
Bekerja seharian cukup membuat tubuh pegal dan lelah. Itu yang di rasakan semua pejuang rupiah, namun demi kelangsungan hidup agar lebih baik maka semua orang mengabaikan rasa lelah itu. Terkecuali memang benar-benar tak berdaya baru mengistirahatkan tubuh.
Dias baru saja menyelesaikan pekerjaannya bersama Jo. Mereka rekan yang baik sejauh ini. Kecerdasan Jo tak diragukan lagi, dia cepat memahami tugas yang diberikan Dias.
"Ayo kita ke rumahnya tuan, Zev." Ajak Dias merapikan jasnya sambil berdiri dari kursi kebesarannya. Beberapa menit lalu pria ini telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Iya, apa Maura ikut kita? Kasian dia jika jalan sendiri." Ujar Jo mengikuti langkah Dias keluar dari ruangan CEO. Ia melihat jam di pergelangan tangannya telah menunjukkan jam empat sore.
"Sebaiknya ikut kita, siapa tahu nanti kita pulangnya malam." Tutur Dias. Melangkah menuju ruangan Maura.
Disana Maura tengah bersiap untuk pergi ke rumah Zevin. Bersamaan itu juga Dias dan Jo melewati depan ruangannya."Kenapa masih di kantor, langsung saja ke rumahnya tuan Zevin." Seru Maura pada dua temannya itu.
Dias dan Jo berhenti di sana sembari menunggu Maura merapikan mejanya. "Ikut dengan kami saja, motor mu tinggal di sini." Papar Dias. Memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
"Baiklah, tadinya aku ingin pesan taksi karena jika naik motor ke sana akan lelah." Balas Maura setuju dengan usul Dias.
...----------------...
Di Kediaman Family Z
Erik dan Della sengaja ambil cuti hari ini, untuk mempersiapkan acara syukuran itu. Disana keluarga Della juga sudah datang, ini pertama kalinya mereka menginjakkan kaki di kediaman seorang Zevin Kavindra. Selama ini, ia tidak pernah menunjukkan alamatnya pada siapa pun. Karena permintaan Erik, Zevin menyetujuinya setelah dapat ijin dari Nyonya rumah.
Erik mengambil halaman belakang rumah itu untuk tempat acara dan halaman depannya khusus untuk tempat parkir kendaraan tamunya. Erik tidak mengundang orang banyak hanya staf kantornya dan Della yang dekat dengan mereka.
Zevin tak melarang Erik untuk mengadakan acara itu di rumahnya, terpenting mereka mengikuti aturannya tidak mengambil foto tanpa ijin di kediamannya, serta tidak mengambil foto anggota keluarganya. Zevin tidak ingin orang luar tahu tentang istana dan keluarga kecilnya itu.
Erik memesan makanan langsung dari resto milik Ivan dan Vian. Lengkap dengan pegawainya agar mudah dalam mengurus penyajiannya. Acara itu tidak besar hanya saja Erik tidak mau kekurangan apa pun dan membuatnya malu. Meski tamu undangannya hanya sedikit.
Erik dan Della duduk disalah satu kursi berbincang dengan tamu yang sudah datang. Ia sesekali melirik jam tangannya karena Dias belum juga datang. Erik melihat ke arah Zevin yang berkumpul bersama keluarga di sudut taman belakang. Mereka sengaja tidak terlalu berbaur dengan para tamu.
Zevin ingin Erik berlaku sebagai tuan rumah tanpa melibatkannya. Agar Erik memiliki kepercayaan diri, karena sejak semalam Erik gelisah tak karuan. Padahal tamunya hanya staf kantornya dan Della.
Dari samping garasi terlihat Dias, Jo dan Maura memasuki halaman belakang. Tamu sengaja di beri jalan samping agar tidak masuk melewati dalam rumah Zevin. Karena tanah pekarangan rumah Zevin luas, apa saja bisa diatur tanpa harus mengacaukan isi dalam rumah.
"Maaf kami terlambat." Ucap Dias bersalaman pada Erik dan Della. Bergantian dengan Jo. Tapi tidak dengan Maura, ia memilih menyapa Della dan mengabaikan Erik yang menatap padanya.
"Ayo langsung saja ambil makanannya." Erik membawa mereka ke tempat meja sajian. Pria dingin ini terlihat tampan sekali dengan raut wajah datarnya. Ia mengenakan pakaian santai serba panjang berbentuk kaos dan jeans semata kaki.
"Aku menyapa tuan Indra dan Tuan Zevin dulu. Di sana juga ada papa." Dias menoleh ke arah keluarga tuan Indra berkumpul. Di sana ada Pak Ali ayahnya ikut bergabung.
"Maura ayo makan dulu." Ajak Della. Maura mengangguk dan tersenyum. Della masih merasa canggung pada Maura, tampilan wanita berwajah manis ini mengenakan dress selutut warna senada dengan Erik. Pasangan cocok jika di sandingkan.
Jo tanpa basa - basi langsung mengambil makanan dan menunggu Maura sebentar. Mereka mengikuti langkah Della yang membawa mereka ke salah satu meja kosong. Erik sedari tadi diam lalu ikut bergabung. Usai menyapa ayahnya dan keluarga tuan Indra, Dias ikut bergabung bersama Erik dan yang lainnya.
"Jo, apa kamu mau mengantarkan Maura pulang nanti. Aku sepertinya pulang bersama papa. Untuk mobilku nanti ada sopir yang mengambilnya di kantor." Ujar Dias meletakkan piringnya di atas meja. Ia menoleh pada Jo menunggu jawaban dari asistennya itu.
__ADS_1
"Aku bisa naik taksi." Sanggah Maura lebih dulu. Ia tidak ingin merepotkan orang lain.
"Erik saja mengantar mu ya." Seru Della. Di balas anggukan Erik menyetujui permintaan Della.
Jo memperhatikan wajah Erik dan Dias kemudian bibirnya tersenyum tipis "Aku akan mengantar Maura." Putusnya kemudian melanjutkan makannya kembali.
"Baiklah. Jo mengantar ku." Sahut Maura tersenyum. Ia akan tetap memilih Jo atau naik taksi ketimbang diantar Erik.
Mereka berbincang sambil makan, begitu juga Della dan Maura sesekali mereka tertawa bersama. Tanpa terasa hari semakin menggelap. Maura menghampiri Nazia yang duduk bersama ibu Felisya dan ibu Mira. Tak enak rasanya tidak menyapa istri bosnya itu.
"Halo Nyonya, Zi." Sapa Maura tersenyum menyalami istri Zevin itu dan kedua ibunya.
"Hai Maura, apa kabar lama tidak bertemu?"Balas Nazia senang. Ia tak segan berdiri dan memeluk Maura. Nazia juga memperkenalkan Maura pada Ibu Felisya dan Ibu Mira.
"Kabar saya baik, Nyonya ! Saya mau pamit pulang sudah gelap." Maura duduk sebentar di kursi.
"Kamu sudah makan, Nak ?" Tanya ibu Mira lembut.
"Sudah Nyonya, kalau begitu saya akan pulang." Jawab Maura sembari berdiri.
"Hati-hati di jalan, terimakasih sudah datang." Seru ibu Felisya. Di balas senyuman manis dan anggukan dari Maura.
Maura melangkah menuju meja yang di tempati Dias dan yang lainnya. Langkahnya terhenti, netra Maura tertuju pada dua pria yang tanpa sadar duduk di sisi kiri dan kanan Della. Sungguh senang pikirnya Della dicintai dua pria baik seperti Dias dan Erik. Meski pun salah satu dari mereka harus mengalah.
Mengingat hal itu dan penolakan Erik dulu. Kini Maura mengerti cinta itu tumbuh di hati keduanya saat masih di bangku kuliah dulu. Maura memaki dirinya sendiri kenapa tidak menyadari hal ini ?
Ya, Maura menempatkan posisi Della dan Erik bisa menjadi satu. Jika cinta itu terpisah cukup lama, maka sekarang Maura ingin menyatukan cinta itu. Meski luka di hatinya semakin menganga lebar. Bukan dirinya sok baik memberikan kebahagiaan untuk Della dan pria yang dicintainya itu dengan mengorbankan perasaannya sendiri, tapi untuk apa memaksa bahagia jika pasangan hatinya tidak bisa menerimanya.
Maura menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, lalu melanjutkan langkahnya kembali setelah berdiri dari jauh sejenak seorang diri. "Jo, ayo pulang !" Ajaknya setelah sampai di meja teman-temannya.
"Ayo." Jo beranjak berdiri dari kursinya
Sejenak matanya memandang pada teman-temannya. " Kami pulang " pamitnya lagi.
"Hati-hati, Jo !" Ujar Dias. Ikut berdiri dari tempatnya duduk serta menyambut uluran tangan Jo.
"Pastikan Maura sampai di rumah." Seru Erik menatap pada Jo dan Maura bergantian.
"Tidak janji, setelah dari sini aku ingin mengajaknya kencan." Papar Jo santai. Kemudian tersenyum tipis pada Erik.
Erik memalingkan wajahnya. Tanpa menoleh lagi pada Maura dan Jo yang meninggalkan meja itu. Della yang tadi diam mengamati raut wajah Erik yang terlihat kesal, entah dia marah pada Jo atau pada Maura.
...----------------...
Di perjalanan Jo melajukan mobil dengan santai tidak buru-buru. Malam ini cuaca dingin namun tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Jauh di langit malam ada bulan sabit yang semakin melengkung lebar.
__ADS_1
"Langsung pulang atau mau ke suatu tempat ?" Tawar Jo. Dia menoleh sekilas pada Maura yang hanya diam saja.
Maura nampak berpikir sembari melihat jalanan yang mereka lewati. "Bisa makan pedas dan hangat" Ucapnya menoleh pada Jo yang tengah fokus menyetir.
"Ya, sebutkan tempatnya, cuaca mendukung sekali. Apa perlu kita melepaskan beban malam ini." Ujar Jo diselingi candaan. Pria ini ternyata bisa tersenyum genit pada wanita.
"Boleh ! "Maura tersenyum pada Jo. Ia berpikir Jo pria santai dan tidak kaku.
Mobil Jo berhenti disalah satu kedai, mereka memesan beberapa makanan untuk dinikmati mereka berdua.
"Apa kamu sering menghabiskan waktu di sini ?" Ujar Jo sembari mengunyah daging yang telah matang di panggangan.
"Ya, jika suasana hatiku sedang kurang baik." Jawab Maura sebelum menyeruput kuah di mangkuknya.
"Bibir mu merah seperti digigit tawon." Jo tertawa. Ia menunjuk bibir Maura yang merah.
"Ini pedas sekali." Maura menelungkup wajahnya di meja. Di posisi inilah orang tidak akan tahu air mata yang mengalir di pipinya. Apa karena kepedasan ? atau karena kesakitan ?
"Sudah tahu pedas kenapa mengajak ku kesini? " Lontar Jo menyesap minumannya di gelas. Ia pun tak bisa menebak merahnya mata Maura.
"Dengan begini aku akan merasa lebih baik." Ungkap Maura. Matanya berair dan memerah. Tetesan air matanya mengalir begitu saja saat Maura mengangkat wajahnya.
Setelah selesai makan dan membayar, Jo dan Maura meninggalkan tempat itu. Mencari udara segar di taman, mereka duduk di salah satu kursi taman itu. Nampak remang dan sepi. Mereka tak banyak bicara hanya menikmati belaian angin malam.
"Sudah jam sepuluh ayo ku antar pulang !" Ajak Jo. Setelah mereka menghabiskan minuman kalengnya.
Maura mengangguk lalu mengikuti langkah Jo menuju mobil.
Di perjalanan Maura kembali diam dengan tatapan kosong ke depan. Jo tidak tahu harus berbuat apa untuk menyenangkan hati temannya ini.
"Inikan alamat mu?" Tanya Jo setelah mereka tiba halaman rumah Maura.
"Iya, terimakasih untuk hari ini." Balas Maura tersenyum sebelum keluar dari mobil.
"Ya." Balas Jo sambil melirik pada Maura yang keluar dari mobil.
"Maura..." Panggilnya lagi. Ia membuka pintu jendela mobil dan mengeluarkan sedikit kepalanya.
" Iya." Sahut Maura berpaling menghadap ke arah Jo. Ia menghentikan langkahnya untuk masuk kedalam rumah.
"Besok aku jemput, motor mu ada di kantor." Tutur Jo. Ia tersenyum sebelum menutup kaca jendela kembali.
Maura menatap mobil Jo yang telah menjauh dari halaman rumahnya. Setelah tak terlihat lagi ia masuk ke dalam rumah, sebelum masuk ke kamarnya Maura membuka pintu kamar ibu Sila dan sedikit melihat keadaan ibunya sebelum diri masuk kamar.
Maura melangkah pelan dan membenarkan selimut ibu Sila, setelahnya langsung keluar. Setiba di kamar Maura menjatuhkan tubuhnya di atas kasur menerawang ke langit- langit kamarnya. Pikirannya melayang entah kemana hingga matanya terasa berat dan terlelap.
__ADS_1