
Kicau burung pagi mengusik pendengaran wanita cantik yang masih tidur di atas kasur. Dia adalah Maura, perlahan-lahan kelopak matanya terbuka. Matanya mengedip-mengedip lucu, berharap hari ini ia terbangun di kamar apartemennya. Namun sayang, ia terbangun di tempat yang masih sama dengan beberapa hari lalu. Di kamar mewah berfasilitas lengkap.
Sejenak Maura menghembuskan nafas panjang, pemberontakan yang ia lakukan beberapa hari ini tidak menghasilkan apa-apa. Dirinya masih terpenjara di villa mewah milik seseorang yang mengatakan mencintainya. Meski mewah tapi, tidak dilengkapi ponsel dan laptop. Rupanya penculiknya ini tahu kelebihan yang Maura miliki. Pria itu tak berlaku kasar hanya berusaha membujuknya agar makan dan minum.
Maura bergegas bangun dan membersihkan tubuhnya, sejauh ini pria yang menculiknya itu tak melakukan apa pun. Selain membujuknya untuk tinggal disini bersama laki-laki itu sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Usai mandi, Maura berdiri di balkon kamarnya. Memahami lingkungan sekitarnya, tak ada celah untuk melarikan diri. Meski tidak ada pengawal yang banyak tapi tetap saja peluang untuk pergi tidak ada dari sana. Villa tunggal terletak sedikit jauh di dalam Desa pinggiran kota.
"Apa kabar kamu sekarang? Apa kamu makan dengan benar ? apa kamu bisa tidur dengan baik ? Erik, aku merindukan mu. Aku ingin pulang, kamu pasti menunggu ku. Kamu pasti mencari ku sekarang. Kamu pasti panik dan cemas. Aku disini Erik, di tempat yang tidak kamu tahu..." Maura melorot di lantai bersandar di dinding sambil menangis pilu. Kerinduan pada Erik sangat menyiksanya. Terlebih bayangan Erik yang mencarinya tanpa lelah. Seolah Maura bisa melihat guratan itu di wajah kekasihnya.
Di kamar sebelah, seorang pria yang baru selesai mandi mendengar lamat-lamat suara tangis. Ia segera mengenakan pakaiannya lalu setengah berlari ke luar kamar.
Pintu kamar Maura diketuknya.
"Maura kamu sudah bangun, ijinkan aku masuk." Seru laki-laki itu di depan pintu. "Maura buka pintunya, jangan membuat ku takut. "Teriaknya sedikit keras.
Hening. Tidak ada sahutan dari dalam. Pria ini masuk ke kamarnya kembali lalu keluar di balkon kamarnya. Ia menoleh ke samping disinilah telinganya dengan jelas mendengar suara tangis wanita. Rupanya angin menerbangkan suara tangis Maura melalui balkon kamarnya, tapi ia salah jalan langsung keluar mengetuk dari depan kamar.
"Maura..." lirihnya sedih. "Jangan menangis, jangan takut. Aku disini sayang..." Laki-laki itu bicara sangat lembut.
"Pergi ! menjauhlah ! Aku ingin pulang ! Antarkan aku pulang." Maura semakin menangis ketakutan.
Pria itu panik, tanpa pikir panjang lagi ia keluar dari kamarnya kemudian mencari kunci cadangan kamar Maura. Setelah menemukannya ia menghampiri Maura di balkon.
"Maura... Aku mohon jangan menangis." Ia berusaha mendekat pada Maura. "Aku tidak akan menyakiti mu, percayalah padaku. Aku mencintai mu." Terdengar pita suara laki-laki itu bergetar. Seolah ada bongkahan beban yang ia simpan.
__ADS_1
Maura menoleh sambil mengusap air matanya sendiri. Ia dapat melihat netra laki-laki itu memerah, ada guratan kesedihan di wajahnya. Melihat kegigihan laki-laki ini dalam meyakininya beberapa hari ini, hati Maura sedikit ter-cubit untuk berdamai dengannya.
Maura menghembus nafas panjang agar tangisnya mereda. Kemudian ia membenarkan posisi duduknya. "Katakan ! Bagaimana, cara mu bisa keluar dari penjara ?" Terdengar suaranya sedikit tenang.
Laki-laki itu duduk di samping Maura, dan berkata. "Aku meminta bantuan seseorang yang merasa berhutang budi padaku, untuk menjamin kebebasan ku dan merahasiakannya dari tuan Zev." Laki-laki itu menunduk melihat bekas tembakan ditelapak tangannya. "Aku nekat melakukannya karena aku ingin menemui mu. Saat pertemuan kita pertama kali aku jatuh cinta pada mu, aku selalu mengikuti aktivitas mu diam-diam. Tapi karena ambisi yang kumiliki semua rasa itu aku abaikan, bahkan nekat untuk menembak mu waktu itu." Laki-laki itu tertunduk menyesal. "Aku menyesal melakukannya, keseharian ku hanya dipenuhi rasa sesal yang dalam."
Maura menoleh kesamping dan melihat laki-laki itu tertunduk dan berkata. "Aryan, terimakasih untuk perasaan mu itu. Tapi aku sudah menyerahkan hatiku pada seseorang yang akan jadi suamiku."
Laki-laki itu adalah Aryan, yang meminta bantuan seseorang untuk membantunya keluar dari penjara serta mengatur segalanya agar tidak terlihat oleh Zevin dan Erik.
"Erik !" Ucap Aryan tersenyum sangat tipis. "Aku tahu dia sudah melamar mu." Aryan menoleh pada Maura sambil tersenyum menutup sejuta luka di hatinya, menutup fakta jika ia terluka tidak dapat memiliki wanita cantik ini.
"Jika kamu sudah tahu, kenapa kamu melakukan ini ?" Maura marah atas tindakan Aryan.
"Melihat mu cantik di malam itu, membuat ku sadar. Jika mahkluk bernama wanita itu harus disayang bukan diperjual -belikan. Suatu hari nanti aku pasti menebus dosa ku itu." Ada nada getir dalam suara Aryan. "Ayo sarapan, aku sudah memberitahu Erik jika kamu sehat dan baik-baik saja. Jadi buktikan padanya jika kamu benar-benar sehat." Aryan terluka dengan perkataannya sendiri menyemangati wanita yang tak mungkin dimiliki hatinya.
...----------------...
Erik mengamuk di dalam ruangannya sendiri setelah mendapat kabar jika Aryan bebas dan ada seseorang yang membantunya. Pria ini tak merasakan lagi, cucuran darah di buku jarinya karena meninju meja di hadapannya.
Erik sangat marah, belum lagi urusan penculik kekasihnya yang belum ia temui identitasnya. Laporan dari anak buahnya, Aryan sedang berada di luar negeri bersama orang yang membantunya.
Zevin mengepalkan tangannya, melihat kondisi Erik yang berantakan. Haruskah ? dirinya bertindak sekarang.
Merasa tenang Erik meminta Zevin mengobati tangannya, kini pria itu ada di dalam ruangan direktur. Erik duduk dengan tatapan kosong, sementara Zevin membalut luka Erik dengan perban.
__ADS_1
"Selesai !" Zevin membereskan peralatannya.
Erik melihat tangannya yang terperban, kemudian menghadap pada Zevin. "Kak, apa kakak sepemikiran dengan ku ? Hilangnya Maura setelah satu minggu Aryan bebas. Apa ini ada kaitannya dengan itu?"
"Maksud mu dia balas dendam?" Zevin kembali duduk di sofa. Dibalas anggukan Erik. "Dia tidak memiliki cukup keberanian untuk melawan kita, karena mereka sudah hancur sampai ke akarnya. Yang jadi pertanyaan ku siapa orang yang membantunya?"
Erik menghembus nafas kasar. "Benar, juga. Sepertinya kita harus mencari tahu siapa orang itu. Kemudian mencari keberadaan Aryan. Jika mereka tidak terlibat dalam penculikan ini. Itu tandanya ada orang lain lagi." Paparnya serius.
Zevin tersenyum. "Bagus ! Aku suka kamu semangat seperti ini. Mengenai surat itu, aku yakin itu benar. Maura baik-baik saja."
...----------------...
Di tempat lain...
Maura dan Aryan selesai sarapan, mereka duduk di halaman belakang sambil memberi makan ikan di dalam kolam.
"Kapan kamu akan mengantarkan ku pulang ? Semua orang pasti mencari ku." Seru Maura setelah keheningan sempat menyela.
Tangan Aryan terhenti menghamburkan makanan ikan ke dalam kolam. "Aku pasti mengantarkan mu pulang, tapi tidak sekarang. Aku ingin bersama mu hanya sebentar saja. Tinggallah sebentar saja...aku mohon..." Aryan tersenyum tapi ada pancaran sedih di netra nya serta tatapan penuh harap.
"Ada syaratnya !" Tutur Maura terlihat serius. Entahlah melihat tatapan Aryan ada rasa iba di hatinya. Maura harus bermain halus agar bisa keluar dari tempat itu.
Aryan menoleh lagi pada Maura. "Apa ? " Tanyanya juga serius.
"Kamu harus mengabari Erik tentang keadaan ku setiap dua hari sekali. Agar dia tidak terlalu khawatir. " Papar Maura.
__ADS_1
"Baiklah aku siap." Aryan tersenyum tipis meyakinkan. Netra indah wanita cantik ini sangat membuatnya jatuh cinta. Betapa beruntungnya Erik bisa mendapatkan cinta sebesar ini dari Maura.