Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Secuil Rasa Sesal


__ADS_3

Di perjalanan Erik melajukan mobil menuju ke diaman family Z. Setibanya di rumah, Erik segera masuk dengan setengah berlari. Di ruang tengah tidak ada siapa pun karena Zevin dan Zayyan sedang berada di kamar. Namun tanpa Erik sadari Nazia melihatnya dari ruang makan.


Erik menanggalkan pakaiannya dan mengguyur tubuhnya di bawah pancuran air shower. Erik mengingat kembali percakapan Maura dan Della, tangannya mengepal kesal. Tapi, tunggu ! Erik tidak sakit hati hanya marah, Ya marah dan kecewa. Namun Erik malah terpikirkan ucapannya pada Maura.


Erik melihat ada tatapan luka di mata Maura saat kata kasar itu terucap dari bibirnya, ada secuil sesal yang dirasakan Erik. Harusnya, ia mampu mengendalikan emosinya dan mendengarkan penjelasan lebih dulu, bukan lari  meninggalkannya.


Hampir tiga puluh menit Erik menyudahi ritual mandinya, ia bergegas keluar. Lalu mengenakan pakaian.


Pintu kamar Erik di ketuk.


"Sebentar..." Sahutnya dari dalam kamar. Ia menaruh handuknya di atas sofa setelah berpakaian lengkap.


Daun pintu di tarik Erik dari dalam.  Ternyata Kiki yang berdiri di depan kamarnya.


"Tuan, makan malam sudah siap, tuan dan Nyonya sudah menunggu di bawah."


"Iya, terimakasih Ki. "Ujar Erik menutup pintu kamar melangkah bersama Kiki ke bawah. Erik menuruni undakan tangga, kejadian sore tadi sangat mengusik pikirannya.


Nazia seperti biasa melayani anggota keluarganya itu dengan mengambil makanan untuk mereka. Dan suami manjanya bertugas menyuapi putranya, jika disaat seperti ini maka mereka akur dan kompak.


"Za, nambah lagi, Nak ?" Zevin bertanya karena di piring sisa suapan terakhir.


Zayyan menggeleng pertanda sudah kenyang. Sesudah makan Zevin membersihkan mulut putranya menggunakan tissue lalu memberikannya mainan dan membiarkannya duduk di kursi sendiri. Setelahnya Zevin baru makan.


"Selamat malam semuanya !!" Sapa seseorang begitu heboh dari ruang tengah. " Kak, Erik aku merindukan mu !" Pekiknya girang. Siapa lagi kalau bukan Ivan. Tak lupa tubuhnya yang sudah kekar itu memeluk Erik sangat Erat.


"Iya-iya lepaskan dulu pelukan mu. Aku kesusahan menelan makanan ku." Erik risih dipeluk Ivan. Tapi dia juga rindu dengan kekocakan pria ini. Sementara Zevin tertawa dalam diam, karena pelukan Ivan jatuh pada Erik.


"Ayo makan." Ajak Nazia setelah selesai drama rindu Ivan.


"Aku sudah makan, Zi. Ini aku bawakan kue dari toko roti kak, Yudha ! " Ivan menaruh plastik kue di atas meja. "Za... Sini sama Om kita main di tengah ya." Ivan menggendong Zayyan menuju ke ruangan tengah.

__ADS_1


Usai makan mereka semua menyusul Ivan dan Zayyan ke ruang tengah. Putra Nazia itu tengah memakan kue yang yang di bawa Ivan. Zevin menjadi gemas dan mengambil roti di tangan putranya itu sampai habis.


"Mama." Zayyan menoleh pada Nazia seolah melapor jika kuenya habis di makan papanya.


"Mama milik papa." Zevin mengecup pipi Nazia memanasi putranya.


Zayyan segera berdiri dan melangkah tertatih lalu memeluk Nazia dengan erat. Matanya tertuju pada Zevin seolah wanita cantik ini hanya miliknya.


"Mama dan papa kenapa tidak ikut ?" Tanya Nazia karena Ivan datang seorang diri.


"Papa sibuk di rumah, mereka titip salam saja untuk Zayyan. Aku juga menginap." Jawab Ivan sembari mengeluarkan sesuatu. "Ayo perawatan !" Ucapnya senang mengeluarkan beberapa bungkus masker wajah.


"Wah, baiklah ! Aku juga kehabisan masker wajah." Seru Nazia senang.


"Sayang aku juga mau." Rengek si suami manja. Zevin menjatuhkan kepalanya di pundak Nazia. "Aku tidak mau terlihat jelek di mata mu." Ucapnya penuh perasaan.


Nazia tersenyum lalu menuntun kepala suaminya untuk menatapnya. Ia mengecup keningnya penuh cinta, kemudian berkata. "Kamu akan selalu tampan di mataku, meski pun wajah ini keriput nantinya. Perasaan ku tidak akan berubah padamu walau pun tubuh dimakan usia."


"Aku malu..."Zevin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nazia. Hatinya berbunga-bunga mendengar penuturan istrinya. Ya ! Dia pria beruntung memiliki istri tak hanya cantik namun selalu membuatnya jatuh cinta berulang kali.


"Nanti ya tunggu, Zayyan tidur dulu baru kita perawatan." Ujar Nazia lembut.


Beberapa menit berbincang akhirnya Zayyan menguap, Nazia membawanya ke kamar mencuci kaki tangannya serta menggosok gigi putranya  itu. Zayyan sangat cepat mengerti menerima apa saja yang di ajarkan dan dicontohkan oleh ibunya.


Erik menonton televisi namun tak fokus, pikirannya melanglang buana. Bahkan Ia hanya diam saat Zevin cemburu karena Ivan juga ikut menempel pada Nazia.


Merasa ponselnya bergetar Erik membukanya. Ternyata satu pesan dari Maura yang masuk, dia meminta bertemu dengan Erik malam ini. Tanpa membalas Erik segera berdiri dari tempatnya duduk.


"Mau kemana ?" Tanya Ivan. Melihat Erik beranjak dari sofa.


"Aku ingin ke luar sebentar."

__ADS_1


"Hati-hati. Jangan pulang terlalu malam ! Tubuh mu butuh istirahat." Pesan Zevin. Suami Nazia ini juga berdiri dan berniat meninggalkan ruang tengah lalu di susul Ivan.


Erik segera mengganti pakaiannya karena tadi mengenakan baju rumahan. Pria dingin itu menyambar kunci mobil dan dompet kemudian berlari kecil  menuju lift.


...----------------...


Di kediaman Maura, mereka juga baru menyelesaikan makan malam. Tanpa diduga Dias datang bertamu, ia bertanya-tanya kenapa mata Della sembab.


"Kamu kenapa ? Ada masalah ?" Tanya Dias lembut dan hangat. Ia seakan tak rela raut murung itu mampir di wajah manis Della.


"Erik...dia marah padaku " jawab Della sedih dan kembali berkaca-kaca.


Dias semakin penasaran." Kenapa dia marah padamu ? Kalian bertengkar ?" Cecarnya kembali dengan pertanyaan.


Della menggeleng. "Kami tidak bertengkar, tapi dia mendengarkan pembicaraan aku dan Maura." Jawabnya mulai terdengar getaran di nada suaranya. Della menceritakan apa yang didengar Erik sore tadi hingga membuatnya bersedih sampai saat ini. "Erik pasti membenci ku." Isaknya lirih.


Dias mengepalkan tangannya berusaha menguatkan hatinya sendiri, Della sangat takut Erik membencinya. "Erik tidak akan membenci mu, mana mungkin dia bisa marah dalam waktu yang lama." Ujarnya berusaha menenangkan Della yang menangis. "Benar kata Maura, Erik memiliki perasaan yang sama padamu. Jangan takut dibenci olehnya. "Hati Dias tersakiti sendiri setelah mengucapkan kata itu


Maura keluar dari kamar mengenakan baju kaos berlengan pendek dan jeans panjang, kemudian jaket kulit berwarna hitam. Rambut panjangnya dikepang satu. "Dias, boleh aku pinjam motor mu ?" Tanyanya memasang sepatunya.


Dias dan Della terkejut karena suara Maura. "Boleh, tapi motor ku besar. Apa kamu bisa memakainya ?" Dias meragu karena bodi Muara sedikit pendek dari Della.


"Bisa, hanya sebentar." Yakin Maura. Dias memang datang menaiki motor karena dirinya hanya berkunjung.


Dias menyerahkan kunci motor


"Hati-hati " Ucapnya mengantarkan Maura ke teras depan rumah.


"Temani Della. Jika ingin pulang kamu minta jemput saja sama sopir mu. Atau menginap saja tak masalah, tetangga disini sudah mengenal mu sebagai keluarga ku." Maura melajukan motor itu setelah menyampaikan kata-katanya.


"Kemana dia ?" Tanya Della. Dia tidak ikut mengantar Maura keluar. Kepalanya sedikit pusing karena banyak menangis dan kelamaan di pantai.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, sekarang istirahatlah ! Aku akan menemani mu, jika dia pulang malam aku akan menginap. Jangan takut tetangga disini mengenal ku sebagai keluarga Maura. Aku tak menyangka dia memperkenalkan ku seperti itu." Terang Dias .


Dias berusaha mencairkan suasana hati Della dengan berbagai cerita, tak hanya itu. Dia juga meminta Jo untuk datang dan membawa beberapa camilan.


__ADS_2