
Cahaya matahari agak redup pagi ini, ramalan cuaca memperkirakan akan turunnya hujan. Zevin masih bersembunyi di dalam selimut tebal bersama sang putra. Mereka tidur saling berpelukan.
Nazia tersenyum melihat dua lelaki berbeda usia itu berpelukan manja penuh kasih sayang. Sebelum membangunkan mereka, Nazia mengabadikan foto Zevin dan Zayyan. Suami Nazia itu berganti akun semenjak dirinya resmi menjabat sebagai presiden direktur. Indentitas putranya tetap dirahasiakannya. Tapi tidak untuk istrinya, sebagian rekan bisnisnya sudah mengenali Nazia.
Meski begitu Zevin dan Nazia masih seperti dulu suka berada di belakang layar, jika pertemuan tidak mengharuskan membawa istri maka Zevin memilih Erik untuk datang. Ia enggan hadir ke acara yang menurutnya hanya membuang waktu.
Nazia membuka gorden dan mematikan AC serta menggeser pintu balkon kamar sedikit, membiarkan pertukaran udara. Ia melangkah menghampiri Zevin lalu berbisik pelan tak ingin membangunkan Zayyan yang masih tidur. "Sayang. Ayo bangun sudah pagi, cuacanya agak mendung ."
Suara Nazia adalah alarm yang tidak bisa diabaikan, Zevin membuka perlahan matanya, ia menghirup aroma wangi dari tubuh istrinya itu. "Selamat pagi sayang..." ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur. "Kamu sudah cantik ! Sini cium aku." Zevin merentangkan tangan dengan posisi duduk.
"Mandilah. Semua keperluan mu sudah ku siapkan." Nazia mengecup seluruh wajah suaminya.
"Terimakasih sayang ku." Zevin membalas bertubi-tubi kecupan sang istri.
Nazia tersenyum lalu menyiapkan tas kerja miliknya. Zevin yang kesadarannya telah sempurna langsung melangkah ke kamar mandi. Tak butuh lama pria itu selesai dengan ritualnya, ia keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya.
Zevin tiba-tiba memeluk istrinya dari belakang "Sayang... Hari ini ada pertemuan dengan klien. Dia wanita, ngotot ingin mengajukan kerja sama dengan ku. Padahal, sudah ku tolak karena memang tidak layak bekerja sama dengan Jaya Group." Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di pucuk kepala istrinya. Dada bidangnya terasa dingin karena baru selesai mandi. Tetesan air dari rambutnya memberikan kesan seksi pada Zevin, aroma sabun dan Shampoo begitu melekat di kulitnya, sangat wangi.
"Lalu... ?" Tanya Nazia. Ia berbalik menghadap suaminya, telapak tangannya menempel di dada sang suami. Dan tangan Zevin melingkar di pinggangnya. Posisi mereka saling berhadapan tak mengikis jarak sedikit pun. Tangannya terulur mengusap aliran air yang turun dari rambut suaminya membasahi leher.
"Aku mau kamu ikut dengan ku. Pertemuannya di resto milik Vian." Tutur Zevin tentang maksud dan tujuannya. Matanya selalu menatap penuh cinta pada sang istri, tatapan yang tidak pernah ia perlihatkan pada wanita lain.
Nazia mengecup dada telanjang Zevin. "Baiklah sayang." Ucapnya tersenyum manis.
Satu kecupan maka dibalas dengan kiss berdurasi dari Zevin. Ia tak membiarkan bibir itu lepas begitu saja setelah memberikan kecupan di dadanya. Zevin akan membalasnya berkali lipat dan menghisap madu dari bibir istrinya.
"Mama" Suara Zayyan memutuskan tautan bibir papa dan mamanya. Anak laki-laki itu mengerjap beberapa kali menyesuaikan penglihatannya sambil menguap meski begitu, ia tidak melihat apa yang diperbuat papanya pada mama tercintanya. Karena posisi Zayyan di belakang Nazia.
"Za, sudah bangun." Zevin tertawa mengusap sudut bibir istrinya kemudian memakai pakaiannya, karena pria ini masih memakai handuk.
Nazia tersenyum "Za, sini peluk mama." Ia merentangkan tangannya. Tak menunggu lama Zayyan berdiri memeluk sang mama sambil menatap sinis papanya yang tengah mengancing kemejanya.
Sementara Zevin tersenyum penuh kemenangan pada putranya
"Papa menang satu langkah dari mu, siapa suruh bangun siang ! Besok-besok bangun siang lagi ya"
...----------------...
__ADS_1
Para pejuang rupiah kini mulai berangkat menuju tempat mengais rezeki. Dengungan suara kendaraan meramaikan jalanan, beberapa menit lalu Zevin dan keluarga kecilnya sudah berada di resto Vian. Ia sengaja mengajak anak dan istrinya karena, Zevin berniat membawa mereka keluar kota setelah ini. Zevin ada pekerjaan sedikit nanti di sana, begitu selesai. Ia akan mengajak Nazia dan Zayyan jalan-jalan sebentar. Karena jarak tempuh ke kota itu hanya dua jam.
Erik baru saja tiba di sana, entah kemana pria itu menghilang tanpa sarapan. Nampak sekali dirinya tergesa-gesa. Menunggu hampir setengah jam, klien yang dimaksud Zevin memasuki resto milik Vian.
Tampilan wanita itu lebih seksi dari sebelumnya. Ia mencari-cari keberadaan Zevin dan Erik. Senyumnya mengembang setelah menemukannya. "Selamat pagi. Maaf membuat kalian menunggu." Ucap Merlinda basa-basi.
Zevin tak menggubrisnya, ia fokus pada tabletnya karena banyaknya email yang masuk. Erik segera mengambil alih pembicaraan.
"Langsung saja, Nona ! Kami tidak memiliki waktu." Tutur Erik tegas. Pria ini hampir sama dengan Zevin tanpa bisa basa - basi. Apa lagi yang dihadapi mereka sangat membuat muak.
"Santai Tuan, tapi haruskah ? Kita membicarakan tentang pekerjaan di tempat terbuka seperti ini ? Apa resto ini tidak memiliki ruang khusus ?" Merlinda merasa keberatan. Pertemuan itu sengaja Zevin adakan di ruang terbuka.
"Beginilah kami. Lebih baik anda sampaikan saja, apa yang membuat anda masih yakin kami mau menerima kerja sama ini ?" Lagi-lagi Erik yang berbicara. Ia mulai risih karena Melinda sejak tadi hanya memperhatikan Zevin.
Merlinda nampak kecewa. "Baiklah, saya sudah merombak semuanya menjadi berkas baru. " Ia mulai presentasi dan menunjukkan denah baru bangunan apartemen yang pernah ditunjukkan sebelumnya. "Tuan saya permisi ke toilet dulu." Pamitnya sebelum mendengarkan keputusan Zevin.
Beberapa menit setelah Merlinda pergi ke toilet, pegawai resto datang mengantarkan minuman yang di pesan Erik. Ia meletakkan minuman itu hati-hati, di meja itu tidak ada Nazia karena ia sengaja di suruh Zevin menunggu di dalam ruangan Vian.
Beberapa menit kemudian Merlinda datang dengan senyum merekah, ia duduk kembali di kursinya.
"Bagaimana tuan, Zev ? Anda menerima kerja sama ini. Saya pastikan anda akan dapat keuntungan yang banyak terlebih untuk tuan Zev pribadi." Ucapnya manja dan sensual.
"Kenapa kamu yang memberikan keputusan ?! Harusnya tuan, Zev !" Merlinda tak terima dengan keputusan Erik. Sedangkan pria dingin itu tersenyum tipis meremehkan.
"Minum dulu Nona." Erik mempersilahkan Merlinda minum lalu berkata. "Apa yang saya sampaikan adalah keputusan tuan, Zev ! Jadi setuju atau tidaknya, anda harus menerimanya." Ucapnya lagi sambil menyesap santai minuman miliknya.
"Saya yakin setelah ini, Tuan Zevin akan menerima kerja sama ini." Merlinda menyeringai melirik Zevin.
Erik meletakkan gelasnya seraya berkata "Kenapa anda se-yakin itu ?"
"Hanya yakin. Bagaimana tuan, Zev ?" Merlinda mengalihkan pandangannya pada Zevin. Tatapannya begitu penuh damba pada ayah satu anak itu.
"Apa pun keputusan Erik, maka itu keputusan saya." Tegas Zevin. Pria ini menghabiskan minumannya, hal sama pun di lakukan Erik.
Merlinda yang lebih dulu menghabiskan minumannya beberapa menit lalu merasakan suhu tubuhnya berubah. Ia mulai merasa panas dan gelisah. Zevin tersenyum tipis namun jahat begitu juga dengan Erik menatap jijik pada Merlinda.
"Anda kenapa Nona ? Kalau kurang sehat kita akhiri pertemuan ini. Keputusan kami sudah final." Seru Erik mulai kesal pada wanita ini.
__ADS_1
"Alasan, kenapa kami menolak keras permintaan anda karena saya mendapatkan fakta jika perusahaan anda akan selalu berbuat curang dalam kerja sama ! Saat ini saja, anda sudah curang pada kami. "Ucap Zevin datar dan dingin. "Nikmatilah reaksi obat terkutuk itu !" Sambungnya bicara pelan namun tegas. Sorot matanya tajam dan memerah saat bicara, terlihat sekali jika dirinya sangat marah besar. "Cara kotor anda tidak akan mempan di dunia saya ! Anda salah target !" Zevin meninggalkan Merlinda yang terkejut karena rencananya terbaca dengan mudah dan malah berbalik padanya.
Erik tersenyum puas. "Bukankah ? Saya sudah memperingatkan anda ! Jangan pernah memaksakan kehendak ! Dia seseorang yang tidak bisa anda tebak dengan mudah. " Ujarnya ikut meninggalkan meja itu.
Merlinda tertunduk malu dan menangis, reaksi obat untuk menjebak Zevin mulai bekerja dalam tubuhnya. Tidak menunggu lama ia segera meninggalkan resto itu. Tanpa ia tahu jika Zevin dan Nazia memantau dari CCTV. Sebenarnya Zevin belum tahu obat apa yang di campurkan di minumannya, tapi setelah melihat reaksi Merlinda di meja, Zevin dapat menebak obat itu.
"Andai tadi kamu meminumnya dan wanita itu berhasil membawa mu pergi ! Atau dia menguasai diri mu ! Maka jangan salahkan aku jika tiap inci tubuh mu yang telah di jamahnya. Akan aku kupas dengan pisau bedah, karena aku tidak akan sudi dia meninggalkan jejaknya di tubuh mu !" Seru Nazia penuh penekanan. Sorot matanya juga tajam bahkan mengalahkan tajamnya mata Erik.
Zevin menelan salivanya karena macan tutul betinanya sedang menunjukkan taringnya.
"I—itu tidak akan terjadi sayang. Aku sangat berhati-hati dan juga jarang makan dan minum bersama klien selain Erik yang memesannya secara langsung dan dalam pengawasannya." Ia melingkarkan tangannya di tubuh istrinya.
"Ma-ma !" Zayyan menarik celana Zevin. Alhasil ayah satu anak itu melepaskan tautan tangannya. Zayyan sengaja menginjak kaki papanya agar menjauh.
"Nak, apa kamu tahu papa sedang ketakutan jika mama mu benar-benar menguliti papa hidup-hidup. Itu mengerikan..." Lirih Zevin pelan
...----------------...
Kilas Balik
Merlinda pamit ke toilet, pucuk di cinta ulam pun tiba. Ia berpapasan dengan pegawai yang akan mengantar minuman ke meja Zevin. Sebenarnya Merlinda bukan ke toilet namun ia sengaja ingin bertemu langsung dengan pembuat minuman di dapur resto.
" Ini minuman untuk meja yang mana ?" Tanya Merlinda menghentikan langkah pegawai itu.
"Untuk meja tuan, Zev !"
Merlinda tersenyum " Jangan katakan pada siapa-siapa. " Ia menumpahkan sesuatu ke dalam salah satu gelas karena minuman yang di pesan Erik semua sama." Aku akan memberi uang tutup mulut. Berikan minuman ini pada tuan Zevin jangan sampai salah ! " Titahnya mengeluarkan beberapa lembar uang dan mencari tempat sampah.
Pegawai itu mengangguk dan masuk kembali ke dapur, ia langsung menelpon Vian melalui interkom. "Tuan ada seseorang yang memasukkan sesuatu ke dalam salah satu gelas minuman yang di pesan tuan Erik. Dia meminta saya memberikannya untuk tuan Zev" Lapor pegawai itu.
Vian tersentak siapa yang berani mencurangi sahabatnya itu. "Tunggu di situ saya akan cek cctv" Vian melihat cctv berapa menit lalu untuk melihat klien Zevin hari ini. " Kamu tukar minuman itu jangan sampai salah, letakkan gelas itu pada posisi klien Zev. " Tangannya sembari mengulang cctv di bagian dapur. Vian menyeringai " Kamu antarkan minumannya hati-hati jangan sampai Erik atau Zev yang menerimanya letakkan dengan benar aku mengawasi mu. Uang yang diberikan wanita itu ambil saja untuk mu." Vian meraih ponsel untuk menelpon Zevin.
"Baik tuan saya akan berhati-hati."
Pegawai itu menaruh gelas dengan hati-hati. Mereka sangat setia pada resto dan Vian, meski pun mendapati suapan yang banyak. Jika mereka berkhianat atau melakukan kesalahan dengan sengaja maka suami Rayya itu akan membalasnya berkali lipat.
Kilas balik selesai
__ADS_1
...----------------...
Zevin tersenyum tipis, inilah alasan kenapa setiap ada janji bertemu klien di luar, ia akan memilih resto milik Vian. Karena pegawai sahabatnya itu dapat dipercaya. Tak hanya itu, Vian akan selalu mengawasi mereka dari dalam ruangannya. Andai pun tidak di sana maka, Zevin memilih air mineral yang tersegel. Ia pun tidak akan memakan makanan yang tersaji tanpa pengawasan Erik secara langsung.