
"Ma—maafkan saya Tuan, Jangan pecat saya." Ucapnya sambil menangis.
Erik tersenyum tipis.
"Sebelum anda bekerja di sini pasti dari pihak HRD telah memberitahu anda aturan yang harus di patuhi sebagai karyawan Jaya Group." Ucapnya tegas.
"Sa—saya khilaf Tuan, Maafkan saya." Ucap wanita itu lagi.
"Di nilai dari tampilan anda sepertinya, nominal yang hilang itu telah masuk ke rekening anda." Tebak Erik.
Wanita itu semakin menunduk dan malu. "I—iya Tuan, maafkan saya. Tidak akan saya ulangi lagi. Beri saya kesempatan lagi, saya akan mengembalikan uang itu silahkan potong gaji saya tiap bulannya, jangan laporkan saya." Ucapnya memohon dan serius.
"Hanya satu kali, Ingat ! orang-orang saya mengawasi anda. Bekerjalah dengan benar, jika anda berani melakukannya lagi. Saya pastikan setelah keluar dari kantor ini anda tidak akan dapat pekerjaan di mana pun. Dan penjara menanti anda !" Putus Zevin dan berdiri dari kursinya meninggalkan Erik dan wanita itu.
__ADS_1
"Ba—baik Tuan, terimakasih ! Saya berjanji akan bekerja dengan benar." Ucap wanita itu senang.
"Kembali lah bekerja."