Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Tidur untuk selamanya


__ADS_3

Sosok yang  berdiri mematung tak jauh dari ruang ICU adalah Kenza adik tiri Aryan. Semenjak pelarian Aryan diwaktu remaja, Kenza mendapatkan donor dari orang lain yaitu anak pria paru baya yang membawa Aryan lari dari rumah sakit waktu itu. Hingga kini Kenza tumbuh dengan sehat dan menjadi calon dokter.


"Tuan, Ken !" Ibu Dina menghampiri anak majikan nya itu. Memeluknya penuh kasih sayang.


"Bibi, apa benar yang dikatakan dokter?"lirih Kenza dengan mata yang memerah menahan tangis.


Ibu Dina mengangguk. "Benar, Nak ! Tuan Aryan sudah tiada." Tangis ibu Dina pecah dipelukan Kenza.


"Kenapa kakak tidak menunggu ku ?! Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan jadi dokter  Bi." Tangis histeris Kenza terdengar pilu dan menyedihkan. Tubuhnya luruh ke lantai, menatap sedih gagang pintu ruang ICU.


Mereka menangis saling berpelukan kemudian masuk ke dalam ruangan ICU, tubuh terbujur kaku itu sudah terlepas dari peralatan medis. Kenza meraung, kakak kesayangannya benar telah tiada. Kenza harus jadi orang cerdas untuk menyembuhkan Aryan. Menebus dosa-dosa ibunya yang mencampakkan Aryan sewaktu remaja.


Penyakit itu datang saat Kenza masih menjalani pendidikannya, namun Aryan menghembuskan nafas sebelum Kenza mendapatkan gelar dan menyelesaikan pendidikannya. Kenza merasa terpukul, ketika tahu Aryan mengidap penyakit mematikan itu, Kenza semakin ingin cepat menempuh pendidikan lagi agar dapat gelar spesialis dan mengobati Aryan. Namun semua hanya tinggal angan-angan, segalanya terhenti di sini.


...----------------...


Ditempat inilah, belakang Villa mewah milik Aryan. Ia disemayamkan seorang diri disana. Tidur untuk selamanya. Maura dan Erik pun ikut bersedih mengantarkannya pulang ketempat yang seharusnya untuk pulang. Rintik-rintik air dari langit mengiringi kepulangan Aryan hari ini. Matahari pun muram tak menampilkan cahayanya seolah ikut berduka, mungkin dia seorang pendosa di mata manusia, tapi siapa pun dia. Alam tetap bersedih atas kepergiannya.

__ADS_1


Kenza meminta ribuan maaf dari Erik dan Maura atas apa yang telah di lakukan kakak tirinya itu. Ia sudah tahu apa yang terjadi. Ibu Dina menceritakannya tanpa terlewatkan sedikit pun.


Usai pemakaman Aryan, Erik dan Maura segera meninggalkan tempat itu. Mereka kembali pulang dengan hati yang sedih, jauh dalam lubuk hati  mereka sudah memaafkan Aryan.


"Tidurlah." Erik menggenggam jemari Maura. Sesaat sebelum pesawat mengudara.


Maura tersenyum. "Aku tidak mau tidur, aku ingin bangun bersama mu." Ucapnya menjatuhkan kepala di pundak Erik.


"Manis sekali." Erik mengecup pucuk kepala kekasihnya itu penuh cinta. "Ceritakan, bagaimana kamu dibawa paksa oleh Aryan." Pinta Erik mengisi waktu selama penerbangan.


...----------------...


Sore itu setelah menyelesaikan pekerjaannya, Maura bergegas pulang. Ia mengirim pesan pada Erik dan mengatakan jika dirinya tengah menunggu taksi untuk pulang.


Taksi pesanannya datang, Maura mendaratkan tubuhnya ke dalam taksi. Sepanjang perjalanan bibirnya selalu mengembang sempurna mengingat lamaran Erik dua hari yang lalu, hingga menyebabkan pria itu tumbang.


Mobil berhenti mendadak. Tubuh Maura terhuyung ke depan. Ia bingung ada mobil hitam berhenti  tak jauh dari taksi yang ditumpanginya.

__ADS_1


"Ada apa, Pak ?" Maura bertanya karena dua laki-laki berpakaian serba hitam dan menutupi wajah mereka menggunakan masker turun dari mobil berwarna hitam itu.


Kaca mobil diketuk dua laki-laki itu.  Salah satu dari mereka mengawasi sekitarnya. Suasana tiba-tiba lenggang tak ada kendaraan yang melintas.


"Nona tetap di dalam, keselamatan anda tanggung jawab saya." Sopir itu bergegas keluar. Walau tubuh tidak lagi muda, namun ia masih memiliki ketangkasan untuk membela diri.


Maura hanya mengangguk, sambil mengawasi sopir taksi dan dua laki-laki itu, ia  berusaha menelpon polisi namun karena panik dan tangannya bergetar ponsel itu jatuh mengenai sepatunya. Maura tak mendengar apa saja yang mereka bicarakan di luar.


Hingga salah satu dari laki-laki berpakaian hitam itu memberikan bogemannya pada sopir taksi. Tak ingin tinggal diam sopir itu pun melakukan perlawanan, adu jotos terjadi hanya berapa menit, cukup melakukan pertahan sopir itu ambruk di tanah dikalahkan oleh dua orang itu. Tubuh Maura semakin bergetar ketakutan, di benaknya ragam cuplikan kejahatan berseliweran. Apa yang terjadi padanya ? Apakah dia di bunuh ? Atau dilecehkan. Apa mungkin juga dijadikan sandera untuk minta tebusan.


"Nona ikutlah dengan kami, yakinlah kami tidak menyakiti anda." Salah satu dari mereka bisa membuka pintu mobil. Nada  bicaranya terdengar santai dan tidak mengancam.


"Tidak mau ! Jangan sentuh saya ! Pergi kalian ! "Maura menolak sambil berusaha menggapai ponsel di bawah kakinya.


Pria tadi  menarik tangan Maura memaksanya untuk keluar dari mobil. Karena mendapat perlawanan dari Maura, satu diantara mereka menyekapnya menggunakan sapu tangan. Sopir taksi hanya mampu melihat sambil menahan sakit di pundaknya.


Maura digendong dan diletakkan perlahan ke dalam mobil, sedikit pun orang itu tidak melakukan hal-hal yang membuat Maura terluka.

__ADS_1


Kilas Balik Selesai...


__ADS_2