Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Istri Cantik Penuh Resiko


__ADS_3

Tiga Minggu Kemudian...


Hari berganti dengan cepat, semakin lama Maura semakin merasakan kerinduan yang amat dalam pada ibu Sila. Rindu suaranya, rindu masakannya serta rindu bermanja-manja dengan ibunya. Malam ini rembulan tak nampak di langit, sepertinya sangat mendukung suasana hati Maura yang tengah di landa rindu.


Meski setiap hari bercanda dan bercerita pada Della tak sedikit pun mengurangi rasa rindunya. Tak hanya Della, tiga pria teman mereka juga ikut merecoki kediamannya. Akhir-akhir ini Erik dan Dias sering berkunjung. Kadang Jo juga turut hadir meramaikan kediaman Maura.


"Belum tidur ?" Della menghampiri Maura di sisi jendela. Ia baru saja ke luar dari kamar mandi. Wanita berambut pendek ini sangat berperan penting dalam kesepian Maura.


"Aku merindukan mama." Balas Maura menoleh sebentar pada Della lalu kembali menatap luar jendela. Tidak ada pemandangan yang bagus mencuri perhatiannya di luar sana. Hanya saja rasa nyaman melihat remangnya lampu penerangan jalan.


Della mengurai rambut panjang Maura dan berkata. "Andai dulu aku tahu mama meninggal dan tidak lupa siapa diriku. Mungkin, aku sama seperti mu. Menyimpan kerinduan yang besar, kamu tahu impian ku sejak kecil  adalah ingin mendengarkan suara mama walau hanya sekali. Dan aku masih berharap paling tidak mama sekali menyapa ku dalam mimpi."


Maura menyentuh tangan Della di pundaknya. "Kita sama-sama tidak memiliki orang tua sekarang, meski aku memiliki paman tapi tidak sebaik om Andi." Ucapnya lembut.


Della menghela nafas berat, ia membenarkan perkataan Maura. Dirinya sedikit beruntung memiliki paman seperti pak Andi. "Kamu benar, tapi jangan kecil hati. Aku akan selalu bersama dengan mu." Ucapnya merangkul pundak Maura.


"Dell, terimakasih sudah menemani ku."


Della mengangguk dan berkata. "Sudah malam, ayo tidur ! besok kita bekerja."


...----------------...


Pagi ini disuguhkan dengan tampilan cuaca yang cukup cerah. Di langit nampak berawan dan kilau mentari pagi begitu lembut menembus cakrawala.


Maura dan Della tiba di kantor dengan menaiki taksi online. Erik sudah tidak lagi antar jemput pada Della, karena wanita manis ini menolaknya sebagai alasan Della tak tega membiarkan Maura sendiri. Erik tak keberatan dengan hal itu, ia pun menyetujui penolakan Della.


Maura tak lagi membahas gantungan kunci yang ada pada Erik, ia berpikir bukan hanya dirinya saja yang memiliki gantungan seperti itu. Mungkin saja orang lain memiliki kesukaan yang sama dengannya.


"Jangan lupa nanti sore kita ke pantai" seru Della berpisah di lift. Di balas anggukan dari Maura. Mereka berjanji akan pergi ke sana untuk menghibur Maura yang baru saja kehilangan.

__ADS_1


Kecanggungan yang dulu Della rasakan, kini hilang dengan sendirinya. Ya, Maura memang terluka kala itu ketika mengetahui sahabat yang dipercayainya tak sedikit pun mengingat dirinya saat bersama Erik. Namun Maura juga tidak mempermasalahkan perasaan Della itu, karena dirinya sadar hanya mencintai dalam diam, bahkan Erik bukan siapa-siapa untuknya. Hal inilah memperkuat Maura agar tidak membangun benteng antara dirinya dan Della.


Semakin hari perasaan cinta yang Maura miliki memudar, meski tak mudah tapi dirinya cukup berhasil memutuskan perasaan itu. Kini Maura hanya menatap ke depan tanpa ingin menoleh ke masa lalu.


Setelah kehilangan sang ibu, Maura semakin yakin dan kuat menata hidupnya agar lebih baik, sampai waktunya nanti akan tiba ada seseorang yang menjemputnya untuk menyongsong masa depan bersama, membentuk tangga-tangga kehidupan yang berupa rumah tangga bersama  pria yang mencintainya.


...----------------...


Jika di JC semua orang berkerja dengan serius, maka lain hal lagi di kantor JG pusat. Disini Erik nampak uring-uringan, sejak tadi ia bekerja tidak berkonsentrasi.


Zevin semakin heran dengan tingkah asistennya itu. Kenapa akhir-akhir ini Erik terlihat kesal ? Tak ingin terlalu penasaran Zevin pun bertanya. "Kamu kenapa ? Ada masalah ?" Cecarnya seperti biasa sambil berpindah tempat duduk.


Erik menenggak minuman kalengnya terlebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Zevin. "Motor itu sudah di kembalikan Maura, tepatnya beberapa minggu lalu sebelum ibunya meninggal. Dia menolak untuk menerimanya, dia juga mengatakan tidak ada hak apa pun untuk menerima sesuatu dariku." Ungkap Erik menjeda kalimatnya, dia juga mengamati raut wajah suami Nazia itu yang menunggu kelanjutannya. "Aku juga mengambil gantungan kunci miliknya tanpa berkata terlebih dulu." Lanjut nya pelan.


Zevin menahan tawa, bisa-bisanya pria sedingin Erik melakukan hal itu. "Kamu mencurinya ? Lalu apa reaksinya ketika mengembalikan motor itu ?" Tanya Zevin penasaran.


"Aku tidak mencuri !" Ketus Erik. "Tangan ku refleks saja menyimpan gantungan kunci itu di saku celana ku. Dan untuk Maura aku tidak bisa menebaknya lebih banyak, yang aku tahu dia kecewa." Jawab Erik sendu. Sejak kejadian itu komunikasi dirinya dan Maura semakin berkurang dan terlebih menjauh. Meski pun saat pemakaman Erik berada langsung disana.


Erik juga menegakkan duduknya. "Sejauh ini dia belum lagi berkunjung ke kantor. Dia seakan tidak kabar, benar kata Maura dia pemilik toko sekaligus pembuat perhiasan. Pabriknya masih kecil tapi lumayan para pedagang perhiasan banyak mengambil dari tempatnya untuk di pasarkan." Paparnya serius.


"Biarkan saja selagi tidak merugikan kita." Balas Zevin. Ia menatap heran pada Erik yang tersenyum tipis membaca pesan di ponselnya. "Kenapa kamu tersenyum seperti itu ?" Tanyanya lagi. Suami Nazia ini sudah seperti wartawan memburu berita, nanti akan ia jadikan bahan gosip pada Nazia atau Alby.


"Sehabis pulang bekerja aku ingin ke pantai, Della baru saja mengabari ku dia akan ke pantai." Jawab Erik sedikit gugup. Entahlah perasaan itu tiba-tiba saja datang.


Daun pintu di ketuk dari luar.


"Masuk !"  Seru Zevin dari tempatnya duduk.


"Selamat siang..." Sapa Nazia tersenyum lembut. Ia datang membawa makan siang untuk suaminya. Kebetulan hari ini ia tidak bekerja.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah datang. Aku merindukan mu." Zevin langsung berdiri dan memeluk istrinya itu penuh rindu.


Nazia  melonggarkan pelukan suaminya itu dan berkata


"Aku bawakan makan siang, ayo makan dulu. Cuci tangan kalian !"


Zevin langsung melangkah ke wastafel mencuci tangannya bersama Erik. "Za, kenapa tidak ikut sayang ?" Tanyanya sembari menggosok tangan


"Dia dijemput mama bersama Ivan tadi, nanti setelah dari sini aku langsung ke rumah mama." Jawab Nazia sembari membuka rantang makanan.


Sementara itu Erik menyiapkan piring dan sendok, selama menikah Zevin di siapkan oleh Nazia peralatan makan di kamar pribadinya.


"Apa dia memeluk mu?" Tiba-tiba Zevin bertanya disaat Nazia mengambilkan makanan untuknya.


"Siapa?" Tanya Nazia menghentikan pergerakan tangannya.


"Ivan ! Siapa lagi yang berani memeluk mu selain dia ?!" Tutur Zevin menekuk wajahnya lucu.


Nazia dan Erik tertawa. "Tidak sayang, dia hanya memeluk, Za ! Ayo makan." Bujuknya halus.


Zevin tersenyum dan mengangguk. Ia memberikan suapan pertama seperti biasa pada istrinya terlebih dulu, baru dirinya yang memakan suapan kedua. Meski pun manja pria aneh ini selalu mengistimewakan istrinya.


Erik menggeleng kepala setiap menonton drama kemanjaan Zevin, apa lagi yang tak mau mengalah dengan putranya sendiri. Itu sangat membuatnya gemas. Usai makan siang, Nazia membereskan peralatan makan mereka dan di ruang pribadi suaminya.


"Kamu tahu, memiliki istri cantik luar dan dalam memiliki resiko kehilangan sangat tinggi." Tutur Zevin bersandar di dinding sofa. "Makanya kita harus pandai-pandai memperlakukannya jika tidak ingin dicampakkan, banyak wanita cantik fisiknya tapi belum tentu hatinya. Untuk mendapat kecantikan double itu sangat sulit." Paparnya lagi.


Erik mangut-mangut tanda mengerti. "Kakak benar, sangat jarang ada wanita yang mau menemani kita dalam kesusahan. Dan untuk menemukan wanita seperti itu sangat sulit, apa lagi kita sudah terlihat mapan materi banyak wanita cantik mengantri."


"Untuk wanita cantik sangat mudah mendapatkan pria kaya. Tapi pria kaya akan susah mendapatkan wanita yang tak hanya cantik fisiknya tapi juga cantik hatinya."kata Zevin lagi.

__ADS_1


"Kalian membicarakan apa?" Nazia baru selesai dengan sedikit pekerjaannya.


"Tidak ada sayang. Sini aku ingin tidur di pangkuan mu sebentar. Nanti jika ada Zayyan dia pasti menjambak rambut ku." Zevin menuntun tangan istrinya untuk duduk di sofa. Ia merebahkan tubuhnya sambil bicara pada Erik.


__ADS_2