
Deburan ombak menyapu bersih cetakkan telapak kaki di atas pasir. Hembusan angin sore terasa sangat kencang. Teriak anak-anak yang diterpa gelombang di bibir pantai meramaikan sore ini.
Meski bukan hari libur, tapi tak salahnya menyenangkan diri di tempat ini. Suasananya cukup tenang dan mendamaikan jiwa. Burung-burung meramaikan pemandangan di atas, mereka terbang searah angin berhembus.
Jauh mata memandang tak ada batasan di penghujung laut, tak ada batasan mata menerobos keindahan langit sore. Menyusuri tepi seberang sana dengan mata biasa namun tak kunjung bertemu. Setengah jam lalu Della dan Maura sudah berada di pantai ini.
Masih mengenakan pakaian kerja mereka berdua menyusuri pinggiran pantai, membiarkan air asin itu menyapa kulit putih kaki mereka. Dan merasakan belaian angin di wajah dan rambut yang terurai. Maura sengaja melepaskan ikat rambutnya untuk mengurang tegangnya kulit kepala karena rambut terikat.
Hal sama dilakukan Della, meski rambutnya sebahu tapi ia tetap mengikat rapi rambutnya ketika pergi ke kantor. Celana kain yang mereka kenakan digulung setinggi lutut. Della sengaja mengajak Maura datang ke tempat ini selain menghibur sahabatnya itu, ia juga berniat meneruskan permintaan maafnya.
Della menghela nafas panjang, meski bertahun lamanya. Namun ia tetap ingin membersihkan arti dari persahabatan dirinya dan Maura.
"Maura..." Ucapnya melirik sejenak ke samping, ia seakan ragu memulai berbicara. Namun kembali lagi Della ingin seperti bintang di langit malam itu, bersinar cantik dan banyak teman.
"Iya, ada apa ?" Maura juga menoleh pada Della. Ia dapat melihat rasa gugup dari temannya itu, terbukti Della tak berani menatapnya secara langsung.
Della meremas jari-jarinya yang bertautan. "Aku... Aku mau minta maaf." Ucapnya gugup. Tapi rasa lega itu bersamaan masuk ke dalam hatinya.
Maura menghentikan langkahnya lalu berpaling menghadap laut. "Minta maaf, kenapa ?" Tanyanya sembari menatap lautan lepas. Menarik oksigen sebanyak-banyaknya.
Della juga mengubah posisinya berdiri di samping Maura menghadap ke laut dan berkata. "Aku minta maaf atas sikap ku beberapa tahun lalu, aku egois karena mengkhianati persahabatan kita dengan mencintai pria yang sama." Kalimat permintaan maaf itu begitu lancar keluar dari bibirnya seiring hembusan angin dari laut meniupkan keberanian padanya.
Maura tersenyum tipis, tak menyangka jika Della membahas ini. "Itu bukan kesalahan, wajar saja kamu memiliki perasaan pada Erik, karena setiap waktu kamu bersamanya. Otomatis perasaan ingin memiliki pasti ada. Erik juga bukan milikku yang kamu rampas, dia juga tidak mengenal ku waktu itu. Jadi tidak ada yang namanya pengkhianatan." Tuturnya lembut. Ya apa yang di sampaikan Maura benar ada.
__ADS_1
Della tersenyum pahit, betapa lembutnya hati Maura jika orang lain. Mungkin, Della sudah jadi sasaran empuk wanita pemilik hati seputih salju itu. Jika bicara tentang kecewa pasti Maura merasakannya, tapi ia bisa menyadari antara dirinya dan Erik kala itu tak memiliki hubungan apa pun, bahkan tidak saling mengenal dan Della tidak bersalah tentang perasaannya.
"Bagaimana dengan perasaan mu sekarang ?" Tanya Della setelah mampu menguasai perasaan harunya. Kenapa rasa sakit itu nyata rasanya setelah mendengarkan penuturan Maura beberapa menit lalu ? Hati Della ter-cubit untuk sadar ada kesalahan fatal yang ia tak bisa mengungkapkannya.
Maura tersenyum sambil memejamkan mata, memastikan jika sumber nyawa di dada kirinya tak lagi berdebar ketika nama pria dingin itu disebutkan." Perasaan di hatiku telah memudar... Rupanya segumpal daging lembut di tubuhku ini sudah menemukan lelahnya..." Jawab Maura Yakin di iringi tawa pelan.
Della tersentak, tak mengira jika Maura mampu mengenyahkan rasa cintanya pada Erik. "Kenapa tidak berjuang ?" Lirihnya sendu. Semakin dalam perbincangan mereka maka Della semakin merasakan arti dari sebuah kejujuran.
"Ada cerita yang terlewati oleh mu." Tutur Maura menoleh sebentar pada Della. "Aku pernah menyampaikan perasaan ku padanya. Namun, aku di tolak." Tawanya Miris.
Della semakin terkejut dan berkata."Erik menolak mu ?! Kenapa ?"
"Karena dia tidak menyukai ku, Erik tak memiliki rasa padaku meski pun. Kami sudah saling kenal di Jaya Group. Dulu aku sering mengiriminya hadiah seperti dulu." Cerita Maura di iringi senyum mengenang masa di Jaya Group sebagai resepsionis. " Aku kira dia menyukainya, ternyata aku salah. Dia sangat terusik dengan semua itu." Tawanya getir. "Mungkin cara ku salah. Tapi setelahnya aku tahu tidak ada cela yang bisa ku masuki di hatinya." Sambung Maura lagi.
Perasaan Della rasa diaduk-aduk mendengar cerita dari Maura. "Jadi dia menolak mu ?" Tanyanya pelan dan juga sesak.
Sejenak keheningan menyela keduanya, jauh di atas sana awan mulai kekuningan pertanda senja akan tiba. Matahari juga nampak kemerahan siap pulang ke peraduannya. Cukup hari ini memberikan penerangan pada penduduk bumi.
Gelombang laut juga nampak beraturan dan cantik tertimpa sinar matahari yang perlahan meredup, pantulan cahaya langit senja berayun-ayun di air kian memukau. Itulah sebabnya sebagian orang ingin menghabiskan waktu di tempat seperti ini. Warna - warni cakrawala sangat memanjakan mata. Sungguh lukisan alami yang dinikmati secara nyata.
"Bagaimana jika Erik tahu, kalau makanan dan segala bentuk hadiah dulu dari mu...?" Tanya Della setelah lama terdiam.
Maura merentangkan tangannya menghirup udara sebanyak-banyaknya dan berkata. "Biarkan dia tetap menganggapnya dari mu."
__ADS_1
"Aku kecewa pada kalian, jadi waktu itu Della mendekati ku hanya untuk jembatan Maura ? Agar pemberiannya sampai padaku ?!" Sahut Erik entah sejak kapan pria dingin itu berada tak jauh dari Della dan Maura. Pria ber-netra tajam ini melemparkan tatapan tidak bersahabat pada dua wanita itu.
"Erik ?!" Pekik Della terkejut. "Bukan begitu, aku akan jelaskan !" Ia melangkah menghampiri Erik. Namun pria dingin ini mundur satu langkah.
Jadi aku pernah mencintai orang yang tak tulus pada u
Erik tertawa palsu dan berkata. "Menjelaskan apa ?! Jadi segala bentuk perhatian mu padaku dulu palsu ?! Dan barang yang kamu berikan bukan pilihan mu tapi orang lain."
Perkataan Erik menghujam kembali perasaan Maura, Ya ! Mereka orang lain, mereka tidak saling mengenal. Mereka orang asing yang tidak pernah bertemu secara langsung.
"Aku salah, tidak jujur dari awal pada mu. Maafkan aku Erik... Maafkan aku..." Mohon Della menangis.
Erik melemparkan tatapan tajamnya pada Maura lalu berkata. "Aku tidak menyesal menolak mu dulu ! Ternyata kamu hanya memiliki kemampuan memanfaatkan orang lain. Kamu tahu karena kesalahan mu itu ! Aku menjadi salah paham dengan perhatian Della padaku. Ternyata dia mendekati ku atas permintaan mu ! Kemana kamu waktu itu ? Hah ! Kenapa memanfaatkan Della ?!
"Erik ! Tunggu ! Dengarkan penjelasan ku sebentar !" Teriak Della ingin menyusul Erik yang meninggalkan mereka berdua. Namun tangannya dicekal Maura.
"Biarkan dia dulu."
Erik pergi meninggalkan pantai, niat hati ingin ikut melepaskan penat disana malah mendengarkan pembicaraan Della dan Maura. Bahkan tanpa dia tahu cerita itu hanya didengarnya sepenggal saja. Sekarang Erik mendapatkan jawaban tentang makanan itu. Maura pemiliknya, beberapa barang yang pernah diterimanya dulu bukanlah dari Della melainkan Maura.
Erik terlanjur menaruh harap pada Della saat itu, hingga ia rela menyimpan perasaannya agar bisa memantapkan diri untuk wanita berambut pendek ini. Kini ia malah berpikir segala bentuk perhatian Della dulu hanyalah palsu.
"Ayo pulang sudah gelap." Ajak Maura setelah cukup tenang. Se-takut itukah Della jika Erik membencinya ? Itu pertanyaan muncul dibenak Maura.
__ADS_1
Mereka meninggalkan pantai dan kembali ke rumah. Della masih murung, sesekali air matanya masih menetas. Dia hanya takut Erik akan membencinya.
Maura juga termenung di dalam taksi, dirinya yang mencipta kesalahpahaman antara Erik dan Della. Kini sahabatnya itu bersedih karenanya. Taksi mereka tumpangi berhenti di depan rumah Maura. Mereka berdua keluar dari mobil dengan macam pikiran yang tak orang lain tahu.