Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Jo Mantan Bodyguard


__ADS_3

Jalanan kota mulai di padati kendaraan. Semua orang berlalu lalang dengan segala aktivitas dan profesinya masing-masing.


Della sudah berada di dalam bus, kali ini ia memilih naik bus ketimbang memesan taksi atau ojek online. Della duduk di pinggir kaca jendela, menatap kosong pinggiran jalan.


Setiba di halte, Della segera turun dan jalan kaki menuju kantor tempatnya bekerja. Della memasuki gedung itu bersamaan dengan Dias juga baru masuk.


"Selamat pagi, Pak !"


Dias tersenyum. " Pagi Del, kenapa murung lagi hari ini ? Ada masalah ? Apa Erik marah pada mu ?" Dias menghujani dengan banyak pertanyaan. Ia juga masih cemas tentang tadi malam saat dirinya, mengantar Della pulang bertepatan dengan Erik yang ada di sana.


Della menggeleng. " Saya baik-baik saja dan Erik tidak marah. Kenapa bapak berpikiran jika dia marah ?" Balas tanya Della. Ia tak mengerti kenapa Dias sangat mencemaskan hal sekecil itu. Padahal Della sudah tidak memikirkannya.


"Sudah sarapan ?" Dias mengalihkan pembicaraan. Enggan rasanya mengungkapkan alasan tentang kecemasannya itu.


" Belum, nanti sarapan di kantin saja"


Dias menghentikan langkahnya. "Kalau begitu ayo sarapan. " Ajak nya lembut. Pria ini berputar arah langkah kembali.


Della nampak berpikir lalu mengangguk. " Baiklah. Tapi di kantin saja." Ucapnya melangkah lebih dulu.


Dias dan Della mengambil nampan makanan masing-masing. Mereka duduk saling berhadapan, hari ini hanya mereka berdua, biasanya ada Maura yang menemani. Mereka makan dalam diam tanpa ada pembicaraan, suasana cukup sepi karena masih pagi. Kedua kalinya Dias dan Della makan bersama.


Della selesai sarapan, lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas untuk mengirim pesan. Selesai sarapan mereka segera menuju ruangan masing-masing.


" Del, hari ini Maura tidak masuk karena ibunya sakit." Seru Dias sebelum menaiki lift.


"Benarkah ? Kalau begitu sepulang kerja saya akan ke sana."

__ADS_1


"Saya juga akan ke sana, kalau kamu tidak keberatan bagaimana kalau nanti kita berangkat bersama." Usul Dias


"Baiklah." Jawab Della. Mereka berpisah di lift. Melanjutkan langkah ke ruangan masing-masing.


...----------------...


Kantor JG pusat.


Erik baru saja masuk ruangan nya langsung membuka ponselnya, karena di perjalanan tadi ia merasakan ponselnya bergetar.


'Temui aku di kafe depan kantor ku saat jam makan siang.'


Begitulah pesan Della, Erik segera membalasnya. Ia memulai pekerjaannya belum separuh pekerjaan itu selesai, interkom di mejanya berbunyi.


"Iya." Jawab Erik . Ia mengapit gagang telpon itu dengan kepalanya. Sementara tangannya sibuk di atas keyboard.


"Keruangan ku." Titah pria manja di ruangan yang berbeda.


"Masuk. " Titah Zevin dari dalam sana. Ayah satu anak itu nampak serius mengerjakan pekerjaannya.


"Ada apa, Kak ?" Seperti biasa jika mereka berdua Erik akan menggunakan bahasa sehari-hari di rumah.


Zevin mendongakkan kepalanya lalu meminta Erik duduk di sofa. " Tadi Dias menelpon, dia butuh asisten karena keteteran bekerja sendiri. Apa lagi saat ini Maura tidak masuk." Tuturnya santai.


"Sebenarnya memang Dias perlu seorang asisten, sebagai CEO dia memiliki tanggung jawab yang besar. Jika hanya mengandalkan Maura sebagai sekretarisnya, sepertinya tetap tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang banyak tepat waktu." Papar Erik menyetujui permintaan Dias.


Zevin nampak berpikir. "Jadi siapa menurut mu yang bisa di andalkan untuk menjadi asistennya ? Tak hanya bisa di andalkan namun juga dapat dipercayai." Ucapnya sambil memikirkan kandidat.

__ADS_1


Erik terdiam begitu juga Zevin, mereka sama-sama mengingat orang terbaik di Jaya Group. Seingat Zevin orang - orang pilihan sudah menempati posisinya masing - masing. Haruskah ! ia membuka lowongan asisten, tapi Dias butuh bantuan secepatnya. Baru beberapa jam Maura tidak masuk Dias sudah sibuk sendiri.


"Jo !" Celetuk Erik. Setelah beberapa menit berpikir.


"Jo ? Mantan pengawal kakak mu ?" Tanya Zevin serius.


"Iya, Kak. Dia baik, disiplin dan bertanggung jawab tak hanya itu. Dia juga cerdas dapat dipercayai." Jelas Erik tentang Jo.


Zevin terkekeh. " Kamu tahu banyak tentangnya. " Ucapnya  sembari bersandar di kursi kebesarannya.


"Iya, karena aku sudah mencari tahu latar belakangnya saat menjadi pengawal, Kak. Ralda !" Tutur Erik yakin dengan pilihannya.


"Kenapa dia berhenti bekerja pada, Al ?" Tanya Zevin. Ia memang tidak tahu kenapa Jo mengundurkan diri.


" Kemarin, ayahnya sakit dan keluarganya meminta Jo pulang ke kampung halamannya, karena ayahnya tidak ingin Jo jauh darinya."


"Dimana dia sekarang ?" Tanya Zevin mulai tertarik.


"Saat ini dia bekerja di bengkel mobil, karena aturan di perusahaan Kak, Al. Karyawan yang telah berhenti akan susah lagi masuk kembali meski itu cabangnya." Ujar Erik


"Aturan macam apa itu ? Ayo kita temui dia." Ajak Zevin sekaligus mencibir Alby.


"Baiklah."  Erik bergegas berdiri dari tempatnya duduk


Seperti inilah Zevin ketika ia butuh, maka dirinya turun langsung untuk bertemu. Zevin tidak merasa rendah hanya karena menemui orang yang yang ia butuhkan. Erik melajukan mobilnya menuju bengkel tempat Jo bekerja. Beberapa bulan setelah pernikahan Alby dan Ralda. Jo mengundurkan diri karena ayahnya sakit-sakitan tidak ingin berjauhan dengannya.


Maka dari itu Jo harus pulang ke kampung halamannya untuk tinggal bersama sang ayah. Setelah menetap di kampung beberapa minggu takdir berkata lain, Ayah Jo dipanggil yang Kuasa. Tidak ingin berlarut dalam kesedihannya Jo kembali merantau ke kota dan mencari pekerjaan lagi.

__ADS_1


Jo pemuda yang baik dan tampan. Usianya sama dengan Erik. Dia di karunia kecerdasan namun sayang nasib kurang baik menghampirinya. Jo putus kuliah karena terkendala biaya. Meski pun dirinya kuliah sambil bekerja namun tetap saja tidak mencukupi, karena Jo juga tulang punggung keluarga.


Ibunya meninggal ketika dirinya masih di bangku SMP, Jo di asuh oleh ayahnya sendiri. Karena terpuruk kehilangan sang istri ayah Jo jadi pesakitan.


__ADS_2