Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Rekam di Memori


__ADS_3

Pesta kecil itu sudah usai, teman-teman Maura dan Erik tidur di unit milik pria dingin ini. Erik baru saja selesai membersihkan tubuhnya, ia terpaksa mandi di tengah malam.


Meski pesta kecil, tapi meninggalkan kesan yang mendalam. Membuat mereka saling mengenal satu sama lainnya. Pilihan tepat untuk tinggal di sana, penghuni apartemen itu rata-rata orang santai dan ramah. Jadi sangat mudah untuk berkenalan dan berteman. Erik senang karena Maura tinggal di lingkungan seperti itu.


"Anak itu menyebalkan saja ! Kenapa minum terlalu banyak ?! akhirnya memandikan ku dengan muntahannya." Gerutu Erik sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Pria ini masih mengenakan handuk kimononya. Sambil menunggu kekasihnya mengambil baju di kamar apartemennya.


Maura menghampiri Erik, lalu mengambil alih handuk itu dan mengeringkan rambut pria yang baru saja menjadi kekasihnya ini. "Jangan mengomel, dia tidak akan mendengar. Lihat dia sudah pulas tidur." Papar Maura sambil melirik pada Kenza yang tepar di sofa.


Kenza sudah mabuk dari atas rooftop, terpaksa Erik menggendongnya untuk turun. Yang paling menyebalkan Kenza tak bisa menyebutkan sandi unitnya. Membuat Erik semakin kesal selain berat menggendongnya.


"Hanya malam ini dia menginap di sini, besok tidak boleh lagi. Ah, menyebalkan !" Erik masih kesal karena Kenza memuntahkannya. Alhasil dia menjadi sasaran tawa teman-temannya.


"Iya-iya, sekarang kamu kembali ke rumah mu. Aku ingin tidur karena besok siang aku ada perjalanan keluar kota bersama Dias. Mereka juga sudah tidur di tempat mu." Tutur Maura merapikan selimut Kenza.


"Keluar kota ? Jam berapa berangkatnya ? Berapa lama " Erik memberi pertanyaan tanpa membiarkan Maura menjawab lebih dulu. Rasanya tak rela baru beberapa jam menjalin hubungan berstatus kekasih sudah ditinggal pergi perjalanan bisnis.


Maura berdecak kesal karena banyaknya pertanyaan Erik. "Berangkat siang, saat jam istirahat. Ada pertemuan penting sore harinya dan pagi hari, lalu pulangnya besok sorenya lagi"Jelasnya lembut.


Erik mengangguk. " Ayo kita istirahat, aku akan menemani mu. Nanti anak ini tidur sambil berjalan ! "Ia menarik tangan Maura agar pergi ke kamar.


"Aku akan mengunci kamarnya. Kamu pulang saja, Dias dan yang lain juga sudah tidur." Ujar Maura menahan tangan Erik.


Pria dingin ini menoleh. "Tidak ada penolakan sayang ! Aku hanya menemani tidur bukan meniduri mu." Erik memperjelas kalimatnya.

__ADS_1


Maura memalingkan wajahnya merasa malu


"Baiklah, ayo." Ia melangkah lebih dulu meninggalkan Erik yang tersenyum.


Di kamar tamu Della sudah terlelap. Sementara di unit Erik, Dias dan yang lain juga berpetualang dalam mimpi.


...----------------...


Pagi bersinar dengan cerah hari ini, secerah hati dua sejoli yang tengah di liputi rasa bahagia. Penantian panjang tak sia-sia, pasang surut perasaan sudah dirasakan Maura.


Masih seperti mimpi, pria yang di cintainya itu kini berada di sisinya memeluknya erat penuh kasih sayang. Inikah balasan luka yang dulu tertanam di hatinya ? Bertahun lamanya Maura melihat dari kejauhan Erik menghabiskan waktu sepanjang hari bersama sahabatnya sendiri. Meski rasa cemburu itu ada namun Maura menolaknya dan menekan sebisa mungkin. Karena dia sadari Erik bukan siapa-siapanya waktu itu.


Maura memperhatikan wajah Erik dari tiap sudutnya. Alis tebal, hidung mancung, bibir kemerahan serta rahang yang tegas. Rasanya tak percaya jika pria ini resmi jadi kekasihnya.


"Rekaman wajah mu sudah lama tersimpan di memori ku. Bertahun-tahun menghantui pikiran ku. Penuh perjuangan untuk menghapusnya secara permanen, tapi aku gagal setan tampan ini selalu saja menggoda ku agar tetap mencintainya"lirih Maura. Netra mereka saling mengunci dengan posisi saling berhadapan.


"Aku mencintai mu, maaf kata ini terlambat diucapkan karena memang perasaan ini baru tumbuh sekarang. Terimakasih sudah menyimpan cinta yang besar untuk ku dan tidak pernah membaginya pada pria lain." Erik meraih Maura ke dalam pelukannya. Rasanya teramat bahagia memiliki wanita nyaris sempurna ini.


Pintu kamar diketuk dari luar. Erik hanya melirik sebentar kemudian beralih memeluk Maura lagi. Kini Erik mengerti kenapa Zevin selalu menempel pada istrinya. Ternyata rasanya bahagia memeluk orang yang dicintai.


Pintu terdengar di ketuk lagi. Erik mengibaskan selimutnya. Ia segera duduk dan melangkah menuju pintu.


Pintu di buka Erik, nampak pembuat keonaran itu tersenyum lebar pada nya." Ada apa ?!" Ketusnya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

__ADS_1


"Kak, Maura mana ? Aku sudah memasak sarapan." Kenza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum .


"Sebentar lagi keluar. Kamu tunggu saja disana." Titah Erik kembali menutup pintu. "Ternyata dia pelakunya." Gerutunya kemudian membangunkan Maura.


Setelah semua terbangun, kini mereka sarapan di tempat Maura. Jo dan Haris begitu heboh karena Kenza pandai memasak.


"Ken, kamu pintar memasak ya. Kapan-kapan kita masak bersama." Seru Maura senang. Mata Erik terbuka lebar bisa-bisanya Maura mengajak pria lain memasak.


"Tentu, Kak. Terimakasih karena membiarkan aku tidur disini tadi malam." Ucap Kenza tulus. Kemudian memberitahu sandi unitnya pada  Maura. Agar jika terjadi sesuatu padanya, Maura bisa membantu Kenza. "Jika tidak, aku bisa tidur di rooftop." Sambungnya lagi sambil tertawa


"Lain kali kalau kamu tidak kuat minum jangan ikut minum. Aku juga tidak mungkin meninggalkan mu di atas sana sendirian. "Seru Erik. Iris matanya tertuju pada Kenza yang tersenyum.


"Iya, Kak. Makanya jangan membawa minuman ! Kan, Aku mau jadinya." Kenza terkekeh mengingat ulahnya tadi malam.


Usai sarapan mereka mengatur tujuan masing-masing. Kenza mahasiswa kedokteran semester akhir sangat berharap bisa masuk rumah sakit ZK apa bila sudah mendapatkan gelar resminya.


...----------------...


Siang ini Erik sangat sibuk mengunjungi beberapa cabang dari Jaya Group bersama Zevin. Sehingga ia tidak memiliki waktu mengantarkan Maura ke bandara bersama Dias.


Pesawat yang Maura dan Dias tumpangi telah mengudara tinggi. Di dalam  pesawat ini tidak ada perbincangan antara Dias dan Maura mereka sama-sama fokus mempelajari bahan untuk pembahasan dalam pertemuan.


Menempuh perjalanan satu jam lebih beberapa menit, pesawat mendarat di kota tujuan. Maura dan Dias mempersiapkan diri untuk turun. Setelah pintu dibuka Maura dan Dias masing-masing mengirim pesan pada kekasih mereka. Memberitahukan jika mereka berdua sudah sampai.

__ADS_1


__ADS_2