Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Merawat Maura


__ADS_3

Pagi ini Maura bangun dengan rasa tubuh yang lelah. Sejak tadi malam, ia resmi pindah ke apartemennya. Tidak lagi menginap di rumah Zevin, karena pria dingin dan pemaksaan itu sudah dinyatakan sembuh oleh Zevin . Jadi dia tak punya alasan untuk menahan Maura tinggal disana lagi.


Pintu unitnya di ketuk.


Maura meregangkan ototnya, kemudian memaksakan dirinya bangun. Sungguh tubuhnya sangat lelah sekali dan susah di gerakkan. Dengan perlahan Maura menarik gagang pintu tanpa mengintip dulu di door viewer nya


"Erik..." Lirihnya lemas. Maura duduk di sofa menyandarkan tubuhnya disana. Ia memejamkan matanya menahan pusing di kepalanya.


Erik mengikuti langkah Maura untuk masuk. Rupanya pria dingin ini menginap di unitnya tadi malam. Bahkan sudah membawa beberapa barang keperluannya. Erik masuk menenteng beberapa plastik sayur, pagi-pagi ia sudah berbelanja.


"Kamu baru bangun ?" Erik meletakkan sayuran di dalam kulkas dan beberapa bumbu di tempatnya.


"Iya." Jawab Maura tanpa membuka matanya dan bibirnya terlihat pucat.


Erik mendekat karena tak biasanya Maura seperti ini. Ia menempelkan tangannya di kening Maura. "Ya Tuhan kamu demam." Pekiknya terkejut. "Kenapa tidak menelpon ku ? Tadi malam aku tidur di sini" ucapnya lagi. Erik mengambil bantal dan selimut kemudian menuntun Maura untuk berbaring.


Ia menyiapkan air untuk mengompres Maura kemudian meminta Zevin mampir ke sana saat pergi ke kantor untuk memeriksa Maura. Tak lupa ia juga memintanya membawa beberapa obat. Erik mengompres Maura sambil memotong sayuran mengambil celah disaat mengompres.


Erik mondar mandir antara dapur dan ruang tengah. Ia harus menyelesaikan masakannya agar Maura bisa sarapan. Erik harus menepati janjinya jika tiap pagi akan membuatkan sarapan untuk Maura.


Pintu di ketuk.


Erik melangkah ke arah pintu, ia mengintip lebih dulu sebelum membuka pintu. Rupanya Zevin yang datang. Pria itu datang membawa tas kedokterannya. "Masuk, Kak !" Erik membuka pintu dan mempersilahkan Zevin masuk.


"Sejak kapan dia sakit ? " Tanya Zevin melangkah mengikuti Erik. Ia tersenyum melihat Erik mengenakan apron. "Aku iri pada mu, andai aku pandai memasak. Maka setiap hari aku akan memasak sarapan untuk istri ku. Ah, aku jadi merindukan nya. Pasti aku jadi suami romantis." Tuturnya sembari mengeluarkan peralatan medisnya.


Erik hanya menatap bosan, disituasi apa pun Zevin akan selalu mengatakan rindu pada Nazia meski hanya di tinggal ke kamar mandi. Erik tidak tahu budak cinta level berapa yang bersemayam di tubuh Zevin.

__ADS_1


"Bagaimana, Kak ?" Tanyanya dengan raut wajah cemas.


"Demam biasa, dia kelelahan. Mungkin semalam ia memforsir tenaganya. Kamu berikan dia penurun panas dan vitamin saja biar cepat pulih.  Kamu tidak perlu masuk, nanti ku kirim pekerjaan mu melalui e-mail. Jadi kamu bisa bekerja sambil menjaganya." Papar Zevin panjang lebar penuh pengertian.


Erik tersenyum lebar." Terimakasih, Kak. " Ucapnya senang.


Usai memeriksa Maura, Zevin pamit pergi ke kantor. Dalam benak pria itu mulai besok ia akan kursus memasak pada Kiki, agar bisa memasak sarapan untuk istrinya. Zevin tak ingin kalah dari Erik. Jiwa bersaingnya muncul lagi jika bercerita tentang suami romantis.


Erik menyelesaikan masakannya yang sempat tertunda beberapa menit tadi, kini ia membawanya ke ruang tengah. "Maura bangunlah, kamu sarapan dulu. Nanti lanjut tidur lagi." Erik menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah Maura.


Wanita cantik ini mengerjapkan mata kemudian berusaha duduk. Tak tinggal diam Erik sigap membantu nya.


"Kenapa tidak panggil Della saja, kamu tidak perlu repot-repot." Ujar Maura serak dan tidak enak hati pada Erik.


"Kamu butuh aku, bukan Della. Sekarang sarapan dulu. Aku sudah berjanji setiap hari akan memasak sarapan untuk mu." Erik berkata dengan percaya dirinya.


Erik mengangguk kemudian melangkah ke dapur mengambil makanan untuknya. Mereka berdua bersama-sama sarapan. Setelahnya Erik memberi obat pada Maura dan memintanya pindah ke kamar. Agar tubuhnya tidak sakit tidur di sofa.


Usai mengantar Maura ke dalam kamar, Erik membersihkan piring kotor. Kemudian menyusul Maura ke dalam kamar. Rupanya wanita cantik ini benar-benar demam tak butuh lama ia terlelap lagi. Erik duduk di sofa di dalam kamar Maura untuk bekerja.


...----------------...


Beberapa jam kemudian....


Demam Maura menurun, tubuhnya sudah tidak terasa sakit lagi. Erik melihat pergerakan Maura segera menghampirinya.


"Masih pusing !"

__ADS_1


Maura menggeleng. "Aku sudah sembuh ? Maaf merepotkan mu." Ia melirik ke atas meja ada laptop di sana dan beberapa dokumen. "Kamu tidak ke kantor ?" Tanyanya lagi sambil mengibaskan selimutnya.


"Tidak, aku bisa bekerja dari sini. Kamu perlu sesuatu ? Katakan padaku."


"Aku sudah sembuh. Tubuhku lengket, bisakah ? Kamu keluar sebentar. Maaf aku mau mandi." Tutur Maura mengambil handuknya.


"Baiklah, aku tunggu di luar." Erik meraih laptopnya kemudian ke luar dari kamar.


Beberapa menit kemudian, Maura keluar dengan tubuh yang sudah segar. Erik melihat dari ruang tengah tersenyum karena Maura sudah membaik. Maura melangkah menghampiri Erik yang duduk di sofa. Ia menjatuhkan tubuhnya disana.


Aroma wangi dari tubuh Maura begitu menyegarkan di hidung Erik. Ia menutup laptopnya dan duduk menghadap Maura. Ia menempelkan punggung tangannya di kening Maura.


"Apa yang kamu lakukan ?" Maura menarik kepalanya sedikit kebelakang. Menatap tajam pada Erik.


Erik berdecak malas. "Aku hanya memastikan kondisi mu, Nona !" Ucapnya kemudian mengecek ponselnya berkirim pesan pada Zevin mengabari kondisi Maura.


"Aku akan memasak makan siang." Tutur Maura beranjak ke dapur. Ia membuka kulkas ternyata sudah penuh berisi bahan makanan.


Tak ingin berdiam diri, Erik pun menyusul Maura. Pria dingin ini meraih apron dan memasang ke tubuhnya. Kemudian tanpa diduga ia melingkarkan tangannya ke tubuh Maura yang membelakanginya.


Maura terpaku merasakan tali apron di tarik Erik kebelakang setelah mengaitkan di lehernya. Aroma parfum Erik sudah Maura hafal sejak dulu tak pernah berubah.


"Sudah siap ! Masak apa kita ?" Erik nampak bersemangat. Pria ini terlihat berkali lipat tampannya mengenakan apron.


"Terserah saja, yang cepat masak saja." Maura menyiapkan peralatan tempur di atas kompor.


Hampir empat puluh lima menit Maura dan Erik berkutat di dapur, saling bantu dalam memasak belum lagi terapi jantung yang diberikan Erik pada Maura. Pria ini selalu bisa membuat Maura terkejut.

__ADS_1


__ADS_2