
Sore telah berlalu, Hari sudah menggelap. Selepas dari pantai masing-masing mereka pulang ke rumah. Tak banyak yang dibicarakan selepas dari sana. Mobil Erik tiba di kediaman family Z. Ia segera memasukkan mobilnya di garasi pertanda dia tidak akan keluar lagi. Erik bergegas naik ke kamarnya.
"Ki, di mana semua orang ?" Erik bertanya sembari melangkahi anak tangga.
"Masih di rumah ibu Mira, Tuan." Jawab Kiki sembari menonton Tv.
"Mereka menginap ?" Erik berhenti di pertengahan anak tangga.
"Tidak, mungkin sebentar lagi pulang. Anda makan malam sekarang atau nanti ?" Tanya Kiki sekaligus menjawab.
"Sekarang saja, tapi sebelumnya tolong buatkan aku teh hangat ya taruh saja di ruang tengah." Erik kembali menaiki anak tangga. Ia jarang menggunakan lift kecuali teramat lelah.
"Iya, Tuan." Kiki segera ke dapur membuatkan teh hangat dan menyiapkan makan malam untuk Erik.
Di kamarnya Erik mengguyur tubuhnya di bawa shower lalu meraba dadanya sendiri. Entah apa dipikirkannya saat ini sehingga termenung di bawah guyuran air.
Menghabiskan waktu dua puluh menit Erik selesai mandi. Pria ini mengambil pakaian rumahan, karena ia masih akan bekerja setelah makan malam. Erik menuruni anak tangga. Ia melihat Kiki berlari kecil ke pintu utama ternyata family Z telah pulang dari rumah ibu Mira.
Nazia masuk terlebih dulu menggendong Zayyan lalu setelahnya Zevin menyusul di belakang membawa barang bawaan mereka.
"Om." Panggil Zayyan mengangkat kedua tangannya.
"Iya sayang, sini sama Om." Erik mengambil alih tubuh Zayyan.
"Jam berapa kamu pulang." Zevin ikut bergabung di ruang tengah.
"Baru saja, Kak." Erik menjawab sembari meminumkan tehnya pada Zayyan.
"Kamu sudah makan ?" Tanya Nazia. Mendaratkan tubuhnya di sisi sang suami.
"Sebentar lagi. Kiki lagi menyiapkannya."
Tak lama Kiki datang dan berkata.
"Makan malam sudah siap tuan."
"Sekarang kamu makan dulu. Nanti kita bertemu di ruang kerja. " Titah Zevin mengambil Zayyan dari pangkuan Erik.
__ADS_1
"Iya, kak. Kalian tidak makan ?" Erik berdiri dan membawa gelasnya ke dapur.
"Kami sudah makan di rumah mama. Nanti lagi kalau lapar kami akan makan." Balas Zevin juga berdiri
"Sayang ayo ke kamar. Ganti baju kalian dulu dengan piyama." Titah Nazia membawa tas putranya.
Di kamar mereka Nazia menyiapkan piyama untuk suami dan putranya. Ayah dan anak itu setiap malam akan memakai piyama couple. Tapi tidak untuk Nazia, ia akan memakai daster rumahan pendek selutut namun warna senada dengan dua lelaki kesayangannya itu.
Suami Nazia itu tidak mau istrinya memakai piyama stelan celana, karena akan menyusahkan Zevin sendiri nantinya. Ia juga tidak mengijinkan Nazia berpakaian terlalu minim karena ada Zayyan yang masih tidur di kamar mereka. Zevin tidak ingin mencemari mata dan otak anaknya itu, menurut pengalaman Zevin sendiri. Ia sejak kecil tidak pernah melihat ibu Felisya berpakaian tidak pantas di pandang mata.
Jika Zayyan selalu melihat ibunya berpakaian yang pantas. Maka putranya itu akan lebih menghargai wanita kelak jika ia dewasa. Dan Zayyan juga bisa menilai yang mana baik dan tidaknya. Jika sedari kecil di suguhkan dengan hal yang baik-baik.
Zevin tidak ingin nafsu mengalahkan akal sehatnya. Suami mana yang tidak mau melihat istrinya berpakaian seksi di atas ranjang, namun ia harus mengalah demi anaknya yang masih asi dan tidur bersamanya dan Nazia.
Zevin dan istrinya tidak memperlihatkan hal intim di depan Zayyan selain peluk dan cium biasa. Karena dengan begitu mereka berharap putranya bisa menunjukkan hangatnya rasa kasih sayang terhadap keluarganya kelak jika sudah dewasa.
"Sayang, aku kerja sebentar ya bersama Erik." Pamit Zevin sembari mencium kening istri dan putranya.
Zayyan tersenyum memperlihatkan deretan gigi susunya." Pa—pa" ucapnya terputus-putus.
...----------------...
Malam telah berlalu dan pagi pun menjemput, di ufuk timur sana remang-remang cahaya matahari telah merobek pekatnya kegelapan. Sinarnya menembus awan-awan putih hingga memancarkan sampai ke bumi.
Segudang aktivitas telah menanti. Hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang meramaikan jalanan. Sama halnya pada Erik. Mobilnya berhenti di lampu merah, jari telunjuknya mengetuk- mengetuk setir mobil berwarna hitam itu. Netra Erik tak sengaja menangkap sosok wanita di boncengan pengendara motor.
Dia adalah Della, pagi tadi wanita itu mengirimnya pesan agar tidak menjemputnya. Lampu berganti hijau, Erik sengaja mendahului motor itu karena mereka masuk ke satu ruas jalan sama, yang artinya motor dan mobil melewati jalan itu. Jarak satu meter Erik menghentikan mobilnya dan keluar berdiri di samping pintunya. Ia sengaja menunggu motor ditumpangi Della melintas.
Benar saja, Della seperti melihat Erik bersandar di pintu mobilnya. Pria itu berpangku tangan melihat ke arahnya. Della meminta berhenti pada bapak ojol itu.
"Berhenti sebentar,Pak ! " Pinta Della setengah berteriak.
"Baik Nona."
Della melepaskan helmnya lalu menghampiri Erik. Pria itu hanya diam menatap lekat wajah Della. " Kenapa kamu disini ? Apa mobil mu mogok ?"
Erik tak menjawab, ia meraih dompet di saku celananya dan mengeluarkan dua lembar uang. "Terimakasih, Pak. Dia turun di sini saja." Kata Erik menyerahkan uang itu
__ADS_1
Tukang ojol itu terbengong. " Ini banyak sekali tuan." Ucapnya melihat nilai uang di tangannya.
"Itu rezeki bapak." Jawab Erik pendek. Tanpa senyum hanya wajah datar seperti biasanya.
"Terimakasih tuan. Saya permisi." Pamit bapak Ojol sembari mengaitkan helm di depannya. Pria paru baya itu segera melajukan motornya meninggalkan sepasang anak manusia itu.
Erik menarik tangan Della dan memintanya masuk ke dalam mobil. Tanpa bicara Della menurut duduk di sisi kemudi. Erik menginjak pedal gas melaju ke arah kantor Della. "Kenapa tidak mau di antar olehku ?" Bertanya tanpa mau menoleh ke lawan bicaranya.
"Aku tidak mau merepotkan mu terus-terusan Erik." Jawab Della. Nada suaranya sedikit membentak.
Erik mengurangi laju mobilnya. "Apa aku pernah berkata jika kamu merepotkan ku ?" suara datar keluar dari mulutnya menandakan jika Erik tak suka dengan jawaban Della.
Della menundukkan kepalanya, benar kata Erik dari pertemuan pertama di desa, pria ini tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun tentang rasa lelahnya atau direpotkan. " Maaf..." Hanya satu kata itu terucap dari bibirnya.
Erik menghentikan mobilnya di depan kantor. "Besok dan seterusnya aku akan mengantar dan menjemput mu seperti biasa. Kecuali ada perjalanan keluar kota atau pertemuan penting aku akan mengabari mu." Ucapnya sebelum membuka kunci pintu mobil.
Della menoleh sebentar lalu berkata ." Iya..." Tanpa menoleh lagi, ia membuka pintu mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung kantor.
Erik memutar mobilnya untuk pergi ke kantor. Sejujurnya, ia tidak marah hanya kecewa kenapa Della tidak mau di antar olehnya. Padahal dirinya siap kemana saja wanita itu ingin pergi yang terpenting tidak terbentur dengan jam kerjanya. Ia banyak belajar dari Zevin meski berlainan arah tapi tetap saja ayah satu anak itu mengantar istrinya ke rumah sakit. Dengan begitu hubungan mereka akan semakin erat dan lengket. Karena tugas suami atau pria memastikan wanitanya aman dan nyaman.
"Kenapa tidak bersemangat ?" Tanya Maura ketika bertemu dengan Della di depan lift.
Della tersenyum tipis. " Semalam Erik berniat mengantar ku, tapi aku menolaknya. Tadi dia menghentikan ku di tengah jalan, seperti nya dia marah pada ku. Karena menolaknya mengantarkan ku ke kantor seperti biasa nya." Cerita Della jujur
Maura tersenyum. "Apa alasan mu tidak mau di antar jemput oleh Erik ? Dia pria baik. " Ucapnya sembari menekan tombol buka pada lift.
"Aku tidak mau merepotkannya terus-terusan. Cukup banyak dia membantu ku selama ini."
Maura dapat melihat jika Erik benar-benar peduli pada Della." Apa selama kamu di sini pernah melihat Erik perduli atau perhatian pada wanita selain keluarganya ?"
Della menggeleng lemah." "Tidak, aku juga merasakan perhatiannya." Jawabnya lirih.
"Itu tandanya kamu istimewa untuknya. Jangan sia-siakan perhatian seseorang karena tak selamanya, apa yang kita rasakan bersambut dengan baik." Tutur Maura mengepalkan tangannya menahan denyutan gumpalan daging lunak di tubuhnya.
" Iya, terimakasih Maura. Aku akan keruangan ku."
"Kamu spesial Della." Gumam Maura pelan menatap punggung sahabatnya itu.
__ADS_1