
Erik masih saja diposisinya, dunianya benar-benar kusut saat ini. Ralda dan Alby yang baru mendapat kabar dari Nazia segera pergi ke rumah Zevin. Ralda tahu jika adiknya itu sedang bersedih.
Ketukan pintu membangunkan Erik dari dunianya yang runtuh, Ia segera berdiri mengusap pipinya yang basah. Erik tidak mau ada yang melihat keterpurukannya saat ini.
"Kakak..." Lirih Erik membuka daun pintu agak lebar. Ia mempersilahkan kakaknya masuk ke dalam kamarnya.
"Bagaimana keadaan mu ?" Ralda duduk di tepi kasur. Ia menatap sedih adik laki-lakinya itu, matanya jeli melihat bulu mata adiknya yang basah itu artinya Erik menangis.
"Aku tidak baik-baik saja, Kak." Erik merebahkan kepalanya di pangkuan Ralda. "Dia hilang, Maura pasti takut sekarang. Apa dia sehat ? Apa dia sudah makan? Apa penculik itu memperlakukannya dengan baik? Aku takut...sangat takut ! Aku sesak kak..." Erik meluapkan perasaan yang sejak tadi ditahannya. Suara pria ini terdengar serak dan lemah.
Ralda menitikkan air matanya, hari ini ia melihat lagi bagaimana keterpurukan adiknya. Pangkuan ini pula tempatnya bersandar untuk meluapkan perasaannya. Ya, Erik rapuh, sangat rapuh. "Maura akan baik-baik saja, yakinlah ! Jangan patah semangat kamu harus mencarinya lagi. Kakak yakin Maura masih di kota ini." Ucapnya memberikan semangat.
Erik tak menjawab dan juga tidak ada pergerakan. Ralda mengerti rupanya pria dingin ini tertidur. Usapan hangat dari tangan kakaknya membuat Erik merasakan kehangatan ibunya kembali. Rasa lelah disekujur tubuh dan hatinya mengantarkan Erik hingga terlelap. Ralda pun jadi memahami jika adiknya ini benar-benar mencintai kekasihnya itu. Kerapuhan ini, Ralda bisa melihatnya dengan jelas. Dan ini kerapuhan kedua yang Erik alami setelah kehilangan kedua orang tua mereka.
Cukup lama Erik tertidur dengan posisi masih berbantal pada pangkuan Ralda. Hingga istri Alby ini merasa kebas, ia perlahan meraih bantal agar Erik lebih nyaman untuk tidur, namun pergerakannya itu malah membuat Erik terbangun.
"Maaf Kak, aku ketiduran pasti kaki kakak kebas. Luruskan dulu di atas kasur." Erik bergegas duduk dan membantu meluruskan kaki kakaknya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kamu butuh istirahat untuk mengumpulkan tenaga. Maaf juga karena kamu terbangun tadi kakak ingin mengambil bantal agar kamu merasa nyaman saat tidur." Papar Ralda sambil memijit pahanya.
"Aku sudah merasa lebih baik, sudah jam sembilan aku mandi dulu kak." Erik meraih handuk dan masuk ke kamar mandi.
"Mandi air hangat biar tidak masuk angin." Seru Ralda sedikit berteriak.
...----------------...
Selesai mandi, Erik keluar dari kamarnya, sampai di bawah dia tidak mendapati kakaknya lagi. Tapi disana masih ada Zevin dan Nazia.
"Iya Kak, tadi aku ketiduran." Papar Erik mengikuti langkah Nazia.
Zevin juga berdiri mengikuti Erik dan istrinya. Ia merasa lega karena Erik masih mau makan. "Ralda sudah pulang, putranya mengantuk. Alby juga mengerahkan orang-orang andalannya untuk membantu mencari Maura." Tuturnya sambil menuang air putih ke dalam gelas.
"Iya Kak, Setelah makan aku keluar lagi." Erik menoleh sebentar lalu mulai makan.
"Aku ikut dengan mu." Zevin naik ke kamar mengambil jaket dan dompetnya.
__ADS_1
Di ruang makan, Erik menatap Nazia seolah bertanya bagaimana ini ? Istri Zevin itu mengangguk. "Biarkan dia ikut." Ucapnya lembut.
Sesuai rencana, Erik dan Zevin berangkat mencari Maura kembali. Mereka mengumpulkan orang-orang yang Erik utus untuk mencari kekasihnya itu. Disalah satu tempat mereka berkumpul. Satu persatu mereka menyampaikan laporan. Namun hasilnya nihil, belum ada titik terangnya.
Erik dan Zevin masih berkendara menyusuri jalanan, mereka juga singgah di jalan yang terdapat kamera CCTV nya, kemudian mengunjungi kantor pengawasnya untuk mencari tahu. Meski sudah malam tapi mereka masih berharap ada berita baik.
Waktu begitu cepat berputar hingga tanpa terasa sudah menunjuk jam tiga malam, sebentar lagi subuh. Erik tidak tega pada Zevin, meski pria itu mengatakan tidak mengantuk. Tapi raut lelah di wajahnya tidak bisa tertutupi. Erik memutuskan untuk pulang saja saat ini dan berharap ini hanya mimpi. Mimpi buruk yang terjadi saat matanya terbuka. Erik berharap esok Maura akan datang menemuinya.
"Kak, kita pulang ya aku lelah." Erik beralasan. Padahal dirinya tidak merasakan lelah karena tadi sempat tidur dan istirahat.
"Kamu yakin ? Sebentar lagi pagi." Zevin melihat jam di pergelangan tangannya.
"Iya, besok kita juga bekerja. Biar sambil bekerja aku akan mencari keberadaan Maura. Sepertinya lawan kita cukup pintar." Tutur Erik melirik sebentar ke kaca spionnya karena akan berbelok.
"Iya kamu benar, karena ini masalah serius maka aku akan mengerahkan tim keamanan Jaya Group untuk bergerak. Jika tiba di rumah, bangunkan aku. Hati-hati menyetir !" Zevin mengatur sandaran kursinya agar lebih nyaman, tak lama pria ini tertidur. Seperti inilah Zevin harus kuat demi Erik agar tidak merasa sendiri.
Erik tersenyum tipis. "Istirahatlah, Kak ! Aku tahu kakak lelah." Ucapnya melirik Zevin yang mulai berpetualang ke alam mimpi. Erik menginjak pedal gas di atas rata-rata karena kondisi jalanan yang sepi.
__ADS_1