Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Kecewa nya Maura


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Della semakin dekat dengan Erik namun kedekatan mereka terasa hambar. Meski saling memberikan perhatian namun seakan tak membekas, sampai detik ini mereka masih belum bisa menelaah dari perasaan mereka masing-masing.


Selama satu bulan ini juga, Erik merasakan jika diantara mereka Maura yang jarang ikut berkumpul. Berbagai alasan ia berikan jika salah satu dari mereka mengajak berkumpul. Bahkan sampai hari ini juga Erik belum bisa memecahkan pemilik makanan yang pernah ia makan di rumah sakit saat menunggu Della di ruangannya.


Erik bertanya-tanya siapa sebenarnya pemilik resep makanan itu, Maura atau Della. Berulang kali Erik mengajak Maura agar mau memasak lagi namun wanita itu menolaknya secara halus. Hingga Erik kesusahan mengambil kesimpulan. Pernah ia meminta Della memasak makanan yang sama, tapi sangat mengejutkan hasilnya tidak sama. Erik jadi bertanya jika dulu Della sering memberikannya makanan, kenapa rasanya berbeda ? Dengan masakan Della yang sekarang. Dan kenapa masakan itu sama dengan masakan yang Maura bawa satu bulan lalu untuk sarapan dirinya dan Della di rumah sakit.


...----------------...


Hari ini Zevin akan berkunjung ke kantor Jewelry Corporation. Sudah lama suami Nazia ini tidak berkunjung ke sana. Ia pun juga mendengar dari Erik tentang Aryan yang ingin sekali bertemu dengan para perancangnya.


Semua staf kantor keluar dari ruangannya masing-masing untuk menyapa dan menyambut Owner mereka itu. Di sana Dias berdiri bersama Jo dan Maura di sisi meja resepsionis.


"Selamat pagi semuanya." Sapa Zevin ramah. Ia datang bersama Erik seperti biasanya.


"Selamat pagi tuan, selamat datang."


"Terimakasih, kalian bisa kembali bekerja." Zevin mempersilahkan para staf kantor kembali bekerja. Ia tidak mau mereka kelelahan berdiri hanya untuk menontonnya bicara.


"Selamat pagi, Tuan. Anda mau berkeliling dulu atau langsung ke ruangan ?" Tanya Dias. Meski pun sebagai CEO, tapi ia tetap hormat pada pemilik tempatnya bekerja.


"Ke ruangan mu dulu, nanti berkeliling langsung perjalanan pulang. Halo Maura apa kabar?" Jawab Zevin sekaligus menyapa mantan resepsionisnya itu.


"Kabar saya baik, Tuan ! Bagaimana kabar anda sendiri?" Balas tanya Maura. Ia juga mengimbangi langkah Zevin menuju Lift untuk naik ke lantai atas.


"Kabar saya baik, sepertinya kamu betah disini." Tutur Zevin melirik pada Maura sejenak.


Maura tersenyum. " Sangat betah Tuan." Balasnya menekan angka lantai yang mereka tuju.


"Tentu betah, CEO dan asistennya tampan seperti ini. Benarkan Erik?" Zevin tersenyum lalu melemparkan tatapannya pada Erik.


"Be—benar Tuan." Erik tiba-tiba gugup. Terlebih berdiri di samping Maura. Aroma parfum wanita itu sangat memabukkan di indra penciuman.

__ADS_1


"Tuan, saya belum berterima kasih secara langsung. Karena anda memberikan saya fasilitas tak terduga seperti mobil dan apartemen." Seru Jo. Ia mengingat apa saja yang diberikan Zevin padanya pada awal bekerja.


"Itu bagian dari manajemen kantor." Papar Zevin. "Manfaatkan dengan baik." Ucapnya kembali dan tersenyum pada Jo.


Lift berhenti dan terbuka, mereka semua keluar dari sana langsung menuju ruangan Dias. Di dalam ruangan CEO itu, Zevin memeriksa beberapa dokumen penting dan tentang kemajuan usahanya itu. Ia bangga pada Dias yang memiliki kemampuan setara dengan ayahnya pak Ali.


"Semua baik-baik saja. Terimakasih sudah menjalankan semua dengan aman dan baik selama ini." Ucap Zevin tulus pada Dias.


"Sama-sama Tuan, saya juga sangat berterimakasih karena anda memberikan kepercayaan besar pada saya untuk menjadi CEO disini." Tutur Dias apa adanya.


Maura keluar sebentar mengambil air mineral yang masih di dalam dus di pantri, karena di kulkas Dias habis persediaannya. Maura sangat hafal jika Owner mereka ini tidak akan meminum minuman yang tidak di awasi langsung oleh Erik.


Sepeninggalan Maura keluar Dias memberanikan diri untuk bertanya pada Zevin. " Tuan, saya mau bertanya. Apa anda mengirim sebuah motor pada Maura sebagai inventaris?" Tanyanya karena merasa janggal di sini.


Zevin mengernyitkan alisnya tanda tak mengerti atas pertanyaan Dias. "Saya tidak mengirimkan apa pun. Kalau untuk Jo itu memang dari perusahaan." Jelasnya masih belum mengerti.


Dias dan Jo  tersentak atas jawab Zevin. " Lalu siapa yang memberikan motor itu ?" Dias seolah berpikir.


"Motor itu aku yang mengirimnya." Seru Erik memecahkan kebingungan tiga laki-laki ini.


"Bisa jadi seperti itu Tuan." Ujar Dias ikut berhenti membicarakan motor itu. Karena pintu terketuk dari luar.


"Masuk" serunya lagi.


Maura datang membawa beberapa botol air mineral yang masih tersegel. Suasana jadi hening. Semua mata mengarah padanya. Erik tiba-tiba tegang dan gugup, matanya menatap lekat pada Maura yang meletakan botol minuman itu di atas meja.


"Silahkan di minum tuan, jika tidak ada yang dibahas lagi tentang kantor saya pamit keluar." Ujar Maura pada Zevin.


"Terimakasih. Tidak ada lagi pembahasan, silahkan bekerja kembali." Zevin membalas perkataan Maura.


Sebelum melangkah keluar, tatapan Maura layangkan pada Erik. Dari sorot matanya nampak dingin dan penuh kecewa. Erik mendesah pelan menatap punggung Maura yang hampir tertutup daun pintu. Ia mengusap wajahnya kasar.


Zevin membuka tutup botol lalu menenggaknya hingga tersisa setengahnya." Ayo  kita berkeliling sebentar, baru kembali ke kantor." Ujarnya melirik jam di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Iya." Jawab Erik lemah. Dirinya sangat tidak bersemangat, Zevin bisa melihat hal itu. Mereka berdua melihat sekeliling kantor didampingi Dias dan Jo.


...----------------...


Kilas Balik


Beberapa menit sebelum masuk ke ruangan Dias...


Maura datang membawa beberapa botol air minum. Ia mengetuk pelan daun pintu karena tak sopan rasanya jika mengetuk keras sekali karena ada Zevin di dalam sana. Posisi sofa yang agak jauh dari pintu membuat ketukan Maura tak terdengar di tambah lagi Dias dan yang lain fokus berbincang.


Maura menekan gagang pintu, tangannya terhenti ketika orang-orang di dalam sana membahas tentang motor dan menyebut namanya. Maura menahan diri untuk masuk dan sengaja menguping pembicaraan mereka hingga sampai pada mendengarkan pengakuan Erik.


Maura mengepalkan tangannya. Sampai disini ia paham, mendengar nada keraguan dalam bicara Zevin untuk menyudahi pembicaraan itu. Pertanda jika Owner mereka ini tidak mengetahui apa-apa. Maura menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk mengusir rasa kesalnya. Kaki Maura mundur sedikit dan mengulang mengetuk pintu agak keras.


Kilas Balik Selesai


...----------------...


Di ruangannya Maura kembali marah, mengingat percakapan empat pria di dalam ruangan CEO. Erik telah lancang ikut campur dalam kehidupannya. Maura bukan tipe wanita yang suka dikasihani cukup menjalani hidup yang tenang sudah baik untuknya.


Maura menatap nanar kunci motor yang ia berikan gantungan boneka sebagai bandulan kuncinya. Bibirnya tersenyum tipis namun penuh makna. Kesal dan sedih membaur menjadi satu membentuk sebuah rasa yang susah Maura jabarkan.


Jadi motor ini kamu beli pribadi Erik ! Kamu tahu betapa senangnya aku jika ini benar-benar dari kantor. Tapi hari ini rasa senang itu lenyap begitu saja. Apa tujuan mu memberi ku motor ini ? Karena kasihan ? Jika itu alasan mu, aku tidak butuh. Aku masih sanggup membayar taksi dari pada menerima sesuatu dengan gratis yang aku tak mengerti.


Maura meremas kunci motor itu hingga tangannya kemerahan.


Maura meraih ponselnya dan menekan nama Della di sana. "Della..." Panggilnya setelah telpon terjawab.


"Iya ada apa Maura?" Tanya Della di seberang sana, nampaknya wanita itu tengah sibuk terdengar dari nada suaranya.


"Maaf mengganggu mu, aku hanya bertanya apa nanti kamu makan siang bersama Erik?" Tanya Maura hati-hati. Ia sangat menjaga perasaan Della. Tak ingin ada kesalahpahaman disini.


"Iya, kamu mau ikut?" Tawar Della senang. Tangannya melepaskan  pena sejenak mendengarkan kelanjutan dari Maura

__ADS_1


"Jika boleh, aku mau ikut. Ada hal yang ingin aku bahas pada Erik, jadi aku minta ijin pada mu dulu." Maura mengatakan niatnya secara perlahan.


"Tentu, kenapa harus minta ijin. Nanti turunlah ke bawah aku menunggu mu." Della mematikan telpon. Sekali lagi ia tertampar dengan perkataan Maura. Nampak sekali jika sahabatnya itu menjaga perasaannya.


__ADS_2