Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Saling Cicip


__ADS_3

Malam ini langit bersih dari bintang-bintang, awan malam pun nampak hitam pekat. Ranting pepohonan terlihat berlenggak lenggok ditiup angin. Di penjuru langit pancaran kilat nampak berakar menjalar dengan cepat. Dentuman petir mulai terdengar samar dari kejauhan.


Hawa dingin mulai menusuk-nusuk di pori-pori kulit. Cuaca seperti ini akan segera turun hujan lebat, jalanan nampak sepi sepertinya orang-orang akan memilih berdiam diri di rumah dari pada kedinginan di luar sana.


Sama halnya dengan Maura, ia memilih diam di unit apartemennya sembari berbaring membaca buku. Malam ini ia terlupa sesuatu jika pria dingin penghuni unit di depannya tengah menunggu kedatangannya untuk memasak makan malam.


Pintu Unit Maura di ketuk. Suara ketukannya terdengar tidak sabar.  Maura bergegas keluar dari kamar, sebelumnya ia mengintip terlebih dahulu pelaku yang mengetuk pintunya.


Maura membuka pintu dengan raut wajah sedikit kesal. "Bisakah ? lebih nyaring dari itu ketukannya !" Ketusnya sembari melenggang masuk.


Erik tersenyum dan mengikuti Maura duduk di sofa. "Kamu melupakan sesuatu nona !" Ucapnya datar dan menatap sinis pada wanita cantik ini.


Maura melayangkan tatapan penuh tanya. "Lupa ? " Tanyanya dengan ekspresi bingung.


Erik melipat tangan ke dada kemudian duduk berhadapan dengan Maura. "Kamu lupa tugas memasak makan malam untuk kita ! Aku sudah menunggu mu di tempat ku, kemana saja kamu ?" Tanyanya penuh selidik.


"Di kamar saja baca buku !" Sahut Maura santai. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding sofa.


Netra Erik menajam dengan raut wajah kesal ia berkata."Di kamar ? Aku menunggu sejak tadi ! Tapi kamu bersantai membaca buku !"


Maura meraih remote menyalakan televisi lalu menghadap pada Erik. "Kalau aku baca buku, kenapa memangnya ?! Kamu bisa pesan makanan, 'kan ? Atau pulang ke rumah mu." Ujarnya dengan nada suara rendah.


Erik menghela nafas panjang lalu menarik tangan Maura. " Ayo kita masak !" Paksanya "Aku sudah kecanduan masakan mu." Sambungnya lagi.


Maura menghentikan langkahnya dan berkata. "Masakan ku tidak mengandung obat terlarang yang membuat kamu kecanduan."


Erik tersenyum kemudian menatap Maura penuh dengan ancaman. "Memasak untuk ku. Atau aku akan memakan santapan yang indah di depan ku ini." Ucapnya sembari melihat Maura dari atas ke bawah.


Maura melototkan matanya dengan tangan mengepal ia berkata. "Sebelum hal itu terjadi maka meja atau kursi ini yang menjadi santapan mu !" Ia meninggalkan Erik yang tersenyum.


Sambil bergumam tak jelas, Maura mengeluarkan bahan-bahan masakan. Tak ingin diam saja Erik pun ikut membantu. Ia mengenakan apron yang dibelinya sama dengan milik Maura. Mereka nampak akur berbagi tugas, Erik sudah seperti suami romantis yang menemani istrinya memasak. Setelah matang mereka akan saling mencicipi dengan satu sendok meniup bersama sebelum saling menyuapi.

__ADS_1


Membayangkannya saja Erik sudah sangat senang. Apa lagi menjadi kenyataan, tanpa sadar Erik tersenyum sangat manis. Maura tak berkedip melihatnya.


Merasa diperhatikan, Erik menetralkan perasaannya kembali. "Perhatikan masakan mu." Ucapnya pada Maura.


Maura tersenyum tipis kemudian beralih pada masakannya. Adegan saling mencicipi dan meniup ke dalam satu sendok tak terjadi, karena Maura langsung memindahkannya kedalam mangkok dan menyajikannya.


Tak ingin kecewa dengan khayalannya. Erik mengambil sedikit sayur buatannya." Maura... Sini coba kamu cicipi sayur yang kubuat, apa ada yang kurang ?" Ujarnya lembut sembari meniup ke dalam sendok.


Maura mendekat, kemudian berniat mengambil sendok itu dari tangan Erik. Tapi pria dingin itu dengan cepat menjauhkannya. "Kenapa ? Tadi kamu minta aku mencicipinya."


Erik serba salah berkata ingin menyuapi. Namun ia malu. "Bi—biar aku yang memegang sendoknya." Ucapnya malu-malu. Sayang sekali tak terlihat oleh Maura rona merah di wajah pria dingin ini.


"Oh..." Maura hanya mengeluarkan dua huruf itu. "Baiklah, sini ku cicipi." Ucapnya lagi.


Erik sumringah, kemudian menyodorkan sendok di tangannya perlahan ke bibir wanita cantik ini. "Bagaimana ?" Tanyanya gugup.


"Pas. Rasanya juga enak ! Cocoklah menggantikan Ivan !" Balas Maura melenggang mengambil piring dan sendok.


"Aaaa." Tanpa diduga Maura menyodorkan sendok berisi sayur buatannya ke arah Erik.


Pria dingin itu terheran. "Untuk ku ?" Tanya Erik menunjuk dirinya sendiri. Tak dipungkiri jika hatinya  berteriak senang.


Maura mengangguk. "Iya, bagaimana pendapat mu tentang rasa sayur ku ?" Uja nya masih menggantung sendoknya.


Tanpa bicara lagi Erik segera menerima suapan Maura dengan hati yang berbunga-bunga. Ia bahkan lupa jika sedang menjadi juri.


"Bagaimana ?" Pertanyaan Maura menghentikan imajinasi Erik yang sedang bermain.


"Ha ? Ehm ! Enak... Sangat cocok untuk dijadikan istri." Ucap Erik sambil tersenyum. "Masakan mu tiada duanya, sejak dulu sampai sekarang tidak ada yang berubah. Dalam darah dan daging ku sudah mengalir karbohidrat, protein, gizi dan sebagainya sejak pertama kali memakan masakan mu." Sambung Erik dengan tatap lekat ke manik mata Maura.


Sejenak terdiam dengan pikiran serta perasaan masing-masing. Akhirnya dua anak manusia ini melanjutkan makan malamnya.

__ADS_1


...----------------...


Kediaman Family Z.


Jika di Apartemen saling larut dalam perasaan, maka lain hal di kediaman mewah family Z. Sejak tadi Zevin ikut berkutat di dapur, pria tampan ini mengenakan apron dengan penuh konsentrasi mengaduk sayur buatannya. Sejak menemui Erik di apartemen  Maura. Zevin merengek ingin ikut memasak di dapur pada Nazia. Bukan dirinya tak ingin jadi diri sendiri tapi Zevin lebih  suka mencoba sesuatu yang baru terlebih itu efeknya sangat kuat pada hubungannya dan sang istri


Kiki, asisten rumah tangga mereka menjadi guru untuk Zevin. Meski pun dia wanita lajang dan lebih tua setahun dari Nazia, tapi ia menjunjung tinggi kehormatannya sebagai wanita. Meski berdampingan dengan pria setampan Zevin, setitik pun tak ada niat Kiki menikung nyonya nya.


"Ayo, Ki. Yang mana lagi harus di masukkan ke panci ?" Zevin tak mengerti yang mana lagi harus di masak.


"Sayur hijaunya Tuan ! Setelah layu, anda bisa mencicipinya dan mematikan kompor. Saya tinggal dulu karena harus menyiapkan piring. Jika anda ingin bertanya ada nyonya di sini." Kiki mengambil beberapa piring dan sendok. Kemudian menatanya ke atas meja makan.


Zevin mengangguk, lalu menoleh pada sang istri yang tengah menyuapi putranya untuk makan. Karena makan malam sedikit larut , sebab si tuan rumah sedang kursus memasak pada asisten rumah tangganya.


"Sayang sini, coba cicipi apa ada yang kurang ? Ini masakan kedua ku..." Seru Zevin penuh binar cinta.


Nazia tersenyum dan menitipkan Zayyan pada Kiki, lalu menghampiri suaminya. "Dinginkan dulu sayang..."pintanya pada sang suami.


Zevin meniup kuah di dalam centong sayur. Kemudian menyodorkan sendok itu ke bibir istrinya. "Bagaimana cinta ?" Tanyanya harap-harap cemas.


"Sukses, masakan mu enak. Aku suka ! Percobaan kedua mu berhasil." Ucap Nazia tersenyum lembut menangkup pipi suaminya.


Zevin merasa senang tak sia-sia belajar sepulang bekerja. "Aku juga mau mencicipnya tadi belum dicicip." Ucapnya manja pada sang istri.


"Baiklah..." Nazia meraih sendok kemudian mengambil kuah sedikit dan meniupnya. Ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan suaminya. "Bagaimana rasa masakan mu sendiri ?"


"Aku berhasil sayang... Aku berhasil jadi suami romantis besok pagi kita masak berdua ya." Ujar Zevin girang.


Zevin menghamburkan banyak kecupan di bibir istrinya. "Aku merindukan mu." Ucapnya lagi kemudian meminta Kiki menghidangkan masakannya.


Selalu kata rindu yang diucapkan Zevin entah kapan pria konyol ini tidak merindukan istrinya. Setiap waktu kebersamaan mereka Zevin akan menempel pada istrinya meski pun mendapatkan tatapan sinis dari Zayyan. Bagi Zevin waktu berharganya harus dimanfaatkan dengan baik untuk keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2