Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Bentakkan Erik


__ADS_3

Erik memperhatikan sekeliling tempat itu, rumah sederhana tidak kecil tidak juga besar namun nyaman di tempati. Maura menghentikan langkahnya, karena merasa Erik masih berdiri di tempatnya.


"Ayo masuk ! Maaf, Jika rumah ku tidak nyaman untuk mu." Kata Maura tersenyum tipis.


Tanpa menjawab Erik langsung melangkah mendahului Maura bahkan tanpa ijin ia melangkah masuk dan duduk di sofa ruang tamu. "Rumah yang nyaman." Ucapnya sembari menyandarkan tubuh nya.


"Tunggu sebentar ya, aku ke kamar mama dulu." Maura melangkah meninggalkan Erik di ruang tengah.


"Tunggu ! Aku ingin melihat ibu mu." Erik beranjak dari kursi mengikuti Maura ke dalam kamar ibu Sila


Daun pintu di dorong Maura perlahan. Di atas kasur ibu Sila memejamkan matanya menahan rasa sakit kepalanya.


"Ma, minum obat dulu ya." Maura duduk di tepi kasur. Ia sangat sedih melihat sang ibu menahan sakit seperti itu. Andai ibu Sila mengabarinya lebih awal, mungkin Maura masih sempat membawa beliau ke dokter.


Ibu Sila perlahan membuka matanya.


"Siapa dia, Nak ?" Tanya beliau sembari menatap Erik. Tak biasanya Maura membawa seorang pria ke rumah.


Erik segera menghampiri ibu Sila dan mengulurkan tangannya. " Saya Erik tante, teman Maura di kantor lama." Ucapnya memperkenalkan diri.


"Maaf, Nak. Tante tidak bisa menemani mu. Kepala tante sangat pusing." Ujar Ibu Sila tidak enak hati karena tamunya tidak dapat ia temani berbincang.


"Tidak masalah tante, silahkan istirahat" ucap Erik sopan. Ia dapat mengerti kondisi ibu sila saat ini.


Ibu Sila mengangguk pelan dan berkata. " Maura, mama mau ke kamar mandi." Sejak tadi memang beliau menahan ingin buang air kecil. Sengaja ibu Sila menunggu putrinya datang karena takut terjatuh di kamar mandi.


Maura bergegas berdiri. " Baiklah, ayo pelan-pelan." Ia berusaha memapah ibunya. Karena perawakan Maura yang sedikit pendek dari Della. Ia sedikit kesusahan saat memapah ibunya.


Tanpa aba-aba, Erik langsung menggendong ibu Sila ke kamar mandi. "Biar saya gendong tante, ayo Maura kamu bantu di dalam." Erik menurunkan ibu Sila di atas closed perlahan.

__ADS_1


Setelah selesai, Maura kembali memapah ibunya. Namun, tanpa di duga Erik kembali menggendong ibu Sila. Ia membaringkan wanita paru baya itu di atas kasur. "Sebenarnya tante sakit apa ?" Tanyanya pelan. Setelah memastikan jika ibu Sila merasa nyaman di atas kasur.


"Entahlah, Nak ! Sejak pagi tante merasa  pusing. Tadi pagi tidak sesakit sekarang, makanya tante tidak menelpon Maura." Jelas ibu Sila lemah.


"Sepertinya darah tinggi mama naik. Makanya aku ke apotek membeli obat sementara, sebelum ke dokter."  Sahut Maura. Ia mengeluarkan obat yang dibelinya tadi, obat yang sama diminum oleh ibu Sila selama ini jika merasa pusing.


Erik menatap tajam pada Maura. "Dan kamu tidak berniat membawa beliau ke dokter ? Apa yang ada di pikiran mu ? Hah ! " Tanyanya dengan nada membentak.


Maura ketakutan melihat wajah Erik seperti tidak bersahabat. " A—aku belum sempat, karena pulang sudah sore. Be—besok pagi, aku bawa ke dokter. Kamu tidak perlu melibatkan diri mu ! Aku bisa sendiri !" Ucapnya tergagap. Maura merasa kecewa bercampur emosi. Kenapa Erik harus membentaknya ? Apa urusannya dengan pria dingin ini ?


Erik tak menggubris penolakan Maura tentang dirinya. Tak seharusnya, ia membentak atau marah pada Maura. Mengetahui kondisi sebenarnya saja dirinya tidak tahu. "Jangan berikan obat itu dulu, sekarang lebih baik kamu buatkan teh atau makanan untuk tante." Erik menghentikan tangan Maura yang ingin mengupas kulit  obat. Nada suaranya lembut ketika melihat tangan Maura nampak bergetar menyentuh obat itu.


"Baiklah." Maura memilih menurut saja dan melihat. Apa yang akan di lakukan pria dingin itu.


Erik menekan nama seseorang di ponselnya bercakap-cakap sebentar lalu memutuskan panggilan. Ia kembali masuk ke dalam kamar menemui ibu Sila dan Maura. Di sana Ibu Sila tengah di bantu Maura untuk minum teh. "Sebentar lagi dokter datang. " Ucapnya mendaratkan tubuhnya di kursi rias dalam kamar itu.


"Kamu sudah makan malam ?" Erik tak menghiraukan kata-kata Maura. Ia merasa bersalah karena tadi terbawa emosi. Erik paling anti melihat orang menunda untuk ke dokter.


Maura menggeleng pelan. " Nanti saja aku belum lapar. Tapi kalau kamu lapar aku akan memasak untuk mu. Di dapur belum ada persiapan makanan karena aku belum sempat memasak" Ucapnya sembari berdiri ingin ke dapur. Masih seperti tadi nada suaranya semakin datar dan dingin. Rasanya terlalu sakit di bentak tanpa alasan yang menyangkut Erik.


"Aku sudah makan ! " Erik menghentikan pergerakan Maura. Pria itu kembali meraih ponselnya. Sambil menunggu dokter. Erik dan Maura terdiam tanpa bicara.  Tangan Maura hanya sibuk memijit kepala sang ibu tanpa menoleh pada Erik yang sesekali memperhatikan pergerakannya.


Di luar rumah pintu terdengar di ketuk. Maura bergegas keluar dari kamar dan membuka pintu. Nampaklah seorang dokter seusia Zevin tersenyum manis.


"Rumah, Nona Maura ? Saya dokter Yudha yang ditelpon Erik" Tanyanya sopan.


"Iya silahkan masuk, dokter." Maura  membuka lebar daun pintu. Yudha  mengikuti langkah Maura masuk langsung ke dalam kamar ibu Sila. Mata Yudha tertuju pada Erik yang duduk di kursi meja rias.


"Sejak kapan kamu disini ?" Tanya Yudha. Meletakkan tas kerjanya di atas kasur.

__ADS_1


"Sejak beberapa menit yang lalu. Periksa dulu, Kak. Nanti tanya jawabnya. " Balas Erik datar. Ia kembali melihat ke layar ponselnya.


"Menyebalkan sekali." Gerutu Yudha. Ia segera mengeluarkan beberapa alat yang ia bawa. Tak hanya memeriksa tensi darah, namun juga Yudha mengecek kolestrol dan yang lainnya.


Erik dan Maura memperhatikan dokter Yudha memeriksa ibu Sila. Setelah beberapa menit Yudha selesai dengan  tugasnya. "Bagaimana dokter ? " Tanya Maura tidak sabar.


"Tekanan darah beliau tinggi ya, dan juga asam lambung nya naik." Jelas Yudha. " Ini resepnya tebus sekarang saja. " Ia memberikan resep itu pada Maura. Namun Erik langsung menyambar kertas itu dan melenggang pergi tanpa sepatah kata.


"Terimakasih dokter. Sudah datang ke sini." Ucap Maura tulus. Suasana hatinya sedikit membaik setelah mendengar penjelasan Yudha tentang kondisi ibunya.


"Sama-sama jangan sungkan, perkenalkan nama saya Yudha." Dokter tampan ini memperkenalkan diri.


Maura membalas uluran tangan Yudha. Saat berbincang suara pintu terdengar di ketuk lagi. Ternyata kurir yang mengantar makanan. Sekali lagi Maura tersentuh dengan perhatian Erik untuk dia dan ibunya. Namun, melihat sikap Erik tadi Maura kembali merasa kesal, padahal dirinya tidak berniat merepotkan Erik.


Erik datang membawa obat yang ditebusnya saat Maura tengah menyiapkan makanan di dapur. Setelah memastikan semuanya beres, Erik dan Yudha langsung pamit pulang.


...----------------...


Apartemen


Della belum juga bisa memejamkan matanya. Pikirannya menerawang saat pulang bersama Dias tadi. Ia tak menyangka akan bertemu Erik di situasi seperti itu. Dalam dirinya ada rasa bersalah pada Erik. Setelah ponselnya hidup banyak sekali telpon dan pesan dari Erik yang masuk.


Della semakin merasa tidak nyaman karena tanpa sengaja mengabaikan pria dingin itu. Ingatan Della kembali lagi di beberapa bulan yang lalu saat Erik memintanya ikut ke kota, mencari pekerjaan dan menyiapkan tempat tinggal yang layak. Sangat banyak yang di lakukan Erik untuknya.


"Besok aku akan menemuinya dan meminta maaf..."


Detak jam semakin terdengar nyaring seiring malam semakin larut. Sepi untuk orang yang berada di dalam rumah. Namun, ramai bagi orang di luar sana. Meski jarum jam menunjuk angka dua belas tapi para pencari rupiah masih tetap segar matanya.


Della meraih album foto yang diberikan Maura, ia membukanya perlembar. Banyak kebersamaan yang mereka lalui rupanya. Tak hanya itu Della juga membuka album milik Rosa, di dalamnya ada foto kedua orang tua angkatnya dan Rosa.

__ADS_1


__ADS_2