
Matahari sudah nampak di ufuk timur. Dering alarm mengejutkan sosok cantik yang masih tidur pulas di atas kasur. Maura menggeliat meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Semalam dia tidur sangat larut malam karena sang ibu tengah kambuh penyakitnya. Maka Maura harus berjaga untuk memastikan kondisi ibu Sila.
Dengan gerak terburu-buru Maura pergi ke kamar mandi. Dia kesiangan akan pergi ke kantor, tidak butuh lama. Maura selesai mandi dan ia bergegas memesan ojek online, kemudian mematutkan tampilannya di kaca. Tangan Maura terhenti saat mengancing kemejanya.
Maura teringat jika ibunya dalam keadaan kurang sehat. Semalam ibu Sila mengeluh sakit kepala lagi, entah salah makan apa hingga beliau merasakan pusing. Mengingat hal itu, Maura keluar dari kamarnya. Ia terpaksa tidur di kamarnya sendiri tadi malam karena Ibu Sila memaksa
Maura mengetuk pintu kamar ibunya.
"Masuk saja, Nak. " Sahut Ibu Sila dari dalam.
Maura mendorong daun pintu kamar lalu menghampiri ibunya di atas kasur. "Apa mama masih pusing ?" Tanyanya sembari duduk di tepi kasur.
"Sudah lumayan berkurang, kenapa belum siap bekerja ? Kamu kesiangan, Nak." Ujar Ibu Sila tersenyum. Beliau ingin meyakinkan putrinya jika sudah membaik.
"Mama yakin ? Atau aku cuti saja hari ini. Aku mencemaskan mama sendiri di rumah." Tutur Maura sedih.
"Mama baik-baik saja. Kamu bersiaplah bekerja, mama janji jika merasa pusing lagi. Mama akan mengabari mu, berangkatlah ! Sarapan dulu tadi mama sudah membuatkan mu sarapan" bujuk ibu Sila.
"Baiklah, jangan melakukan apa pun yang berat-berat." Pesan Maura.
"Iya, hati-hati di jalan." Ucap ibu Sila tanpa mengantar Maura ke depan pintu.
Maura tersenyum lalu berdiri, ia bergegas ke kamarnya. Setelah bersolek sebentar, Maura ke dapur menaruh sarapan yang telah di buat Ibu Sila ke dalam kotak makanan. Ia berencana memakan sarapannya itu di kantor karena ojek online yang di pesannya sudah tiba di depan rumah.
...----------------...
Jewelry Corporation
Dias datang lebih awal bersama Jo. Pria ini terlihat berbinar dan selalu tersenyum pada karyawan yang menyapanya. Di depan lift ia bertemu dengan Della, seutas senyum di perlihatkan Dias padanya.
"Selamat pagi Del." Sapa Dias sebelum memencet tombol buka pada lift. Dias melirik kotak makanan yang di bawa Della. "Kamu membawa kacangnya ?" Tanyanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak. Pagi Jo." Balas sapa Della. " Ya, aku membawanya. Tidak mungkin aku menghabiskan kacang sebanyak ini." Della mengangkat kotak itu agak tinggi.
"Kalian berkencan ?" Celetuk Jo dengan raut wajah menyelidik. Pria ini memberikan senyum menyebalkan pada Dias.
"Aku sengaja datang ke apartemennya dan kami tidak berkencan. Apa kamu mau pria dingin itu mencekik ku !" Papar Dias meluruskan pertemuannya tadi malam.
Jo mengangguk. " Ayo kita naik sampai kapan kita berbincang di sini." Tuturnya tertawa.
"Dasar menyebalkan !" Umpat Dias. Ia memencet tombol buka pada lift sebelum naik ke atas mereka mengantarkan Della ke lantai tempatnya bekerja.
Di luar gedung, Maura baru saja tiba setelah membayar ojeknya. Dia langsung bergegas naik dan melangkah setengah berlari. Maura yakin jika Dias sudah tiba di kantor ini.
Maura menunggu antri menggunakan lift, sesekali ia menghembus nafas panjang menandakan dirinya tidak sabar untuk ikut masuk. Setelah terlihat kosong Maura bergegas masuk di ikuti beberapa orang.
Maura tiba di lantai yang sama dengan ruangan CEO. Ia berpapasan dengan Jo yang ingin masuk ke ruangan Dias.
"Selamat pagi Maura, kamu terlambat ?" Jo menghentikan langkahnya.
"Iya, mama kurang sehat jadi aku tidur larut sekali. Apa pak Dias di dalam ? Aku akan membacakan jadwalnya." Jelas Maura atas keterlambatannya. Matanya juga berkantung dan nampak menghitam.
"Masuk" sahut Dias dari dalam sana.
"Permisi, maaf saya terlambat. Sekarang saya bacakan jadwal bapak." Ujar Maura berdiri di depan meja Dias. Pria itu mengangguk lalu kembali fokus pada laptopnya.
Maura membaca jadwal Dias setelahnya pamit keluar ruangan. Kesibukkan menyita perhatian Maura hingga melupakan kotak nasinya di atas meja, dia bekerja dengan serius hingga getaran ponselnya mengalihkan perhatiannya.
"Iya, Del. Ada apa ?" Jawab Maura. Kepalanya mengapit benda pipih itu sementara jari-jarinya menekan tombol keyboard laptopnya.
"Nanti sore aku ikut pulang ke rumah mu. Boleh ya..." Pinta Della. Dia teringat pembicaraan semalam bersama Dias mungkin nanti malam waktu yang tepat untuk meminta maaf pada Maura dengan benar.
"Kamu mau menginap ? Aku senang jika kamu mau ikut ke rumah ku." Maura menarik tangannya dari atas keyboard dan menggenggam ponsel dengan benar.
__ADS_1
"Iya, aku sudah mengatakan pada Erik. Agar tidak menjemput ku. Jadi kita bisa pesan taksi online." Tutur Della riang.
"Baiklah, aku melanjutkan pekerjaan ku lagi." Ujar Maura.
"Iya.... " Della memutuskan sambungan telpon.
...----------------...
Jarum jam berputar tanpa terasa hingga hari menjelang sore. Cahaya matahari juga mulai meredup. Alunan musik Ballad mengisi kesunyian dalam ruangan Maura, tak nyaring namun cukup membuatnya terhanyut dalam warna suara penyanyinya.
Maura melirik jam tangan di pergelangannya sudah menunjuk jam empat sore. Ia menghembuskan nafas lega karena pekerjaannya selesai tepat waktu. Netra hitamnya tertuju pada kotak makan berwarna pink di ujung mejanya, karena kesibukkannya Maura melupakan makanan yang ia bawa dari rumah. Bahkan jam makan siang pun juga melupakan kotak makan itu.
Maura membuka kotak makannya lalu mencium bau masakannya. Ternyata masih bagus dan tidak basi. Kemudian Maura memasukkan kotak makanan itu ke dalam tasnya dan berniat memakannya di rumah
Maura menyimpan filenya dan berkemas, setelah semuanya siap ditinggal. Ia bergegas pamit pada Dias dan turun ke lantai tempat ruangan Della berada. Wanita berambut pendek itu rupanya sudah memesan taksi online untuk mereka pulang.
"Ayo pulang ! " Ajak Maura setelah taksi mereka tiba di depan pos kantor.
"Ayo..." Della nampak senang akan pulang ke rumah Maura.
Di dalam taksi mereka berbincang tentang bekal yang lupa di makan Maura. Hingga tanpa teras taksi yang mereka tumpangi berhenti di halaman rumah Maura.
Maura mendorong pintu namun terkunci dari dalam. Lampu depan rumah juga mati tak hanya itu, di ruang tengah terlihat gelap. "Terkunci." Ucapnya cemas. "Ma... Mama..." Panggil Maura menggedor pintu. Namun sayang belum ada sahutan dari dalam.
"Apa kamu membawa kunci cadangan ? siapa tahu, tante Sila di dalam kamar mandi." Tanya Della sekaligus menenangkan sahabatnya itu.
"Sebentar, aku lihat dulu." Maura mengeluarkan isi dari dalam tasnya. Ia menumpahkan semuanya di atas lantai. " Aku lupa membawa kunci cadangan." Kesalnya sendiri.
"Di telpon saja." Usul Della kemudian bergegas mengetuk pintu kembali.
Maura mencoba menelpon ibunya, tersambung namun tidak terjawab, hal ini membuat dirinya semakin takut jika terjadi sesuatu dengan ibunya.
__ADS_1
"Kenapa, Nak ?" Tanya ibu tetangga sebelah. Beliau keluar dari dalam rumah karena mendengar suara ketukan pintu yang keras.
"Bu, apa tadi mama ada keluar ? Lampu depan dan ruang tengah mati. Saya sudah berulang kali mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan. Saya telpon juga tidak di jawab" tutur Maura. Kini perasaannya tak karuan mengingat sang ibu yang kurang sehat tadi malam.