
Tiga Hari Kemudian...
Erik dan keluarga Della telah kembali ke kota bersama pak Joni dan Ibu Weni yang akan mengunjungi makam putri mereka Rosa. Sepasang suami istri itu yakin jika gundukan tanah bertuliskan nama Della itu, sebenarnya adalah Rosa. Mengingat kembali peristiwa tiga tahun lalu saat Della dan Rosa berpamitan pada ibu Indah untuk pulang ke kampung.
Pada hari itu Rosa yang berada di depan mengemudi motor milik Della, karena selain Della yang belum pernah ke Desa Rosa. Perasaan Della juga tidak baik-baik saja pada saat itu. Setelah bertemu dengan sahabatnya saat kuliah dulu. Pertengkaran kecil Della dan temannya itu cukup membuat wanita itu dilema.
Pak Joni dan ibu Weni menerima dengan ikhlas takdir yang telah terjadi. Setidaknya mereka berterimakasih pada keluarga pak Andi karena Rosa dimakamkan dengan layak. Mereka sudah sangat yakin setelah mendengar cerita sebenarnya. Dan pada saat itu tidak ada kecelakaan lain di daerah itu selain yang di alami Della dan Rosa.
Setelah berpamitan dengan keluarga Della . Mobil Erik melaju meninggalkan kota itu. Kini Erik tinggal mengurus pekerjaan untuk Della. Wanita di sampingnya ini nampak tenang dari sebelumnya. Denyutan di kepalanya tidak lagi terasa, setelah meminum obat yang di tebus Erik sesuai resep dari Zevin. Sebelumnya Erik sangat ketakutan ketika Della meringis menahan sakit saat memaksakan diri mengingat Rosa dari fotonya.
...****************...
Di kediaman Family Z.
Zevin belum juga berangkat bekerja, karena kondisi tubuh Nazia yang kurang sehat. Ia tak ingin meninggalkan istrinya itu dalam keadaan sakit. Sejak tadi ia hanya duduk di tepi kasur menggenggam tangan istrinya saja. Padahal Nazia masih bisa bergerak dan membantu Kiki menyiapkan sarapan pagi tadi.
Zevin seorang dokter dan tahu pasti kondisi istrinya, tapi rasa cinta yang dimilikinya itu sangat besar hingga mengalahkan pengetahuannya dan membuat dirinya sendiri menjadi cemas. Zevin bahkan menelpon Yudha untuk memeriksa istrinya. Padahal ia sendiri bisa melakukannya. Karena sampai saat ini Zevin masih aktif di dunia kedokterannya. Meski menjabat sebagai presiden direktur di perusahan Jaya Group.
Zevin akan menangani pasien VVIP walau pun hanya pada jadwal tertentu. Zevin begitu murung dan sedih, tidak ada kemanjaan seperti biasanya. Hanya tatapan cemas yang terpancar dari matanya. "Sayang jangan banyak bergerak." Titahnya merapikan selimut istrinya kembali.
Nazia tertawa dan menepuk punggung tangan Zevin. " Aku baik-baik saja, hanya demam biasa. Kamu dengar sendirikan tadi. kak, Pras mengatakannya." Ucapnya agar suaminya tenang.
__ADS_1
Mata Zevin memerah bahkan nampak berkaca-kaca." Tapi aku cemas sayang.... Aku takut ..." Ungkapnya dengan nada suara bergetar. Zevin selalu takut jika Nazia tidak sehat.
Nazia tersentuh tak menyangka jika suami manjanya sangat khawatir padanya." Kamu seorang dokter sayang.... Sampai detik ini kamu masih merawat orang lain. Dan kamu juga tahu kondisi ku jadi jangan cemas lagi ya." Ia mengusap lelehan air mata di pipi suaminya itu.
Zevin menggenggam tangan Nazia dan mengecup telapak dan buku-buku jarinya. "Melihat mu sakit seperti ini, aku merasa sebagian jiwa ku hilang sayang... Aku dan putra kita tidak bisa melakukan apa pun tanpa kamu.." Mengecup lembut pucuk kepala istrinya.
"Aku hanya demam biasa. Untuk hari ini biar Zayyan sama mama dulu." Nazia kembali duduk bersandar.
Zevin mengangguk dan berkata." Jika panas mu tidak turun sampai sore, kita tes darah ya. Nanti kita ambil darah mu." Zevin berdiri melepaskan pakaian dan menggantinya dengan pakaian rumahan.
Nazia menatap heran." Kamu tidak ke kantor?" Tanya nya setelah melihat suaminya sudah berganti baju.
"Aku akan menemani mu" Zevin kembali duduk di atas kasur.
Hari semakin siang, Zevin benar-benar tidak pergi ke kantor. Dirinya turun langsung ke dapur menyiapkan makanan untuk sang istri. Masih mengenakan apron pria tampan ini bergerak ke sana kemari memasak makan siang untuk Nazia di pandu oleh Kiki.
"Sempurna Tuan !" Kiki mengacung dua jempolnya setelah mencicipi masakan Zevin.
"Benarkah ?! " Mata suami Nazia itu berbinar karena senang.
"Benar tuan, sekarang sudah siap semua."
__ADS_1
"Terimakasih, Ki ! Kamu makan siang saja duluan ya. " Zevin tersenyum senang karena berhasil memasak makan siang untuk istrinya terlebih lagi itu makanan kesukaan Nazia. Dengan langkah penuh keyakinan Zevin membawa nampan makanan itu ke dalam kamar. Ia tak memperbolehkan istrinya turun ke lantai bawah. "Sayang, Sekarang kamu makan siang dulu ya, aku sendiri yang memasaknya." Zevin meletakan nampan makanan itu ke atas meja.
"Makan berdua, Kamu juga harus makan." Nazia meraih piring nasinya dan menyendoknya ke mulut Zevin sebelum dirinya makan.
Sepasang suami istri ini makan siang bersama. Menikmati hasil masakan sang suami. Tidak mengkhianati hasil meski manja, tapi Zevin mandiri mau belajar masak untuk istrinya yang tengah demam. Jika di lihat sebenarnya Nazia hanya demam biasa, tapi Zevin memperlakukannya sudah seperti orang sakit parah. Hal itu membuat Nazia sedikit kesal.
...****************...
Menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya, Erik tiba di rumah setelah mengantarkan Della ke apartemen. Ia melangkahkan kakinya menuju lift naik ke atas. Erik sedikit heran kenapa rumah besar itu sepi? Padahal Zevin tidak masuk bekerja, Erik mengetahui itu dari Haris. Ia mengetuk pintu kamar Zevin dan Nazia. Memastikan penghuninya ada di dalam.
" Kamu sudah sampai ? Ayo masuk." Zevin membuka daun pintu lebar.
Erik melangkah masuk mengikuti Zevin." Kak, Zi. Kenapa?" Bertanya karena melihat Nazia berbaring di atas kasur. " Di mana, Za ?" Tanya nya lagi seraya duduk di pinggir kasur.
Zevin merangkak ke sisi istrinya lalu merapikan rambut Nazia yang tengah terlelap karena pengaruh obat." Dia demam, Zayyan di rumah mama Mira. Sebentar lagi mereka juga pulang." Bicara sambil merapikan selimut istrinya. "Bagaimana ? Apa semua sudah selesai?"
Erik melepaskan jaket dari tubuhnya dan berkata. " Iya, semua sudah selesai. Ada hal tak terduga juga tapi sebelum bercerita, aku mandi dulu tubuhku gerah."
"Mandi dan istirahatlah, ambil vitamin di dalam laci itu minumlah !" Zevin menunjuk salah satu laci lemarinya.
"Baik, Kak. Terimakasih nanti aku ke sini lagi." Erik mengambil vitamin dari laci dan berlalu keluar.
__ADS_1
Hari menjelang sore Nazia sudah merasa lebih baik. Zevin merasa tenang karena kondisi istrinya sudah pulih. Hampir saja dia gila sendiri karena melihat Nazia sakit. Dua keluarga itu berkumpul di rumah family Z selain menjenguk Nazia mereka juga ingin mendengarkan cerita Erik tentang perjalanannya mempertemukan Della dan keluarganya. Erik bercerita bak air mengalir tanpa terlewatkan sedikit pun.