
Dua Minggu kemudian...
Pencarian Erik sedikit menemukan titik terang, pertemuan mereka dengan Wildan beberapa hari lalu memberikan keterangan jika, dirinya hanya membantu Arya keluar dari penjara saja. Namun Wildan juga sedikit menyesal karena ketidak tahuannya tentang dalang terpenjaranya Aryan. Wildan hanya semata-mata membantu karena dulu Aryan pernah membantunya.
Jika bertanya dimana posisi Aryan. Maka jawabannya Wildan tidak tahu. Dengan sedikit koneksinya, Wildan bisa membantu Aryan saat masih di dalam penjara.
"Sekarang kita hanya tinggal mencari keberadaan Aryan, aku curiga dia terlibat dalam penculikan ini. Karena tak mungkin dirinya tidak menyimpan dendam pada kita yang menghentikan bisnis gelapnya, serta menjebloskannya ke penjara." Seru Erik. Saat ini ia makan siang bersama Jo dan Dias.
"Kamu benar, aku yakin penculik ini dan Aryan pasti saling mengenal." Seru Jo memperkuat pendapat Erik.
"Bagaimana caranya, Aryan meminta bantuan Wildan, sementara dirinya di dalam penjara. Dan Wildan ketika itu juga di luar negeri." Papar Dias heran.
Erik menghabiskan sisa minumannya di gelas. "Aryan dikunjungi teman-temannya. Saat itulah dia minta bantuan untuk mengabari Wildan agar datang menemuinya." Jelas Erik. Dias dan Jo mengangguk paham.
__ADS_1
Erik tidak melanjutkan pergi ke kantor, dia langsung pulang ke apartemen Maura. Beberapa hari ini tidak ada lagi titipan surat untuknya. Erik semakin cemas, kemana orang yang mengirim surat itu ? Sudah tiga hari ini, Erik tidak tahu kabar Maura. Perasaannya mulai kalut seperti dua Minggu lalu ketika hari pertama Maura diculik.
Erik sengaja menunggu di dalam unit Maura berharap ada kabar dan datangnya surat yang sama. Erik memilih bekerja sambil menunggu laporan dari orang-orangnya.
Erik duduk di ruang tengah sambil bekerja tanpa terasa, ia sudah menghabiskan waktu setengah hari duduk disana. Bahkan Erik sudah menghabiskan satu botol air besar. Pria ini meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, sebelum pergi membersihkan diri.
...----------------...
Villa...
"Nona makan malam sudah siap." Asisten rumah tangga yang bernama Dina memberitahukan Maura.
"Baiklah, terimakasih. " Maura mengikuti langkah wanita paru baya ini ke dapur. Sampai disana ia belum juga melihat Aryan.
__ADS_1
Selesai mandi tadi, Maura langsung mencari keberadaan Aryan. Namun tidak ditemukannya. Dua minggu tinggal bersama pria itu, membuat Maura paham. Selama ini pria itu kesepian.
"Nona terimakasih, sudah menemani tuan Aryan selama dua minggu ini." Ucap ibu Dina tulus.
"Iya, Bu. Saya yakin Aryan pria baik." Papar Maura lembut dan mengambil makanannya.
"Tuan Aryan tidak pernah jatuh cinta, cinta pertamanya anda Nona. Terimakasih karena bersikap baik padanya selama disini." Ungkap. Wanita itu lagi.
Maura tercengang, wanita di hadapannya ini sangat tahu tentang Aryan. "Saya tidak melakukan hal banyak, Bu. Berhentilah berterimakasih." Ujarnya tak enak hati.
Wanita tua ini tersenyum. "Tuan Aryan pemuda yang baik, tapi kebaikan itu sirna saat dirinya terluka begitu dalam. Saat Tuan Aryan kecil dia sudah kehilangan ibu kandungnya, tuan besar menikah lagi dan memiliki putra bersama ibu tirinya. Namun sayangnya, putra mereka mengidap penyakit serius hingga membutuhkan seorang pendonor. Hampir satu tahun pendonor tidak ada hingga tuan mulai putus asa. Tuan besar bisa saja jadi pendonor untuk putranya tapi, keadaannya yang tidak terlalu baik. Begitu pun juga dengan Nyonya dia tidak memiliki kecocokan. Tuan besar mengalami stres berat, disaat perjalan bisnis beliau jatuh sakit dan meninggal dunia. Tuan Aryan di titipkan ke panti asuhan karena sejak awal Nyonya tidak menyukai keberadaannya. Keadaan putra kedua semakin memburuk, Nyonya kembali menemui tuan Aryan dan mengajaknya ke rumah sakit, setelah menyelesaikan tes Tuan Aryan dan adiknya ada kecocokan, Nyonya meminta tuan Aryan sebagai pendonor. Tapi tuan Aryan yang sudah remaja menolak hal itu. Dengan kekuatan uang yang dimiliki Nyonya, mereka memaksa tuan Aryan. Namun nasib baik menghampirinya, ada laki-laki paru baya yang membantu tuan Arya untuk pergi dari rumah sakit. Karena orang itu baru saja kehilangan putranya dan menyaksikan apa yang dilakukan oleh Nyonya. Lambat laut kepribadian tuan Aryan berubah, ia sangat membenci ibu tirinya itu. Dia juga membenci wanita
Berpikir wanita itu sama, tanpa sadar tuan Aryan sudah terlibat jual - beli wanita." Wanita paru baya ini mengusap air matanya setelah menyelesaikan ceritanya
__ADS_1
Maura pun ikut menangis, dibalik kejahatan Aryan ada kisah kelam yang memicunya. "Di mana Aryan ? Beberapa hari ini saya tidak melihatnya."
"Ikut saya Nona." Ibu Dina menuntun tangan Maura.